Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Tua dan Gadis 19 Tahun
POV Aluna
Aku berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di dada, menatap pemandangan di hadapanku dengan perasaan yang sulit dijelaskan—antara kesal, muak, dan entah kenapa… sedikit geli.
Di sana, di tengah ruangan luas yang seharusnya terasa megah itu, Zayn berdiri dengan wajah lelahnya. Di pelukannya, Selena—istri tuanya—terisak seolah dunia ini baru saja runtuh. Tangannya mencengkeram kemeja Zayn erat-erat, seakan takut pria itu akan menghilang jika ia melepaskannya.
Tangisan itu… berlebihan.
Aku menghela napas panjang, lalu mendecak pelan.
“Kalau mau menangis, sekalian saja sekampung dipanggil,” ujarku tanpa basa-basi.
Zayn langsung menoleh ke arahku. Tatapannya tajam, memperingatkan. Namun aku sudah terlalu terbiasa dengan ekspresi itu untuk merasa gentar.
Sebaliknya, Selena mengangkat wajahnya perlahan dari dada Zayn. Matanya merah, bulu matanya basah, dan wajahnya… benar-benar seperti tokoh dalam sinetron yang baru saja dikhianati.
Ah, benar-benar dramatis.
“Itu lihat istrimu,” lanjutku santai, menunjuk ke arahnya, “baru saja sedikit masalah dan dia yang mulai tapi sudah seperti dunia mau kiamat.”
“Aluna!” tegur Zayn, suaranya berat.
Aku mengangkat bahu, tidak merasa bersalah sedikit pun.
“Memangnya aku salah bicara?”
Selena menarik napas tersendat, lalu kembali bersandar di dada Zayn. “Zayn… lihat dia… dia selalu seperti ini. Tidak pernah menghormatiku,dia tidak punya sopan santun”
Aku memutar bola mata.
“Dihormati itu didapat,dan untuk orang yang tepat ,dan orangnya bukan dirimu” sahutku cepat.
“Cukup!” suara Zayn kali ini lebih keras.
Ruangan itu seketika hening.
Aku menatapnya tanpa gentar, sementara ia mengusap pelan punggung Selena, mencoba menenangkannya. Pemandangan itu entah kenapa membuat dadaku terasa sesak, meskipun aku sendiri tidak ingin mengakuinya.
“Selena hanya sedang emosi,” ujar Zayn, berusaha terdengar sabar.
Aku terkekeh pelan.
“Emosi?” ulangku, sedikit menekankan kata itu. “Atau memang hobinya begitu?”
Zayn menggeleng pelan, seolah kehabisan kata-kata.
“Aluna, jaga bicaramu.”ucapnya
Aku melangkah masuk ke dalam ruangan, mendekat. Setiap langkahku terasa mantap, meskipun di dalam hati ada sesuatu yang bergejolak.
“Aku sudah menjaganya, tuan zayn” jawabku datar. “Kalau tidak, mungkin aku sudah membuat kepalanya pecah dengan kata kataku”
Selena kembali terisak, kali ini lebih keras. Seolah setiap kata dariku adalah luka yang dalam baginya.
Namun aku tidak peduli.
Atau setidaknya… aku berusaha untuk tidak peduli.
“Aku hanya mengatakan fakta,” lanjutku. “Istri tua Zayn ini memang drama queen.”
Zayn langsung menatapku tajam.
“Aluna!”
Aku mengangkat dagu, menantangnya.
“Kenapa? Salah?”
Ia menarik napas panjang, jelas berusaha menahan emosi. “Selena itu lebih tua darimu. Jaga sikapmu.”
Aku menyipitkan mata.
“Memang berapa umurnya?”
Zayn terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada berat, “Tiga puluh lima.”
Aku terdiam sesaat, lalu tanpa sadar mengeluarkan suara kecil.
“Oh…”
Aku menatap Selena dari ujung kepala hingga kaki, lalu menggeleng pelan.
“Pantas saja,” gumamku.
“Apa maksudmu?” tanya Zayn, keningnya berkerut.
Aku menatapnya lurus.
