Roseline adalah Psk nomor satu di rumah bordil Heaven yang ada di Spanyol. Entah sudah berapa banyak pria yang menggunakan jasanya untuk menyalurkan hasrat, dia tidak peduli karena dia bekerja untuk menyembuhkan penyakit adiknya yang berusia empat tahun. Setiap hari, Roseline harus melayani pria hidung belang tapi suatu hari, dia dibeli oleh seorang milliarder bernama Edgard Demitry yang mengidap penyakit impoten.
Rose merasa jika itu adalah angin segar karena dia tidak perlu lagi melayani pria hidung belang. Dia melayani Tuannya dengan sepenuh hati namun semua di luar rencana karena penghinaan juga perlakuan buruk yang harus dia dapatkan dari Edgard yang ternyata kejam dan tak memiliki hati. Semua itu semakin memburuk saat kedatangan sahabat masa kecilnya yang membuatnya berada di dalam masalah karena Edgard cemburu. Rose disiksa sedemikian rupa, sebuah kejadian naas pun dia alami karena kekejaman Edgard. Dapatkah dia terbebas dari belenggu pria kejam yang telah membeli dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Malam Ini
Edgard duduk sendiri malam itu di balkon kamar. Entah apa yang dia pikirkan tapi dia terlihat termenung dan tidak bersemangat. Sebotol Minuman berada di atas meja dengan gelas yang terisi penuh tapi dia tidak menyentuhnya sama sekali. Edgard hanya berbaring di kursi malas sambil memandangi langit malam yang cukup cerah.
Entahlah, dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Mendadak dia seperti orang bodoh dan merasa konyol dan dia menganggap semua itu gara-gara penyakitnya. Seandainya dia tidak mengalami kecelakaan saat itu mungkin dia tidak akan mengidap penyakit yang benar-benar memalukan. Ponsel yang ada di atas meja tak henti berdering. Tentunya itu dari tunangan yang dia cintai namun Edgard tak mempedulikannya.
Angelica mulai curiga dengan keberadaan Edgard sebab ada yang mengatakan padanya jika Edgard berada di kantor. Bukankah Edgard berkata jika dia sedang pergi menjalankan bisnis? Jika memang begitu lalu bagaimana dia bisa berada di kantor? Kecurigaannya jika Edgard memiliki wanita lain semakin dia rasakan dan dia harap tebakannya salah meski dia ingin menyangkal.
Suara ponsel yang terus berbunyi benar-benar menghancurkan suasana yang sedang Edgard nikmati. Padahal dia lebih menyukai kesendirian itu, dia bahkan mengusir Roseline agar tidak mengganggu dirinya tapi dia harus diganggu oleh Angelica. Edgard segera meraih ponselnya dan mau tidak mau dia harus menjawab panggilan dari tunangannya. Mendadak dia merasa enggan. Entah kenapa tapi dia jadi jenuh. Mungkin sebaiknya dia mencari suasana baru. Secara kebetulan besok akhir pekan, sepertinya dia bisa mengajak pelac*r itu pergi untuk melakukan beberapa kegiatan yang menyenangkan di luar.
“Kenapa kau baru menjawab panggilan dariku, Edgard? Tidak mungkin kau sudah tidur karena ini masih awal!” Edgard diam mendengar pertanyaan Angelica. Biasanya dia akan sangat senang berbicara dengan tunangannya tapi entah kenapa hari ini dia benar-benar merasa enggan.
“Edgard, apa kau mendengar apa yang aku katakan?” tanya Angelica yang semakin curiga saja dengan Edgard.
“Aku mendengarnya, Angelica. Apa kau kira aku tuli? Tidak perlu kau ulangi sebab aku mendengarnya!” ucap Edgard dengan dingin.
“kenapa kau terdengar marah padaku? Apa karena aku tidak mau belajar memasak kau jadi marah padaku?”
“Jangan diungkit lagi masalah ini. Aku sudah tidak mau membahasnya. Terserah kau saja, jika kau tidak mau menjadi seperti yang aku inginkan maka aku tidak akan memaksa!”
“Edgard, Kenapa kau Jadi terdengar tidak peduli begitu? Jika kau marah padaku hanya karena perihal masak memasak, katakan terus terang. Sudah aku katakan aku akan mengikuti permintaanmu yang lain tapi untuk permintaanmu akan perihal itu aku benar-benar tidak mau karena aku tidak suka memasak jadi jangan memaksa aku!”
“Sudah aku katakan tidak perlu dibahas lagi. Jangan Memulai Angelica. Bukankah baru saja aku katakan padamu. terserah kau saja tapi kenapa kau masih mengungkitnya? Jika kau memang tidak mau ya sudah tidak perlu kau bahas lagi seolah-olah aku ingin memaksa. Masalah ini cukup sampai sampai di sini. Jika kau tidak mau jangan pernah mengungkit apa pun di hadapanku karena kau hanya buat aku kesal saja!”
“Baiklah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu marah tapi sikapmu itu seperti sedang marah padaku. Ada apa, Edgard? Kau sudah bersikap sangat aneh sejak kemarin, jadi Katakan padaku apa yang membuatmu jadi seperti ini?”
“Tidak terjadi apa pun. Sebaiknya kau pergi tidur karena aku sedang banyak pekerjaan!”
“Apa? Aku ingin berbicara denganmu karena aku merindukan dirimu. Apa kau tidak rindu padaku? kapan kau akan kembali, Edgard? Aku ingin mengajakmu pergi untuk membeli beberapa perlengkapan yang masih belum aku dapatkan untuk pernikahan kita nanti.”
