Setelah terpeleset kulit pisang, Nadia pindah memasuki dunia sebuah novel. Ia menempati tubuh kakak tiri dari pemeran utama wanita.
Kakak tiri ini tokoh jahat yang tergila-gila pada Pemeran utama pria. Memaksa pemeran utama pria menjadi tunangannya, Mengatur kegiatan, membuntuti, mempermalukan, dan melabrak semua teman wanita yang mendekati tunangannya. Perilakunya membuat semua orang termasuk keluarganya membencinya.
Pemeran utama pria muak padanya dan diam-diam jatuh hati pada pemeran utama wanita yang lembut. Mengetahui hubungan mereka, Kakak jahat merencanakan kecelakaan untuk membunuh pemeran utama wanita.
Tapi rencananya terbongkar. Tak hanya diusir dari keluarga, wanita jahat itu dijebloskan ke penjara selama 10 tahun, lalu mati dan mayatnya dimakan anjing.
Nadia bertekad untuk merubah nasibnya. Memutuskan pertunangan lebih awal dan ingin membalas dendam pada mereka yang menyakitinya.
Tapi paman pemeran utama pria mulai mengganggunya.
"Gadis, ayo kita menikah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismasama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURAM
Sebuah klub kelas atas di kota J.
Malam itu club terlihat hingar bingar dengan kehidupan malam. Anak-anak muda kaya berpenampilan trendi dan bermerk keluar masuk club untuk bersenang-senang. Aneka mobil dengan harga miliaran terparkir berjejer di sekitar club. Karena hanya bisa dimasuki oleh anggota, pintu itu dijaga ketat oleh empat penjaga berotot yang memeriksa dengan ketat semua pengunjung yang masuk.
Di lantai pertama suasana tampak begitu hidup dengan lampu berkelap-kelip dan suara musik yang menggema memekakan telinga. DJ di panggung memainkan keterampilannya. Puluhan orang berdansa di lantai dengan gembira. Sebagian duduk bergerombol menikmati minuman.
Di lantai dua club cenderung lebih tenang. Hanya anggota VIP yang bisa mengakses lantai ini. Suasananya lebih berkelas. Di samping bartender ada piano yang sedang dimainkan pemusik. Suara yang keluar menenangkan pengunjung yang datang untuk menghabiskan malam yang nyaman.
Kemudian lantai tiga hanya bisa diakses oleh VVIP. Tak seperti club ruangan ini lebih seperti arena bermain dan bersantai anak-anak muda kalangan atas. Disediakan bar khsus dengan banyak aneka permainan di sekelilingnya. Ada billiard, bowling, Foosball table, dan lain-lain.
Sekitar 20 orang anak muda tampak serius bermain. Sisanya duduk dan mengobrol.
Di pojok ruangan tampak seorang pemuda berkemeja hitam dengan dua kancing atas yang terbuka sedang menghisap cerutu. Wajahnya yang serius memancarkan aroma intimidasi sehingga membuat tak ada orang yang berani mendekatinya.
"Kenapa dia?" Hans muncul diikuti Serena yang mengekori di belakangnya. Matanya melirik pemuda yang mengasingkan diri itu.
Zain mengangkat kedua pundaknya. Wajah sedihnya tampak terintimidasi. "Aku tak tau. Dia sudah memanggil kami sejak dua jam yang lalu tapi tak mengatakan apapun. Mukanya terus cemberut dan yang dia lakukan hanya menghabiskan rokoknya."
Serena melirik Liam yang mereka bicarakan. Sosok itu tampak begitu suram dan menyendiri. Serena tertawa dalam hati. Sepertinya ia tau apa yang terjadi.
Dua hari lalu saat kembali dari syuting Serena memergoki Nadia yang sedang menendang pintu apartemen Liam dengan emosi. Gadis itu mengutuk pintu seolah sedang memarahi pemiliknya. Setelah itu dengan wajah puas Nadia buru-buru memasuki apartemennya sendiri. Melarikan diri seolah telah berbuat kejahatan.
Tapi Serena tak jelas terhadap yang terjadi. Nadia hanya mengutuk: Lelaki kejam, menyebalkan, tiran, dan kata-kata makian lainnya. Entah apa yang terjadi diantara keduanya.
"Bung, apa seseorang mengganggumu? Katakan siapa itu... Kami akan membereskannya untukmu. Apa kau yang inginkan? Menghancurkan perusahaannya? Atau anggota tubuhnya?" Bastian duduk di sampingnya. Merebut rokok Liam dan menekannya di asbak.
"Atau apakah kau membutuhkan wanita? Haruskah aku mengenalkanmu pada beberapa gadis yang aku kenal? Mereka cukup cantik dan menawan." Rei juga duduk di samping Liam dan merangkul bahunya.
Liam meliriknya sinis. "Enyahlah."
Rei mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Liam segera berdiri dan menyambar jasnya.
"Aku pergi." katanya. Meninggalkan mereka semua yang memandangnya keheranan.
