lent Residue mengisahkan pernikahan tanpa cinta antara Nathan Ryu, seorang putra mahkota Ryu Corp yang memilih mengabdi sebagai Kapten Pasukan Khusus, dan Alveera Mayra, dokter magang idealis yang terpaksa setuju menikah demi menyelamatkan posisi keluarganya di dunia medis. Hubungan dingin mereka yang penuh jarak diuji ketika mereka bertemu di zona konflik Distrik Marvella, di mana Alveera baru menyadari bahwa suaminya yang kaku adalah "malaikat maut" yang paling ditakuti di medan perang. Namun, bara konflik yang sesungguhnya baru dimulai saat mereka kembali ke pusat kota; Nathan harus menjabat sebagai CEO untuk melindungi Alveera dari sabotase bisnis, tepat saat mantan kekasih Nathan muncul kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI BALIK BUNGA BUGENVIL
Cahaya fajar di Positano biasanya membawa kedamaian, namun pagi ini, warna merah di ufuk timur tampak seperti peringatan berdarah. Nathan Ryu terbangun bukan karena alarm, melainkan karena insting predatornya yang menangkap getaran halus dari mesin perahu yang mati di bawah tebing. Ia membuka matanya, menatap langit-langit kayu vila yang artistik, lalu melirik Alveera Mayra yang masih terlelap di sampingnya dengan napas teratur.
Nathan bangun tanpa suara, otot-ototnya menegang waspada. Ia berjalan menuju jendela, menyibak sedikit tirai linen yang tertiup angin laut. Di dermaga pribadi mereka, tiga bayangan berpakaian taktis hitam sedang bergerak memanjat tangga batu tebing dengan kecepatan yang tidak wajar.
"Residu yang tidak pernah mati," desis Nathan. Ia segera meraih pistol dari balik bantal dan sebuah pisau militer yang disembunyikan di bawah meja rias.
Ia kembali ke ranjang, mengusap pipi Alveera lembut dengan ibu jarinya yang kasar. "Alveera... bangun. Kita harus bergerak. Sekarang."
Alveera tersentak, matanya yang sayu seketika membelalak saat melihat ekspresi Nathan yang kembali menjadi sosok 'The Reaper'. Ia langsung mengerti situasi darurat ini. "Mereka di sini?"
"Tiga orang. Profesional," Nathan menarik tangan Alveera, membantunya berdiri dengan sigap. "Masuk ke dalam ruang penyimpanan anggur di bawah dapur. Pintunya tersembunyi di balik rak kayu tua. Jangan keluar sampai aku yang memanggilmu, apa pun yang kau dengar di atas sini. Mengerti?"
Alveera mencengkeram lengan kemeja Nathan, wajahnya pucat pasi. "Nathan, kau terluka di London... bahumu belum pulih sepenuhnya. Dan sekarang... aku tidak hanya membawa nyawaku sendiri. Ada janin ini, Nathan."
Nathan menangkup wajah Alveera, mencium keningnya dengan intensitas yang seolah berkata
"aku akan menghancurkan dunia untukmu". "Itulah sebabnya aku tidak akan membiarkan satu peluru pun melewati pintu ini. Pergilah sekarang!"
---
Begitu pintu ruang bawah tanah terkunci dengan bunyi klik yang dingin, Nathan memadamkan seluruh lampu vila. Ia berdiri di tengah ruang tamu yang luas, menyatu dengan kegelapan dan bayang-bayang bunga bugenvil yang merambat di balkon.
*Prang!*
Kaca balkon pecah berantakan bersamaan dengan lemparan granat kejut. Nathan berguling di balik sofa marmer yang kokoh, melepaskan dua tembakan presisi ke arah bayangan pertama yang mencoba mendobrak masuk. Satu peluru menghantam helm taktis lawan, membuatnya terpental dan jatuh ke jurang tebing yang curam.
"Target satu jatuh!" teriak sebuah suara dari luar dalam aksen London yang kaku.
Dua penyerang lainnya masuk secara bersamaan lewat pintu samping dan jendela dapur. Mereka memberondong ruangan dengan pistol. Kayu-kayu furnitur antik hancur berkeping-keping, debu putih dari dinding yang tertembak menutupi pandangan.
Nathan bergerak seperti hantu di antara puing-puing. Ia tidak menggunakan peluru lagi untuk menghemat amunisi yang terbatas. Saat salah satu penyerang melewati meja makan, Nathan muncul dari bayangan dengan gerakan mematikan. Ia memiting leher lawan dan menghujamkan pisau militernya ke celah baju zirah di bagian ketiak—titik terlemah dari pelindung tubuh modern.
