Merasa menjadi tumbal kehidupan yang keras membuat Alina menjadi pekerja malam yang dikorbankan oleh tantenya sendiri.
Akankah hidup Alina berubah setelah bertemu dengan Tuan Muda bernama Leon Hansen Wijaya?
Kepoin kisahnya di novel ini yah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Jayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30# Kemarahan Wijaya
Alina, Leon, AK dan Lusy fokus menatap ke layar Tv LED ukuran 60" yang terletak di atas bufet berukuran besar sesuai dengan ruangannya yang sangat luas, mereka berempat tampak fokus menonton siaran live permintaan maaf Bella terhadap Alina dan menarik statementnya waktu itu.
"Aktingnya sempurna," ucap Leon kecut, melihat Bella berurai air mata. Bahkan banyak komentar malah balik memberikan simpati pada Bella dan menyangka kalau apa yang dilakukan Bella dibawah tekanan seseorang.
"Publik sekarang pinta-pintar mereka tidak gampang dibohongi begitu saja, tapi ya lumayanlah setidaknya Alina tidak akan tersudutkan begitu saja," imbuh Leon lagi.
Alina memandang pria di sampingnya, senyumannya merekah seperti sedang mengungkapkan bahwa Leon memang tidak sedang bermain-main dengan perasaannya.
***
"Dimana wanita itu?" Wijaya menerobos masuk ke dalam Blue House, wajahnya tampak sangar dan Tori sebagai assisten pribadinya mengikuti Wijaya dari belakang. Pria paruh baya itu mencari-cari sosok Alina dengan berteriak-teriak menggema ke seluruh ruang. AK sigap menghadang kemarahan Wijaya yang memaksa masuk ke dalam kamar pribadi Alina.
Teriakan Wijaya terdengar sampai ke telinga Leon dan Alina. Mereka berdua saling bertatapan, wajah Alina seketika memucat. Pagi buta Wijaya mendatangi kediaman pribadi putranya.
"Kamu diam di sini saja, jangan keluar! Tenanglah semuanya akan baik-baik saja, oke!" Leon mengecup lembut ujung rambut Alina, berharap Alina bisa tenang menghadapi kedatangan Wijaya pagi ini.
"Iya, semoga tidak terjadi apa-apa," ucap Alina lirih. Ketakutannya kali ini cukup beralasan mengingat Bella sebagai istrinya Leon marah besar pada Wijaya, kemarahan Bella hanya sebagai kedok agar Wijaya tidak mengungkit kesalahan fatal yang diperbuatnya dengan Jericho.
Alina mendengar jelas dari lantai atas saat Wijaya mengungkapkan kemarahannya pada Leon," kamu lebih memilih wanita yang tidak jelas asal usulnya, dia keturunan mana, ayahnya siapa, ibunya siapa. Tapi kamu malah membuang istrimu seenaknya saja, Bella itu keturunan baik-baik dia pantas bersanding denganmu!" Amarah Wijaya hampir membuncah, kepalanya terasa mau pecah dengan wajah memerah.
Alina mematung, diam dan air matanya menetes. Ucapan Wijaya membuatnya sakit.
Aku memang tidak pantas untuknya, aku memang harus pergi.
Mendengar kemarahan Ayahnya, Leon hanya bersikap acuh. Ia duduk santai di sofa dengan kaki bersilang. Wajahnya datar seperti menganggap Wijaya tidak ada di dekatnya.
"Aku tidak habis pikir punya anak seperti dia!" Wijaya berdecih kesal, ia melonggarkan dasi yang dikenakannya. Wijaya ikut duduk di sofa hingga mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Katakan yang ingin kamu katakan!: sentak Wijaya seketika.
Giliran Leon mendengus kesal, ditatapnya pria di depannya itu, pria dengan sedikit uban ditopang tubuh tinggi masih tegap dan sehat. Terlihat raut sisa-sisa ketampannya masih jelas. Sudah jelas kalau Leon mewarisi ketampanan Ayahnya.
"Aku hanya ingin mengatakan jangan ikut campur urusanku! Aku tahu mana yang menurutku baik atau tidak. Aku bukanlah anak Ayah umur 17 tahun yang masih bisa di stir semaumu Ayah. Sudah cukup aku korbankan kebahagianku demi menuruti keinginanmu," Wijaya menghembuskan nafas lelahnya, melepas kegelisahannya. Baru saja landing, Wijaya langsung memutuskan untuk pergi menemui Leon secepatnya.
