Rumania negara eropa timur yang di selimuti banyak legenda dan mitos menarik. Mitos yang paling terkenal di semenanjung balkan adalah tentang mahluk penghisap darah legendaris Strigoi, Vampir dan Dracula.
Lumina bergetar hebat melihat temannya merintih kesakitan saat mahluk bermata hitam dengan tatapan tajam menghisap darah di lehernya dengan rakus.
• Sir Louis Alexander Abraham :
"Akan kupastikan kau akan mendesah hebat di bawah kungkungan ku."
• Lumina Cathleen :
"Demi tuhan aku tak kan pernah sudi menjadi budak iblis sepertimu."
Cerita pertamaku, pliss kritik dan sarannya yahh 🙏
Jika berkenan, kasi rating sebagai penyemangat ku 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ensnare
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku menginginkan nya." ucap nya dengan nafas lembut di sisi wajahnya. Di luluhkan nya kain itu sebatas pinggang.
Lumina berdesir, tubuh nya meremang hawa dingin yang berhembus menyapu lembut kulit indahnya, bagai riak air yang bergerak tanpa tekanan. Balutan kain yang telah luluh sebatas pinggang mengekspos penuh gumpalan pepat tak terhalang serat.
Louis menatap dalam meminta persetujuan atas hasrat nya. Di lihatnya mata yang terlihat sayu penuh gelora tengah memandangnya. Ia tersenyum, bahasa tubuh yang tak menolak manjadi jawab atas pintanya.
Seluruh tubuh Lumina telanjang saat Louis berhasil meluluhkan pakaiannya. Kulit nya yang putih pucat tambak indah terkena pantulan cahaya lampu seolah berkilau. Buah da*a nya yang bundar tak tersekat apapun menjadi pusat perhatian utama Louis saat itu.
Ia mengungkung Lumina, nafas nya yang berat dan hangat memantul di permukaan kulit gadis itu. Di peluk dan di gerayangi punggung nya, menempelkan hidungnya yang tinggi di atas pundaknya dan di hirup dalam-dalam aroma tubuh gadisnya.
Setelah puas ia meninggalkan bekas ******* serta sesapan di sudut leher dan bibirnya, membuat Lumina seketika mendesis. Lenguhan kecil yang tanpa sengaja lolos dari mulutnya.
Louis semakin bergairahh, ia terdiam. Sesaat ia tak bisa berfikir jernih akibat gelora hasrat yang datang begitu cepat.
Ia bangkit berdiri, di tatapnya gadis yang tengah berbaring di atas sofa tanpa terhalang sehelai benang. Di tanggalkannya jubah tidur serta handuk yang melilit pinggang nya. Lumina seketika berpaling, wajah nya merah padam mendapati bentuk kuat yang tepat di hadapannya.
Louis segera merengkuh gadisnya, di jilatnya penuh semangat leher itu sementara kedua tangannya meremas buah da*a nya hingga membusung menonjol di antara ibu jarinya. Sorot mata pria itu tertuju pada pu*ing merah muda yang mengkilat, segera ia sambar dan di kul*m penuh kedalam mulutnya, sesekali menggoda dengan menggigitnya lembut.
Lumina mendesah, dada nya membusung jemari nya mencengkram kuat lengan kokoh yang tengah mendekapnya, sementara sepasang matanya mengatup rapat merasakan sentuhan erotis di tubuhnya. Semua sentuhan itu membuatnya menggeliat penuh kenikmatan.
Ciuman Louis turun melewati perutnya dan berhenti di antara pahanya. Lumina melenguh, tubuh nya menggeliat bergelinjang tak tentu arah. Ia mencengkaram rambut Louis dengan kedua tangannya.
Louis bangkit berdiri, ia mencium singkat bibir gadis itu sebelum menggosok ujung ereksinya yang tegak berdiri di antara paha gadis itu.
"Jika merasa sakit, cepat katakan. Maka aku akan segera berhenti."
Lumina mengangguk dengan wajah gugup menanti Louis melakukannya.
Saat bentuk kokoh itu bergerak dalam tubuhnya, ia merasakan bentuk asing yang lembut, namun keras. Tubuhnya terasa hangat dan berdenyut, dalam sekali hentak ia merasakan sakit yang amat mendera di pusat tubuhnya.
Ia terkesiap, rasa tabu yang pertama kali ia rasakan. Cairan pekat berwarna merah mengalir di antara pahanya. Air matanya berlinang.
"Terasa sangat sakit?"
Lumina mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Sebentar lagi, aku akan memperbaikinya. Agar kau tidak merasa sakit saat melakukannya lagi."
Lumina tersipu mendengar ucapan Louis, rasa sakit di pangkal pahanya mengalihkan semua perhatian yang ada. Louis tersenyum, ******* bibir Lumina memainkan pa*ud*ranya kemudian menggerakkan pinggulnya penuh irama.
Gadis itu menggelinjang. Ia memeluk pundak Louis dan mencengkram bahunya serta mendesah pelan di telinganya.
"Louis, ahh...." bisiknya lembut sedikit merintih.
Lumina melepaskan pelukannya, wajahnya pasrah serta tubuhnya yang basah akan peluh. Louis tersenyum, ia merasa senang penuh kuasa. Matanya berkilat berubah hitam selegam langit malam tanpa sepengetahuan Lumina. Sesuatu yang tengah ia tunggu akhirnya telah ia dapat.
Segel peri yang ada pada tubuh gadis itu telah terbuka. Segera ia kian mempercepat gerakan pinggulnya. Louis serta Lumina melenguh bersamaan, untuk sesaat Louis merasa melayang merasakan sensasi itu. Sedikit mengintip ke bawah, ia berdecak merasa ceroboh melihat cairan putih yang pengalir keluar dari kedua paha gadisnya.
Di lihatnya Lumina yang telah terlelap kelelahan akibat aktivitas mereka. Ia segera bangkit dan menutup tubuh polos gadis nya menggunakan jubah tidur yang tadi ia gunakan.
Segera ia lilitkan handuk di pinggang nya dan membawa kembali gadis itu ke dalam kamarnya.
...----------------🍃-----------------...
Di dalam hutan, sesok pria bermata sendu tengah menghirup udara malam dalam diam. Dedaunan yang terasa lembab akibat kabut mambuat ketenangan tersendiri bagi segelintir orang.
Matanya menatap tajam setiap pergerakan di sekitarnya. Sesat ia terdiam, aura ganjil yang menguar di sekitarnya menarik perhatiannya. William berbalik dan segera kembali ke istana. Tepat di sisi barat bangunan tersebut, ia naik keatas pohon dan melompat ke ranting lainnya hingga tepat di atas atap bangunan tersebut.
Ia mengendus kuat udara yang melintas di indra penciumannya. Matanya berkilat tajam, sesuatu yang telah lama ia cari telah menampakkan diri. Seringai Licik tercetak jelas di wajah bengisnya, Ia yakin. Louis telah berhasil membuka segel tersebut.
Di lain tempat, Louis tengah memandang gadisnya yang tertidur lelap.
Entah langkah apa yang akan ia ambil, secepatnya ia harus segera menyembunyikan keberadaan gadis itu. Di yakini Lucille serta William telah sadar akan rahasia gadis ini.
Ia beranjak ke beranda kamar, Matanya menatap tajam gelapnya malam yang menyembunyikan sisi kelam daerah tersebut.
...-----------------🍃----------------...
To be continued ...