Seroang mafia masuk ke dalam novel poligami yang sangat dia benci, dia terjebak dalam raga seorang wanita lemah yang merupakan korban poligami dari suami materialistis.
Alina masuk saat ke dalam raga Alya saat dia meregang nyawa setelah didorong ke kolam renang oleh Monica yang merupakan istri kedua.
Alina membatu Alya untuk membalaskan dendam, dengan tau alurnya tentu sangat mudah untuk balas dendam namun Alina malah terjebak dalam jerat cinta CEO penikmat wanita yang merupakan partner bisnisnya.
Akankah Alya(Alina) dan Albert akan bersama? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersepeda
Entah apa yang mereka lakukan di dalam kamar kapal, hingga kapal bergoyang padahal laut sedang tidak bergelombang alias tenang.
"Aaahhhhh," teriak Alya saat Albert menyerangnya dengan serangkaian serangan yang bertubi-tubi.
Ukuran rudal Albert yang jumbo membuat Alya menjerit karena penetrasi yang terlalu dalam.
"Teruslah menjerit sayang, kita ini sedang bercinta di atas laut jadi tidak akan ada yang mendengarnya," bisik Albert.
Tak kuasa mendapatkan kenikmatan yang bertubi-tubi Alya menarik rambut Albert hingga Albert mengeluh kesakitan.
"Sayang sakit, kalau kamu tarik bisa rontok semua rambut aku ini," kata Albert.
Alya melepas tangannya, dia kini mencengkeram bahu Albert sehingga rasa perih mulai dia rasakan.
"Astaga tadi rambut kini bahu, bisa-bisa tubuhku dedel duel disiksa olehnya," batin Albert.
Beberapa waktu kemudian Albert dan Alya telah selesai bercocok tanam, mereka yang lelah memutuskan untuk istirahat sejenak.
Kapal telah sampai di dermaga, nampak sebuah villa mewah berada di sana, Albert dan Alya siap untuk turun.
Kedua bola mata Alya memandang kagum Villa indah di depannya, kedua ujung bibirnya tertarik untuk tersenyum.
"Kamu kalau tersenyum sungguh cantik sekali," puji Albert.
"Sudah nggak usah berlebihan, itu nggak membuat aku senang dan merubah apapun," sahut Alya ketus.
"Dasar wanita aneh, biasanya wanita lain yang aku puji langsung klepek-klepek sedangkan dia biasa saja," batin Albert.
Albert mempersilahkan Alya berjalan terlebih dahulu karena jembatan kayu tidak bisa untuk dilalui dua orang bersamaan.
"Sayang hati-hati." Albert mencoba memperingatkan Alya.
"Iya," sahut Alya.
Sesampainya di villa, para pelayan sudah menyiapkan makanan, memang ada beberapa orang yang menjaga Villa Albert.
"Selamat datang Tuan, Nyonya." Para pelayan menyambut kedatangan majikannya.
"Iya," sahut Alya dan Albert.
Seusai makan, Alya berkeliling. Sungguh indah sekali pulau pribadi milik Albert. Di belakang villa nampak bukit kecil yang sangat indah, banyak sekali pohon kelapa yang tumbuh, di samping itu tanah dibelakang villa dimanfaatkan oleh pelayan di sana untuk berkebun.
Bola mata Alya menemukan sebuah sepeda, dia pun mengambilnya.
"Aku kan tidak bisa mengendarainya," kata Alya.
Albert yang kebetulan ada di belakang Alya nampak tertawa, sepeda saja tidak bisa mengendarainya.
"Astaga sayang kamu ni cupu sekali, naik sepeda saja tidak bisa," ejek Albert.
"Memangnya kamu bisa?" tanya Alya.
"Belum tau dia, dulu waktu kecil aku juara bersepeda," jawab Albert.
"Sudah jangan banyak ngomong, ayo buktikan. Ajak aku berkeliling," sahut Alya yang membuat Albert mengambil sepedanya.
Mereka nampak romantis sekali naik sepeda berdua, Alya juga refleks memeluk Albert sehingga membuat Albert bahagia.
"Huuuuuuuu," teriak Alya saat Albert mengayuh sepedanya dengan kencang.
"Kamu senang?" tanya Albert.
"Senang sekali sayang," jawab Alya yang memanggil Albert dengan kata Sayang.
Albert tersenyum puas, dia merasa kalau dirinya kini benar-benar menjadi suami sejati karena bisa membuat istrinya bahagia.
"Wanita lain pasti bahagia dengan tas Hermes, batu permata, berlian, uang dan juga emas namun kamu malah bahagia dengan hal sepele seperti ini," batin Albert dengan tersenyum senang.
Albert yang lelah memutuskan untuk duduk di bawah pohon kelapa, kakinya sungguh kiu mengayuh sepeda dengan membonceng Alya.
"Ah baru ngayuh sebentar sudah lelah," kata Alya
"Sayang kita sudah muter-muter daritadi loh kamu pikir gak capek," sahut Albert.
"Ya ya ya," timpal Alya.
Melihat Alya, Albert pun mencari kesempatan dengan meletakan tangannya di pundak Alya, awalnya Alya enggan dirangkul Albert namun karena Albert memaksa sehingga mau nggak mau dia mengijinkannya.
Tanpa Alya sadari semilir angin membuatnya mengantuk dan dia meletakkan kepalanya di bahu Albert.
"Nyaman juga seperti ini," batinnya lalu tersenyum.
Bossss...
😀😀😀❤❤❤
😁😁