~NOVEL KE 11~
Novel ini merupakan kumpulan cerita kehidupan dari seorang remaja sebelas tahun bernama Hani.
Dia adalah putri tunggal dari pasangan Lea dan Erik yang sibuk bekerja sepanjang waktu.
Sehingga sehari-hari nya, Hani bermain sendiri bersama pensil dan buku sketsa nya.
Semuanya berjalan biasa sampai ketika Hani menerima sebuah pensil ajaib dari seorang Pak Tua.
Mulai saat itu lah kehidupan monoton gadis kecil itu berubah jadi istimewa!
Yuk ikuti kisah-kisah nya!
catatan: Novel ini Mel dedikasikan khusus untuk dua bocil Mel (Ram dan Riy) dan umum nya untuk semua anak-anak hebat Indonesia.
Love you all, Kiddo..🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkepung Polisi
Plak!
Madame Go menampar keras pipi kanan Tara. Hingga gadis belia itu terhuyung jatuh ke samping.
Baru saja Hani dan Tara dibawa masuk kembali ke hadapan Madame Go. Dan kini keduanya langsung harus berhadapan dnegan murka wanita germo tersebut.
"Kau! Lancang sekali kau meracuni pikiran bocah ini untuk kabur! Jangan kira aku tak menyadari kalau kau lah dalang dari aksi kabur kalian tadi!" hardik Madame Go tanpa ditahan-tahan.
"Ma..Madame! Tolong jangan sakiti Kak Tara! Hani..Hani yang salah! Maafin Hani, Ma..Madame!" cicit Hani yang langsung menangis sedih saat menyaksikan aksi kekerasan barusan.
"Hani..Hani.. Aku tak akan marah kepadamu, tentu saja.. Kau masih terlalu kecil untuk menanggung kesalahan ini. Seperti yang sudah ku katakan padamu sebelumnya. Orang-orang di sekitar mu lah yang akan menerima setiap kesalahan yang kau perbuat. Jadi.."
Madame Go sengaja menjeda kalimatnya. Wanita itu lalu mendekati Hani dan mengangkat dagu milik gadis kecil tersebut. Kedua mata wanita itu kini memicing tajam.
"Jadi.. Kau camkan baik-baik, Nona Manis..! Jangan berani lagi kau kabur dari tempat ini! Jika tidak, maka Tara, atau siapapun yang kau sayangilah yang akan ku sakiti! Mengerti itu, hah?!" Ancam sang Madame.
"Me..mengerti, Madame.." sahut Hani dengan suara pelan.
"Bagus. Sekarang, mana pensil dan gambar yang ku minta untuk kau buatkan, hah?" tanya Sang Madame.
"I..itu.."
Kini Hani terlihat kebingungan. Ia baru menyadari kalau ia telah meninggalkan pensil ajaib nya di rumah.
'Bagaimana ini? Aku ceroboh sekali.. Sekarang apa yang harus ku katakan pada wanita jahat ini?' bimbang Hani dalam hati.
"Hani!" Hardik Madame Go kembali.
"Pensil nya.."
Belum selesai Hani bicara, tiba-tiba saja Tara berkata.
"Ada di kantong ku.." sahut Tara kemudian.
Kini, semua mata memandang ke arah Tara. Termasuk juga Hani yang memandang bingung kepadanya.
"Tadi aku membawanya sebelum kita ditangkap, Han.." terang Tara lebih lanjut.
"Kalau begitu, cepat buatkan aku gambar lagi, Bocah! Gambar yang sama seperti yang sudah ku perintahkan untuk kau buat!" lanjut Madame Go memberikan titah.
"Tapi ingat!" tegur Sang Madame tiba-tiba.
"Kali ini aku ingin melihat mu menyelesaikan gambar mu langsung. Jadi kau tak punya pilihan selain menyelesaikan gambar mu di depan ku! Siapa tahu kau nanti ingin kembali kabur!" cibir Madame Go sambil memandang sinis pada Hani.
Selanjutnya kepada salah satu anak buahnya Sang Madame pun memberi titah.
"Kau! Bawa Hani ke kantor ku sekarang juga!"
"Bagaimana dengan gadis satunya, Madame?" tanya sang anak buah.
"Dia.. bawa saja ke kamar tahanan. Biarkan dia merasakan lapar akibat kelancangan nya mengajak tahanan lainnya kabur!" titah Sang Madame kembali membahana.
Mendengar itu, Hani dan Tara langsung saling melempar pandang. Dan keduanya harus menerima saat mereka harus dipisahkan ke dua ruangan yang berbeda.
***
"Ini! pensil dan kertas nya!" ujar seorang anak buah Madame Go sambil menyodorkan secarik kertas kosong dan pensil yang baru diambilnya dari kantong Tara.
Saat mengambil pensil yang tergeletak di depannya, Hani menyadari sesuatu.
"Ini..ini bukan pensil ajaib nya Hani, Madame.." ujar Hani tetiba.
"Apa?! Apa maksud mu ini bukan pensil ajaib mu? Jangan membuat alasan karena kau tak ingin membuat gambar untuk ku, Bocah Tengil!" hujat Sang Madame.
