NovelToon NovelToon
CLESIA

CLESIA

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Fanfic / Teen School/College / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: PUSHI_BIRARA

Gadis pengidap Skizofrenia yang berusaha menemukan seseorang yang ada dalam mimpinya.

Clesia, selalu mengada-ada hal yang tidak nyata. Ia ingin mencari seseorang yang ada dalam mimpinya karena itu membuatnya bahagia.

Ayah nya semakin khawatir dengan kondisi anaknya, karena kian hari makin memburuk. Keputusan Ayah nya akan melakukan terapi ECT (Elektrokonvulsif) menjadi jalan satu-satunya demi kesehatan mental Clesia.

Akankah Clesia bisa menemukan seseorang tersebut? Atau keinginannya justru terbantahkan karena terapi ECT tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUSHI_BIRARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERHATIAN KALIAN

Hai readers !!!!!

Langsung aja yaaa,

-

-

-

Berjalan menjelajah setiap sudut kota.

Berjalan saja tanpa henti, tidak peduli dengan pandangan orang. Dengan pakaian hangat yang sudah tak ia ganti selama 3 hari yang lalu, ia berjalan dengan tertatih tanpa tujuan, tanpa lelah, menghabiskan seluruh tenaganya.

Melewati jembatan di pinggir kota yang ramai lalu lalang kendaraan, ia berhenti sejenak, lalu ia menghadap pada sungai di bawah jembatan dengan memegang pinggirannya.

Ia menangis tanpa mengeluarkan suara, hatinya sangat sakit, ia menundukkan wajahnya, sambil terus merintih kesakitan. Hidup yang ia jalani selama ini, tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya, ia berpikir dengan menimbun dan melupakan luka masa lalu akan sederhana, ia berpikir dengan menjalani hari-hari sambil diiringi perasaan optimis dan positif akan membuatnya tenang dan tentram, tapi tidak. Ini semakin menyakitkan.

“Oke, Aksa .. tarik nafas, dan lepaskan”

“Jangan sekarang .. “

Aksa bernapas dengan tersenggal-senggal, keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, dadanya sesak. Ia mencoba memukul-mukul dadanya, mencoba bersikap tenang dengan terus berlatih pernapasan.

*Tenang .. tenang .. tenang .. kamu bisa Aksa ..

Tenang .. sadar .. tenang .. terimakasih karena sudah bertahan ..

Bertahanlah Aksa, sedikit lagi ..

Setidaknya satu hari lagi* ..

Aksa terus menenangkan dirinya dengan menerima pikiran yang membuatnya cemas dan takut, berbicara pada dirinya bahwa semua ini akan berlalu dan bisa menghadapinya.

Aksa memilih untuk tidak melawan ataupun menolak ingatan masa lalunya, ia mencoba untuk menerima dan melepaskan, singgah dan berlalu.

Aksa memegang dadanya, ia bisa merasakan betapa kencangnya degup jantung yang ia rasakan saat ini. Mencoba mengatur napasnya hingga benar-benar ia sudah tenang dan bisa mengendalikannya.

Tubuhnya tak bisa diam, ia selalu menggerakkan dengan penuh kecemasan, sangat tidak tenang dan tidak nyaman.

Rasa cemas yang ia alami berlangsung sekitar 20 menit.

Sekarang, sudah semakin lega dan ia perlahan bisa tenang dan mengendalikan dirinya.

Kemudian, Aksa berjalan kembali tanpa tujuan.

 

\-\-\-

 

(Ruang Dokter Ady)

“Dok, konsul boleh nggak ? Tapi, gratis yaa” pinta Dine pada Dokter Ady yang tengah mencatat resep untuk para pasiennya.

Dokter Ady hanya terkikih geli mendengar permintaannya.

“Yaudah, nanya aja deh ..” pintanya lagi.

Dokter Ady menatap Dine dan mengatakan “Mau nanya apa?”

“Kalau ada orang yang minta pendapat tentang temannya yang terus ingin mengakhiri hidup kita harus gimana ?”

