"Kau tahu, kau tak pantas untuk menjadi bodyguard ku tapi kau lebih pantas menjadi kekasih kecilku." Ucap Riana Saraswati Candra.
"Nona muda, tolong jangan katakan itu lagi." Ucap Jeremi.
Bagaimana rasanya jika seorang pria tampan menjadi bodyguard seorang wanita yang genit dan centilnya minta ampun, akankah dia tahan dengan godaan dari majikannya itu atau malah sebaliknya.
Penasaran, langsung di baca yah
👇👇👇👇👇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ati Nurhayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersiap
"Oh dari Yogyakarta. Tapi kenapa kamu ada di Jakarta." Tanya Pak Candra.
"Saya dan keluarga pindah ke Jakarta." Ucap Jeremi.
Sambil memperhatikan Jeremi. "Saya perhatikan kamu bukanlah, dari orang biasa." Ucap Pak Candra.
"Maksudnya Pak!" Ucap Jeremi.
"Iya, saya lihat sepertinya kamu terlahir dari keluarga yang kaya raya." Ucap pak Candra.
"Ah, itu hanya kebetulan saja." Ucap Jeremi.
"Kamu tahu, saya bisa membedakannya." Ucap Pak Candra.
Jeremi tak bisa berkata-kata, dia hanya menunduk kepalanya. Nampak Pak Candra memperhatikan Jeremi begitu pun juga Riana.
"Sudahlah Pah, kasihan Jeremi seharian ini dia tengah menyetir. Biarkan dulu dia istirahat, baru Papah bisa menyambung pembicaraannya lagi." Ucap Riana.
"Ya sudah, istirahatlah dulu. Nanti kita sambung kembali pembicaraannya." Ucap Pak Candra.
"Terima kasih Pak. Saya permisi dulu." Ucap Jeremi sambil melenggang pergi.
"Oh iya, barang-barangnya kamu taro saja di kamar." Teriak Riana kepada Jeremi.
Jeremi meninggalkan mereka dan menyimpan barang-barang Riana ke kamarnya. Setelah selesai Jeremi langsung menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang karena merasa cape dan akhirnya dia tertidur.
Di ruang tamu...
Nampak Pak Candra tengah memperhatikan anak semata wayangnya yang nampak bahagia. "Kamu kenapa? Papah perhatikan kamu seperti sedang bahagia." Ucap Pak Candra sambil menggoda Riana.
"Apa sih pah, Riana biasa saja kok." Ucap Riana sambil mengelak.
Sambil tersenyum. "Riana, papah sudah mengenal kamu dari waktu kecil. Jadi papah tahu perbedaan kamu." Ucap Pak Candra.
"Pah, bolehkah aku kerja di perusahaan papah." Ucap Riana.
Sambil mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa kamu ingin bekerja? Apa uang dari papah belum cukup." Ucap Pak Candra dengan rasa heran.
"Bukan itu Pah. Aku ingin belajar menjadi wanita dewasa dan mandiri seperti yang lainnya." Ucap Riana.
Sambil tersenyum. "Tentu saja boleh sayang. Dan malah papah senang melihat kamu bisa seperti itu." Ucap Pak Candra sambil memeluk tubuh Riana.
"Terima kasih Pah." Ucap Riana sambil membalas pelukannya.
"Tapi Papah, ingin bertanya sama kamu?" Ucap Pak Candra.
"Tanya apa Pah?" Ucap Riana dengan wajah penuh dengan keheranan.
"Kamu tahu sesuatu tentang Jeremi." Ucap Pak Candra.
"Jeremi." Ucap Riana dengan nada terkejut.
"Iya, papah jadi penasaran dengan latar belakangnya." Ucap Pak Candra memainkan dagunya.
"Aku gak tahu pah." Ucap Riana.
"Ya sudah kalau kamu tidak tahu, biar papah yang mencari tahu sendiri. Lebih baik kamu istirahat dulu, nanti malam kita mau pergi ke pernikahan Bella." Ucap Pak Candra.
"Iya Pah, aku pergi ke kamar dulu yah Pah." Ucap Riana sambil tersenyum.
"Iya sayang." Ucap Pak Candra sambil mengangguk kepalanya.
Riana pergi menuju ke kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan dia memikirkan perkataan papahnya. "Mungkinkah Jeremi benar-benar terlahir dari keluarga kaya raya, seperti yang dibilang papah." Ucap Riana dengan penuh rasa penasaran.Riana merebahkan tubuhnya dan dia pun terlelap.
Jam sudah menunjukkan pukul 18:30. Nampak Riana masih tidak dengan lelap.
Tok...tok...tok
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Riana terbangun. "Siapa sih?" Ucap Riana sambil mengucek matanya.
"Nona, ini sudah jam setengah tujuh. Sebaiknya Nona bersiap untuk pergi ke perta pernikahan teman Nona." Ucap salah seorang pelayan di balik pintu.
"Iya Bu, saya akan segera bersiap." Teriak Riana sambil bangun dari tidurnya.
Riana langsung segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Beberapa menit berlalu akhirnya Riana keluar dari kamar mandi dan segera menggunakan baju yang telah di beli tadi siang.
Setelah selesai berpakaian, Riana langsung duduk di hadapan meja rias dan memoleskan sedikit make up dan lipstik yang mempercantik bibirnya. "Ku rasa ini sudah cukup." Ucap Riana sambil menyisir rambutnya dan mengepang sedikit rambutnya untuk menambah hiasan di rambutnya.
jgn marah ya thor !
cm ksh masukan doang. 😁