"Lihat dia... Kita sudah lama tak berkumpul dan aku terkejut saat dia memanggil kami. Kufikir ada hal penting yang akan ia bahas. Ternyata ia hanya bengong sepanjang pertemuan." Rei menggelangkan wajahnya. Demi panggilan Liam ia rela meninggalkan proyek puluhan miliar yang sedang dibahasnya di perusahaan. Diantara mereka Liam memang yang paling jarang datang ke club ini. Jadi saat laki-laki itu memanggil mereka untuk bertemu, Rei tak segan membatalkan jadwalnya untuk melihat apa yang akan Liam katakan. Sepertinya lelaki itu hanya memanggil mereka untuk menemaninya merokok. Rei tertawa dalam hati. Orang lain perlu satu tahun mengantri untuk bertemu mereka. Tapi lihat lelaki aneh itu. Memanggilnya hanya untuk menemaninya merokok.
"Sepertinya ada yang aneh dengannya." Hans merenung.
"Bukankah dia selalu aneh?" Bastian terkekeh. Melambai pada gadis-gadis yang melirik mereka dengan malu-malu. Gadis-gadis itu langsung cekikian.
"Haruskah kita melakukan penyelidikan? Mungkin benar-benar ada yang mengganggunya? Baiklah. Biar aku saja yang melakukannya. Aku akan menyingkirkan orang itu." Zain bertekad. Sebelum yang lain mengangguk Serena segera memotongnya.
"Guys... Sepertinya tak separah itu." mereka mengatakan tentang menyingkirkan orang dengan santai. Dasar anak-anak kaya kebal hukum ini...
"Jadi, apakah kamu tau apa yang menghantuinya itu, nona yang selalu membuntuti Hans?" Bastian menyeringai.
Serena memelototinya sebelum bersuara. "Itu... Sepertinya teman kalian sedang jatuh cinta?"
Mereka berempat meliriknya tak tertarik. "Apa kau bercanda?" Liam? Jatuh cinta? Mereka lebih percaya matahari bisa terbit dari barat daripada temannya jatuh cinta.
Siapa diantara mereka yang tidak mengenal Liam. Lelaki dingin yang tak pernah menyentuh wanita bahkan di usianya yang sudah tiga puluh itu. Setiap seorang wanita mendekatinya, Liam akan menunjukan ekspresi jijik dan memperlakukan mereka seperti hama. Bahkan kabarnya Laki-laki itu selalu membawa semprotan pestisida kemana-mana.
"Aku bersungguh-sungguh. Kemarilah aku akan cerita." ujar Serena.
Kemudian keempat generasi kaya itu mengelilingi Serena untuk mendengar gosip.
* * * * * *
Liam turun dari club dengan cepat. Suara bising dari musik yang bergemuruh membuatnya tak nyaman. Ia buru-buru melangkahkan kakinya keluar.
Lantai satu dipenuhi orang-orang muda yang bersenang-senang. Satu dua gadis cantik ingin menghadang Liam mengajaknya berkenalan. Tapi ketika melihat pandangan berbahaya yang dilemparkan sosok itu mereka langsung mundur memberi jalan.
Liam memasuki mobilnya dan bernafas dengan lega. Ia fikir bila bertemu teman di tempat berisik ini suasana hatinya akan membaik. Tapi ternyata pikirannya malah semakin kacau dan berantakan. Liam kembali menyalakan rokonya dan mulai berkendara.
Sampai di komplek apartemen Liam berdiri di depan pintu rumah Nadia. Ini sudah jam sebelas malam jadi gadis itu pasti sudah tidur. Liam menghela nafas dengan frustasi.
Tiga puluh tahun hidupnya ini pertama kalinya dia menyukai seorang wanita. Awalnya ia kira itu hanya ketertarikan sesaat. Namun semakin mengenalnya Liam menyadari bahwa dirinya benar-benar menyukai gadis itu.
Tempo hari adalah kesalahannya. Ia dimakan rasa cemburu hingga menakuti dan membuat marah Nadia. Sekarang sudah hari ketiga Liam tak bertemu dengannya. Setiap hari gadis itu hanya menitipkan makanan ke asistennya dan enggan melihatnya.
Bagaimana bila gadis itu tak ingin bertemu dengannya lagi?
Mata Liam berubah muram. Setelah dua jam hanya berdiri ia berbalik menuju lift.
Lalu,
KLIK pintu terbuka.
Nadia yang hendak keluar membuang sampah mencium aroma asap yang kuat di udara. Ini sudah hari ketiga ia menciumnya. Baunya cukup pekat seolah ada seseorang yang sengaja merokok di depan pintu rumahnya.
Ketika dia berpaling Nadia melihat sesosok tinggi membelakanginya. Di jemari lelaki itu terselip rokok yang masih menyala.
Liam?
Lanjut dong kk🙏🙏
dalangnxa...🙄🙄
lumyn buat nmbh model usaha..😁😁