NovelToon NovelToon
AZKA&ANNA

AZKA&ANNA

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Kembar / Teen School/College / Persahabatan / Tamat
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫

.
.
Season 3 :

Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:

" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "

Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :

"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"

Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Tepat pukul 01:30 siang. Tuan Agung, Marsya, Azzuri, Aulia, Azka, dan Anna, mengantar Ningrum, Tarjok dan Zahida ke Bandara Kualanamu, akan pulang ke kota 'B'.

Anna berdiri di depan Zahida, “Kak Zahida kenapa pulang? Apa Kak Zahida bosan belmain (bermain) dengan atu?” tanya Anna sendu.

“Tidak, aku pulang karena masih ingin bersekolah dan tidak boleh libur terlalu lama. Takutnya aku tinggal kelas, dan akan lama untuk pindah ke sini,” sahut Zahida menjelaskan.

“Apa memang benal (benar) kalau Kak Zahida ingin belsekolah (bersekolah) di sini?” tanya Anna semangat.

“Iya, aku ingin berkumpul dengan kalian, dan bermain bersama-sama terus!” sahut Zahida ikut semangat.

Di saat Anna dan Zahida masih ingin berbincang, terdengar suara informasi mengenai penerbangan mereka akan siap untuk berangkat dalam waktu 20 menit.

Melihat Zahida akan pergi, Azka sedari tadi berdiri di depan Yamuna, segera berjalan cepat mendekati Zahida, berdiri di hadapan Zahida, dan berkata, “Kak Zahida, sampai di lain waktu lagi. Aku menantikan kehadiran Kakak di sini. Kakak semangat belajarnya.”

“Iya, sampai jumpa di lain waktu. A-atu akan tunggu Kak Zahida di sini,” sambung Anna buru-buru dengan pengucapan masih belum sempurna.

“Kalian berdua juga baik-baik di sini ya, aku pergi dulu,” pamit Zahida, tangannya melambai ke Azka dan Anna.

Setelah saling berpamitan, Tarjok, Ningrum, dan Zahida, melangkah turun menuju eskalator. Tangan Zahida masih terus melambai, begitu juga dengan Azka dan Anna. Mereka masih terus melambai sampai akhirnya Zahida sudah tidak terlihat lagi.

Azzuri, Aulia, Azka, Anna, tuan Agung, dan Marsya, melangkah turun menuju parkiran mobil. Sesampainya di parkiran mobil mereka berpisah, berdiri di masing-masing mobil.

Tidak enak meninggalkan rumah baru terlalu lama, tuan Agung dan Marsya, berpamitan ke Aulia, Azka, Anna dan Azzuri.

“Nak, kamu yakin nggak mau tinggal dengan Mama dan Papa?” bujuk Marsya dengan wajah sendu.

“Yakin Ma, aku sudah memiliki rumah sendiri. Jadi buat apa aku tinggal di rumah Papa dan Mama,” sahut Aulia menjelaskan.

“Rumah Mama besar loh, Azka dan Anna pasti akan sangat puas bermain di sana. Ayo lah,” rayu Marsya kembali, tangannya menarik-tarik tangan Aulia.

“Maaf Ma, tetap tidak bisa. Dan kenapa Mama dan papa harus membeli rumah di sini. Apa Papa dan Mama berniat untuk tinggal selamanya di sini?” tanya Aulia menyelidik.

“Papa membeli rumah itu karen Papa berpikir bisa membawa kalian semua tinggal bersama Papa dan Mama. Tapi perkiraan Papa salah. Ternyata kamu merasa lebih nyaman tinggal sendiri seperti itu,” sambung tuan Agung menjelaskan.

Aulia mengambil tangan tuan Agung, “Maafkan aku ya, Pa. Aku tidak bisa menerima permintaan Papa untuk tinggal bersama. Sekarang aku hanya ingin mendidik dan membesarkan anak-anakku dengan cara ku sendiri,” jelas Aulia lembut.

“Iya, tidak masalah. Yang terpenting kamu baik-baik saja,” sahut tuan Agung, tangannya mengelus sebelah bahu Aulia, pandangannya mengarah ke Azka dan Anna, berdiri di sisi kanan-kiri Aulia, “Kalau gitu Kakek pamit pulang dulu. Kalian yang rajin belajar ya, besok siang Kakek berkunjung ke rumah kalian,” sambung tuan Agung berpamitan ke Azka dan Anna.

Azka dan Anna berlari kecil mendekati tuan Agung dan Marsya. Mengambil tangan kanan tuan Agung, dan mencium punggung tangan tuan Agung dan Marsya secara bergantian.

“Sampai jumpa besok nek…kek,” lambai Anna ke tuan Agung dan Marsya serentak.

"Hem," angguk tuan Agung, bibirnya mengulas senyum tipis.

Sebelum tuan Agung masuk ke dalam mobil, tuan Agung mendekati Azzuri, berdiri sangat dekat, begitu juga dengan bibirnya mendekat dengan daun telinga Azzuri, dan berkata, “Aku minta ke kamu, jangan pernah sakiti Aulia, dan kedua cucuku, Azka dan Anna. Jika kau menyakiti mereka kembali. Maka akan aku pastikan, nama kamu sudah terukir dengan besar di batu nisan, dan jasad kamu akan ku buat menjadi abu!” tegas tuan Agung memberi peringatan buat Azzuri.

