NovelToon NovelToon
Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sujie

Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?

Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.

Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.

Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?

Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan yang tak diinginkan

Beberapa hari kemudian...

Hari yang tak pernah diharapkan itu pun akhirnya datang juga. Hari dimana Maira harus menghadiri dan menyaksikan langsung acara pernikahan kedua suaminya. 

Rumah telah di dekorasi selayaknya akan diadakannya sebuah pernikahan pada umumnya. Kamar pengantin pun telah disiapkan, dihias dengan indah, ditaburi kelopak bunga mawar merah diatas tempat tidurnya.

**

"Sayang, masih ada waktu untuk membatalkan ini semua." Agam berkata dengan wajah sayunya. Tak ada semangat di dalam dirinya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti ia harus bersikap setelah ijab qobul itu terlantun dari bibirnya. Menghalalkan seorang wanita lagi yang akan menjadi bagian dari hidupnya. 

Betapapun terjadinya pernikahan ini, bukankah kewajiban tetap akan menjadi sebuah kewajiban? Dan itu tentu saja berat bagi sang pelakunya. 

"Andai aku bisa seegois itu, Mas. Andai aku bisa setega itu untuk tak memikirkan nasib Sita dan juga calon anaknya. Aku pun tak ingin ada wanita lain yang hadir di tengah-tengah kita." Maira menatap kosong kedepan, berkata lirih tanpa melihat kearah suaminya. 

"Aku bisa bertanggung jawab tanpa harus menikahinya, bukan? Kita hanya perlu memberikan jaminan kehidupan untuk keduanya. Pernikahan ini tidak akan mudah untukku dan untukmu, Maira. Ku mohon dengarkan aku sekali ini saja sebelum terlambat!" 

Karena aku tak ingin menyakitimu, Maira. Batin Agam.

"Masalahnya bukan hanya Sita dan bayinya saja, Mas. Bagaimana dengan keluarga Sita? Apa mereka rela jika anak gadisnya diperlakukan seperti ini? Lagipula ini bukanlah salah Sita, Mas. Dia adalah korbanmu. Berat atau tidak, semuanya harus dijalani." 

Dan jika aku sudah tidak kuat, maka aku akan mundur saja, Mas. Lanjut Maira dalam hatinya. 

Tok ... tok ... tok ....

"Agam ... Maira!" Terdengar suara ibunya Agam dari luar kamar mereka. 

"Masuk aja, Buk," jawab Maira dari dalam.

"Nak ... bagaimana? Kamu sudah siap, Gam?" tanya ibunya dengan raut wajah yang susah dilukiskan. Tak ada binar bahagia sama sekali. 

"Buk ... Agam nggak siap. Agam nggak bisa menikahi Sita. Ini terlalu berat, Buk." Seperti seorang anak kecil, Agam merengek pada ibunya sambil memegangi tangannya. 

"Ini adalah sebuah konsekuensi, Gam. Suka atau tidak, berat atau ringan, tapi semua ini harus kamu tanggung, Nak. Kedepannya jadikan ini sebagai pelajaran bagimu. Sekarang turunlah ke bawah, hargai Sita dan bapaknya. Mereka juga kasian, Gam." 

"Maira, yang sabar ya. Ibu tau sekali bagaimana perasaan kamu saat ini. Ibu hanya bisa berdoa, semoga hati kamu semakin dilapangkan untuk menerima ujian berat ini." Wanita paruh baya itu lalu memeluk menantunya. Mengusap kepalanya yang terbalut jilbab berwarna marun. 

"InsyaAllah Maira kuat, Buk." Maira membalas pelukan itu seiring dengan tumpahnya air mata dan membasahi pipinya. 

Sungguh berat rasanya, tapi ia bisa apa? 

****

Ini adalah hari pernikahan, namun tak selayaknya pernikahan pada umumnya. Tak ada rona bahagia yang terpancar dari setiap orang yang hadir. 

Sita hanya menunduk, sementara bapaknya diam seolah menyimpan sebuah amarah. 

Tentu saja, siapa yang rela anaknya dijadikan istri kedua? Dalam keadaan terpaksa seperti ini pula. Bahkan Agam terlihat tak begitu niat sama sekali.

"Baiklah, karena kedua mempelai sudah hadir berikut para saksinya, maka acara ijab qobul ini bisa kita mulai sekarang," ujar penghulu. Setelah itu beliau menjelaskan sedikit tentang ijab qobul ini. 

Agam terlihat tidak fokus, di dalam pikirannya hanya ada Maira. Sekilas ia melirik wanita yang dicintainya itu. Sakit sekali rasanya harus menghadirkan madu dengan cara seperti ini. 

Maafkan aku, Maira ....

"Pak Agam sudah siap?" tanya penghulu. 

Dengan berat dan sangat terpaksa, Agam pun menganggukkan kepalanya. Setelahnya ijab qabul pun dimulai. 

Kata demi kata terucap dari bibir Agam yang bergetar. Mengucapkan janji suci pernikahan yang akan mengikat hubungannya dengan Sita setelah ini.  Hingga terdengar suara saksi yang bersahutan dan menggema di ruang tamu rumahnya. 

"Sah!" Begitulah suara yang akhirnya menyadarkannya. 

Agam menoleh pada Maira yang berada dalam pelukan ibunya. Perempuan itu terlihat menyeka wajahnya berkali-kali. 

Pemandangan yang sama pun ia dapati dari Sita. Ia juga terlihat menyeka buliran bening di wajahnya, bahunya terguncang sesekali. 

