Reyna gadis yang sederhana tidak pandai bergaya dan tak banyak teman. Dia hidup bersama ayahnya yang sangat dicintainya. Kegiatan sehari-harinya menjual nasi uduk dan macam-macam gorengan untuk membantu ayahnya agar tidak terlalu lelah bekerja sendian mencari nafkah. Namun sebuah kejadian tragis menimpah ayahnya. Kecelakaan itu tak dapat dihindarkan. Ayah Reyna sekarat dan pria rentah itu sangat mengkhawatirkan putri sulungnya itu. Ia tidak bisa pergi tenang meninggalkan putrinya sendirian. Ayah Reyna meminta Pram bertanggung jawab telah menabraknya dengan menikahi putrinya. Ancaman dari ayah Reyna membuat Pram terpaksa menikahi gadis yang tidak ia cintai.
Pernikahanpun terjadi namun hanya pernikahan di atas kertas. Kedua tidak saling mencintai. Pertengkaran selalu mewarnai pernikahan mereka. Pram selalu bermain dengan banyak wanita. Sedangkan Reyna selalu merasa kesepian. Perlahan cinta itu hadir diantara keduanya. Namun pengkhiatan datang menjadi malapetaka. Bisakah mereka mempertahankan rumah tangga yang baru saja memutik? Apakah Reyna akan menemukan kebahagian dalam pernikahannya? Apakah Pram mau menerima Reyna sebagai istrinya? Dapatkah keduanya menciptakan cinta kembali dalam pernikahan mereka? Yuk ikutin kisah Reyna & Pram menyusuri lautan Pernikahan Di Atas Kertas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Etrora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berakhir?
Pram membaca seksama jadwalnya minggu depan. Semuanya tertata rapi seperti biasanya namun ada satu wacana yang menyita perhatiaannya. Yaitu jadwal gathering perusahaan.
"Tahun ini gatheringnya dimana?"
"Pantai, pak"
Seketika dahi Pram mengernyit.
"Pantai. Kenapa harus di pantai? Memangnya tidak ada tempat lain"
"Seperti tahun sebelumnya pak. Untuk tempat kita selalu melibatkan karyawan pak. Dan setelah dilakukan voting, semuanya setuju tahun ini gatheringnya diadakan di pantai" jelas Aditya detail.
Pram mengangguk ragu. Ia masih belum yakin apakah nanti bisa menahan rasa sakitnya saat bertemu pantai. Pram merasa ada yang aneh. Akhir-akhir ini ia sudah jarang mendengar suara Tari yang memanggilnya.
Tok tok tok
"Permisi pak"
Pram mengankat kepalanya begitu mendengar suara lembut itu.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Pram ketus. Ia mengalihkan matanya pada berkas di hadapannya.
"Tadi kamu lupa bawak bekal makan siang ini"
"Saya sengaja tidak membawaknya bukan lupa. Sekarang kamu bisa pergi. Saya sibuk"
"Kalau begitu aku tinggalin makanannya disini" ucap Reyna kikuk sambil meletakkan kotak bekal di meja.
"Bawak saja lagi. Saya tidak akan memakannya"
Reyna tertegun. Menelan salivanya susah.
"Aku permisi dulu"
Pram menatap intens kotak bekal di depannya. Ia lalu berdiri dan membuka tirai penutup jendelanya. Dari atas ia memandang Reyna yang sedang berjalan keluar menuju gerbang kantor. Dalam diam ia selalu memikirkan hal yang sama. Apakah keputusannya untuk melepaskan Reyna adalah keputusan yang tepat?
"Aku tidak tahu apakah setelah kamu benar-benar pergi dari hidupku, aku akan bahagia? Karena sampai saat ini perasaanku masih sama. Bahkan hanya sekedar melihat punggungmu dari kejauhan, cukup membuatku tenang" _Pram_.
"Malam ini kamu lembur lagi ya?"
"Pulang jam berapa?"
"Kamu sudah makan?"
"Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu harus istirahat juga"
"Aku baru saja selesai masak makan malam"
"Aku akan menunggu kamu pulang. Setelah itu kita makan sama-sama"
Masih banyak lagi pesan yang Reyna kirimkan. Pram hanya membaca pasan-pesan itu. Ia tidak berniat membalasnya. Hatinya kembali mengeras seperti batu. Baginya semua perhatian yang Reyna lakukan hanya untuk menebus rasa bersalahnya bukan karena ia tulus melakukannya. Ia tidak percaya lagi.
Hari semakin larut dan Pram masih belum pulang juga. Malam ini lagi-lagi Reyna ketiduran di sofa ruang tengah. Setelah hari itu, Pram lebih sering memilih lembur di kantor dan pulang malam bahkan beberapa hari tidak pulang.
Pagi ini Reyna kembali terbangun bukan di kasur nyamannya. Ia segera berlari ke kamar Pram namun pemiliknya tidak ada di dalam.
"Dia tidak pulang lagi? Padahal inikan hari minggu" Reyna tertunduk lesuh. Wajah kecewanya jelas terlihat.
📞Bersiaplah. Pakai gaun yang bagus. 10 menit lagi saya sampai"
Reyna mengeluarkan semua gaun terbaiknya dari lemari. Walaupun belum tahu Pram akan membawaknya kemana namun itu tidak masalah baginya. Pram sudah mau menelponnya saja, ia sudah sangat bahagia. Apalagi diajak jalan. Reyna merias dirinya secantik mungkin agar Pram terpesona melihatnya. Mengolesi bibirnya dengan warna merah menyala kesukaan Pram dan memoles pipinya dengan make up natural membuat penampilannya tampak sempurna dan elegant.
Pram menekan bel mobilnya berulang kali begitu tiba di depan rumah sebagai tanda agar Reyna segera keluar. Dengan antusias Reyna pun berlari kecil.
"Lama banget sih"
"Aku lagi minum pas kamu..."
"Jangan banyak alasan. Saya tidak suka mendengarnya" potong Pram cuek. Matanya tak melirik Reyna sedikitpun. Padahal istri cantiknya tepat duduk di sebelahnya.
Reyna menutup mulutnya rapat. Sepanjang perjalanan keduanya hanya membisu tak bersuara. Keadaan di antara mereka begitu canggung seperti awal-awal pernikahan.
"Teman saya menikah hari ini. Dia ingin melihat kamu. Saya terpaksa membawak kamu kesini. Cepat turun"
Reyna mengangguk patuh. Ia berjalan seirama di samping Pram. Ingin rasanya jalan sambil bergandengan tangan namun Pram pasti akan langsung mengusir kasar tangannya.
"Aku ingin sekali mengenggam tangannya namun dia pasti memandang sinis padaku. Aku tidak mau merusak moodnya" _Reyna_.
Mata Reyna mengedar memperhatikan para tamu yang datang. Beberapa ada yang ia kenali karena pernah bertemu di acara pesta pernikahannya. Dan tiba-tiba saja mata bulatnya menangkap sosok yang sangat familiar. Sosok itu berdiri tidak terlalu jauh darinya dan sedang menatapnya juga.
"Tama. Dia ada disini juga" gumam Reyna.
Reyna pun segera menjauh sejauh mungkin.
"Pram kemana sih?" Ia berjalan melewati para tamu. Tak terasa ia sudah melangkah terlalu jauh hingga ke taman bagian belakang hotel. Kebetulan acara pernikahan teman Pram diadakan di aula hotel bintang lima yang cukup ternama.
"Disini juga gak ada. Terus kamu dimana Pram?"
Reyna berbalik badan ingin kembali ke tempat acara namun refleks kakinya melangkah mundur begitu melihat Tama ada di belakangnya.
"Ta...Tama kamu ngapain disini? Kamu ngikutin aku?" tanya Reyna gugup.
"Aku mau bicara sama kamu"
"Maaf aku sedang mencari Pram. Permisi"
Tama menarik kasar pergelangan tangan Reyna. Mendorong tubuh ramping Reyna yang dibalut gaun merah marun ke dinding.
