Baru 3 tahun usia pernikahan Audy Danita dan Faiz Wiratama sudah dilanda berbagai konflik. Padahal diawal pernikahan semua berjalan baik dan romantis. Hingga akhirnya ketika sudah hadir buah hati mereka, keadaan di dalam rumah semakin berubah tidak menentu. Yang seharusnya kehadiran seorang anak menjadikan sebuah keluarga semakin harmonis, namun yang terjadi malah sebaliknya. Faiz jadi jarang di rumah. Pulang kerja telat dan sesampai di rumah selalu sibuk dengan gadgetnya. Sehingga Audy merasa Faiz tidak memperhatikan dia dan anak-anaknya lagi. Audy pun menyadari mungkin Faiz bosan terhadapnya karena kini penampilan tidak secantik dulu lagi. Audy full mengurusi rumah dan anak-anak saja setelah Faiz menyuruhnya resign dulu setelah menikah. Apa yang membuat Faiz berubah? Akan kan Audy mempertahankan rumah tangganya setelah kerap ribut dan Faiz menyebut kata "cerai"? Atau Audy berusaha untuk kembali menjadi dirinya sendiri seperti masa lajang sehingga banyak yang mengaguminya walaupun bergelar istri? Berakhir Talak kah rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah dwi julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Sesampai di rumah Audy langsung menuju kamar. Ia ingin berganti pakaian dan merebahkan diri. Sengaja Cindy masih ia titipkan pada Mami. Sebenarnya saat-saat seperti ini, Cindy adalah pelipur lara baginya. Tapi ia tak ingin Cindy melihat konflik yang sedang terjadi pada mama dan papanya. Bahkan Audy tak mau mami dan papinya tahu semua ini. Ia sangat yakin jika orang tuanya tahu, Faiz tidak akan pernah lagi menjadi menantu kesayangan. Audy masih menutup rapat rahasia konflik rumah tangganya dari orang tuanya.
Sementara Faiz ia masih dilema. Ia merasa bersalah. Faiz duduk di meja makan menunggu Audy keluar menemuinya. Ponselnya berdering menandakan panggilan masuk.
Maya Humaira
Faiz: Halo assalamualaikum..
Maya: Waalaikumsalam.. Faiz ibuku meninggal dunia.
Faiz: Innalillahiwainnaillahirojiun..
Setelah menyelesaikan panggilan dari Maya, Faiz meraup wajahnya menandakan ia semakin dilema. Maya meminta bantuannya mengurusi kepulangan jenazah ibunya ke kotanya. Sementara masalahnya dengan Audy belum selesai. Ia mondar mandir di depan pintu kamar Audy. Ia bingung bagaimana memberitahu Audy.
Tok.. Tok.. Tok.
Audy membuka pintu.
"Audy, maaf aku harus ke rumah sakit. Maya meminta bantuan ku untuk mengurusi jenazah ibunya pulang ke kotanya. Dia gak punya keluarga dan kerabat di sini. Aku mohon kamu jangan marah. Secepatnya aku akan pulang." Audy tak menjawab ia hanya melenguh dan Faiz pun meninggalkan rumah dengan terburu-buru.
Audy tak bisa lagi menangis. Air matanya sudah mengering. Malam ini ia akan menginap di rumang orangtuanya bersama Cindy. Ia berusaha membuat sembabnya berkurang. Mengompres wajahnya dengan air dingin. Ia memoles sedikit make up untuk menyamarkan sembab dan agar wajahnya terlihat segar.
Sebelum ke rumah orang tuanya ia akan makan dulu. Supaya segala penyamaran kesedihannya sempurna. Di sepanjang jalan di dalam taksi ia memutar video-video lucu untuk memperbaiki moodnya. Kemudian melihat gaun-gaun pengantin yang akan dibelinya nanti. Audy membayangkan jika usaha tata riasnya semakin besar. Ia bisa mandiri dan tak bergantung hidup pada siapapun. Dan yang terpenting ia bisa berjuang untuk masa depan anak-anaknya.
Audy tersenyum sendiri, sampai tak terasa ia sudah sampai pada tujuannya. Audy sedang ingin sekali makan soto kudus. Sudah dari awal-awal sebelum tahu bahwa ia hamil, ia mengidam soto kudus.
"Pak soto kudusnya satu." pesan Audy pelayan.