Dokter Ady menghentikkan pekerjaan menulis resepnya, dan merespon pertanyaan yang dilontarkan oleh Dine.

“Jawabannya cuma satu, bawa dia ke profesional, tidak ada yang lain” menjawab dengan tegas dan yakin.

“Tapi kan kita juga pengen nolong teman kita” timpal Dine.

Dokter Ady berdiri sembari mencari berkasi-berkas pasien di dalam lemari yang terletak di belakang mejanya. “Kalau kamu ingin menolongnya, dan kamu gagal, korbannya ada dua. Dia dan kamu”

“Kita cenderung untuk menjadi savior atau penyelamatnya, tapi kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, jangan macam-macam, langsung bawa ke profesional. Udah”

Dine kembali bertanya. “Stres berat dengan Depresi apakah sama, Dok ?”

Dokter Ady menemukan dokumen yang ia cari dan menunjukkan pada Dine.

“Kalau seseorang bilang bahwa dirinya bisa sembuh dari Depresi karena dia bersyukur, ya karena itu bukan Depresi. Depresi tidak bisa disembuhkan dengan cara bersyukur”

“Paham maksud saya ?”

Dine mengangguk paham dan mulai mengerti. “Ini dokumen apa Dok ?”

Dokumen tersebut ternyata isinya adalah foto album dari sejak berdirinya Rumah Sakit Jiwa disini, sejak mendiang Kakeknya masih hidup, dan saat itu Dokter Ady masih menjadi mahasiswa kedokteran spesialis jiwa yang sedang Koas di Rumah Sakit ini.

Dine melihat foto-foto Dokter Ady saat masih menjadi anak kuliahan, dia sangat lucu sekaligus tampan.

Tatapan matanya polos sekali dan senyumannya masih sama seperti sekarang. Senyum dengan lesung pipi dan mata yang sedikit sipit.

 

\-\-\-

 

Aksa mulai lelah berjalan, belum sempat makan sejak tadi malam, ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar jauh dari kedua orang tuanya. Ia berjalan dengan tatapan yang kosong, tiba-tiba pandangannya mendadak kabur dan tergeletak pingsan di jalanan Myeongdong.

Tentu saja, orang-orang sekitar langsung menghampiri Aksa dan segera menelfon nomor darurat 911.

Sesampainya di Rumah Sakit terdekat, pihak RS langsung menghubungi keluarga dari Aksa yang tertera pada kartu identitas yang di bawanya pada saku celananya.

Orang Tuanya segera menghampiri Aksa, karena memang orang tuanya pun sedang mencari keberadaan anaknya tapi tidak bisa melacaknya karena tidak membawa ponsel.

-

-

-

Keesokannya, Aksa mulai terbangun dan melihat sekitar. Ia sudah tahu bahwa ini bangsal Rumah Sakit.

“Aksa, Mamah ingin bicara denganmu sebentar” sahutnya sembari menghampiri Aksa di bangsal.

Wajah Aksa langsung malas ketika melihat Orang Tuanya, ia langsung memalingkan wajah agar tak melihat wajah dari Mamahnya.

“Ya sudah, jika kamu tak mau menatap Mamah. Mamah cuma ingin minta maaf atas kesalahan Mamah dan Papah 17 tahun yang lalu.”

“Kami hanya ingin melindungimu dari rumor orang-orang, Tio” ucapnya dengan nada yang ditekan.

Aksa tetap diam, tak merespon, bahkan hanya untuk menoleh saja tidak ia lakukan. Ia sudah terlanjur kesal pada kedua orang tuanya yang telah memperlakukannya seperti ini. Setidaknya, Aksa hanya ingin mereka mengkhawatirkannya saat dirinya tenggelam.

Bukannya rasa cemas, malah orang tuanya menganggap itu adalah aib keluarga karena bisa mempertaruhkan reputasi dari Papahnya. Sudah terlalu lama Aksa memendam rasa emosi yang bercampur rata.