Ya Allah ... ampuni hambamu ini. Atas ulah hamba, dua wanita tak bersalah ini harus menanggung akibatnya. Ratap Agam. 

Kini ia telah menjadi imam bagi dua orang wanita, yang meskipun salah satunya tak ia cintai sama sekali. 

"Tolong jaga Sita dengan baik!" ujar bapak Sita kepada menantunya setelah semua tamu undangan tak seberapa banyak itu bubar.

Mendengarnya, Agam hanya mengangguk. Ekor matanya mengikuti kemana langkah kaki Maira bergerak. Hatinya gusar dan juga semakin takut, namun ia tak bisa langsung mengejar istrinya begitu saja. 

Ada Sita dan juga bapaknya yang sekarang ini masih disini. 

"Pak, Buk ... Agam mau ke kamar sebentar, ya. Agam mau buang air," ucapnya pada orang tuanya. Ia lantas bergegas menuju kamarnya. 

***

"Kok kamu kesini, Mas? Ini adalah hari pernikahanmu." Maira yang mengetahui kedatangan suaminya pun langsung menyambutnya dengan pertanyaan. 

"Jangan gila, Maira! Pernikahan ini hanyalah status, dan kau tahu itu. Jangan paksa aku untuk melakukan yang lebih dari ini!" Agam berbicara sambil berjalan cepat menghampiri istrinya yang duduk di tepi ranjang sambil menatap jendela.

"Bukankah dibawah masih ada bapaknya Sita? Setidaknya temui dan ajaklah beliau untuk berbicara. Belajarlah untuk mulai menjaga perasaan orang lain, Mas. Beliau juga mertua mu sekarang." 

"Aku tahu, tapi tidak bisakah kalian juga mengerti posisiku? Aku tak tahu apa-apa, Maira. Lalu aku harus bertanggung jawab atas hal ini." Entah sudah ke berapa kalinya Agam mengutarakan hal ini. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. 

"Aku tahu, Mas. Tapi terkadang kita tak harus selalu memikirkan diri kita sendiri, karena ada banyak orang lain disekitar kita. Jujur saja ini sangat berat untukku, hatiku juga sakit sekali yang bahkan aku sendiri tak bisa mrlukiskannya, tapi aku juga memposisikan diri sebagai Sita. Inilah kenapa, aku terus berusaha untuk tetap tegar." Maira menatap lekat suaminya. Berharap lelaki itu mengerti akan posisinya.

Maira belum ingin berlama-lama bersamanya.

"Bolehkah aku memelukmu, maira?" tanya Agam pasrah. Rasanya lama sekali ia tak bisa lagi merengkuh tubuh istrinya itu. Ada sebongkah rindu yang terasa sangat menyiksa sekali. 

"Selesaikan dulu urusanmu, Mas. Aku juga masih butuh waktu." 

"Baiklah, tapi ku mohon padamu ... jangan ada yang berubah diantara kita. Aku mencintaimu, Maira. Hanya kamu." Agam pun pasrah. Ia lantas berjalan dengan langkah gontai keluar kamar.

1
Reichan Muhammad
kapan bikin karya baru torr
Surati
bagus
Vindy swecut
keren👍🏻
Enung Samsiah
pokonya yg kasihn disini yg pling mnderita cuma sita,, agam pengecut
Enung Samsiah
endingnya nggk seru, sita ksihn ggk pernah bhgia, apalagi agam pengecut nggk punya hatii bngett
Enung Samsiah
tpi yg lbh kasihn itu sita, sakit hatinya tidk bisa marah pd siapapun, nyesekkk,,,
Enung Samsiah
kasim nggk punya hati,,,
Enung Samsiah
pk kasim ngebiarin dosa nggk punya hati bngett brengsekkkk,,
Enung Samsiah
susah hamil karena kecapean mungkin pada sibuk pagi pergi pulang mlm,,
Anonim
Ppp p0..00.0
Armi Armi
cari tu yg agak tuaan, ini mah si meira yg cari penyakit....
Hasian Marbun Ian ayurafanisa
bnyak yg coment masalah pembantu yg masih muda, menurut aq bkn masalah pembantu tua ato mudanya tapi agamnya yg salah karena gk teguh pendirian
Tut Eny
lanjut
i am wiyya
kasihan sita.. walaupun rela tp nyatanya maira agam dan orangtunya agam jahat dan egois... bukan kesalahan sita sepenuhnya...
~R@tryChayankNov4n~
blm rilis ya thor novel barunga....
gw intip koq gk ad🙃
~R@tryChayankNov4n~
otw ngintip...👍👍💛💛
Helsey Khalila
bikin sita ama reza thorr kasian sita
Keiza Alfaro
sebenarnya yg salah disini adalah Maira kalau dia sudah merelakan Agam untuk menikah dengan Sita seharusnya dia juga memberikan hak yg sama dengan Sita.tp nyatanya apa hanya ketidak adilan yg diterima oleh Sita hingga menyakiti hati Sita dan Agam lah yg menanggung dosa karena tidak bisa berbuat adil kepada kedua istrinya.kalau kita tidak rela berbagi ranjang dengan wanita lain jgn pernah meminta suami kita menikah lagi.kalau maira wanita yg terpilih pasti dia akan ridho untuk dimadu,pasti dia akan ridho membagi suaminya dengan istri keduanya.
Helsey Khalila
seorang istri yg berhati mulia
sari emilia
mk nya kl ga pernah minum ga usah so so an ikut kaim dajal jd double kn dosanya mabok n berzinah untunh ga sekalian spt kisah zurais
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!