Sekuel Istrinya Ustadz?
Ustadz Afkha atau Adzraffa Khayru Al-jaris tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, apalagi memiliki niat berpoligami. Terlebih usia pernikahannya dengan Shanum atau Rhaishanum Almahyra Qurby baru beberapa bulan saja.
Akan tetapi suatu insiden, membuat Ustadz Afkha di minta bertanggung jawab oleh sang Istri untuk menikahi Zeeta Alghiz atau Zeetasha Umaiza Alghiz. seorang model cantik. Namun, seusai insiden tersebut, kehidupannya menjadi tak memiliki arti. Ia buta dan juga mengalami kelumpuhan pada kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Kamu Bisa Menikahinya.
Keadaan hening untuk beberapa saat. Namun, pada akhirnya Shanum dengan wajah tenangnya berkata kepada Afkha, "aku sudah tahu, Bie." Shanum kembali memperjelas perkataannya yang sempat tertunda sebelumnya, Afkha diam dengan menggelengkan kepalanya. Merasa tak percaya saja.
"Mengapa kalau sudah tahu, kamu malah diam saja? apakah kamu tidak marah padaku, Cinta?" tanya Afkha.
Shanum menghela napas pelan. Lalu ia duduk bersandar pada sandaran sofa. Duduk menyamping dari Afkha yang masih menghadapnya. "Untuk apa? aku takut kamu berbohong lebih jauh lagi, lebih baik aku menunggu kamu jujur seperti saat ini dan setelah kamu jujur, ya aku pun akan jujur kepadamu. Bahwa aku sudah tahu tentang nona itu."
Afkha kehilangan kata-kata. Ia beberapa kali menggelengkan kepalanya dengan gestur lemah. Shanum kembali berkata, "sebagai manusia biasa dan juga seorang istri. Jujur aku marah, aku kesal dan kecewa. Akan tetapi aku ingin mendengar pengakuan Albie secara langsung. Aku tidak mau menebak-nebak ataupun menghardik Albie tanpa penjelasan." Terang Shanum.
Afkha menghela napas berat. "Maafkan aku sekali lagi. Aku tidak berniat menyembunyikan selama itu. Akan tetapi, aku bingung harus memulai dari mana, untuk menceritakan semuanya. Sedangkan nona itu koma. Lalu, Cinta tahu darimana?" tanya Afkha kemudian.
"Iya, tak apa Bie. Yang terpenting Albie tidak pernah melakukan hal yang sama di lain waktu. Tentang apapun itu, menyembunyikan sesuatu hal Kembali, yang seharusnya dapat di katakan lebih awal." Shanum tersenyum pada suaminya.
"Baik Cinta. Albie akan berkaca dari kesalahan yang saat ini Albie lalukan. Maka sepahit apapun kebenaran, tak seharusnya di sembunyikan."
"Maaf juga kalau aku lancang Bie," ucap Shanum dan Afkha mengertukan keningnya.
"Maksudnya?" tanya Afkha selanjutnya.
"Ia, mengapa aku tahu tentang orang itu, karena waktu malam itu, aku menerima telepon di ponsel Albie dan dari seseorang. Dia mengabarkan seorang gadis telah sadar dari koma dan setelah aku tanya serta aku selidiki ternyata nama orang itu Ola dan dia mengabarkan bahwa gadis yang bernama Zethasa Alghiz. Gadis itu baru saja sadarkan diri dari koma. ITU yang ia katakan." Shanum menjeda perkataannya.
Afkha tetap diam. Ia tidak mau menyela penjelasan istrinya. "Waktu itu, aku tidak paham apa yang dia maksudkan, akan tetapi setelah aku tanya baik-baik dan aku mohon penjelasannya, dia menceritakan semua bahwa nona ini terlibat kecelakaan dengan kamu, Bie. Maka terbukalah tabir rahasia yang kamu lingkup sedemikian rapi itu." Papar Shanum kembali.
