Aluna Deviatia seorang gadis semester akhir jurusan perancang busana. Pendek dan penakut. Mendapatkan nasib sial dihari ia mendapatkan gajinya sebagai penjaga toko bunga. Dengan sialnya ia dikejar para pemalak, jatuh dalam tumpukan daun dan luka di lututnya.
Seharusnya bisa lebih baik dari pada di pandangi seperti orang gila sepanjang perjalanan ke mini market.
Namun sayang, para pemalak yang ia kira ingin memalaknya malah berniat menculiknya. Membawa Aluna kembali kepada sosok yang tidak pernah ingin dia lihat lagi setelah masa sekolah menengahnya.
Gabriel Ivanovich, pemilik sah Enterlace Corp, sebuah perusahan besar yang menaungi segala kekayaannya. Psycho gila dengan obsesi besar hanya kepada Aluna.
Menculik gadis itu, membakar hangus segala milik gadis itu. Mengikat seorang Aluna didalam hubungan gila penuh siksaan dan kelembutan.
Membawa gadis itu kepada fakta besar yang terkubur jauh didasar tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qieqizie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 : Can't
Menagis, Aluna menangis, memeluk bahunya gadis itu melangkah keluar dari acara pesta. Tidak ada yang peduli, Aluna melangkah pelan, semuanya terasa asing dan menyesakkan.
Aluna kehilangan sandarannya, dia jatuh kemudian hancur berkeping-keping. Rasa cinta yang ia rasakan begitu menyiksanya. Aluna benar-benar tidak tahu cara mengatasinya.
Menghentikan taksi, Aluna masuk dengan lemas. Mengirimi pesan kepada Lara bahwa ia pulang lebih dahulu.
Membuka jendela Aluna menatap keluar, menikmati angin malam yang langsung menyapanya. Menatap cahaya bulan diatas sana.
Malam ini terlalu terang, seperti mengejek dirinya yang hancur berantakan. Aluna memang kurang bersyukur.
Dia seperti ini juga karena kesalahannya sendiri, dia sangat tahu tentang kondisi Gabriel, dan lihat ketika sedikit saja perubahan terlihat dia terlena.
Aluna benci fakta bahwa Gabriel membuat hatinya hancur berkeping-keping, dan kepingan itu dengan bodohnya masih mencintai si penghancur.
""""
Aluna berantakan, dihari kedua setelah pertemuan diacara pesta itu. Pikirannya kacau, bayangan pria itu terus-menerus melekat didalam otaknya.
Menenteng gelas kertas berisi kopi hangat Aluna melangkah keluar Cafe tempatnya membeli secangkir kopi.
Melewati sebuah restaurant gadis itu terpaku. Bayangan disana, pria itu tersenyum dengan seorang gadis yang tertawa didepannya. Rasa sakit, kecewa menyerangnya, menggelengkan kepalanya namun rasa sakit itu tidak kunjung menghilang.
Apa yang dilakukan pria itu disana, sepagi ini dengan seorang gadis. Aluna larut dalam rasa sakitnya sendiri, setetes cairan hangat itu mengalir. Saat itu juga tatapan mereka bertemu.
Tersentak Aluna melangkah menjauh, langkah lebarnya terus membawanya menjauh.
Gabriel terkejut, terburu-buru pria itu bangkit mengejar si gadis dari belakang, mengikuti langkah-langkah lebar itu dalam diam. Bahu gadis itu bergetar, cukup hebat hingga ia berjongkok ditengah trotoar.
Bahunya bergetar hebat, sangat hebat hingga gadis itu tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Kenapa sesakit ini? Kenapa semenyiksa ini?
Aluna tidak tahan, dia tidak kuat.
Dia rindu, rindu, rindu.
Kenapa harus seperti ini. Bangkit Aluna melanjutkan jalannya dengan hidung merah dan wajah dipenuhi bekas air mata. Gadis itu melangkah dengan tubuh lemas. Dan Gabriel mengikutinya dari belakang. Tiga meter jarak diantara mereka dan Gabriel merasa tidak berdaya untuk menjangkau gadis itu.
Ketika Gabriel telah menjadikan gadis itu sebagai rumahnya.
Dan sekarang ia tidak tahu ia harus pergi kemana. Ketika yang diinginkannya adalah setitik cahayanya kembali.
Dan Gabriel membiarkannya pergi begitu saja.
Dialah yang bodoh menyiksa dirinya, tapi malam itu Aluna berteriak, dia terluka darahnya membasahi lantai dan Gabriel mendadak tidak memakai hatinya.
Seberapa hancur yang dirasakan oleh gadis itu. Padahal Gabriel rasa, hari-hari terakhir sebelum kejadian itu begitu sempurna.