"Sayurannya lengkap ya, Pak. Orang yang lagi hamil harus makan sayur soalnya." suara seseorang menyambung perkataan Audy. Cukup familiar bagi Audy.
"Chiko.." Audy melihat-lihat ke belakang Chiko.
"Angelica gak ada kok. Dia lama di Hongkong." jawab Chiko sambil tertawa.
"Bukan, ku kira kamu sama Devin dan Marissa." jawab Audy polos.
"Ya nggak lah, penting banget aku harus ikut orang pacaran kemana-mana?" canda Chiko.
Audy hanya tersenyum. Ia berusaha menjaga jarak. Takut-takut terjadi fitnah lagi.
Tak lama datang seorang wanita paruh baya dengan gaya sosialita. Berkacamata ala syahrini. Bibir merah seperti cabai. Rambut merah maroon menutupi uban-uban yang mulai liar. Emas lengkap dari anting, kalung dan gelang. Membawa tas tangan dengan celana kulot hitam dan kaos rajut berwarna mustard. Sungguh seperti madam kelas atas.
"Chiko, pesanan mama sudah belum?" tanya Oma gaul itu pada Chiko. Tante Merry, mamanya Chiko. Masih seperti dulu, bedanya sekarang lebih modis.
"Udah, Ma. Mama sini. Kita duduk bareng Audy." Padahal Audy belum menyetujui untuk satu meja dengan mereka.
Audy terkejut tapi mau tidak mau ia harus menyapa tante Merry.
"Halo tante, apa kabar?" sapa Audy dan menyodorkan tangan untuk bersalaman. Tante Merry menyambutnya dengan sedikit sentuhan saja.
"Hai Audy. Kerja apa sekarang? Tante dengar-dengar kamu sudah menikah." tanya Tante Merry sambil memainkan ponsel keluaran terbarunya.
"Iya sudah tante." Audy hanya menjawab perihal pernikahan.
"Kalau kamu masih sama Chiko bisa-bisa jadi gadis tua kamu." kata Tante Merry sedikit sinis.
"Ish mama, Mama tau gak, Audy sekarang sukses loh, Ma. Dia merintis bisnisnya dari Nol. Sekarang dia jadi MUA hits. Bahkan nanti dia akan ada project bersama Devin ke Malaysia untuk acara pernikahan sultan johor." Chiko membanggakan Audy.
"Oh sama kayak Angelica, bisnisnya udah sampe luar negeri, bahkan sekarang punya apartemen mewah di Hongkong." Tante Merry membanggakan Angelica.
"Duh apes banget sih pas ngidam ketemu mereka. Untung yang bakal mantunya Angelica, bukan gue. Nih oma-oma gak tau apa anaknya masih ngejar-ngejar gue? Lagian ini si Chiko, gak pake berhenti ngejar-ngejar terus padahal gue lagi hamil anak ke 2. Bisa gak sih dia pas ketemu gue kayak gini yaa acara masing-masing. Bisa hilang selera ngidam gue kayak gini ceritanya" batin Audy.
Makanan datang ia sudah terlanjur memesan. Audy sebenarnya bete, tapi ngeliatin orang kaya baru di depannya makan, Audy pengen ngakak. Lipstik yang tadinya menor sekarang belepotan kemana-mana, karena sebenernya tante Merry udah pake gigi palsu. Jadi, kalo ngunyah rada sudah. Terus sambil ngoceh-ngoceh sendiri soal makanannya. Ya terlalu panas, ya kurang asin, ya porsinya sedikit. Pokoknya ya salam deh ngeliatnya. Ujung-ujungnya kepedesan gara-gara kebanyakan cabe. Seenggaknya Audy sedikit terhibur.
Audy buru-buru menyelesaikan makannya. Hari sudah menjelang magrib dan ia harus segera pulang ke rumah orangtuanya. Tak lupa ia membeli sedikit cemilan untuk Cindy dan maminya. Chiko menawarkan untuk mengantar pulang, Audy buru-buru menolaknya. Ia tak mau maminya tahu bahwa Chiko sekarang sering menghubunginya. Bisa-bisa jika nanti ada perceraian ia yang disalahkan, padahal Faiz yang jelas-jelas menyakitinya.
..
so baik..
jgn konflik trs Thor yg di sajiin bosen yg bacanya
aku jdi ikut emosional