"Argh!" Pria itu tumbang, darahnya mencoreng lantai terakota yang indah.
Namun, penyerang ketiga adalah yang paling berbahaya. Ia bukan tentara bayaran biasa. Ia adalah Marco, mantan instruktur bela diri Nathan di unit pasukan khusus yang dulu berkhianat demi emas Jenderal Sterling.
"Kau melunak, Nathan," suara Marco bergema di ruangan yang gelap, penuh ejekan. "Memiliki seorang istri dan bayi di dalam sana membuatmu lambat. Aku bisa mencium aroma ketakutanmu dari sini."
Marco melepaskan rentetan tembakan membabi buta ke arah lantai dapur, tepat di atas posisi ruang bawah tanah tempat Alveera bersembunyi.
"JAUHKAN SENJATAMU DARI LANTAI ITU!" raung Nathan dengan kemarahan yang meluap.
Nathan menerjang Marco dengan kekuatan penuh. Mereka berduel sengit di tengah reruntuhan vila. Marco lebih kuat secara fisik, namun Nathan didorong oleh insting murni untuk melindungi keluarganya. Mereka saling menghantam, menghancurkan kaca-kaca dekorasi dan botol-botol yang pecah, membasahi lantai dengan cairan alkohol yang tajam aromanya.
Marco berhasil menyudutkan Nathan di pagar balkon, menekan leher Nathan dengan lengan bawahnya yang kekar. "Sterling mengirimku untuk memastikan 'Mawar Kecil' itu tidak pernah melihat dunia, Nathan. Kau gagal sebagai pelindung."
Di ruang bawah tanah, Alveera mendengar ancaman keji itu melalui celah ventilasi. Ia melihat sebuah kapak kecil pemotong kayu di dekat tumpukan botol anggur. Keberanian seorang ibu membakar residu ketakutannya sebagai dokter.
Alveera keluar dari persembunyiannya lewat pintu servis dapur yang sempit. Ia melihat Marco sedang mencekik Nathan di ujung balkon. Tanpa ragu, Alveera memutar katup gas dari kompor dapur hingga mendesis dan melemparkan kain pel yang sudah dibasahi alkohol ke arah tumpahan minuman keras di lantai ruang tamu yang kini tersulut percikan api dari kabel lampu yang putus.
*BOOM!*
Ledakan kecil terjadi, menciptakan lidah api yang berkobar hebat dan menghalangi pandangan Marco. Gangguan sesaat itu memberi celah bagi Nathan. Ia menyikut ulu hati Marco dengan keras, memutar tubuhnya, dan memberikan tendangan maut yang mengirim Marco terjun bebas dari balkon menuju karang tajam di bawah sana.
Nathan terengah-engah, memegang bahunya yang kembali berdarah hebat. Ia menoleh dan melihat Alveera berdiri di ambang pintu dapur dengan kapak di tangannya, wajahnya penuh jelaga namun matanya berkilat penuh kemenangan yang liar.
"Kau... kau keluar dari persembunyian?" tanya Nathan, suaranya parau dan penuh rasa tak percaya.
Alveera menjatuhkan kapaknya, berlari kencang ke pelukan Nathan yang bersimbah darah. "Aku tidak akan membiarkanmu bertarung sendirian untuk masa depan kita, Nathan. Tidak akan pernah lagi."
Mereka berdiri di balkon yang hancur, menatap api yang mulai melalap vila indah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan mereka. Tempat persembunyian ini sudah terbakar habis, sama seperti ketenangan semu mereka selama sebulan terakhir.
"Kita tidak bisa tinggal di Italia lagi, Alveera," ujar Nathan, menatap laut lepas dengan tatapan yang kembali dingin dan penuh perhitungan. "Mawar Perak tidak akan berhenti sampai akarnya dicabut. Jika mereka tahu tentang bayi ini, mereka akan memburu kita ke ujung bumi mana pun."
"Lalu kita harus ke mana?" tanya Alveera, memeluk perutnya dengan protektif.
Nathan menatap ke arah utara, melintasi perbatasan negara. "Kita pergi ke pusat rahasia mereka. Kita tidak akan lari lagi, Alveera. Kita akan masuk ke jantung pertahanan mereka di London dan mengakhiri ini semua sebelum anak kita lahir."
---