"Sungguh aku menyesal. karena kamu harus tahu sebuah kebenaran dari orang lain, sungguh aku suami yang ceroboh. Ma ...."
"Sudah Bie, tidak perlu meminta maaf lagi. Aku sudah paham semuanya, aku mengerti dan aku memaklumi. Mungkin jika aku ada disposisi kamu dan posisi kamu ada di aku, aku akan melakukan hal yang sama. Sudah ya, jangan terlarut dalam penyesalan, itu tidak baik." Shanum menatap lembut suaminya dengan senyum yang teramat tulus.
"Terima kasih," ucap Afkha seraya mengecupi punggung tangan dan telapak tangan istrinya berkali-kali.
"Maaf, kalau aku juga mengikuti kamu ke Rumah Sakit saat setelah tahu tentang nona Zee, karena aku ingin memastikan kebenarannya."
Afkha mengesah pelan. "Tidak apa, pasti kamu penasaran sekali."
"Ya, jujur saja aku sempat cemburu." Shanum mengekeh.
Afkha mesem. "Kamu pikir aku menyembunyikan seorang simpanan?" tanyanya.
"Ya, aku memang sempat suudzon ke arah situ, suami aku menyembunyikan seorang model cantik. Ya setelah tahu nona itu adalah model, aku langsung mencari biodata dan juga apapun yang bisa aku dapat ditemukan tentangnya di sosial media. Selain cantik, orang ini baik hati banyak mempergunakan dari pekerjaannya untuk donasi dan membiayai salah satu panti asuhan. Aku salut, Bie."
"Wah, istriku ternyata menjadi detektif dadakan, lalu apalagi kamu dapat?" tanya Afkha dengan mengekeh.
"Tapi, sekarang semuanya berbeda jujur aku ikut sedih dengan keadaannya." Shanum menunduk, "dia saat ini buta juga lumpuh 'kan Bie?" tanya Shanum.
Afkha diam dan kini ia kembali menghalangi napas dalam, penuh penyesalan. "Ya, ini menjadi masalah baru, nona itu sadar dari koma. Tetapi keadaannya, ia buta dan juga lumpuh. Tapi tenang saja, aku akan bertanggung jawab untuk pengobatannya. sampai dia sembuh dan kembali dapat menata hidupnya dengan baik."
"Nona itu akan segera pulang, iya kan Bie?" tanya Shanum.
Afkha mengangguk. "Ia dan rencananya mungkin Mimma serta Biyya akan membelikannya rumah. Rumah yang cukup untuk dia tinggal dengan Kak Ola, karena semuanya sudah habis. Hartanya sudah dia serahkan ke pihak management yang menuntutnya untuk kembali bekerja, sedangkan dirinya saat ini belum dapat melakukan pekerjaannya, maka pihak manajemen menuntut pengembalian dana beserta denda dari surat perjanjian yang telah mereka sepakati."
"Kasihan, aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada diriku sendiri. Nona Zee bisa sekuat dan setegar itu. O yah, mengapa dia tidak tinggal di sini saja?" tanya Shanum.
"Disini ....?" Afkha malah balik bertanya.
"Loh ya di sini, di rumah kita. Rumah ini besar Bie, cukup kok kalau untuk menampung dua orang lagi," ucap Shanum dengan entengnya.
Afkha menggelengkan kepalanya pertanda tak setuju. "Jangan aneh ya Cinta. Ini rumah tangga kita. Tidak akan mungkin ada orang ketiga tinggal di sini bersama kita, terlebih itu dia perempuan." Tegas Afkha itu penolakan tanpa kompromi.
Shanum mendesah. "Kamu bisa menikahinya. Beres 'kan. Jadi ini, rumah tangga kita bersama." Tandas Shanum dengan entengnya dan mimik wajah tenang.
Afkha langsung tercengang dan sungguh terkejut dengan perkataan sang istri. Seketika wajahnya memerah. "Subhanallah!" pekiknya.
ah coba Afka dengar