"Huh, aku tahu sejak kamu kecil aku sudah membuatmu tumbuh menjadi keinginanku. Aku hanya ingin kamu bisa menjadi seorang pria tangguh dan bertanggung jawab. Asal kamu tahu Leon, aku juga dari awal pernikahan dengan Ibumu tidak ada rasa cinta sama sekali, tapi ketika kamu hadir di dunia ini menumbuhkan rasa cintaku yang teramat besar pada Ibumu sampai detik ini," Wijaya melempar senyumnya asal, sebagai seorang pria yang usianya lebih dari setengah abad sudah tentu Wijaya lebih berpengalaman. Wijaya hanya ingin Leon mendapatkan yang terbaik sesuai kedudukannya saat ini.
"Jangan samakan perasaanku dengan perasaanmu, Ayah. Ayah harus tahu apa yang sudah dibuat menantumu itu, nama baik keluarga kita tercemar dengan perselingkuhannya," ucap Leon sinis.
"Ayah tahu semuanya Nak, tapi itu juga karena kesalahanmu. Bella tidak akan bersikap seperti itu kalau bukan kamu yang mulai," timpal Wijaya tak mau kalah.
Leon berdiri dari duduknya. Mengambil nafas pelan dan menghembuskannya kembali.
"Ayah akan tahu jika waktunya tiba, semuanya yang disembunyikan keluarga besan Ayah semuanya akan terbuka!" ucap Leon berlalu dari hadapan Wijaya, ia melangkah pergi ke kamar Alina kembali tidak peduli dengan tatapan mata Wijaya saat ini.
Mendengar suara langkah kaki semakin mendekat, Alina menghambur ke atas tempat tidur dan kini tubuhnya berada di dalam selimut. Berpura-pura tidur akan lebih baik untuknya saat ini.
"Kamu tidak pura-pura tidurkan?" Wajah Leon mendekat hingga nafas Alina pun cukup terdengar jelas. Alina masih belum menjawab, ia hanya sedang menghindar untuk membahas kedatangan Wijaya barusan.
"Kamu tidak pandai berakting, Alina. Nafasmu terdengar cepat itu tandanya kamu sedang berpura-pura tidur," ucap Leon semakin mendekati wajah Alina, jarak wajah mereka hanya kurang dari 5cm.
Aku memang bukan istrimu yang pandai berakting.
Alina membelakakan matanya saat bibirnya dikecup lembut.
"Aku tahu kamu berpura-pura tidur." Leon ikut masuk ke dalam selimut. Rasa-rasanya hari ini ia tidak ingin pergi kemana-mana, hanya ingin bermalas-malasan saja bersama Alina.
"Leon," Alina menggoyang-goyang bahu Leon pelan dengan tangannya saat matahari mulai terbit. Alina tidak ingin sampai pria itu terlambat berangkat bekerja.
"Aku tidak akan bekerja Alina, aku hanya ingin tidur seharian," Jawab Leon sambil matanya masih tertutup rapat. Alina hanya tersenyum tipis seraya menarik selimut yang menutupi tubuh Leon sampai sebatas dada, sejak kapan pria angkuh ini bermalas-malasan. Seperti bukan seorang Leon saja.
Alina mengira Leon hanya bercanda saja mengatakan dia malas pergi ke kantor. Semua telah disiapkan mulai dari pakaian kantor berikut jasnya, sepatu yang sudah diletakan di pinggir sofa dan juga tas kerja di atas sofa seperti biasa sudah siap paripurna.
AK berulang kali mengetuk pintu kamar Alina tapi malah Alina muncul dari belakang AK.
"Nona, Anda sudah dari mana? Tuan Muda?" AK tampak kebingungan, kenapa pagi ini Alina muncul dari luar kamarnya.
"Aku sudah dari kamar Tuan Muda menyiapkan pakaian kerjanya, EK. Tapi Tuan Muda belum juga bangun," ucap Alina menjawab pertanyaan AK.
"Apa Tuan Muda sakit, Nona?"
"Tidak EK, tapi tadi Tuan Muda bilang malas pergi ke kantor,"
"Aneh Nona tidak biasanya,"
"Kalau begitu aku akan membangunkannya lagi, tunggu sebentar." Alina kembali masuk ke dalam kamarnya, ia mendapati Leon masih berada di balik selimut, terdengar dengkuran halus pada pria itu. Tak sampai kalau harus membangunkannya.
*Dia mirip bayi kalau sedang tidur seperti itu.
***
Tbc*...