Volume 1- End
Seorang anak perempuan mencoba mewujudkan cita-citanya untuk menjadi agen rahasia. Sifatnya yang sedikit dingin menjadi daya tarik tersendiri untuk orang lain.
kebiasaannya yang lebih menyukai kesendirian dan tak suka suara bising bertentangan dengan resiko menjadi agen rahasia yang mana hari-harinya akan di penuhi serencengan peluru yang memekakkan telinga.
Pertemuan secara tak sengaja dengan agen CIA yang melihat kemampuannya dalam menganalisa sesuatu mampu menarik perhatian salah satu agensi paling terkemuka di dunia.
Pelatihan keras dengan gaya militer yang ia jalani berhasil membuatnya menjadi wanita tangguh dan kuat. Berbagai latihan baik fisik maupun mental terus ia tekuni untuk menggapai apa yang ingin ia penuhi.
Berbagai pertarungan hidup dan mati harus di hadapinya setiap kali menjalankan misi. Menemukan banyak misteri dan teka-teki dengan berbagai petualangan terus membuka matanya agar lebih mengenal dunia.
Warning!!!!
Di beberapa chapter akan ada adegan kekerasan. Mohon tanggapi ini dengan bijak.
Note:
Bukan novel terjemahan. Di larang menjiplak.
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EijEnEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Mulai^
Keesokan paginya Ana terbangun lebih dulu ketika jam menunjukan pukul 07:00. Dengan mata yang masih menyipit menahan kantuk dia mengambil teleponnya dan menghubungi seseorang. Telepon pun tersambung lalu raut wajah Ana berubah serius seketika.
"Aku ingin semuanya lengkap." ucap Ana lalu mengakhiri telepon itu.
Dia melirik ke arah Chelsea yang masih tertidur pulas. Ana memandanginya seksama sampai akhirnya ikut tertidur pula. Satu jam kemudian Chelsea terbangun dari tidurnya dan mendapati Ana di sebelahnya. Dia lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat di kamar mandi Chelsea memandangi dirinya sendiri dari pantulan cermin. Dia mengambil karet gelang lalu menguncir rambutnya dan mencuci muka. Chelsea tahu bahwa hari ini dia akan merasakan seperti apa pertempuran itu. Dia menarik nafas panjang lalu menguatkan hatinya.
Chelsea merendam dirinya di bathup kamar mandi cukup lama sampai gedoran pintu membuatnya bangkit dan segera memakai bajunya lalu keluar bergantian dengan Ana yang akan mandi. Chelsea lalu menuju meja di sisi kanan lemari baju dan bercermin sambil memakai sunblok nya.
Bel membuatnya membuka pintu lalu melihat seorang pelayan yang membawakan rak stainless 3 tingkat lalu memasukkan nya ke kamar Chelsea. Bertepatan perginya pelayan itu, Ana keluar dari kamar mandi lalu berjalan ke arah rak stainless dan membawa makanan yang tersaji di rak paling atas.
Chelsea melirik rak kedua berisikan dua nampan yang ditutupi tutup saji berwarna perak juga rak paling bawah yang tertutupi tirai putih di setiap sisinya. Tak mau ambil pusing Chelsea lebih memilih memakan makanan yang ingin ia makan.
Setelah makan Ana langsung mendorong rak stainless itu ke dekat kaca besar pinggir ranjang tidur, dia membuka kedua penutup saji lalu terlihat 2 buah kotak. Dia memberikan satunya pada Chelsea. Saat di buka terlihat pistol glock p80 original lengkap.
Ana menyeret tirai putih di rak paling bawah lalu terlihat sebuah koper ukuran sedang yang berlapiskan kulit berwarna coklat. Ia membuka koper itu lalu terlihat semua perlengkapan yang mereka butuhkan ada disana, mulai dari earphone khusus yang di pakai dengan sidik jari, peluru untuk mengisi senjata mereka, lalu ada juga pisau lipat. Ana membuka lapisan lain dari koper itu dan terlihat 2 buah rompi anti peluru jenis hard body armor yang sudah di modifikasi oleh CIA agar tak berat saat di gunakan.
Chelsea yang mendapatkan kotak berisi pistol langsung memasukkan peluru dengan magazen yang sudah di pasang juga alat peredam agar suara tembakan lebih pelan. Ia lalu membuka bajunya dan memakai rompi anti peluru sekarang karena tak mungkin ia menentengnya atau membawanya dengan tas saat ke rumah Morley takut para penjaga pintu utama mengetahuinya.
Chelsea melapisi rompi anti peluru itu dengan kemeja longgar agar tak terlihat. Ana tersenyum tipis melihat Chelsea yang tak banyak bicara tapi langsung bertindak. Dia mengambil laptop lalu duduk di atas kasur sambil memperhatikan layar laptop seksama dengan jari lentiknya yang sudah bergerak lincah di atas keyboard, menembus cctv di rumah morley dan di perusahaanya agar mati selama beberapa menit seperti waktu itu dengan cara mengirimkan virus buatan.
