Aisya adalah gadis baik, periang dan selalu berhubungan dengan baik dengan sikap sopan santun nya membuat semua orang menyukainya.
Sehingga seorang mantan yang dulu membuang dan menyakiti perasaan nya kini menyesali dan sangat berambisi untuk memilikinya kembali.
Namun perjuangan Raka Firmansyah sang mantan Aisya tidaklah mudah, ada sosok lain yang Aisya kagumi setelah pengkhianatan yang dia lakukan dulu.
Siapa laki-laki itu?
Dapatkah Raka merebut kembali hati perempuan yang sebaik dan setulus Aisya kembali?
Bagaimana hubungan dan kisah mereka selanjutnya?
Mari kita simak cerita nya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aunty ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Jangan mengatakan ikhlas itu sulit karena itulah yang akan menyulitkan hatimu, menyulitkan pikiran mu dan membuat hidup mu benar-benar sulit.
Mereka terlihat selesai melaksanakan Sholat Dzuhur, Aisya membaringkan kembali tubuh nya di atas kasur, badan nya masih terasa lemas dan sakit, terlihat di pergelangan tangan nya pun memerah akibat ulah Raka yg mengikat tangan nya. Bibir yang terlihat membengkak dan terluka juga akibat ulah Raka yang memaksa nya secara kasar.
Tanda merah memenuhi sekujur tubuh nya, Aisya hanya ingin rebahan di atas tempat tidur, tapi Raka dia terlihat masih saja segar tidak nampak kelelahan sama sekali.
Raka mengajak Aisya untuk makan siang, tapi Aisya menolak nya.
"Sayang ayo kita makan" ajak Raka kepada istri nya.
"Tidak, aku tidak lapar" ucap Aisya lemah.
"Jangan bohong sayang, aku tau kamu pasti lapar" ucap Raka.
"Aku tidak bohong, aku hanya ingin tiduran" ucap Aisya.
"Aku bawakan makan nya kesini ya, tunggu sebentar" ucap Raka
"Tidak usah, aku mau tidur lagi" ucap Aisya memejamkan mata nya.
Raka tidak bisa menjawab lagi, dia hanya bisa menghembuskan nafas nya kasar, di pandang nya istri nya itu lagi dengan dalam, perasaan iba dan menyesal menyeruak dalam hati nya, tubuh mungil istri nya yang tadi dia paksa secara kasar, meski menangis kesakitan tapi dia tidak mau mendengar dan berhenti.
"Maafkan aku sayang" Dia mengecup dahi Aisya lalu berlalu ke luar kamar.
Sementara Aisya yang hanya pura-pura tidur, membuka mata nya saat Raka pergi.
"Mas kenpa kamu begitu kasar tadi, aku sakit Mas, seluruh tubuh ku sakit, kenapa kamu tak membiarkan aku untuk pergi, apa kamu benar mencintaiku Mas? andai kamu tahu, mencintaimu adalah hal yang sangat mudah, tapi melupakan mu butuh waktu yang sangat lama. Cinta mu memberi ku sayap-sayap untuk terbang, tapi kamu tidak mengajariku cara untuk kembali ke bumi, aku hanya mempersiapkan sayap untuk mengimbangimu, sebelum cinta itu terjatuh dan menjatuhkan ku lagi" Batin Aisya.
Dari luar kamar terdengar seseorang mengetuk pintu, Suara Bibi terdengar meminta izin untuk masuk.
"Neng, boleh Bibi masuk?" Bi Inah bicara sedikit berteriak.
"Masuk saja Bi" ucap Aisya.
Lalu Bi Inah masuk membawa makan siang untuk Aisya.
"Ini Neng makan siang nya, Bibi taruh dimana?" tanya Bi Inah.
"Aku belum lapar Bi, bawa saja lagi nanti aku ambil sendiri" jawab Aisya lemah.
"Jangan begitu Neng, harus makan walau belum lapar, nanti Neng nya sakit, apa mau Bibi suapin?" ucap Bi Inah merasa kasihan.
Tadi Bi Inah mendengar keributan mereka, mendengar Aisya minta tolong untuk di buka kan pintu, mendengar Aisya menjerit kesakitan. Tapi dia bisa apa, hanya bisa mundar-mandir kebingungan di depan pintu kamar mereka.
Aisya mengangguk lemah, bagi nya Bi Inah adalah pengganti Mama nya disini, Aisya memeluk Bi Inah begitu saja lalu menangis, Bi Inah membalas pelukan dan mengusap-usap punggung Aisya untuk menenangkan. Setelah Aisya selesai makan, Bi Inah di tahan nya untuk pergi, Aisya ingin ada teman untuk mengobrol walau hanya sebentar.
Bi Inah mengerti keadaan Aisya, usia yang masih belum mengerti sepenuh nya tentang pernikahan, menikah secara terpaksa membuat Aisya harus lebih banyak belajar lagi.
"Neng yang sabar ya, semua sudah terjadi, mungkin ini memang takdir Neng jodoh Den Raka" ucap Bu Inah berusaha menenangkan.