"Tidak! Hani beneran Madame! Ini memang bukan pensil ajaib Hani!" imbuh Hani menegaskan.
Sang Madame lalu memicingkan matanya tajam. Ia mencoba mempelajari mikro ekspresi di wajah Hani. Dan ia harus mengakui kalau dari hasil pengamatannya Hani memang sepertinya mengatakan kebenaran. Pensil itu bukanlah pensil ajaib.
Segera saja amarah mengisi keseluruhan benak Sang Madame. Sehingga pada detik berikutnya ia langsung saja meneriakkan titah kepada anak buah nya di dalam ruangan.
"Kau! Bawa Tara ke sini! Aku yakin, pasti begundal itu yang sudah berulah lagi tentang pensil ajaib ini!" Amuk Madame Go.
"Baik, Madame!"
Tak beberapa lama kemudian, Tara diseret masuk ke dalam kantor Sang Madame.
"Tara! Di mana pensil ajaib itu?! Ceoat serahkan!" Hardik Madame Go seraya menarik rambut gafia itu kencang-kencang.
"Aduh! Tadi kan pensil nya sudah kuberikan ke Hani, Ma..Madame!" jawab Tara.
"Tapi kata Hani itu bukan pensil ajaib nya! Cepat serahkan, Sun*al!" umpat Madame Go. Diikuti kemudian dnegan tamparan keras di pipi kanan Tara.
Plak!
"Kak Tara! Madame! Tolong jangan pukul Kak Tara lagi. Madame! Kasihan Kak Tara!" cicit Hani merasa iba.
Seketika itu jua perhatian Madame Go pun langsung beralih kembali ke Hani. Ditariknya rambut Hani dengan kencang. Lalu Sang Madame mendekatkan wajahnya ke wajah Hani.
"Kau! Jangan coba-coba mengakali ku, Bocah Dungu! Sudah kubilang padamu kalau aku tak pernah main-main dengan ucapan ku!"
"Aduh! Sakit!!" cicit Hani yang kesakitan karena rambutnya dijambak kencang oleh Madame Go.
"Cepat serahkan pensil itu padaku! Aku sudah malas untuk bernegosiasi lagi dengan mu! Jangan sampai aku hilang kesabaran dan.."
Belum selesai Madame Go bicara. ketika Seorang anak buahnya tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang terlihat panik.
"Madame! Gawat, Madame! Chil lapor kalau ada mobil patroli yang sedang menuju ke sini! Kita harus pergi sekarang juga sebelum terlambat, Madame!" ujar anak buah nya memberitahu.
"Apa?! Bagaimana bisa?!" tanya Madame Go tak percaya.
"Entahlah, Madame! Tapi kita benar-benar harus bergegas, Madame!" lanjut sang anak buah kembali.
"Sialan! Ini semua pasti gara-gara kalian!"
Plak!
Duashh!
Madame Go yang murka langsung menampar keras pipi Hani serta menendang dada Tara sekencang mungkin. Kedua gadis itu akhirnya tersungkur jatuh ke lantai. Dan Hani mulai mengeluarkan isakan kecil dari mulutnya.
"Diam, Kau, Sun*al! Karena mu semuanya jadi kacau! Aku akan buat perhitungan dengan mu nanti!" Hardik Madame Go kepada Hani.
"Kalian! Bawa semua gadis yang bisa dibawa dengan truk! Rapihkan juga semua berkas penting di rumah ini. Jangan tinggalkan jejak apapun untuk anjing-anjing (maksudnya polisi) itu!"
"Baik, Madame!"
Detik berikutnya Madame Go bergegas mengenakan mantel luarnya dan mengikuti arahan anak buahnya yang telah berjalan lebih dulu di depan. Sementara itu Tara dan Hani ditarik paksa oleh masing-masing seorang anak buah Madame Go untuk mengikuti langkah sang Madame di belakang.
Rombongan kecil itu lalu berjalan menelusuri lorong rumah menuju pintu belakang. Di sana anak buah Madame Go telah menyiapkan sebuah truk besar dan mobil SUV untuk aksi kabur mereka.
Sayangnya, belum sempat Madame Go masuk ke dalam mobil, dari jauh sebuah tembakan melesat cepat dan mengempiskan ban dari mobil SUV di hadapannya. Seketika itu jua semua pandangan tertuju ke kejauhan. Di mana tampak beberapa mobil polisi melaju cepat ke tempatnya berada saat ini.
"Sialan! Anjing-anjing itu cepat sekali sampau ke sini!"
"Gawat, Madame! ban-ban mobil telah kempis. Jadi kita tak bisa pergi dengan mobil-mobil ini!" lapor anak buahnya dengan raut panik.
"Ubah rencana! Bawa semua gadis kembali ke dalam rumah! Kita jadikan mereka sandera, segera!" titah Madame Go ke seluruh anak buahnya.
"Baik, Madame!"
Dan akhirnya, Hani, Tara, beserta semua gadis sandera pun kembali dibawa masuk ke dalam rumah. Sementara itu sekitar empat mobil polisi serta mobil yang dikendarai oleh Erik kini telah sampai di halaman rumah milik Madame Go.
***