Novel ini masih dalam tahap revisi ya, Kak? Jadi maaf kalau tulisan masih berantakan. 🙏 Udah Revisi bab 1-23 ya, Kak. Yuk Cek.....
Andini terpaksa menikah dengan Rico karena di desak oleh Dinda. Itu semua karena Dinda belum bisa memberikan keturuan pada Rico. Pernikahan Rico dan Dinda selama sepuluh tahun belum juga dikaruniai keturunan. Dengan terpaksa dan tanpa cinta Rico mau menerima permintaan Dinda untuk menikah dengan Andini.
Akankah Rico bisa menerima Andini dan mencintai Andini, setelah Andini memberikan buah hati untuknya? Atau sampai kapan pun Rico tidak bisa menerima kehadiran Andinni sebagai istri keduanya, sekaligus sebagai pengganti Dinda, setelah Dinda pergi menghadap Sang Khalik karena sakit yang tidak bisa disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hany Honey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Bayu tidak habis pikir, kenapa Rico menjadi sekejam itu. Padahal kurang apa Andini untuk Rico. Andini yang memberikan kesempurnaan hidup Rico sebagai seorang laki-laki. Dia bisa memiliki keturunan dari rahim Andini. Andini juga mencintainya dengan tulus, Andini juga masih bertahan di sisinya meski tidak diinginkan kehadirannya bagi Rico. Bayu menatap Rico dengan perasaan jengkel dan gemas pada sahabatnya itu.
“Jangan bodoh jadi laki-laki, Ric! Pikirkan kembali sebelum wanita sebaik Andini pergi meninggalkan kamu dan Arsyad. Mau cari wanita seperti apa lagi untuk menjadi ibunya Arsyad? Arsyad berhak bahagia dengan Andini. Aku yakin kamu akan menyesala jika benar akan meninggalkan Andini! Camkan itu!” tegas Bayu dengan meninggalkan Rico.
Bayu membanting keras pintu mobilnya saat akan pulang dari rumah Rico. Dia benar-benar sedang dirundung kemarahan yang tidak bisa ia bendung lagi. Kalau Rico bukan sahabatnya pasti sudah Bayu habisi, tapi Bayu masih punya sedikit kesabaran untuk menahan emosinya. Bayu yakin, saat ini Andini masih sangat hancur perasaannya.
Rico masuk ke dalam kamarnya, sebelum masuk dia melihat kamar Andini yang sedikit terbuka pintunya, dia pun mendengar Andini yang masih menangis. Rico sedikit membuka pintu kamar Andini lagi. Ia melihat Andini sedang memeluk Arsyad di sebelahnya.
“Maafkan aku, Ndin. Aku mungkin bisa saja belajar mencintaimu, tapi aku tahu, Bayu mencintaimu dengan tulus. Tidak seperti aku yang terpaksa mencintaimu. Dan aku pun masih belum bisa mencintai wanita lain selain Dinda. Dengan melepasmu, aku yakin kamu akan bahagia, dan tidak tersiksa batinmu karena aku,” gumam Rico dalam hati,
Rico masuk ke dalam kamarnya. Dia mendudukkan dirinya di depan meja rias milik Dinda. Dia melihat foto Andini dan Dinda yang sengaja Dinda pajang di atas meja riasnya. Juga foto bertiga, Andini, Dinda, dan dirinya. Rico mengambil foto Dinda dan Andini yang sedang saling merangkul. Mereka terlihat hampir mirip, apalagi mereka sama-sama memiliki lesung pipi yang membuat mereka saat tersenyum menjadi cantik.
“Apa aku mengambil keputusan yang benar, Dinda? Apa aku sudah menyakiti Andini?” ucap Rico dengan melihat foto Dinda. “Andin, maafkan aku. Aku tidak tahu harus bagaimana, kamu adalah ibu dari anakku, tapi aku belum bisa mencintaimu. Aku juga tidak tahu kapan aku bisa mencintaimu, Ndin? Sebab itu, aku ingin melepasmu, biar kamu bahagia bersama orang yang sangat mencintaimu, yaitu Bayu. Bukan aku, Ndin. Aku orang yang selalu membuat kamu menangis, aku selalu membuat kamu tersiksa lahir dan batin. Maafkan aku, aku harus melepasmu.” Ucap Rico dengan melihat foto Andini. “Kalian adalah dua istriku yang sangat sempurna, sangat sempurna,” pungkasnya.