Senyum Ana merekah karena Chelsea bekerja cepat tanpa harus menunggu komandonya. Ana memang tak memiliki kemampuan seperti Chelsea di dunia cyber oleh karena itu dia hanya bisa mengandalkan Chelsea.
"Cctv akan mati secara bersamaan jam 18:30 dalam waktu 15 menit. Hanya 15 menit kita bisa bergerak bebas." ucap Chelsea.
"Nice, kalau begitu pakai ini saat keadaan genting." balas Ana menyodorkan earphone kecil seukuran kuku pada Chelsea.
Saat Chelsea menyentuhnya, sistem sidik jari langsung memindai jarinya, ia mencoba alat itu dengan menghidupkannya lalu berbicara pada Ana lewat earphone itu.
"Jika sidik jari tak di kenali, maka earphone tak akan bekerja jadi jika ini jatuh ke tangan musuh maka tak ada bedanya dengan earphone biasa saat di tangan mereka." ucap Ana menjelaskan.
Chelsea lalu pergi setelah pamit pada Ana, kali ini dia memakai sebuah motor sport dan memarkinkannya agak jauh dari kediaman Morley. Chelsea berjalan sekitar 50 meter dari tempatnya menyimpan motor sambil membawa kantong kresek berisi buah untuk mengalihkan pemeriksaan.
Tampak penjagaan disana lebih ketat dari biasanya. Dua orang berjaga di pintu gerbang sambil bersenjata lengkap. Lalu saat Chelsea masuk ia juga bisa melihat ada dua penjaga di pintu masuk utama. Kediaman para pelayan pun tak luput dari hal itu. Satu orang pria berbadan tegap dengan pistol di pinggang tampak berjaga di sekitar gedung.
Chelsea masuk setelah semua barang bawaannya di periksa. Untunglah tubuhnya juga tidak di periksa karena jika iya maka ketahuan sudah dia yang membawa pistol dan memakai rompi anti peluru. Hari itu ternyata Fani sudah tak ada di Chicago entah kemana.
Jam 18:15 Morley pergi ke perusahaannya untuk mengecek barang yang akan di kirim, penjagaan masih tetap sama meski Morley pergi dengan 2 buah mobil suv hitam yang ada di depan dan belakang mobil yang di tumpanginya.
Saat tersisa 10 menit lagi sebelum cctv mati, Chelsea langsung mengganti pakaian nya. Dia memakai kaos lengan panjang dengan celana dan jaket levis. Sepatu boot setinggi mata kaki terpasang di kaki jenjang nya tak lupa juga pisau lipat yang terselip di dua kaki itu. Dia melirik ke arah jam tangan yang tersisa waktu 3 menit.
Langkah kaki pelan mengiringinya ke arah penjaga yang ada di depannya. Pistol yang tadinya di selipkan di pinggang kini nampak tergenggam dalam tangan mulusnya.
Brukk.....
Penjaga itu pingsan saat Chelsea memukul tengkuknya dengan gagang pistol. Dia mengambil pistol penjaga itu dan menyelipkannya di pinggang. Gerakan lincah dan senyap membuatnya tak di ketahui oleh penjaga saat melangkah menuju ruang kerja Morley dimana cctv sudah mati.
Saat sudah di sana, Chelsea langsung menuju ke sebuah lemari di dekat jendela lalu membukanya dan terlihat sebuah brangkas berkode. Chelsea berdecak kesal karena baru teringat jika dokumen itu di simpan di tempat yang mana dia harus memecahkan kode itu jika ingin mengambilnya.
10 menit berlalu Chelsea terus berusaha memecahkan kode itu, di menit terakhir akhirnya ia bisa membuka brangkas itu dan mengambil dokumen yang membuktikan usaha gelap Morley, Chelsea lalu menyelipkan di balik jaket nya. Namun senyum tipisnya hilang ketika cctv kembali hidup dan alarm terdengar menggema di seluruh rumah itu.
Sontak Chelsea menelan ludahnya, dia menarik nafas panjang, derap langkah orang berlari ke arah ruangan ia berada membuatnya tak punya pilihan selain memecahkan kaca jendela, saat Chelsea melompat keluar, 3 orang penjaga telah masuk kedalam lalu menembakkan peluru yang bersarang di rompi belakang punggung Chelsea. Dia menundukkan kepalanya saat peluru hampir melubanginya. Dia berlalu ke arah belakang namun, disana juga ada dua orang penjaga yang sudah memasang kuda-kuda menembak.