Marah, kesal, sedih, frustasi, malu, takut, tidak tenang. Ia butuh kehangatan dari kedua orang tuanya, tidak ada yang mau mengerti keadaannya.

“Mah, Aku itu takut. Aku juga marah dan kesal. Pernah Mamah nanyain kabar langsung ke aku ? Mamah dan Papah bisanya cuma mikirin uang dan uang, nggak pernah mikirin perasaan anaknya!”

Emosi Aksa langsung meledak dengan tatapan mata yang penuh kebencian dan amarah yang sudah tak bisa ia kendalikan lagi. Bom waktu dalam dirinya seakan sudah tak kuat untuk menahan rasa sakit selama ini, ia benci pada kedua orang tuanya, ia juga benci pada dirinya.

Mamahnya mulai menitikkan air mata, sepertinya naluri seorang ibu terpanggil keluar karena kesalahan 17 tahun yang lalu. Dari wajahnya pun terlihat sangat menyesal, karenanya Aksa menjadi seperti ini.

“Maafkan Mamah, Tio. Jika kamu tetap tak mau menatap Mamah, tidak apa-apa. Jika kamu juga ingin pulang ke Indonesia, silakan. Mamah akan kemasi barang-barangmu, permisi”

Mamahnya pun meninggalkan Aksa dengan langkah kaki yang berat, langkah kaki penuh penyesalan, langkah kaki penuh kesalahan, berjalan sembari tertunduk menandakan bahwa dirinya benar-benar menyesal karena telah membuat buah hati satu-satunya memendam rasa sakit dan merasakan sakit yang amat dalam karena keegoisan dan keserakahannya.

 

\-\-\-

 

“Hai Cel, lagi apa ?” tanya Dine yang memasuki kamar Clesia dan tak sengaja melihat Clesia yang melakukan kegiatan di atas kasurnya.

“Haha, enggak kok. Aku lagi gambar sesuatu” sembari terus melanjutkan lukisannya di kertas gambar A3.

Clesia sedang menggambar dua orang manusia, dirinya dan ilusinya. Ilusi yang berbentuk seorang lelaki, namun ia tak memiliki wajah, hanya saja kehadirannya bisa membuat Clesia nyaman dan kembali hidup. Ilusi yang bisa menenangkannya, setiap kali ada suara yang bising di telinga, suara dia terdengar dominan dan bisa mengalahkan suara lainnya, sangat menenangkan.

Dari lukisan tanpa wajah saja Clesia yakin jika lelaki ini memiliki visual yang sangat tampan dan manis. Rambutnya pun memiliki poni yang menutupi matanya, kakinya juga terlihat panjang, Clesia berdiri di sampingnya hanya setinggi pundaknya.

Clesia tersenyum sambil terus menatap lelaki tanpa wajah yang ia lukis.

Lalu, ia namakan Tio. Selagi menulis namanya, justru Clesia teringat dengan Aksa. Mungkin, Clesia rindu padanya. Sangat merindukannya.

“Aksa gimana ya kabarnya ?” celetuk Clesia.

Dine yang mendengar itupun sedikit terkejut, karena fakta yang belum di ketahui oleh Clesia adalah Tio itu sama saja dengan Aksa.

“Kenapa ? Kangen ?” tanya Dine dengan pelan.

Clesia mengangguk dan tersenyum pasi, entahlah dia bingung harus menunjukkan senyum seperti apa, ia hanya tak mau terlalu berharap padanya, tapi ia juga sangat merindukannya.

“Yudhis kapan pulang ?” tanya Clesia untuk mengalihkan pembicaraan.

“Bilangnya sih dua bulan lagi, tapi itu juga katanya bisa berubah jadwalnya, nggak tahu lah.” Jawab Dine yang tampak kurang yakin.

Clesia pun hanya mengangguk “Ahh, gitu ..”

“Oh iya, lagi deket sama Dokter Ady ?”