Hingga pukul 00.00 Rico masih belum bisa memejamkan matanya. Dia masih mengingat ucapannya yang ia katakan tadi pada Andini, kalau dirinya akan menceraikan Andini. Rico juga masih terngiang ucapan Andini yang mungkin dengan reflek mengucapkan cinta pada dirinya, dan Rico melihat ketulusan dari sorot mata Andini.
“Pak, belum tidur?” tanya Bi Ana yang melihat Rico sedang duduk di mini bar yang ada di dekat dapur.
“Bibi juga belum tidur?” Rico balik bertanya pada Bi Ana.
“Iya, baru selesai menata cucian yang tadi sore, supaya besok tinggal disetrika, Pak,” jawab Bi Ana.
“Oh, gitu?” ucap Rico.
“Pak Rico?”
“Iya, Bi?”
“Sebelumnya bibi mohon maaf. Bukannya bibi mau ikut campur dengan urusan bapak dan ibu. Apa betul bapak mau menceraikan Bu Andin? Apa bapak tidak kasihan sama Arsyad? Nantinya harus terpisah lagi dengan ibunya. Apalagi bapak tadi bilang kalau bapak tidak memperbolehkan ibu membawa Arsyad? Maaf kalau bibi lancang bicara seperti ini, Pak,” ucap Bi Ana.
“Iya benar apa yang bibi dengar tadi. Aku akan menceraikan Andini. Aku tidak bisa mencintainya, Bi. Aku juga tidak mau Andini terluka terus karena aku. Dia berhak bahagai dengan orang yang mencintainya,” jelas Rico.
“Apa bapak sedikit pun tidak bisa mencintai ibu? Apa bapak tidak bisa belajar dulu? Memang butuh waktu untuk melupakan orang yang kita cintai, Pak. Tapi bapak juga punya Bu Andin, dan Arsyad. Yang harus bapak cintai dua-duanya, seperti bapak mencintai Almarhumah Bu Dinda,” tutur Bi Ana. “Apa tidak ada jalan lain selain berpisah, Pak?” pungkasnya.
“Ini sudah keputusanku, Bi. Kalau soal hak asuh Arsyad, aku akan pikirkan lagi nanti,” jawab Rico.
“Pikirkan kembali apa yang bapak inginkan. Tidak mudah bagi Bu Andin berpisah dengan Arsyad. Bagaimana pun Bu Andin adalah ibu kandung Arsyad. Ibu mana yang mau dipisahkan dengan anak kandungnya. Bapak jangan mengambil keputusan dengan emosi, dengan gegabah seperti ini. Jangan sampai bapak menyesalinya suatu hari nanti,” tutur Bi Ana.
“Tidak tahu nanti, Bi. Sudah aku ngantuk. Aku mau tidur dulu,” ucap Rico.
“Iya, silakan, Pak. Maaf bukan bibi mau ikut campur dengan urusan bapak. Bibi bicara seperti ini karena bibi sudah puluhan tahun ikut bapak dan Bu Dinda. Bibi sudah menganggap bapak, Bu Dinda, dan Bu Andin seperti anak ibu sendiri,” ucap Bi Ana.
“Iya, Bi. Saya tahu. Sudah bibi istirahat, ya? Aku juga mau istirahat,” pamit Rico.
Rico melangkahkan kakinya ke kamar. Benar apa yang dikatakan Bi Ana, tidak mungkin Andini terpisah dengan Arsyad, karena dia adalah ibu kandungnya. Betul juga ucapan Bayu tadi, mau cari ibu sambung untuk Arsyad seperti apa kalau Andini sampai diceraikan?
“Iya, mungkin benar ucapan mereka. Tapi, aku sudah mengucapkan cerai dengan Andini, dan aku juga tidak tahu harus bagaimana, karena aku belum bisa mencintai Andini. Apa aku benar-benar harus belajar mencintainya?” gumam Rico dengan merebahkan tubuhnya.