Para penjaga itu mulai menembakkan peluru yang di arahkan padanya. Chelsea berbelok ke arah kiri lalu bergulung ke depan dan saat dalam posisi berlutut dia mengambil pistol di pinggangnya lalu mengarahkan senjata itu pada 2 orang penjaga. Gadis itu menekan pelatuk pistol di kedua tangannya sambil memejamkan mata dan
Dorr.....dorrr
Dua penjaga itu tewas seketika saat tembakan Chelsea tepat mengenai jantung. Chelsea berlari menghindari 3 orang penjaga yang masih mengejarnya di belakang. Dia menoleh ke belakang sambil berlari dan menembakkan pelurunya ke arah mereka. Dua orang tewas saat Chelsea berhasil melubangi kepala penjaga itu. Satu penjaga lainnya masih bertahan namun jalan yang Chelsea pilih ternyata buntu. Di depannya terlihat dinding setinggi 5 meter.
Chelsea tak kehabisan akal, dia tetap berlari dan setelah dekat dengan tembok itu, dia melompat lalu kakinya menapak di dinding itu. Chelsea mendorong dirinya sendiri dengan kakinya lalu melakukan gerakan salto kebelakang dan menendang kepala penjaga yang masih mengikutinya hingga penjaga itu roboh. Kaki Chelsea mendarat sempurna di rerumputan dan dengan gerakan cepat dia menembak kepala penjaga itu hingga tewas seketika.
Ada rasa lega karena ia selamat namun perasaan bersalah karena membunuh masih tetap ada. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang di lakukannya benar. "Aku hanya melindungi diriku dari para penjahat untuk membongkar kejahatan." gumamnya dalam hati sambil berusaha meyakinkan diri sendiri.
Chelsea lalu berlari menuju ke arah pintu gerbang namun saat di belokan seorang penjaga lain menembakan peluru ke arah Chelsea. Chelsea yang terlambat menyadari itu hanya bisa menghindar dengan memutar tubuhnya ke kiri namun bahunya terserempet peluru.
"Arghhh." Chelsea meringis kesakitan.
Entah kenapa Chelsea marah jika tubuhnya di lukai. Dia yang mempunyai mata tajam dan tak terima dengan tindakan orang itu langsung menembaknya tepat di jantung meskipun hari sudah gelap dan minim pencahayaan. Dia kembali berlari menuju gerbang utama setelah menukar senjatanya dengan senjata penjaga itu yang masih penuh amunisi.
Saat di sana, dia melihat 10 orang penjaga yang berjaga karena mendengar suara alarm keamanan. Chelsea pun bersembunyi di balik semak-semak lalu mengeluarkan earphone yang tersimpan di saku kanan dadanya. Dia mengaktifkan alat itu dan seketika seseorang menyaut.
Di sisi lain, perusahaan Lashwan, Magnificent Mile.
Pukul 18:00 Ana pergi ke area Magnificent Mile. Dia memakai rompi anti peluru di balik kaos yang di lapisi blazer. Dia sudah menandai orang yang biasanya bekerja bagian pengemasan di perusahaan itu untuk mencuri kartu card yang di pakai sebagai akses agar bisa memasuki tempat penyimpanan stok yang berada di ruang bawah tanah.
Berbeda dengan Chelsea yang lebih mahir senjata jarak dekat, Ana cenderung mahir senjata jarak jauh. Dia mengintai targetnya di dekat sebuah benteng yang tak jauh dari gedung perusahaan Lashwan dengan senjata SB1-V2 Kal. 7.62 mm di tangan kanan dan tak lupa pistol juga di siagakan di pinggangnya.
(SB1-V2 Kal. 7.62 mm)
Tak lama target keluar dari perusahaan dengan mengendarai motor lalu dengan sigap Ana memposisikan senjatanya dan saat target melewati benteng tempat Ana bersembunyi sejauh 250 meter, dia menembak dengan tembakan tunggal dan tiba-tiba target ambruk bersamaan dengan motornya ketika sebuah peluru bersarang di kepala.
Ana berlari mendekati orang itu lalu mengambil kartu card yang ada di sakunya. Dia menyeret mayat itu ke semak-semak yang tak jauh dari sana lalu memakai motor target itu dan menaikinya.
Saat jam menunjukkan pukul 18:15, Ana melajukan motor itu ke perusahaan Lashwan dan memilih masuk dari gerbang belakang. Ana bisa melihat dari celah gerbang kayu bahwa di sana ada pengawal yang berjaga. Seperti sebelumnya dia memposisikan diri lalu matanya menyipit membidik target dari celah itu dan
Dorr...dorrr....dorrr
Suara desingan peluru itu terdengar seperti batu yang di lempar karena di pasangi alat peredam sehingga para penjaga lainnya tak mendengar dan memanggil bala bantuan.