Dine pun terbelalak dan segera menutup mulut Clesia karena takut ada Dokter Ady yang mendengar obrolan mereka. “Ih, jangan keras-keras. Kalau ada orangnya lg nguping gimana ?”

“Saya belajar 9 tahun di Kedokteran nggak di ajarkan untuk menguping, apalagi ngepo-in orang lain” sahut Dokter Ady yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Clesia dan tidak sengaja mendengar obrolan mereka.

Sontak Dine dan Clesia pun terkejut melihat Dokter Ady yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. “Halo, mas .. “ sapa Clesia dengan canggung.

“Loh tapi kan Dokter Ady tahu kita ngobrolin apaan ! Nguping dong namanya” celoteh Dine pada Doker Ady.

“Kan nggak sengaja denger, kalau nguping beneran kan ada niatnya” jawab Dokter Ady dengan santai.

Dine yang mulai kesal ingin membalasnya. “Ya udah iya deh, emang kalau psikiater itu bisa aja ngomongnya, ngasih masukan ke pasien aja bisa, apalagi urusan kaya gini.”

“Saya itu psikiater, bukan speakiater” jawabnya lagi.

Dine mulai menyerah dan memilih untuk mengakhiri debatnya dengan Dokter Ady.

Clesia seperti sedang menonton drama melihat kelakuan mereka di depannya. Mereka sangat lucu jika bertengkar. Clesia pun terkikih karena ulah mereka yang saling berbalas argumen, tentu saja Dokter Ady selalu santai untuk menjawab. “Mas, kenapa nggak jadiin Dine pacar aja ? Kalian cocok!”

“Sstt, nanti dia ke pede-an”

Dine pun langsung menepak pundak Dokter Ady dengan keras. “Hem!” melotot dengan tajam.

“Tuhkan, belum jadian aja udah galak gini.” sembari terus meledek Dine yang kesal.

“Udah Din, ada yang iri loh nanti” celetuk Dokter Ady sembari menatap Clesia.

Kemudian, mereka berbincang-bincang dengan gelak tawa dan cerita absurd yang pernah dialami Dokter Ady.

 

\-\-\-

 

Dua minggu kemudian,

“Hati-hati, Tio” ucap Mamah dan Papahnya yang melambaikan tangannya saat Aksa sedang menuju keberangkatan di Bandara.

Aksa tak menghiraukannya. Tapi, tiba-tiba saja ia menghentikkan langkahnya dan berlari menuju kedua orang tuanya. “Kalau aku nggak usah ke Indonesia nggak apa-apa kan ?”

Kedua orang tua Aksa pun mendadak bingung dengan permintaan Aksa yang tiba-tiba saja membatalkan rencananya untuk pulang ke Indonesia.

“Loh, kenapa ?” tanya Papahnya dengan heran dengan dahi yang mengernyit.

Aksa tersenyum sembari menatap keduanya, ia menghembuskan napas yang panjang. “Aku kangen sama kalian. Pengen ngobrol lebih lama lagi, lagian selama aku disini, aku gak pernah mau untuk ngomong sama kalian.”

Kedua orang tua Aksa pun langsung memeluknya, mengira bahwa jika Aksa akan pulang ke Indonesia dan ia tak pernah ingin berbicara lagi kepada orang tuanya. Ternyata, Aksa memang anak yang sangat baik.

 

\-\-\-

 

“Ada masalah apa lagi dengan Clesia ?” tanya Ayah Clesia yang datang ke ruangan Dokter Ady tanpa memberitahu bahwa dia akan berkunjung untuk menemuinya. Biasanya, Ayah Clesia akan memberitahunya dulu jika ingin bertemu dengan Dokter Ady.

“Kenapa Clesia ? Dia gak pernah terbuka kalau sama saya, apa dia mengatakan sesuatu ?” Ayahnya terus menanyakan hal tersebut pada Dokter Ady.

Dokter Ady mencoba menenangkannya, dan mempersilahkan untuk duduk.