Pagi harinya, tidak seperti biasanya selepas subuh Andini langsung ke dapur. Kali ini Andini merebahkan tubuhnya lagi di tempat tidur setelah selesai salat subuh. Dia merasakan kepalanya pusing. Dia juga masih ingin bersama Arsyad, karena ia merasa ini adalah detik-detik terakhir untuk bersama Arsyad.
Andini mengambil ponselnya untuk menghubungi Iva. Dia mau izin tidak ke Cafe untuk beberapa hari ke depan. Dia ingin bersama Arsyad di rumah. Ingin menemani Arsyad, sebelum dia benar-benar berpisah lagi dengan putranya. Apalagi hari ini Arsyad sudah memasuki usianya ke sepuluh bulan. Arsyad semakin aktif, dan semakin terlihat sangat sayang dengan ibunya. Setiap pagi saat terbangun, pasti dia langsung merangkak ke arah Andini untuk memeluk dan menciumnya. Dia juga sudah sedikit demi sedikit bisa memanggil ibu kalau sedang bersama An
Bayu juga menelefon Andini menanyakan kabar Andini. Andini hanya bilang dia baik-baik saja. Memang Andini mencoba baik-baik saja dalam keadaan sekarang. Yang Andini pikirkan sekarang adalah Arsyad. Dia ingin menghabiskan sisa waktunya bersama Arsyad. Sebelum dia bercerai dengan Rico dan berpisah dengan Arsyad
Andini membawa Arsyad keluar dari kamarnya setelah puas bermain di dalam kamar. Andini juga sempat dikejutkan putranya, saat tadi dari kamar mandi, dia melihat Arsyad sudah berada di bawah, dia turun dari ranjang, dengan tangannya berpegangan kuat sisi ranjang. Andini melihat Arsyad yang sudah turun dari ranjang, dan Arsyad juga terlihat sangat senang melihat ibunya baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan gelak tawa Arsyad menyapa ibunya, seakan memerkan dirinya yang sudah bisa turun dari ranjang dan berdiri dengan bertumpu sisi ranjang. Arsyad juga bisa berjalan mendekati Andini yang sudah hampir sampai di depan Arsyad. Betapa bahagianya Andini melihat Arsyad bisa berjalan, meski jalannya masih belum seimbang dan masih sempoyongan.
Andini mendudukkan Arsyad di kursinya yang sudah siap di depan meja makan. Bubur milik Arsyad pun sudah ada di atas meja. Sarapan untuk Rico dan Andini pun sudah tertata rapi di atas meja. Rico sengaja mengambil kursi milik Arsyad supaya bisa sarapan bersama dengan dirinya dan ibunya. Andini tidak bisa menolak ajakan Rico untuk sarapan bersama, karena Arsyad pun tiba-tiba ingin bersama papanya. Keluar dari kamar, langsung ingin ikut papanya saat melihat papanya. Jadi bagaimana bisa Andini menolaknya, dia duduk di sebelah Arsyad, dan menyuapinya.
Andini tidak peduli dengan Rico yang juga duduk di sebelah kanan Arsyad. Andini tidak mengambilkan sarapan untuk Rico, dia juga tidak mengambil nasi untuk dirinya, dia langsung menyuapi Arsyad. Akhirnya Rico mengambil sarapannya sendiri, dan mengambilkan juga untuk Andini.
“Sambil makan, Ndin,” ucap Rico dengan menyodorkan piring berisi nasi dan lauk.
“Iya, makasih, Mas,” jawabnya dengan menerima piring dari Rico.
“Anak papa juga sarapan yang banyak, biar sehat, dan cepat gede,” ucap Rico dengan mengusap pipi Arsyad.
“Jangan cepet gede ya, Nak. Nanti ibu gak bisa main sama Arsyad lagi. Ibu kan Cuma sebentar aja bisa menikmati waktu dengan kamu, Syad,” ucap Andini.
“Jangan bicara seperti itu, Ndin,” ucap Rico.
“Memang kenyataannya kan, Mas? Sebentar lagi aku juga akan pergi dari sini, pisah sama Arsyad lagi,” ucap Andini.
Rico hanya diam saja mendengar ucapan Andini. Ternyata ucapan dirinya semalam masih Andini ingat. Melihat Andini dan Arsyad berada di sisinya, menemani sarapan membuat Rico merasa keluarganya lengkap.