"Tama kamu mau ngapain sih? Lepasin aku"
Reyna memberontak berusaha melepaskan cengkraman Tama di tangannya.
"Dengerin aku dulu" ucap Tama frustasi meminta waktu sebentar.
"Aku gak mau. Lepasin aku"
Bugggg
Sebuah pukulan keras menghantam kepala Tama membuatnya jatuh ke tanah.
"Pram" Reyna refleks menutup mulutnya. Ia ngeri melihat Pram memukul Tama begitu keras.
Namun kali ini Tama dengan sigap menangkis pukulan Pram yang kedua. Ia bangkit dan balik memukul wajah Pram takkala keras. Keduanya bergelut hebat tanpa ada yang mau mengalah. Tama menarik kerah baju Pram dan mendorong kuat temannya itu ke dinding.
"Kamu pikir semua ini terjadi murni karena kesalahan kami hah" ucap Tama berteriak.
"Lalu kamu pikir ini salah saya? Brengsek" umpat Pram membalas dengan tatapan membunuh.
"Iya ini salah kamu. Sejak awal siapa yang membuatnya menangis? Kamu selalu membuatnya menunggu. Dimana kamu saat dia memerlukan kamu...."
"Tama cukup. Kamu tidak pantas mengatakan itu" sambar Reyna geram.
"Oh jadi kalian ingin menyalahkan saya atas perbuatan keji kalian ini. Munafik kalian berdua"
"Kamu yang munafik. Sejak dulu kamu tidak pernah menyadari kesalahan kamu. Tidak pernah merasa salah"
"Bajingan" Pram mendorong tubuh Tama hingga tersungkur. Memukul menendang bagian atas tubuh Tama tanpa ampun.
"Pram cukup. Berhenti. Dari dulu kamu selalu main tangan dalam menyelesaikan masalah. Kamu pikir masalah bisa selesai dengan cara kasar seperti ini?"
"Apa? Kamu membelanya?" tanya Pram seraya berdiri mendekati Reyna. "Kamu lebih membelanya daripada saya hah?"
"Pram, aku tidak membelanya" jawab Reyna kesal dengan cara berpikir Pram yang selalu salah paham dengannya.
"Gak...gak barusan kamu membelanya" ucap Pram menggertakkan giginya.
"Pram, aku tidak membelanya. Kenapa sih kamu gak bisa ngerti?" sangkal Reyna sambil menyeka airmatanya yang keluar begitu saja. Ia tidak bermaksud membela Tama atas ucapannya tadi. Ia hanya tidak ingin keributan ini mengundang perhatian tamu yang lain. Reyna tidak ingin orang-orang berpikir jelek tentang suaminya.
"Bukan saya. Tapi kamu yang tidak pernah mengerti"
Reyna tiba di rumah lebih dulu. Pertengkarannya dengan Pram di pesta tadi membuat amarah suaminya kembali tersulut. Pram pergi lebih awal meninggalkan Reyna sendirian di pesta. Reyna duduk bersandar seraya memijit lembut keningnya. Namun secarik amplop coklat menarik perhatiannya. Ia mengeluarkan isi di dalamnya dan alangkah terkejutnya ia begitu membaca judul di atas kertas putih dalam genggamannya kini.
"Akta Cerai" gumam Reyna shock. Ia membidik matanya. Mungkin saja ia salah baca.
"Kamu tidak salah baca. Itu surat perceraian kita. Kamu harus segera tanda tangan agar sidang perceraian kita bisa cepat dilakukan" ucap Pram yang tiba-tiba ada di depan Reyna.
Dengan mimik marah, Reyna merobek surat perceraian itu menjadi dua bagian. Ia tidak bisa menerimanya.