Dokter Ady tak bisa membocorkan masalah yang di ceritakan oleh Clesia, pasti ada alasan dari Clesia, kenapa ia tak mau menceritakan ini pada Ayahnya. Mungkin, selama ini Ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan komunikasi orang tua terhadap anak dinilai kurang baik.

Terkadang, anak merasa ingin dipedulikan oleh orang tuanya sendiri. Bukan hanya untuk sekedar dikasih kebutuhan makan, uang, dan segalanya. Tapi, anak juga butuh rasa empati terhadap emosi batin yang dimilikinya.

Dan terkadang, orang tua sudah merasa bahwa dirinya sudah memperdulikan dan memberikan kasih sayang terhadap anaknya. Seperti halnya memberikan kebutuhan makan, uang, dan memenuhi segala keinginannya. Rata-rata orang tua tidak mau melihat anaknya sedih. Daripada anaknya memiliki rasa kesedihan, lebih baik anak menutupi kesedihan dengan kasih sayang yang diberikan oleh orang tuanya.

“Maaf om, saya nggak bisa membuka rahasia pasien terhadap siapapun, termasuk orang tuanya sendiri.” Jawab Dokter Ady dengan pelan.

“Kenapa ? Clesia anak saya, saya berhak tau, Dy .. “ lontarnya dengan nada tinggi.

“Saya yakin Clesia pasti memiliki alasan kenapa ia tak mau menceritakan masalahnya sama Om, saya harap Om bisa mengerti maksud saya” balas Dokter Ady dengan sembari terus menjelaskan agar tak ada salah paham diantara keduanya. “Cobalah untuk berbicara pada Clesia dan dekat padanya terlebih dahulu, saya rasa pendekatan itu perlu dilakukan”

Ayah Clesai pun diam sembari terus memikirkan, kenapa Clesia tak mau memberitahu kepadanya tentang apa yang dialaminya sekarang ?

Padahal waktu itu, Clesia sempat berani untuk terbuka pada Ayahnya. Tapi, kenapa sekarang ia tidak memberitahu Ayahnya ?

-

-

-

**Cel, ini Aksa.

Maaf yah, aku gak bermaksud ninggalin kamu.

Tenang aja, kamu bukan jomblo. Kita belum putus pokoknya !

Aku ingin kamu sembuh dan baik dulu.

Aku pasti kembali, jadi kamu harus janji kalau seandainya aku kembali dan menemuimu.

Kamu harus sehat.

Oke ? Semangat !!!

Aksa mengirimkan whatsapp pada Clesia**.

 

**BERSAMBUNG**

 

see you,

stay tuned yaa readers 💛

1
Mila Nugroho
ceritanya keren kak sangat meng edukasi,.. tambah wawasan phisikis dan kejiwaan yang mudah di cerna karna penjelasanya ada alurnya. terimakasih kak
PUSHI BIRARA: Terimakasih kembali karena sudah mendukung cerita ini ❤😁
total 1 replies
nisafdlla
Ceritanya bagus banget kak, bacanya emosinya dapet banget, sedih,senang,kecewa, marah. semua lah.
juga ceritanya informatif😊
PUSHI BIRARA: Yeyyy terimakasih atas dukungannya ❤😁 stay tuned yaa untuk novel yang baru 😊
total 1 replies
La Nindy
thor visual nya bikin ilfil...
tapi serah deh...yg penting ceritanya seru.
La Nindy: love you thor
total 2 replies
Desvi Dwkrn
ceritanya bagus banget thor, banyak ilmunya. semangat terus buat author buat karya-karya selanjutnya😊😊
PUSHI BIRARA: Terimakasih ❤ 😁
total 2 replies
Rozita Tha
mantap thor

jgn lupa mampir di karyaku😊
PUSHI BIRARA: Oke 😁 drop dong karyanya
total 1 replies
Pratiwi Tiwi
sempat mengalami hal serupa..😔
PUSHI BIRARA: Tetap semangat yaaa ❤
total 1 replies
Boba
semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!