Bi Inah meyakinkan Aisya bahwa segala sesuatu sudah di atur oleh yang Maha Kuasa, dan itu adalah yang terbaik untuk Makhluk nya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk dari luar rumah, Raka yang sedang duduk di ruang keluarga sambil memainkan ponsel nya segera bergegas membukakan pintu, ternyata yang datang Mama nya dan Mama Aisya.
Raka terkaget kenapa mereka datang di waktu yang tidak tepat, kondisi Aisya sekarang yang akan membuat nya malu dan pasti nya akan dimarahi oleh mereka.
Kedua Mama nya masuk setelah Raka mempersilahkan mereka masuk, mereka menanyakan keberadaan Aisya yang tidak terlihat.
"Aisya kemana nak? tanya Bu Ida menanyakan putri nya.
"Ada di atas di kamar nya mah" jawab Raka.
"Suruh keluar sini nak, bilang Mama datang" ucap Bu Ida lagi.
"Aisya lagi gak enak badan Ma" ucap Raka hatinya sedikit berdebar.
"Ais sakit apa? boleh mama melihat nya ke atas?" tanya Bu Ida terdengar sangat khawatir.
"Bb boleh mah silahkan" ucap Raka semakin merasa ketakutan.
Lalu Bu Ida dan Bu Lina naik ke lantai atas untuk melihat Aisya di kamar nya.
Saat mereka masuk dengan tiba-tiba, karena saking khawatir mereka lupa mengetuk pintu terlebih dahulu, mereka mendapati Aisya yang sedang berpelukan dengan Bi Inah, terlihat Aisya sedang menangis.
Aisya yang kaget dengan kedatangan Orang Tua nya langsung berusaha menyeka air mata nya.
Bu Ida dan Bu Lina segera menghampiri Aisya, lalu memberondong nya dengan berbagai pertanyaan. Terutama Bu Lina yang paling heboh.
" Nak Ais, kenapa sayang? kenapa menangis? kamu sakit apa sayang?" tanya Bu Lina mendahului Bu Ida yang akan mulai bertanya tadi.
"A aku tidak apa-apa Mah, hanya tidak enak badan saja" jawab Aisya kelu.
Bi Inah lalu pamit permisi untuk keluar kamar karena tidak enak berada disana.
Raka pun mengikuti Orang Tua nya masuk ke dalam kamar, terlihat dia menggaruk tengkuknya berulang karena Aisya sakit gara-gara perbuatan nya.
" Tidak mungkin, ayo cerita sama Mama kamu kenapa sayang? kamu terlihat pucat sekali, bibir kamu kenapa bengkak dan berdarah seperti itu Nak?" ucap Bu Lina yang bawel melihat menantu nya seperti itu.
Namun Aisya tidak menjawab yang lain, dia hanya menjawab tidak kenapa-napa dan terdiam lagi.
Bu Lina yang geram langsung menyerang anak nya Raka dengan berbagai pertanyaan.
"Nak Ais kenapa Raka? kamu apain dia hah?" tanya Bu Lina terlihat sedikit emosi.
"Mm maafkan Raka Ma Raka khilaf" ucap Raka menunduk.
"Mm maksud nya apa? kamu menyiksa Nak Ais kah?" tanya Bu Lina suara nya makin meninggi.
Sebelum Raka menjawab, Aisya memotong nya dengan segera menjawab pertanyaan Bu Lina.
"Mas Raka tidak ngapa-ngapain aku kok Ma, sudah Ma Mas Raka tidak salah, Ais yang salah" ucap Aisya berusaha menjelaskan.
Bu Ida terlihat mendekati Aisya dan duduk di sebelah Aisya. Dia menangkup wajah Aisya, memeriksa kondisi tubuh Aisya. Bu Ida melihat bibir anak nya yang membengkak lalu tanda merah di sekitar leher anak nya itu. Dia berusaha memahami apa yang sebenar nya terjadi.
"Apa kalian baru melakukan nya kali ini?" tanya Bu Ida bertanya dengan tenang.
Aisya dan Raka saling pandang, bibir mereka seketika kelu untuk menjawab.
Bersambung...
Hallo gaess 😍
Terimakasih sudah mampir lagi ya🤗
Tidak bosan nya saya minta dukungan teman-teman semua nya🙈
Favoritkan, like dan komentar ya 🙏😉
Sehat selalu untuk semua para Readers🤲🤗
mu, ku, dan nya tidak bisa berdiri sendiri, artinya harus ditulis serangkai.
contoh: kata-kata mu> kata-katamu
ku sapa di hari itu> kusapa di hari itu
bersama nya> bersamanya.
Semangat tetap perhatikan eyd. Sukses selalu Kak
Tentang harapan dan doa-doa yang selalu berakhir pada tangan nadir
Keterpaksaan selalu berawal dari ketidakberdayaan menghadapi kenyataan
Sepahit apapun kisah kehidupan, tetap harus kita terima bukan?
Meskipun dengan sadar, itu bukanlah pilihan
Tapi mau bagaimana lagi, garis kehidupan sudah ditentukan oleh Tuhan
Sang Pencipta Kejadian
_______
Kata-kata hanyalah dalih, yang berbicara sesungguhnya adalah hati dengan bahasanya sendiri-sendiri....