Ini gila!
Tak pernah terlintas sedikit pun di benak Gea bahwa setelah kematiannya, ia tidak pergi ke alam baka. Sebaliknya, ia justru terbangun kembali di tubuh orang lain. lebih parahnya lagi tubuh itu adalah milik Rena siswi terkenal di sekolah sebagai pembuat onar dan tokoh antagonis yang dibenci banyak orang.
Rena dikenal sebagai gadis yang gemar membully siswi lain yang berani mendekati pria yang ia sukai. Dengan sombong, ia juga sering mengeluarkan siswa dari sekolah hanya karena mereka menentangnya, berlindung di balik statusnya sebagai anak dari pemilik yayasan sekolah.
Sekarang Gea harus hidup di dalam tubuh gadis yang memiliki reputasi buruk itu.di mata semua orang, ia tetaplah Rena si pembully kejam.tak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Akankah Gea mampu memperbaiki kesalahan Rena di masa lalu?
Satu hal yang pasti…
Mulai hari ini, hidup Gea tidak akan pernah sama lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kymocyy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Koridor sekolah kembali terasa terlalu sempit bagi Maya,Langkahnya berhenti di ujung lorong lantai dua, tepat di dekat jendela panjang yang menghadap ke taman belakang sekolah.
Dari sana, cahaya sore jatuh miring menimpa ubin pucat.
Angin masuk tipis-tipis, membawa aroma daun basah dan tanah yang masih menyimpan sisa hujan semalam.
Di bawah sana taman belakang sekolah terlihat hampir sama.
Tidak banyak berubah.
Bangku besi tua itu masih ada.
Pohon ketapang di sudut taman masih berdiri dengan cabang-cabang yang terlalu rimbun.
Dan jalan setapak kecil di tengah rumput masih menyimpan terlalu banyak hal yang seharusnya sudah lama mati.
Maya menatap ke bawah cukup lama.
Lalu perlahan, tangannya masuk ke dalam saku rok.
Jari-jarinya meraba sesuatu yang sudah sangat familiar.
Tipis.
Sedikit kusut di ujung.
Dan ketika benda itu akhirnya keluar dari genggamannya napas Maya tertahan nyaris tak terasa.
Sebuah foto lama berukuran kecil, sudut-sudutnya sudah memutih dimakan waktu, permukaannya dipenuhi goresan tipis yang menjadi saksi betapa lama kenangan itu disimpan. Namun anehnya, wajah-wajah di dalam foto itu masih tampak begitu jelas terlalu jelas hingga terasa menyesakkan. Di sana, dua gadis kecil berseragam putih biru berdiri berdampingan di taman belakang sekolah, membeku dalam satu potongan waktu yang seharusnya sudah lama terlupakan.
Masing-masing memegang es krim cup murah yang mereka beli diam-diam setelah jam olahraga.
Rena berdiri di sebelah kiri, rambutnya diikat setengah dengan beberapa helai yang jatuh lembut di pipinya karena sapuan angin, sementara senyum lebarnya terlihat begitu terang dan hidup, seolah dunia saat itu benar-benar berpihak padanya.
Senyum yang bahkan tertangkap oleh kamera pun masih terlihat terlalu hangat untuk dibenci.
Dan di sebelahnya Maya.
Dengan poni yang sedikit berantakan.
dan wajah yang jauh lebih bulat, dengan senyum kecil yang tampak malu-malu.
Senyum yang waktu itu masih tulus.
Masih belum tahu apa-apa.
Masih belum mengerti bahwa beberapa kenangan tercipta hanya untuk menjadi luka di kemudian hari.
Maya menatap foto itu tanpa berkedip.
Lama sekali.
Sampai matanya mulai terasa panas.
Sampai dadanya perlahan dipenuhi sesuatu yang begitu sesak hingga nyaris membuatnya sulit bernapas.
Lalu sudut bibirnya terangkat.
Senyum tipis.
Getir.
Senyum seseorang yang sedang melihat makam dari sesuatu yang dulu pernah hidup di dalam dirinya.
“Lucu…”
suara Maya akhirnya keluar.
Pelan.
Nyaris tenggelam oleh desir angin.
“Dulu aku benar-benar mikir… kita bakal temenan lama.”
Matanya tidak beranjak dari foto itu.
Tatapannya menelusuri wajah Rena kecil di dalam gambar.
Wajah yang dulu pernah ia percaya.
Wajah yang dulu pernah ia tunggu setiap pagi di gerbang sekolah,Wajah yang dulu pernah menjadi tempat paling nyaman yang ia punya.
