Soraya Foster seorang guru yang mencintai muridnya sendiri bernama Ryan Mattiew. Kisah mereka semakin rumit ketika Soraya tiba-tiba hamil anak Ryan.
Hal itu membuat Ryan dikirim oleh kedua orang tuanya ke luar negeri agar berpisah dari Soraya.
Lima tahun kemudian Ryan kembali, dia sudah melupakan masa lalunya dengan Soraya dan sudah memiliki tunangan.
Saat ia kembali ke negaranya di situlah Ryan bertemu kembali dengan Soraya guru yang dulu adalah cinta monyetnya, dan dia menyadari ada anak kecil yang tumbuh bersama Soraya.
Akankah Ryan bisa kembali mendapatkan hati Soraya dan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 31 • Kegilaan Bella
Sebuah mobil mewah berhenti di depan toko bunga Regan, seorang wanita keluar dari dalam sana, dan berjalan anggun masuk ke dalam. Sora dan Regan tampak saling pandang menatap kedatangan wanita yang cantik dengan balutan gaun biru muda sebatas lutut, dan berlengan balon tersebut, tasnya yang terlihat limited edition seharga itu ditentengnya serampangan.
“Hai... Apa kabar?” sapa wanita itu, menatap ketiga orang yang masih tampak bingung.
“Nona Bella? Ada perlu apa? Apakah ada yang bisa kami bantu?” Regan membuka suara, melaksanakan tugasnya sebagai benteng pelindung untuk Sora dan Nora.
“Tidak,” jawabnya, kemudian mengulurkan sebuah amplop besar berwarna putih ke arah Regan. “Aku hanya ingin menyerahkan ini.”
“Untuk apa ini?” tanya Regan, pandanganya ke arah Sora yang masih diam menggendong Nora, seolah bingung dengan ulah Bella.
“Kuharap kalian datang.... ” Mata Bella menatap gadis kecil Nora, dia tahu pasti anak ini adalah darah daging Ryan, buah cinta terlarang antara guru dan murid di masa lalu. "Dan kuharap anak kecil itu juga ikut!" Tunjuk Bella kepada Nora.
“Kami tidak berjanji akan datang bersama-sama, mungkin hanya perwakilan saja salah satu dari kami,” jawab Regan.
“Kenapa? Apa Miss Sora takut cinta lama bersemi kembali?” Pinggir bibir Bella tertarik ke atas membentuk senyum ironi, mencibir ke arah Sora.
“Tidak!” jawab Sora tegas.
“Kalau begitu silakan datang! Ini undangan spesial dari mantan muridmu!” sahut Bella, kemudian berbalik badan, dan kembali mengenakan kaca mata hitamnya, keluar dari toko bunga Regan.
Napas Sora memburu, seolah sejak tadi dirinya menahan napas. Belum sempat Ryan menjauh, kini Bella pun sama—ingin mengganggu kehidupan Sora dan Nora. Padahal dia sudah Benar-benar ingin menjauh dari keduanya. Namun, tetap saja takdir selalu mempertemukan mereka di masa depan.
“Kenapa mereka bisa datang ke kota ini? Mengapa mereka menggangguku?” Suara Sora menguar lirih, seolah takut Nora mendengarnya. Meski berusia baru lima tahun, Nora mampu mencerna apa pun yang keluar dari mulut ibunya.
“Kau tidak perlu datang. Biar aku saja kalau kau tak mau.”
“Kau dengar apa katanya tadi? Dia takut aku.... ”
“Sudah cukup!” Regan memotong ucapan Sora, agar Nora tidak mengerti apa yang dikatakan sang ibu.
“Bibi tadi sangat cantik, seperti artis juga.” Suara mungil itu kembali terdengar.
“Ya, itu teman paman Regan-mu. Dia akan bertunangan besok.”
Mata Nora langsung berbinar kala mendengar kata bertunangan. “Apakah paman di undang?” tanyanya antusias.
Regan mengangguk pelan. “Kalau begitu biarkan aku ikut bersama Paman. Aku bosan berada di rumah dan toko ini setiap saat. Aku juga ingin datang ke sebuah pesta, seperti cerita di negeri dongeng di mana mereka selalu mengadakan pesta dansa.”
“Tapi di dunia nyata tidak ada pesta seperti itu, Anakku.”
“Tidak apa-apa, Bu. Aku juga ingin lihat gaun pertunagan bibi tadi. Pasti secantik orangnya.”
Regan dan Sora hanya saling pandang tidak menanggapi ucapan anak kecil perempuan ini.
“Ayolah, bagaimana jika Paman membelikanmu kue di toko seberang.” Tangan Regan meraih tubuh kecil itu dari sang ibu, dan merengkuhnya dengan lembut dan membawa Nora keluar dari toko bunga mereka.
Dari dalam toko Sora menatap kedekatan Regan dan sang buah hati, yang seperti ayah dan anak. Begitu baik Regan, tapi pria itu tak mampu menggetarkan hati Sora yang seolah tertutup kabut tebal akibat penghianat Ryan pada dirinya di masa lampau.
***
Bella masuk ke dalam sebuah ruangan kerja, gadis itu dengan begitu angkuh duduk di sofa. Ryan yang menatap kehadirannya tampak terganggu. Dengan sigap dia melepaskan pulpen yang ada di sela jarinya.
“Untuk apa kau ke mari?”
Bella menarik napas, lalu tersenyum. “Kau bertanya? Tentunya aku ingin menemui calon suamiku. Aku sangat merindukanmu.”
“Ini bukan tempat untuk memadu kasih, Bella! Kau tidak waras?”
Gadis itu menyilangkan kaki dengan anggun lalu duduk tegak. “Aku baru saja menemui Sora.”
Sontak Ryan langsung beranjak dan menghampiri Bella. “Untuk apa kau mengganggunya?”
Bella menyendikkan bahu, memasang ekspresi tidak berdosa. “Aku hanya ingin mengundang mantan guruku, dan, ya, gadis kecil itu. Kau sudah tahu?”
“Siapa?”
“Kau tidak tahu?” Bella memastikan jika Ryan benar-benar tidak tahu. “Anak kalian. Aku tidak sabar bagaimana reaksi orangtuamu.”
“Tutup mulutmu, Bella. Keluar dari ruanganku!”
“Oke... Kau tak perlu mengusirku. Aku akan pergi sekarang. Dan ingat janjimu. Kau tidak akan pernah membatalkan hubungan kita hanya karena bertemu dengan wanita murahan itu!”
Semangat, ditunggu up selanjutnya...
Semoga happy end ya, /Drool/
jadi korban