Rika harus menanggung bebannya yang bertubi-tubi didalam rumah tangganya. Ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, karena suami yang dinikahinya notabennya seorang pengangguran.
Tak disangka, setelah sekian lama berumah tangga, akhirnya Rika mengetahui kebenaran tentang suaminya, bahwa suaminya bukanlah orang biasa. Dan pada saat itu juga guncangan hebat melanda rumah tangganya setelah suaminya membeberkan kebenarannya. Kebenaran alasannya menikahi Rika dan kebenaran alasannya menyembunyikan statusnya dihadapan Rika.
Langkah apa yang selanjutnya akan diambil Rika dalam menempuh hidupnya setelah ia tahu kebenarannya dan juga setelah ia mendapat cobaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, langkah apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat semua terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bergejolak
Saat kebencian membumbung di benakmu, tidakkah kau tau bahwa ada secuil rasa cinta di tebing hatimu. Dan rasa tak sukamu itu adalah rasa cemburu
______________________________________
Rika menatap kearah interior restoran ini, ia baru menyadari kalau interiornya begitu mewah dan unik. Rika begitu mengaguminya hingga ia menatap bingung karena tidak dapat menemukan pintu keluar restoran tersebut. Semua dindingnya dibuat sama menyerupai sebuah pintu. Cocok disebut dengan restoran 'Seribu Pintu'. Ia begitu terkesan dengan restoran ini hingga tidak menyadari bahwa sedari tadi sepasang mata terus memperhatikannya.
"Bagaimana menurutmu restoran ini?" tanya Alvaro yang masih memperhatikan Rika.
Rika yang mendapat pertanyaan tersebut segera bersikap seperti biasa. Ia baru menyadari kalau di depannya masih ada lelaki tadi. Rika berdehem sekali lalu menatap Alvaro dengan tersenyum tipis.
"Restorannya sangat indah."
"Hanya itu?" tanya Alvaro yang merasa kurang puas dengan jawaban Rika. Ah... rupanya wanita ini tidak bisa menilai arti sebuah karya seni.
Kenapa lelaki ini bertanya seperti itu, semua terlihat aneh. Rasanya sejak tadi dia terus menjadikan Rika sebagai leluconnya. Rika berusaha bersikap tenang dan memancarkan senyumnya agar tidak terlihat sedang bosan. "Sempurna, semuanya sempurna," jawab Rika cepat. Laki-laki di depannya ini terlalu banyak bicara, bahkan dengan orang asing seperti dirinya.
Alvaro tersenyum senang saat mendengar kata sempurna. Memang itu yang ingin di dengarnya pada orang yang baru pertama kali memasuki restoran miliknya.
Tidak ada pembicaraan lain lagi setelahnya karena Rika yang selalu menghindari Alvaro, hingga pelayan datang membawa menu yang sudah dipesan oleh tuannya sendiri. Ia membungkuk hormat setelah selesai menyajikan makanan disana.
"Ayo di makan!" ajak Alvaro yang menatap Rika, yang terlihat masih ragu di matanya. Ia tahu kalau wanita ini juga sangat lapar, itu terlihat dari ekspresi wajahnya. "Tenang saja, semuanya gratis untukmu!"
Rika menatap satu persatu makanan yang ada di hadapannya, semua terlihat sangat menggiurkan dan juga penampilannya yang sangat mewah. Sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak tergoda dan mempermalukan dirinya sendiri dihadapan lelaki tersebut.
"Kamu pasti lapar, makan yang banyak agar perutmu tidak kosong lagi," Alvaro mendorong sepiring daging yang mirip dengan masakan rendang.
Rika hanya menurut dan meraih sendok yang ada di hadapannya. Ia mencicipinya sedikit dan langsung terdiam setelahnya. Rasanya sangat lezat bahkan tidak dapat di gambarkan dengan kata-kata. Tapi hanya ada satu kurangnya, ia tiba-tiba teringat dengan suaminya, Angga. Karena makanan ini hampir sama rasanya dengan rendang kesukaan suaminya. Tiba-tiba selera makan Rika menurun drastis. Dan semua itu tidak luput dari penglihatan Alvaro.
"Ada apa? Apa makanannya kurang enak? Atau kamu tidak suka dengan menu ini? Apakah aku harus memesan yang baru?" Alvaro menatap Rika dalam, begitu terlihat perubahan drastis disana. Ia terlihat tidak bersemangat seperti diawal tadi bahkan terkesan sedikit murung. Apa ia memikirkan harganya lagi, ataukah penyakitnya sedang kambuh. Alvaro tampak dibuat khawatir.
"Oh! tidak. Makanannya sangat lezat kok bahkan ini makanan lezat yang baru pertama kalinya aku mencobanya. Sungguh, makanannya sangat lezat." Sebisa mungkin ia meyakinkan Alvaro bahwa semuanya baik-baik saja. Rika mengulas senyum tipisnya kearah Alvaro sambil kembali merubah mimik wajahnya seceria mungkin. Ia tidak mungkin mengatakan hal pribadinya pada lelaki di depannya ini yang bahkan namanya saja ia tidak tahu. Rika merasa lega setelah mendapat anggukan dari Alvaro. Apalagi sampai Alvaro memesan lagi, makanan yang ada saja sudah membuatnya kenyang dan beruntungnya lagi digratiskan oleh Alvaro. Itu sudah membuatnya lebih dari bersyukur.