Dan justru karena itu rasa sakitnya menjadi jauh lebih kejam.
Karena tidak semua luka datang dari orang yang membencimu.
Kadang luka terburuk justru datang dari seseorang yang pernah membuatmu merasa dipilih.
Ingatan itu datang lagi pelan, samar, namun menyesakkan seperti kabut tipis yang merayap diam-diam dari sudut-sudut kepalanya, membawa kembali bayangan taman belakang sekolah, sore yang terlalu cerah, dan suara anak-anak dari lapangan basket yang terdengar sayup dari kejauhan.
Dan Rena yang waktu itu tertawa sambil mengangkat es krimnya ke arah kamera.
“May, senyum dong!”
Maya kecil yang berdiri canggung di sampingnya sempat mengernyit.
“Aku jelek kalau difoto…”
Rena langsung mendekat.
Lalu tanpa izin, ia menyelipkan lengannya ke tangan Maya.
“Mana ada. Kamu lucu tau.”
Klik.
Foto itu diambil tepat di detik setelahnya.
Di detik ketika Maya, untuk pertama kalinya, benar-benar percaya bahwa mungkin… ia punya tempat di sisi seseorang.
Ia sempat percaya bahwa mungkin dunia tidak akan selalu menaruhnya di belakang, bahwa mungkin untuk sekali saja,ia tidak perlu hidup dalam ketakutan akan ditinggalkan; betapa bodohnya, betapa naifnya, dan betapa menyedihkannya jika dipikir-pikir sekarang, karena gadis dalam foto itu tidak tahu sama sekali tidak tah u bahwa pada akhirnya, harapan kecil yang ia genggam begitu erat justru akan menjadi awal dari luka yang paling sulit ia lupakan.
bahwa suatu hari ia akan menatap gambar yang sama dengan perasaan seperti ini.
Dengan dada sesak.
Dengan tenggorokan tercekat.
Dengan hati yang terasa seperti diperas perlahan oleh tangan tak terlihat.
Maya memejamkan mata sebentar.
Namun justru di balik kelopak itu, semuanya menjadi lebih jelas.
Terlalu jelas.
Ia bisa mendengar tawa Rena lagi.
Melihat sorot matanya lagi.
Mengingat betapa mudahnya gadis itu menyentuh hidup orang lain lalu meninggalkan bekas begitu dalam tanpa pernah benar-benar sadar.
Dan yang paling menyiksa
Maya tidak bisa memutuskan mana yang lebih menyakitkan:kenyataan bahwa ia pernah begitu menyayangi Rena…atau kenyataan bahwa sebagian kecil dari dirinya mungkin masih menyayangi gadis itu sampai sekarang.
Karena benci yang paling tajam tidak pernah lahir dari ketiadaan,Benci seperti itu lahir dari sesuatu yang dulu pernah sangat tulus hangat, dan nyata lalu hancur perlahan, tepat di depan matanya sendiri hingga saat Maya membuka mata.
Tatapannya kembali jatuh pada foto itu dengan dada yang terasa sesak oleh sisa-sisa luka yang tak pernah benar-benar pergi.
Pada dua gadis kecil yang terlihat seolah dunia belum sempat menyentuh mereka dengan tangan yang kejam.
Untuk sesaat yang sangat singkat, Maya benar-benar ingin merobek foto itu, membuangnya, lalu menginjaknya sampai hancur agar tidak ada lagi bukti bahwa ia pernah sebodoh itu, pernah sebahagia itu, dan pernah melihat Rena bukan sebagai luka, melainkan rumah
Tetapi jemarinya justru semakin erat menggenggam tepi foto itu, seolah setelah semua rasa sakit yang ia rasakan, ia tetap tidak mampu benar-benar melepaskan masa lalu yang sudah membusuk di dalam dirinya, dan itulah bagian yang paling memalukan sekaligus paling menyedihkan karena jauh di dalam hatinya, Maya tahu, yang ia benci bukan hanya Rena, tetapi juga dirinya sendiri yang dulu terlalu mudah percaya.
Dirinya yang dulu terlalu kecil untuk mengerti bahwa beberapa orang hadir dalam hidupmu bukan untuk tinggal…
melainkan hanya untuk mengajarimu seperti apa rasanya kehilangan.
“Masih disimpan?”
Suara itu datang tiba-tiba dari belakang rendah, lembut, namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Maya menegang dalam sekejap, hingga jemarinya refleks menutup foto itu seolah benda kecil itu adalah rahasia yang tak boleh dilihat siapa pun.