“Aku sibuk. Kau bisa mengajak ibuku untuk membeli perlengkapan yang kau inginkan. Sekarang pergilah tidur, sudah malam!” ucap Edgard seraya mengakhiri percakapan mereka. Angelica benar-benar heran, sikap yang ditunjukkan oleh Edgard saat ini benar-benar jauh berbeda dan sikap seperti itu belum pernah Edgar tunjukkan sebelumnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya dia harus menanyakan hal ini pada ibu Edgard sebab dia khawatir apa yang dia curigai ternyata benar.
Edgard kembali memejamkan mata, menikmati waktunya namun sentuhan tangan yang dia rasakan di bahu membuatnya kembali membuka kedua matanya. Edgard berpaling ke belakang, dan mendapati Roseline sedang berdiri di belakang dan mengusapkan tangannya di bahunya.
“Tuan, udara begitu dingin kenapa kau tidak masuk ke dalam?” Roseline terpaksa menghampirinya sebab dia khawatir tuannya jatuh sakit karena angin malam yang cukup dingin.
“Untuk apa kau mengkhawatirkan aku? Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak mengganggu? Apakah kau mulai melawan perintahku?” ekspresi tidak senang dia perlihatkan karena Roseline mengganggu waktu tenangnya. Dia ingin bersantai setelah berbicara dengan Angelica, tapi pelac*r itu justru mengganggu ketenangannya.
“Maaf jika aku lancang. Aku hanya tidak ingin tuan sakit sebab angin malam yang begitu dingin dan lihatlah, lagi-lagi kau mengkonsumsi alkohol padahal sudah aku katakan minuman seperti ini tidak baik untuk kesehatanmu.”
“Cerewet? Memangnya siapa kau begitu berani menceramahi aku? Bahkan Ibuku pun tidak aku biarkan menceramahi aku tapi kau? Kau hanya seorang pelac*r yang aku bayar jadi kau harus ingat dengan posisimu itu.”
“Maaf, jika kau tidak butuh perhatianku ini maka aku akan pergi!” Roseline memutar langkah sebab dia ingin kembali ke kamar. Dia hanya khawatir pada tuannya tapi sepertinya tidak perlu namun tanpa dia duga Edgard justru meraih tangannya sehingga langkahnya terhenti. Roseline kembali berpaling, dia benar-benar tidak mengerti apa yang tuannya inginkan.
“Duduk denganku!” perintah Edgard.
Roseline mengikuti perintah dan duduk di atas pangkuan Edgard. Edgard memandangi wajahnya dan memainkan rambut Roseline. Meski tidak mengerti namun Roseline diam saja apalagi ketika pria itu mencium pipinya dan memainkan bibirnya di sana.
“Kenapa kau tidak mengganti baumu yang murahan ini?” tanya Edgard Ketika dia mencium aroma tubuh Roseline yang tidak dia sukai.
“Maaf, tuan. Parfum ini masih banyak dan aku tidak bisa membuangnya sebab aku membelinya dengan uangku jadi aku tidak mau membuang barang yang aku beli dengan susah payah. Tolong jangan memarahi aku meski aroma tubuhku ini murahan,” pinta Roseline dan memang dia adalah wanita murahan. Edgard menganggap aroma parfum yang dia gunakan adalah aroma murahan itu sangat wajar dan dia tidak marah.
“Jika begitu besok ikut aku pergi, aku akan membelikan yang baru agar kau tidak memakai pewangi murahan ini saat bersama denganku!"
“Apa?” Roseline tampak bingung karena tiba-tiba saja tuannya bersikap baik.
“Kenapa? Apa kau tidak pernah diberikan sesuatu oleh pria yang telah menikmati tubuhmu? Apa mereka hanya membayar jasamu saja tanpa memberikan hadiah untukmu atau jangan-jangan parfum murahan yang kau pakai ini adalah hadiah yang diberikan oleh salah satu tamu yang telah menikmati tubuhmu?”
“Tidak, Tuan. Sudah aku katakan parfum ini aku beli sendiri. Maaf, aku hanya terkejut saja karena kau ingin memberikan sesuatu untukku,” Roseline menunduk dan dia harap Edgard tidak salah paham dan marah padanya.
“Ck, hanya sebotol parfum saja besok akan aku belikan jadi ikut aku pergi. Berpenampilanlah yang benar, jangan seperti wanita murahan karena aku tidak mau orang-orang tahu jika aku membawa seorang pelac*r. Jangan mempermalukan aku hanya karena aku membawamu!”
“Baik, Tuan. Aku akan penampilan dengan baik dan tidak akan mempermalukan dirimu,” ucap Roseline.
Bagus!” Edgard kembali memainkan rambut Roseline dan kembali melakukan hal yang sama.
Roseline memejamkan kedua mata saat Edgar mencium pipinya lagi dan menjamah tubuhnya sebab satu tangan Edgard sudah berada di dalam bajunya dan bergerak bebas di sana. Entah apa yang terjadi dengannya malam ini yang pasti Edgard ingin seperti itu. Setelah mencium wajah Roseline dan puas menyentuh tubuh bagian atas Roseline, Edgard memeluknya dan membenamkan wajahnya ke dada Roseline.
Dia merasa sangat nyaman, benar-benar nyaman dan dia tahu jika tidak seharusnya dia merasa seperti itu. Jangan katakan jika pelac*r itu sudah membuatnya nyaman dan jangan pula katakan sebentar lagi dia yang akan terbuai. Edgard berusaha menyangkal sebab dia yakin jika dia hanya terbawa oleh suasa malam saja. Setelah malam Ini dia tidak boleh bersikap seperti itu lagi. Hanya malam ini saja dia memperlakukan Roseline dengan baik tapi esok wanita itu tidak akan mendapatkan perlakuan baiknya lagi.