"Aku tidak mau kita cerai. Kamu tidak bisa memaksaku untuk menandatangani surat cerai itu"
"Terserah. Kamu berhak untuk menolak. Besok saya akan mengirimkan lagi surat cerainya. Dan saya harap kamu segera tanda tangan. Tolong jangan semakin mempersulit situasi dan jangan membuat saya semakin muak"
"Kamu yakin ingin berpisah dariku hah? Kamu yakin bisa bahagia tanpa aku? Bukankah pernah bilang tidak bisa bahagia jika tidak ada aku?" tanya Reyna beruntun membuat langkah Pram terhenti.
Pram pun tersenyum sinis.
"Hah..kenapa kamu bertanya seakan-akan tidak ada masalah besar di antara kita? Saya kesini bukan untuk berdebat seperti ini. Saya mau mengambil beberapa pakaian saja. Selama proses perceraian saya tidak akan tinggal disini. Kamu boleh tetap tinggal disini jika mau"
Beberapa menit kemudian....
"Pram, apa kamu harus melakukan ini? Ini rumah kamu. Kenapa kamu harus pergi?"
"Tentu saja saya harus pergi dari sini agar kamu tahu kalau saya serius dengan ucapan saya. Kamu harus ingat dengan janji kamu. Kamu akan pergi jika saya melepaskan kamu. Dan sekarang saya akan...."
"Jangan katakan" sambar Reyna cepat. Hatinya berdebar takut.
"Mulai hari ini saya melepaskan kamu"
Tangis Reyna seketika pecah tak terbendung. Ia menangis meraung sekeras mungkin. Pundaknya teramat rapuh menanggung semua beban yang menggelayutinya selama ini. Ini terlalu berat untuk ia tanggung sendiri. Kata penyesalannya sudah tidak berarti. Permintaan maafnya tidak ada gunanya lagi. Hati Pram sudah sekeras batu.
...-------------------...
Hari yang paling ditunggu bagi karyawan Adyjaya Group pun tiba. Sebelum pergi mereka melakukan doa bersama agar acara gathering yang diadakan rutin setiap tahun kali ini bisa berjalan lancar. Semuanya tampak gembira bernyanyi riang sepanjang perjalanan menuju pantai. Namun ada satu yang terlihat tidak bersemangat sedikit pun, Pram. Pria itu sama sekali tak memperhatikan karyawan di sekitarnya. Matanya hanya fokus memandang keluar seraya menempelkan kepalanya di kaca mobil.
📞"Apa? Pram ikut gahtering di pantai?"
Reyna memutuskan sambungan telpon dari Adytia. Ia langsung bergegas menuju pantai setelah Adytia mengirimkan alamat pantai padanya. Reyna takut terjadi sesuatu pada Pram. Ia tahu trauma yang Pram alami belum sepenuhnya hilang.
Begitu sampai di pantai dengan tak sabar satu persatu para karyawan yang ikut dalam rombongan gathering turun dari bus. Beberapa dari mereka langsung melebur ke pinggir pantai bermain air setelah diberikan beberapa arahan. Untuk acara awal, mereka dibebaskan melakukan apa saja sebelum masuk ke acara inti yaitu permainan game.
Menyaksikan karyawan-karyawannya tertawa lepas membuat perasaan Pram sedikit lega. Ia suka melihat keceriaan itu. Pram berjalan-jalan sendiri menyusuri pantai. Merasakan halusnya pasir pantai menggelitik telapak kakinya. Membiarkan tiupan angin memeluk dirinya. Hatinya saat ini layaknya rumah kosong tak berpenghuni. Hening dan senyap.
"Pram"
Suara itu terdengar lagi membuat kepala Pram berdenging nyaring.
"Aahh" Pram berusaha memberi pijitan kecil di pelipisnya namun justru kepalanya semakin berdenging. "Aahh...Reyna" sambung Pram tanpa sadar menyebut nama istrinya. Ia tidak tahan dengan bunyi bising di kepalanya. Dahinya berkeringat dan wajahnya berubah pucat pasih.
Di saat Pram dalam kesakitan. Tiba-tiba saja ada benda lunak yang menarik tengkuknya lalu mencium lembut bibir Pram.
"Tenanglah aku ada disini" ucap Reyna dalam hati.
