Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Lorong Rumah Sakit St. Mary’s kembali dicekam ketegangan yang menyesakkan. Suara derap langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan koridor VIP. Pintu kamar 402 terbuka dengan sentakan pelan, namun cukup untuk membuat Raquel yang sedang terisak di sudut ruangan mendongak.
Kent Winters masuk lebih dulu. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak pucat, rahangnya mengeras menahan gejolak emosi. Di belakangnya, Lauren menyusul dengan napas tersengal, menggendong seorang balita perempuan berusia dua tahun yang tampak bingung melihat suasana suram di sekitarnya.
"Tante Raquel..." suara Lauren bergetar. Ia segera menghampiri ibunda Nikolas dan memeluknya erat.
Di ambang pintu, seorang gadis muda berusia 19 tahun berdiri mematung. Ia adalah Agnesia Winters, adik kandung Kent. Agnesia mengenakan pakaian kasual namun rapi, rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Ia menatap ke arah ranjang di tengah ruangan, tempat seorang pria yang selama bertahun-tahun ia dengar namanya sebagai "legenda" kakaknya sedang berbaring tak berdaya.
Nikolas Martinez baru saja ditarik kembali dari ambang maut untuk kedua kalinya. Tim medis berhasil menstabilkan detak jantungnya yang sempat berhenti sesaat akibat syok—sebuah serangan jantung yang dipicu oleh luka batin yang teramat hebat. Kini, Nikolas kembali mengenakan masker oksigen, namun matanya terbuka.
Hanya saja, mata itu tidak lagi sama.
Mata cokelat yang dulu tajam dan penuh api itu kini tampak seperti sumur tua yang kering. Kosong. Mati. Tidak ada lagi binar harapan, tidak ada lagi amarah, bahkan tidak ada lagi air mata. Nikolas hanya menatap langit-langit putih dengan pandangan yang seolah-olah menembus beton dan awan, menuju kehampaan.
"Nik..." Kent melangkah mendekat ke sisi ranjang. Suaranya yang parau terdengar sangat berat. "Kau... kau hampir saja pergi lagi, Bodoh."
Nikolas tidak menoleh. Dadanya naik turun dengan kaku di balik selimut. Ia melepaskan masker oksigennya dengan gerakan lambat, mengabaikan protes dari suster yang sedang memeriksa selang infusnya.
"Dia sudah memiliki anak, Kent," suara Nikolas terdengar sangat tipis, seperti gesekan amplas di atas kayu kering. Sangat dingin dan datar.
Kent terdiam. Ia melirik ke arah ponsel yang kini sudah diamankan oleh Raquel di atas meja. Ia tahu rahasia itu sudah meledak. Ia tahu Nikolas sudah melihat "Baby A".
"Nik, dengarkan aku—"
"Dia memiliki anak," potong Nikolas, kali ini suaranya sedikit lebih keras, namun tetap tanpa emosi. "Dia bahagia di California, Kent. Dia... dia sudah memiliki kehidupan yang sempurna dengan pria bernama Taylor itu."
Lauren mulai menangis tanpa suara, menyembunyikan wajahnya di bahu anaknya, Lorelei. Balita itu, yang memiliki mata jernih mirip ayahnya, mengulurkan tangan kecilnya ke arah Nikolas.
"Om..." gumam Lorelei polos.
Nikolas mengalihkan pandangannya sedikit ke arah anak Kent dan Lauren. Ia menatap Lorelei selama beberapa detik, lalu beralih menatap Kent. "Kau sudah memiliki Lorelei. Kau sudah membangun apa yang dulu pernah kita bicarakan di markas. Sementara aku... aku hanya tertidur dan terbangun di pemakaman mimpiku sendiri."
Suasana kamar menjadi sangat memilukan. Kent mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. "Maafkan kami, Nik. Kami hanya ingin kau pulih dulu."
"Pulih untuk apa, Kent?" tanya Nikolas, kini ia menoleh sepenuhnya ke arah sahabatnya. "Untuk melihat bahwa porselen itu tidak pecah, tapi hanya berganti pemilik? Untuk melihat bahwa aspal yang aku banggakan ternyata tidak bisa mengejar pesawat yang membawanya pergi?"
Nikolas tertawa kecil—sebuah tawa yang lebih menyakitkan daripada suara tangisan. Ia kembali menatap langit-langit. "Jangan khawatir. Aku tidak akan mencoba mati lagi. Itu terlalu merepotkan bagi kalian. Aku hanya... aku hanya ingin berhenti mengingat."