Napasnya tercekat, kepalanya menoleh secara perlahan menatap kearah sumber suasara
Dan di sana berdiri Rena.
Dengan seragam yang sekarang jauh berbeda.
Dengan wajah yang lebih dewasa.
Dengan sorot mata yang tidak lagi semurni dulu, tapi masih menyimpan sisa-sisa gadis kecil dalam foto itu.
Sinar sore jatuh miring ke sisi wajahnya.
Membuatnya tampak terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membuka pintu menuju kuburan masa lalu orang lain.
Maya tidak langsung menjawab tenggorokannya terasa kering, dadanya menegang, dan jantungnya berdetak terlalu keras sampai-sampai ia sendiri merasa malu mendengarnya.
sementara di hadapannya Rena hanya menatap tangan Maya tepat pada foto yang masih ia genggam erat,sebelum perlahan melangkah mendekat dan berbisik pelan, “Jadi… kamu benar-benar Maya,” sebuah kalimat sederhana yang entah kenapa terdengar seperti sesuatu yang baru saja ditarik paksa dari dasar waktu.
“Akhirnya ingat juga?” ujar Maya dengan suara tipis yang terdengar lembut di permukaan, tetapi menyimpan ketajaman yang nyaris seperti pisau.
sementara Rena hanya terdiam dan kembali menatap foto itufoto dua gadis kecil di taman belakang sekolah dengan senyum yang kini terasa seperti milik orang asing sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku sempat ngerasa familiar, tapi aku nggak yakin…” yang hanya dibalas Maya dengan tawa kecil, pendek, dan hampa, lalu gumamannya yang nyaris terdengar seperti sindiran halus, “Oh, ya?” tepat saat Rena perlahan mengangkat pandangan.
Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, mata mereka benar-benar bertemu.
“Aku minta maaf.”
Tiga kata itu seharusnya sederhana.
Seharusnya cukup.
Seharusnya mungkin bahkan terdengar tulus Tapi entah kenapa
di telinga Maya, kalimat itu justru terasa seperti garam yang ditaburkan ke luka yang sudah lama bernanah.
Senyum di bibirnya berubah.
Masih tipis.
Masih tenang.
Tapi sekarang jauh lebih dingin.
“Kamu minta maaf untuk yang mana, Rena?”
Angin berhenti terasa hangat.
Taman di bawah sana mendadak tampak terlalu jauh.
Dan di antara mereka masa lalu yang tadinya hanya hidup dalam foto itu
akhirnya benar-benar berdiri di dunia nyata.Rena tidak langsung menjawab.
Sinar sore jatuh tipis di antara mereka, membelah jarak yang seharusnya tidak pernah sejauh ini.
Maya masih menggenggam foto itu.
Terlalu erat.
Seolah jika ia sedikit saja melonggarkan jari, semua yang selama ini ia tahan akan runtuh di tempat.
“Aku minta maaf untuk semuanya yang mungkin pernah bikin kamu sakit,” kata Rena akhirnya, pelan. “Kalau aku emang pernah bikin kamu ngerasa—”
“Bukan ‘ngerasa’.” potong maya.
Rena terdiam. Maya menatap lurus rena yang di depannya.
Matanya tidak lagi dipenuhi amarah yang berisik.
Justru sebaliknya.
Terlalu tenang.
Terlalu datar.
Seperti permukaan air yang diam sebelum seseorang sadar bahwa dasar danau itu ternyata jauh lebih gelap dari yang terlihat.
“Kamu nggak bikin aku ‘ngerasa’ apa-apa, Rena,” katanya pelan. “Kamu emang nyakitin aku.”
Angin sore berembus kecil.
Membuat ujung rambut Maya bergeser tipis.
Namun yang bergetar justru sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.
“Tapi lucunya…” Maya tersenyum kecil. “Aku pernah pengin maafin semuanya.”
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi
Ada sesuatu di dalam dirinya yang pelan-pelan membuka pintu kenangan lain.
Bukan kenangan masa SMP.
Bukan tentang Adrian.
Tapi tentang luka berikutnya.
Luka yang seharusnya berhenti di sana.
Luka yang semestinya tak pernah punya kesempatan untuk hidup lagi.
Namun ia datang kembali.
Menyamar dalam sosok yang berbeda.
Datang dengan seragam yang berbeda.
Membawa cara yang berbeda untuk menghancurkan.
Dan tetap saja rasanya sama menyakitkannya.
Tbc......