Wajah dan mata itu mirip sekali dengannya. Aku rindu sekali dengan kehadirannya, Tak bisakah Tuhan mempertemukan kita walau hanya sejenak.
Apakah dia sudah melupakanku bahkan sudah memiliki penggantiku.?
Aku menunggumu Sagara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhaya Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 31: Tamparan.
Plakkkkk......
Suara tamparan terdengar jelas di indera pendengaran semua yang berada di ruang tamu. Bahkan semua orang yang menyaksikan kejadian itu terkejut hingga ada yang menutupi mulutnya sendiri saking kagetnya.
Alesha terduduk di keramik dingin itu ketika tangan sang papa berlabuh tepat di pipi kirinya. Rasa panas menjalar dipipi mulus itu hingga membuat Alesha mengusapnya pelan sembari mendongak menatap Adrian yang tengah marah padanya.
"Tuan tolong jangan pakai kekerasan." Sentak Tonny mencoba membangunkan Alesha. Namun Alesha enggan menerima bantuan itu bahkan sosok itu seakan acuh pada bantuan yang diajukan Tonny.
Baru kali ini Adrian menampar Alesha dan bahkan kali ini Alesha melihat kemurkaan Adrian. Alesha bahkan tak sadar jika darah segar mengalir di sudut bibir mungil itu dengan tatapan melihat kewajah marah sang papa .
"Masih berani kamu menunjukkan mukamu didepan papa hah, Kenapa kamu pulang kenapa gak sekalian jadi anak jalanan yang susah di atur." Bentak Adrian pada Alesha yang masih terduduk disana.
"Pa, jangan seperti itu. Dia putri kita pa." Cecar Nadira yang tak terima melihat Adrian melakukan kekerasan pada Alesha. Apalagi wanita paruh baya itu melihat darah merembes di sudut bibir sang putri,
Hatinya tersayat melihat hal itu.
"Al kamu tak apa nak?" Ucap Nadira menghampiri Alesha yang masih terduduk tersebut. Tak ada sahutan disana Alesha hanya diam tak sekalipun menggubris ucapan Nadira.
" Sudah mulai kurang ajar kan." Pekik Adrian lagi melayangkan tangannya hendak menampar Alesha lagi. Tonny yang melihatnya berusaha mencegah apa yang akan dilakukan Adrian pada Alesha.
"Apa- apaan kamu hah, jangan ikut campur urusan keluargaku." Ucap Adrian ketika tangan Tonny berhasil menangkis tangannya. Nafasnya kembang kempis melihat keberanian pemuda di depannya ini dalam melindungi putrinya. Siapa dia? Ada hubungan apa dengan Alesha? Batin Adrian.
"Jika papa tak menginginkan aku kembali izinkan aku pergi dari rumah ini." Ujar Alesha mencoba berdiri dengan tangan yang masih setia memegang pipinya. Air matanya mencelos melihat kemarahan pria yang disebut ayah kandungnya itu.
"Pergi sana jangan sekalipun menginjakkan kaki dirumah ini. Dasar anak tak tau di untung. Kurang apa papa selama ini Al, papa bekerja keras untuk menyekolahkanmu bahkan menyekolahkanmu ke luar negeri. Sudah banyak biaya yang papa keluarkan tapi kelakuan kamu seperti ini. Kampungan." Cecar Adrian dengan wajah memerah menahan amarah.
" Kalau papa gak ikhlas jangan kasih fasilitas yang baik pa. Apa gunanya papa memberi fasilitas mewah sedangkan papa sendiri terus mengungkit masalah biaya yang papa keluarkan untu pendidikanku. Aku tak meminta apapun sama papa, tapi papalah yang memaksaku menuruti kemauan papa . Lalu sekarang lagi- lagi papa membahas soal biaya yang dikeluarkan, Aku ini sebenarnya anak siapa?" Sentak Alesha di depan Adrian dengan emosi yang juga meluap. Ia tau membentak orang tua dosa, namun jika dirinya terusan diam mau sampai kapan ia dijadikan robot oleh Adrian.
"Dasar anak kurang ajar." Sentak Adrian lagi hendak melayangkan tamparan yang ketiga kalinya. Namun ucapan Arsen membuatnya menghentikan layangan tangannya.
"Jangan lagi menampar adikku pa." Timpal Arsen yang sedari tadi diam menyaksikan berdebatan antara Adrian dan Alesha.
Ia tak berguna sebagai kakak karena telah membiarkan sang adik terluka di tangan papanya. Pria beranak satu itu marah dan menggapai tangan Alesha agar ikut pergi bersamanya tanpa memperdulikan Adrian yang terus- terusan berteriak memanggil namanya dan Alesha.