Di sudut ruangan, Agnesia Winters tidak bisa melepaskan pandangannya dari Nikolas. Sejak ia masih remaja, sejak ia masih duduk di bangku SMP, ia sudah sering mendengar nama Salene Lumiere dari cerita-cerita Lauren yang tak ada habisnya. Nama itu selalu digambarkan sebagai standar kecantikan tertinggi, sebagai gadis yang sanggup meluluhkan hati seorang Nikolas Martinez yang liar.
Agnesia menatap mata Nikolas yang hancur. Ia bisa merasakan kepedihan yang memancar dari pria itu. Dalam hatinya, Agnesia bertanya-tanya dengan rasa penasaran yang mendalam.
Seperti apa sebenarnya wajah Salene Lumiere itu? batin Agnesia. Seberapa hebat pengaruhnya hingga sanggup membuat pria setangguh ini memilih untuk berhenti bernapas saat tahu gadis itu sudah pergi?
Bagi Agnesia, Salene Lumiere hanyalah sebuah mitos, sebuah karakter dalam dongeng tragis yang diceritakan abangnya. Namun melihat kehancuran Nikolas secara langsung, ia menyadari bahwa Salene bukan sekadar manusia, tapi adalah sebuah kutukan yang indah bagi Nikolas.
Agnesia melangkah perlahan, mendekat ke arah ranjang. Ia mengambil segelas air putih yang ada di meja nakas dan mengulurkannya pada Nikolas. "Minumlah, Kak Nikolas. Tenggorokanmu pasti sakit."
Nikolas melirik Agnesia. Ia seolah baru menyadari keberadaan gadis itu. Ia menatap Agnesia dengan pandangan kosong, lalu menerima gelas itu tanpa sepatah kata pun.
"Ini adikku, Nik. Agnesia. Kau mungkin ingat dia masih kecil dulu saat sering main ke bengkel," ujar Kent mencoba mencairkan suasana.
Nikolas tidak menanggapi. Ia meminum air itu sedikit, lalu meletakkan gelasnya kembali. Ia memejamkan mata, namun bukan untuk tidur. Ia sedang mencoba membangun dinding baru di dalam hatinya—dinding yang lebih tebal dari tembok Mansion Lumiere, dinding yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh aroma mawar atau kenangan air lemon mana pun.
"Kent," panggil Nikolas tanpa membuka mata.
"Iya, Nik?"
"Bawa semua barang-barangku dari markas yang berhubungan dengan dia. Bakar semuanya. Jaket, foto, atau apa pun itu. Aku tidak ingin melihatnya lagi saat aku keluar dari sini nanti."
Lauren tersentak. "Nik! Kau tidak bisa melakukan itu! Itu kenangan satu-satunya—"
"Kenangan itu yang hampir membunuhku tadi, Lauren!" suara Nikolas meninggi, penuh dengan kepahitan yang meledak. "Aku tidak butuh kenangan. Aku butuh ruang untuk bernapas di dunia yang sudah tidak ada dia di dalamnya. Tolong... lakukan itu."
Kent mengangguk pelan, meski hatinya berat. "Baiklah, Nik. Kalau itu maumu."
Malam itu, di dalam kamar rumah sakit yang dingin, Nikolas Martinez memulai proses transformasinya. Ia bukan lagi Nikolas yang mengejar cinta di bawah lampu jalanan London. Ia sedang mematikan bagian dari dirinya yang pernah mencintai Salene Lumiere.
Agnesia Winters tetap berdiri di sana, mengamati setiap gerak-gerik Nikolas. Ada sesuatu dalam diri pria yang hancur ini yang menarik perhatiannya. Bukan karena rasa kasihan, tapi karena ia ingin tahu apakah seseorang yang sudah kehilangan jiwanya bisa kembali menemukan alasan untuk hidup.
Salene Lumiere mungkin sudah pergi dan bahagia, pikir Agnesia sambil menatap profil wajah Nikolas yang keras. Tapi kau masih di sini, Nik. Dan duniaku baru saja mulai mengenalmu.
Di luar jendela, hujan London mulai turun, seolah ikut menangisi kematian cinta masa muda yang begitu legendaris itu. Sementara di California, Salene mungkin sedang menimang Baby A, tanpa tahu bahwa di sebuah rumah sakit di London, pria yang dulu ia panggil "rumah" sedang berusaha menghapus namanya dari setiap sel otaknya.
Kebebasan—bagi Nikolas kini bukan lagi tentang keluar dari rumah sakit. Tapi tentang menjadi asing bagi dirinya sendiri yang dulu pernah mencintai seorang gadis porselen.
🌷🌷🌷🌷