“Pantas labil,” jawabku ringan. “Tidak sesuai umur.”
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Bahkan Selena pun berhenti menangis, mungkin terlalu terkejut dengan ucapanku.
Zayn menatapku seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
Sementara aku… hanya berdiri santai, seolah tidak ada yang salah.
“Apa yang salah dengan ucapanku?” tanyaku kemudian. “Bukankah semakin dewasa seharusnya semakin bisa mengontrol diri?”
Selena menggigit bibirnya, air matanya kembali mengalir. Namun kali ini, aku bisa melihat sesuatu yang berbeda di matanya—bukan hanya kesedihan, tetapi juga… rasa tersinggung yang dalam.
Bagus, pikirku.
Setidaknya ia masih punya harga diri.
“Aluna, kamu keterlaluan,” ujar Zayn akhirnya.
Aku tertawa kecil, meskipun tidak ada rasa lucu sedikit pun.
“Keterlaluan?” ulangku. “Aku hanya jujur.”
Aku menatap mereka berdua bergantian.
“Yang satu terlalu sibuk menangis, yang satu terlalu sibuk menenangkan. Tidak ada yang benar-benar menyelesaikan masalah.”
Zayn mengusap wajahnya kasar.
“Kamu tidak mengerti situasinya.”
Aku mendengus.
“Kalau hanya untuk memahami tangisan seperti itu, sepertinya aku tidak perlu mengerti terlalu dalam.”
Langkahku berhenti beberapa meter dari mereka. Jarak yang cukup untuk melihat segalanya dengan jelas, namun cukup jauh untuk tidak terseret ke dalam drama mereka.
“Aku ini memang masih sembilan belas tahun,” lanjutku pelan, namun tegas. “Tapi setidaknya aku tidak pura-pura lemah hanya untuk mendapatkan perhatian dan simpati”
Kata-kataku menggantung di udara.
Zayn menatapku lama. Ada sesuatu di matanya—antara marah, bingung, dan… entah apa lagi.
Sementara Selena kembali menyandarkan kepalanya di dada Zayn, namun kali ini tanpa suara.
Aku menghela napas.
Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa lelah.
“Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku pergi,” ucapku singkat.
Aku berbalik, berniat meninggalkan ruangan itu. Namun sebelum sempat melangkah jauh, suara Zayn menghentikanku.
“Aluna.”
Aku berhenti, tapi tidak menoleh.
“Apa?” tanyaku datar.
Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab.
“Kamu tidak harus selalu seperti ini.”
Aku tersenyum tipis, meskipun ia tidak bisa melihatnya.
“Seperti apa?” tanyaku.
“Kasar. Tidak peduli dengan sekitar dan Menyakitkan.”
Aku terdiam sejenak.
Lalu perlahan, aku menoleh ke arahnya.
Tatapanku bertemu dengan matanya.
“coba sekali lagi kamu bicara apa tadi,aku kasar ,tidak peduli dan menyakitkan,lalu sebutan apa untuk kalian saat aku pertama kali menginjakkan kaki di rumah DEVANDRA apakah sikap seperti itu yang di sebut sopan santun versi kalian,Zayn Lebih baik kamu ceramahi keluargamu dulu sebelum kamu mengatakan itu padaku, keluarga moster” jawabku tegas, “yang penuh kepalsuan.”lanjutku
Zayn terdiam.
Aku bisa melihat ia ingin mengatakan sesuatu, namun urung.
Aku kembali menghadap ke depan.
“Kalian lanjutkan saja,” ujarku. “Drama kalian belum selesai kan?”
Tanpa menunggu jawaban, aku melangkah pergi.
Langkahku terdengar mantap, namun di dalam hati… ada sesuatu yang terasa mengganjal.
Entah itu kesal.
Entah itu kecewa.
Atau mungkin… sesuatu yang tidak ingin aku akui.
Namun satu hal yang pasti—
Aku tidak akan pernah menjadi seperti Selena.
Tidak akan pernah.
Meskipun… entah kenapa, melihat Zayn memeluknya seperti itu, ada sesuatu di dadaku yang terasa… perih dan aku yakin itu bukanlah cemburu