"Apa kamu sedang sakit?" Rika tampak menggeleng mendengar pertanyaan yang bertubi. Sedangkan Alvaro kembali mengangguk. Ia mengira kalau Rika hanya terharu saja karena saking senangnya bisa memakan makanan mewah. Ataukah ia teringat ibunya di rumah. Karena ia sedikit tahu tentang keadaan Rika sewaktu di rumah sakit dahulu bahkan tentang makanan yang pernah dibawanya.
Mereka makan dalam diam tanpa ada sepatah katapun. Dan mereka tidak menyadari kalau sedari tadi ada sepasang mata elang yang terus-menerus memperhatikan gerak-gerik mereka.
***
Sementara itu di meja lainnya yang tidak jauh dari keberadaan Rika, tampak sepasang mata elang yang sedang berkilat marah melihat kedekatan Rika dan lelaki yang tidak asing di matanya, dia adalah Angga. Beberapa kali Angga terlihat menggenggam erat tangannya dan mengeraskan rahangnya saat ia melihat Rika yang tersenyum tipis pada Alvaro. Ia tidak suka kalau istrinya begitu dekat dengan laki-laki lain yang bukan dirinya, terlebih lagi lelaki itu adalah rivalnya. Ya, Alvaro adalah Rivalnya dalam dunia bisnis, bahkan mereka selalu seimbang. Ia tahu kalau Alvaro sangatlah cerdas dalam mengelola bisnisnya sehingga begitu sulit untuk di jatuhkan. Bahkan mereka selalu bersaing dalam memenangkan tender yang sama. Dan sekarang lelaki itu begitu terlihat akrab dengan Rika, istrinya.
Ingin rasanya Angga menghampiri mereka dan menyeret Rika agar pulang bersamanya. Tapi itu tidak akan di lakukannya karena keadaannya yang sekarang sangat berbeda dengan sandiwara yang di mainkannya di hadapan istrinya.
Tidak, ia tidak cemburu melihat Rika yabg begitu dekat dengan Alvaro. Ia hanya tidak suka saja, karena ia tidak ingin Rika mendapat perlindungan dari Alvaro. Dan lebih parahnya lagi apabila Alvaro tahu rencananya dan menggagaglkan rencananya yang sedang berjalan untuk membalaskan dendamnya pada Rika. Ya, hanya karena itu alasannya bukan karena cemburu. Pasti karena itu.
"Bos, apa yang harus aku lakukan?" tanya Asra membuyarkan lamunan Angga.
Angga mendelik kesal pada Asra karena bertanya disaat yang kurang tepat. Ingin rasanya ia menghajar anak buahnya sebagai pelampiasannya. Kenapa juga ia tadi harus mengikuti kata hatinya untuk mengikuti Rika, sekarang rasanya ia ingin mencincang orang saja karena saking marahnya melihat kenyataan ini.
Angga memang sengaja mengikuti Rika yang baru pulang dari restoran tadi, sekedar hanya ingin melihat keadaannya. Karena terakhir ia melihat saat Rika sedang bekerja di restoran dan semua itu menimbulkan rasa penasaran dibenak Angga tentang keadaannya sekarang. Ia pikir Rika akan semakin menderita setelah kepergiannya dari rumah dan juga sejumlah utang yang sengaja di tinggalnya pergi.
Namun tak disangka, justru Anggalah yang mendapat kejutan. Bagaimana tidak, ia melihat Alvaro yang sedang menghampiri Rika yang berteduh di emperan toko. Dan sekarang mereka sedang pergi kencan. Angga yakin kalau diantara mereka sedang ada hubungan. Tidak mungkin Rika mengenal Alvaro secara mendadak, pasti sebelumnya diantara mereka sudah terjalin hubungan yang tidak diketahuinya. Apalagi melihat sikap Alvaro yang tidak sungkan-sungkan menggenggam tangan Rika sewaktu turun dari mobil hingga mereka memasuki restoran. Bahkan mereka sempat mencuri perhatian segelintir orang. Ia semakin membenci Rika karena di belakangnya ternyata wanita itu memiliki hubungan dengan lelaki lain. Wanita itu benar-benar berani menantangnya dengan berselingkuh di belakangnya.
Munafik memang dirinya, ia seperti seorang lelaki setia saja, tapi justru ia yang mengajari istrinya untuk berselingkuh tanpa ia sadari perbuatannya tersebut. Karena sejatinya seorang suami adalah pembimbing bagi istrinya.
Angga terus saja memperhatikan mereka, walaupun hatinya bergejolak marah dan rasanya benar-benar ingin meledak saat melihat tawa Alvaro karena Rika. Untungnya, Rika tidak menyadari keberadaannya yang cukup dekat dengan meja yang mereka tempati. Dan hampir saja Angga menggebrak mejanya karena saking kesalnya saat melihat senyum malu-malu Rika.
"Asra! cari tahu ada hubungan apa antara Rika dan Alvaro!" perintah Angga setelah ia meminum bergelas-gelas air untuk meredakan gejolak amarahnya dan mendinginkan otaknya yang sedang memanas.
"Baik bos," ucap Asra sambil menundukkan kepalanya. Ia terus memperhatikan tingkah bosnya yang terlihat menggelegak saat melihat istrinya sedang bersama lelaki lain yang bahkan menjadi rivalnya sendiri dalam dunia perbisnisan. Dari sikapnya ini tampak Angga sedang cemburu namun ia tidak mengakuinya karena sejak tadi tanpa ia sadari, ia sudah menghabiskan begitu banyak air. Asra yakin kalau ia tidak akan mengakui rasa yang laknat itu, justru ia menganggap kalau amarahnya adalah bentuk rasa bencinya. Mungkin itu hanya perasaannya saja.
•
•
•
**********
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
karakter utama mleyot kayak gubug reot