"Naura kamu itu ngapain aja sih dari pagi, kenapa belum ada makanan, ibu sudah lapar nih" ucap seorang wanita bertubuh gemuk yang marah marah kepada menantu nya
"iya bu ini Naura baru mau masak, tadi Naura cuci baju dulu makanya belum sempat masak" ucap Naura berlari menghampiri mertua nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyranachia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Naura pun berjalan menuju ruang makan, dia dan Kenzo tak sengaja saling tatap lumayan lama sehingga bagas berdehem agar mereka tak terus terusan seperti itu "ekhem" ucap bagas membuyarkan Naura dan Kenzo
Naura dan Kenzo pun jadi malu sendiri "Naura apa kamu sudah sembuh? " ucap Kenzo menghampiri Naura
"sudah lebih baik" ucap Naura masih merasa malu "oh iya aku bawakan ini " ucap Kenzo menyerahkan martabak telur untuk Naura, dan Naura pun sangat senang sekali melihat Kenzo membawakan nya martabak telur
"wah... kamu tahu aku suka sekali dengan ini? terimakasih banyak Kenzo" ucap Naura sangat senang sekali
"iya Naura semoga kamu cepat sembuh ya, dan ini untuk om tante dan yang lainya " ucap Kenzo menyerahkan beberapa bungkus martabak manis kepada arini
"wah kamu repot repot Kenzo, cukup kamu bawakan saja untuk Naura tidak perlu bawakan kami juga, ayo Kenzo duduk kita makan bersama " ucap arini yang juga senang calon menantu nya tidak melupakan nya dan juga suami nya
Kenzo pun duduk dan makan bersama keluarga Naura "mamah nanti wulan minta martabak nya ya " ucap wulan dengan polos nya
"iya sayang sekarang makan nasi dulu " ucap arini tersenyum
Kenzo pun merasa sangat bahagia dia di sambut dengan sangat baik, bahkan dia hanya membawakan sebuah martabak tapi keluarga Naura sangat senang sekali menerima nya
"oh iya pah apa si dinda lembur lagi? " tanya Rafa penasaran karena sudah beberapa kali dinda tidak ikut makan bersama keluarga Naura
"iya raf keluarga nya itu selalu saja minta uang ke dia, kadang papah kasian sama dia, sampai sampai dia rela lembur setiap hari hanya demi kasih uang ke keluarga nya itu" ucap bagas
"yaampun kapan berubah nya sih mereka itu" ucap Rafa kesal "ya susah bang untuk berubah kalau tidak dari diri sendiri mah" ucap Laura menanggapi omongan Rafa
"hey sudah ayo makan dulu, kok malah membicarakan orang lain sih" tegur arini kepada anak anak nya
berbeda dengan Kenzo yang terus terusan mencuri curi pandang ke arah Naura
tak lama setelah makan malam Kenzo pun pamit pulang, karena dia fikir dia tidak enak dengan orang tua Naura karena sudah terlalu lama dia di sini, bahkan sejak tadi dia bermain dengan wulan
"hati hati ya Kenzo, jangan sungkan untuk main ke sini" ucap arini yang mengantar kan Kenzo ke depan pintu bersama Naura dan wulan
Kenzo menatap Naura sebentar "iya tante Kenzo pamit dulu assalamu'alaikum" ucap Kenzo sambil salim kepada arini
"waalaikumsalam" ucap arini dan Naura kompak, mobil Kenzo pun mulai pergi meninggalkan rumah Naura, arini dan Naura pun sudah masuk ke dalam rumah nya
"lain kali kalau nak Kenzo main ke sini bilang sama mamah Naura, agar mamah bisa menyuruh bibi menyiapkan makanan kesukaan nya, kan tidak enak kalau seperti tadi" ucap arini mengingat kan Naura
"iya mah" hanya itu saja jawaban dari Naura, tiba tiba saja dinda pulang dari kantor nya