Reyna membelai halus wajah Pram. Mengecup hangat bibir berisi milik suaminya. Ia tahu bagaimana menenangkan Pram dalam keadaan seperti ini. Dan hanya ia yang bisa melakukannya. Aroma tubuh ini sangat ia kenali walaupun dengan mata terpejam. Pram pun membuka matanya perlahan menyoroti wajah cantik istrinya. Melingkari pinggang Reyna agar lebih dekat padanya. Kemudian menyambut cumbuan hangat di bibirnya.
Setelah beberapa saat. Reyna menarik dirinya dan mengambil satu langkah ke belakang. Menatap wajah Pram dalam diam. Di dalam kepalanya banyak yang ingin ia katakan. Namun itu tidak akan merubah keadaan.
"Aku akan pergi" pamit Reyna memasuki mobil taksi yang ia tumpangi tadi.
Pram memandang nanar taksi yang membawak Reyna pergi semakin menjauh. Ada yang menjanggal di hatinya yang membuatnya curiga. Kenapa Reyna tidak memakai mobil yang ia beri? Bukankah ia juga sudah memperkerjakan sopir pribadi yang siap mengantarkan Reyna kemanapun?
"Sebenarnya aku berharap kamu tidak pernah mengatakan itu, Pram. Aku tidak ingin kamu melepaskanku. Aku tahu kesalahanku sangat besar. Permintaan maaf saja tidak cukup. Walaupun terdengar tidak tahu malu. Aku selalu berharap kamu tetap bertahan dalam pernikahan ini lalu perlahan-lahan memaafkanku. Pram, aku ingin selalu ada disamping kamu. Tapi kamu sudah melepaskanku dan itu artinya aku harus pergi, Pram. Aku tidak tahu apa aku bisa bahagia di dunia yang tidak ada kamu. Aku juga tidak tahu apakah kamu akan bahagia di dunia yang tidak ada aku.Tapi di dalam ketidakpastian ini, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu, Pram" _Reyna_.
Reyna tersenyum memaksa sembari memandang pepohonan rindang yang tumbuh kokoh di pinggir jalan. Sesekali menyeka airmatanya yang tidak henti keluar dari kedua sudut matanya. Setelah berpikir semalaman, ia akhirnya sampai di keputusan ini. Ada sedikit rasa plong di dadanya meskipun saat ini hatinya benar-benar hancur.
...----------------...
Sedari gathering tadi tepatnya setelah Reyna pergi. Pram merasa gelisah. Ia pun memilih pulang ke rumah untuk memastikan kecurigaannya. Di dalam rumah tampak sepi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Pram lalu melangkah mendekati ruang tv. Di atas nakas ia melihat kertas putih yang tak asing. Itu surat perceraiannya yang ia kirim kembali pagi tadi. Pram membuka halaman kedua surat yang di bawahnya sudah ada tanda tangan Reyna.
Pram menaiki anak tangga dengan langkah goyah. Membuka pintu kamar lalu melihat isi lemari Reyna. Lemari itu telah kosong dan hanya ada beberapa gaun yang tersisa. Seketika jantungnya berdetak lebih kencang. Darahnya berdesir semilir. Apakah pernikahannya benar-benar akan berakhir?
reyna x pram kalian lihat hanya jeleknya pram saja apapun pu yang dilakukan pram semua salah dan kalian kebaperan dengan pria lain dan kalian elu2 tama
reyna x tama disini berbalik lagi tama yang jadi jahat dan pram yang kalian elu2 kan
dari novel ini disini terlihat sekali karakter kalian yang selalu memandang lebih lelaki lain dari pada pasangan kalian sendiri, kalian selalu kebaperan dan memuja2 pria lain daripada pasangan kalian
ingat thor novelmu bisa memperlihat karaktermu
kok skrng marah reyna diganggu?
kenapa sih Reyn plin plan gitu...kok jd kayak.perempuan murahan kesana iya, kesini iya
trus labil banget. jd ga respek
Terima kasih tak terhingga untuk kalian semua🙏🤗