“Baiklah. Aku akan mengingat ancaman yang baru saja Anda lontarkan. Yang pastinya, akan aku pastikan jika hal itu tidak akan terjadi kepada Aulia, dan putra-putri ku. Jadi, Anda tenang saja!” tegas Azzuri.

Karena pembahasan sudah selesai, tuan Agung mundur satu langkah ke belakang, tangannya menepuk bahu Azzuri, “Aku pamit,” ucap tuan Agung berpamitan kepada Azzuri. Detik selanjutnya tuan Agung masuk ke dalam mobil. Menghidupkan mesin mobil, membuka pintu penumpang depan dari dalam untuk Marsya.

“Nenek pulang dulu. Kalian harus semangat belajarnya, besok nenek akan datang lagi dengan membawa kue serta bolu lumer yang banyak sekali cokelatnya,” ucap Marsya semangat.

Bukannya senang mau di bawakan bole lumer berisi coklat. Azka dan Anna menutup mulut mereka secara serentak.

“Maaf nek, kata Mami tidak boleh makan coklat banyak-banyak. Nanti giginya berlubang dan sakit!” ucap Azka dan Anna serentak.

“Ha ha ha... baiklah, kalau gitu nenek akan membawa makanan yang sehat dan segar besok,” sahut Marsya berjanji.

“Oke deh!!” sahut Anna dan Azka serentak, tangannya membuat lambang O.

Marsya mendekati Azzuri, tatapan tajam menatap Azzuri dari ujung kaki sampai ujung rambut. Marsya pun mendekat kan bibirnya ke daun telinga Azzuri, dan berkata, “Rayu Aulia agar dirinya mau membuka pintu hatinya untuk kamu. Dan buat hal romantis yang akan membangkitkan hubungan baru dan gairah baru yang sudah lama terkubur di tubuh kalian. Meski kalian sekarang sudah memiliki Azka dan Anna, aku akan menunggu kehadiran cucuk yang baru lagi.”

Setelah puas memberi pesan. Marsya beralih ke Aulia, dan berpamitan lembut kepada Azka, dan Anna. Menit selanjutnya Marsya masuk ke mobil sudah siap jalan. Mobil di naiki tuan Agung dan Marsya memutar setelah membunyikan klakson salam perpisahan, mobil tuan Agung pun melaju meninggalkan parkiran bandara.

Azzuri, Aulia, Azka, dan Anna, masuk ke dalam mobil. Azzuri pun melajukan mobilnya meninggalkan parkiran Bandara. Sepanjang perjalanan Azzuri masih terus memikirkan ucapan tuan Agung dan Marsya. Aulia penasaran dengan pembicaraan berbisik di lakukan oleh kedua orang tuanya pun mulai bertanya.

“Papa sama Mama bilang apa saja ke kamu?” tanya Aulia datar, pandangan mengarah pada Azzuri.

“Papa bilang aku jangan nyakitin kamu lagi. Padahal aku ‘kan nggak pernah menyakiti kamu, kamu nya aja yang lari karena salah paham. Mama bilang kalau dia menginginkan cucu baru. Padahal kamu ‘kan tahu kalau memiliki Azka dan Anna saja sudah cukup bagi kita. Aku pun tak ingin mau memberatkan kamu untuk mengandung, dan melahirkan kembali,” sahut Azzuri datar.

“Haah…emang ada-ada aja permintaan Papa dan Mama,” helaan Aulia.

“Oh ya, aku mau berangkat besok siang. Kamu, aku tinggal di sini tidak apa-apa ‘kan?” pamit Azzuri.

“Papa mau ke mana lagi?” Azka menikung jawaban Aulia. Membuat Azzuri dan Aulia spontan melirik ke kaca tengah dalam mobil.

“A-Abang belum tidur?” tanya Aulia gugup.

“Belum, adek sama abang dali (dari) tadi mendengal (mendengar) semua pelcakapan (percakapan) Papa dan Mama,” sahut Anna dengan nada suara manja dan celat.

“Papi mau pergi ke mana lagi?” tanya Azka kembali.

“Papi mau balik kerja sayang. Ada urusan yang harus segera Papi selesaikan, ini menyangkut masalah pekerjaan Mami kamu, dan Papi juga. Jadi, Papi izin pergi ya?”

1
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂
kebayang lucunya Anna kalau pas nyerocos kaya gitu.. 🤗🤗🤗
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂: iya 😊😊
total 2 replies
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂
mungkinkah Aulia akan memberikan kesempatan buat seorang ayah untuk kedua anak kembarnya? 🤔
sari. trg: Mungkin kak.

Terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rini Antika
Semangat terus dalam berkarya Kak 💪💪
Shandy
Dali... abang Azka ndak boyeh ya. 😂
sari. trg: ha ha ha....😅
total 3 replies
Denry Deny
gemes
Denry Deny
Semangat
Denry Deny
Om jeyek.
Shandy
masuk dia.... aku penasaran nanti kakak ini pereman
Shandy
Mami... mami cini
Shandy
benar...
Shandy
keren
Denry_Den Den
bocah zaman now
sari. trg: hehehe
total 1 replies
Denry_Den Den
mulut tetangga
Denry_Den Den
cemburu
Denry_Den Den
aku yakin besar nanti Azka pasti jadi pria dewasa yang sopan
Denry_Den Den
,keren
Denry_Den Den
Jangan menyerah
Denry_Den Den
orang Medan ya thor?
Denry_Den Den
Gemes
~~N..M~~~
khas logat medan ya.
sari. trg: Iya kak, main-main dulu ke Medan. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!