Begitu sempurna, hingga tanpa sadar Gabriel menghancurkannya.
Dia memang penghancur, pernikahan ibunya dulu hancur karena kedatangannya, membuat ayah angkatnya menggila dan jatuh kedalam lubang gelap yang membuatnya menyiksa istrinya sendiri.
Gabriel ingin tahu sampai kapan hari ini akan berlalu, sampai kapan rasa sakit ini akan terus terasa.
🕸🕸🕸🕸🕸
"Bukankah tempat ini bagus?" Draco berputar-putar ditengah ruangan, rumah itu tampak tidak terurus, dipenuhi debu dan jaring laba-laba. Tampak tidak terawat dan jauh dari keramaian.
"Tempat apa ini?" Chaka memutar pandangannya, memperhatikan sekelilingnya dengan wajah jijik. Mengibaskan bahu jasnya yang terkena sedikit jaring.
"Tempat bersejarah, aku benar-benar merindukan tempat ini. Beberapa kejadian mengharukan terjadi disini. Kau tahu, kisa ibu tiri yang mencintai anak tirinya. Ini akan menjadi cerita yang membantah dongeng cinderella. " Draco berbicara panjang lebar, memegang ujung meja, ada bekas darah diujungnya. Tampak lebih gelap dan sudah sangat menempel pada meja kayu berwarna terang itu.
"Dan mungkin akan menjadi cerita Romeo dan Juliet versi baru." Draco melangkah masuk kedalam sebuah kamar, tempat tidurnya reot dimakan rayap. Pakian-pakaian masih ada didalam lemari lapuk itu.
"Aku penasaran apa yang membuatmu membenci pria itu." Chaka bertanya, menyandar pada pintu dibelakangnya menatap Draco yang sibuk melihat-lihat isi kamar. Tempat ini mungkin masih layak huni meski dengan renovasi disana-sini.
"Benci? Ahhh, tidak Tuan. Aku tidak membencinya. Aku sayang padanya, dia putraku. Sayangnya dia tidak lahir karena aku. Dan dia membuatku gagal kaya." Chaka mengerutkan dahinya. Menatap Draco tidak mengerti. Draco berbalik menatap Chaka dengan senyum miring. Tampak begitu bahagia.
"Tapi mungkin kali ini, dia yang membuatku mendadak kaya. Yah, dia memang anak orang kaya tidak heran nyawanya dibayar sangat mahal." Draco bersiul bahagia. Berputar-putar dilantai kamar kotor tersebut.
"Ini peringatan untuk mu, jika kau tidak membayarku sebanyak yang kau katakan. Mungkin aku akan memikirkan harga yang pas untuk organ-organmu dipasar gelap." Mata Draco berkilat sadis, tangannya memegang pisau kecil dengan warna mengkilat haus darah.
Dia tidak sabar, ini akan sangat menyenangkan.
Bermain dengan darah bukan hal asing bagus Draco, dia sudah tenggelam dalam cairan kental itu lebih lama dari Gabriel, bahkan sebelum bertemu pria itu Draco sudah bermain dengan darah.
Dia si penculik terkenal, lengkap dengan predikat pembunuh. Tidak ada target yang berhasil lolos dari lilitannya. Sekurang-kurangnya para korban keluar dengan trauma dalam yang membekas di otaknya. Gabriel sudah menjadi contoh utama.
Draco memiliki uang yang melimpah, tapi bukan itu tujuannya. Dia memang sakit, semuanya hanya demi kesenangannya saja. Pelampiasan hobby, anggap saja semua kegilaan pria tua itu karena bobbynya.
Hobby yang menghasilkan uang, kurang berguna apa lagi?
"Jadi kapan rencana ini akan berjalan?" Chaka merinding, sadar betul yang ia sewa bukan orang sembarangan. Dan tampaknya targenya kali ini juga bukan sembarang orang, entah apa yang dilakukan oleh pria bernama Gabriel itu hingga bisa berhubungan dengan pembunuh berdarah dingin di hadapannya.
"Ayolah, jangan terburu-buru. Biarkan mereka tenang dulu. Ini akan menjadi kejutan yang bagus." Draco tersenyum manis, tampak ramah tanpa gurat sadis pembunuh yang sering terlihat ketika pria itu menggila dengan khayalan sadisnya.
sebenernya belum lewat target, tapi aku gatel pengen up. ngeheheh, ah makasih banyak vote comment dan likenya kemarin, uhh, love bangetttttttt. ヽ(*⌒∇⌒*)ノ
jangan lupa lagi lagi lagi ya!! ah iya ada story baruuu! she is anggita judulnya. monggo mampirrrr. hayo hayooo!
scene dansa denga mama.. 😭
akak ini pny cerita bgs2, g mgkn kan copy