"loh dinda baru pulang jam segini? " tanya arini menatap dinda dengan bingung
"iya tante maaf dinda kemalaman " ucap dinda sambil salim kepada arini
"jangan terlalu di paksa dinda, tubuh mu juga butuh istirahat, oh iya apa kamu sudah makan? " tanya arini kepada dinda
"belum sempat tante paling nanti dinda pesan setelah ini" ucap dinda yang sebenarnya perut nya sangat sakit karena dia hanya makan pagi tadi sebelum berangkat kerja
"untuk apa pesan tadi tante sudah menyisakan kamu makanan di dapur, makan itu saja dinda dan simpan uang mu " ucap arini kepada dinda
dinda pun merasa terharu "kenapa tante baik sekali kepada ku? padahal keluarga ku sudah sangat jahat kepada keluarga tante apa lagi kepada kak Naura " ucap dinda menatap Naura dinda merasa sedih campur senang
“andaikan benar kamu anak ku dinda aku bisa lebih dari ini”ucap arini dalam hati nya "kan keluarga mu yang jahat bukan kamu, sudah ayo kita masuk dan kamu langsung makan saja baru mandi agar tidur mu bisa nyenyak dan nyaman" ucap arini tersenyum
begitu pun dengan Naura, dia juga merasa kasian dengan dinda yang sangat kelelahan
dinda pun bersama arini ke ruang makan "kamu makan lah dulu dinda, tante akan ke dalam, makan yang banyak ya biar sehat" ucap arini tersenyum
"iya tante terimakasih banyak" ucap dinda sedikit sungkan
"hey... kenapa harus terimakasih, anggap saja tante ini mamah kamu " ucap arini lembut
dinda pun hanya tersenyum saja arini pamit ke kamar duluan sedangkan Naura duduk bersama dinda
"mas arif tidak bekerja din? sehingga kamu harus kirim uang setiap hari? " tanya Naura penasaran
"ya gimana kak, asal aku tanya soal kerja abang selalu saja bilang bagaimana aku bisa kerja semua orang tidak mau menerima ku di tempat kerja nya karena kasus ku viral" ucap dinda memainkan sendok di piring nya
"ah masa si... bukanya kata kamu sekarang bu Marni pindah ke kampung ya? setahuku orang kampung mana begitu peduli dengan urusan orang selagi tidak merugikan mereka, toh juga kejadian nya di sini bukan di kampung ibu mu kan? " ucap Naura tak yakin dengan ucapan arif
"ntah lah kak aku juga ga percaya, tapi mau gimana lagi aku mau tidak mau mengirimkan mereka uang agar mereka tetap bisa hidup " ucap dinda sedih
Naura yang melihat itu pun tak mau membahas nya lagi "oh iya din ini tadi ada martabak manis dari mas kenzo kamu makan lah sengaja aku memisahkan untuk mu " ucap Naura tersenyum
"wah... terimakasih banyak kak, entah kenapa aku merasa seperti mempunyai kakak perempuan semenjak kenal kak Naura dari dulu, cuma kakak yang bisa jadi teman cerita ku " ucap dinda senang
"anggap lah aku ini kakak mu dinda, aku juga merasa punya adik selain wulan dari awal menikah dengan mas arif " ucap Naura tersenyum
dinda pun melanjutkan makan malam nya dengan perasaan terharu dan senang
Beberapa hari sudah berlalu, saat ini hasil tes DNA sudah keluar, arini sangat tidak sabar untuk mengambil nya, dia juga merasa deg degan takut hasil nya tak sesuai dengan yang dia ingin kan
"pah apa kah hasil nya sesuai dengan yang mamah mau? " ucap arini sangat gugup
"tidak tau mah, kita lihat saja nanti, tapi papah harap hasil nya positif bahwa dinda anak kita, karena papah merasa sangat menyesal atas kehilangan Annisa dulu mah" ucap bagas sambil menggenggam tangan arini
apa.bedanya rani dan tifani?