Setiba dikuar ,pria itu hendak membuka pintu mobilnya namun Alesha menghentikan langkahnya. Gadis itu menatap sang kakak dengan sorot tak biasa dan seperti tengah tertekan.
"Maaf kak, Aku tak bisa ikut denganmu." Ucap Alesha sembari melepaskan pegangan tangan Arsen pada lengannya.
" Kenapa Al, Kakak akan melindungimu dari papa." Sahut Arsen meyakinkan Alesha namun lagi- lagi Alesha menolak dengan menggelengkan kepala.
Alesha tak mau masalahnya semakin runyam nanti jika Alesha ikut bersama Arsen. Kemungkinan besar Adrian akan menyalahkan Arsen atas apa yang dilakukan Alesha padanya .
"Aku akan hidup sendiri dengan kemampuanku, Tolong jangan halangi aku." Tutur Alesha membuat Arsen tercengang. Bagaimana adiknya ini bisa hidup sendiri apalagi gadis kecil didepannya ini selalu dimanja. Arsen yang memikirkannya takkan tega melihat sang adik hidup dalam penderitaan setelah ini.
Tetapi sekalipun Alesha menolak ia akan sulit sekali dibujuk namun jika mengizinkannya bagaiamana nanti nasibnya.
"Kakak jangan khawatir aku sudah biasa hidup sendiri." Ucap Alesha hendak pergi meninggalkan Arsen namun lagi- lagi Arsen menghentikan langkah gadis itu.
Arsen menyodorkan kartu miliknya pada Alesha agar Alesha tak kesusahan hidup di luar nantinya. Apalagi Alesha saudara sekandungnya sendiri, mana tega seorang kakak meninggalkan adiknya dalam keadaan seperti itu.
"Aku bisa berusaha sendiri kak." Tutur Alesha mendorong kembali kartu yang di sodorkan Arsen padanya.
Gadis itu tak sekalipun menatap Arsen meskipun langkahnya sudah menghilang dari pandangan sang kakak. Ia bahkan sudah bertekad takkan menyusahkan siapapun bahkan takkan menggunakan prestasi yang membanggakan dalam mencari nafkah diluar sana.
Biarkan semua berjalan seperti semestinya, Seorang Alesha yang miskin tanpa pengalaman pekerjaan dan ijazah yang menempel pada dirinya.
Menyusuri trotoar dengan merenungi nasibnya, Masih bisakah dirinya bahagia setelah ini???
Tinnn.... Tinnn... Tinn..
Suara klakson terus saja terdengar kala Alesha berjalan di trotoar dengan raut kesedihannya. Wajahnya yang memar tak bisa disembunyikan meskipun berkali- kali gadis itu menyembunyikan dengan rambut hitam miliknya. Hati siapa yang tak sakit mengingat perkataan orang tua yang terkesan menusuk ulu hatinya paling dalam. Ia tak meminta bahkan tak menolak, Namun ucapan Adrian seakan dirinyalah yang selalu salah.
"Hey berhentilah kurcaci." Teriak Aiden dari dalam mobil ketika Alesha tak sekalipun mendengar klaksonnya.
" Hey Al, Berhenti." Ucap Tonny ketika berhasil menarik tangan mungil itu kala langkah Alesha semakin melebar.
Alesha menunduk ketika Tonny membuatnya menghentikan langkahnya. Ia tak mau dikasihani apalagi kakak beradik itu melihat secara live bagaimana orang tuannya memperlakukan dirinya.
"Mau tinggal di rumahku?" Tanya Tonny dengan kehati-hatian melihat wajah tragis dari Alesha saat ini.
Alesha menggeleng menandakan ia tak mau tinggal bersama Tonny dan keluarganya. Tekadnya sudah bulat untuk tidak merepotkan orang lain ketika hidupnya susah seperti ini.
"Lalu mau tinggal dimana?" Sahut Tonny merasa prihatin pada gadis didepannya ini.
"Apertemen" Singkat Alesha membuat Tonny menghembuskan nafas lega karena Alesha masih ada tempat untuk bernaung meskipun telah menolak ajakannya .
"Mari aku antar" Timpal Tonny lagi tanpa mau menunggu jawaban dari Alesha. Jika ia bertanya lebih dulu kemungkinan Alesha akan menolaknya.
Tonny berbuat seperti itu karena hari juga sudah malam tidak baik gadis seperti Alesha keluyuran seorang diri tanpa ada penjagaan apalagi gadis itu nampak menyedihkan.
"Tunjukkan arahnya Al." Timpal Tonny lagi ketika mobil yang dikemudikannya sudah membelah jalanan ibukota.
Bersambung...