Bijaklah dalam memilih bacaan dan dalam berkomentar. Semua hanya fiksi, tapi maaf jika mengundang banyak emosi.
Happy reading!
Bertahan demi anak, adalah sebuah kata yang mudah di ucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Sakit, dan perih, namun harus berusaha kuat dan tetap tersenyum di depan buah hati mereka. Apalagi, ketika terpaksa harus terus tinggal bersama.
Isti wulandari, seorang wanita karier dengan seorang anak perempuan berusia Sepuluh tahun. Dengan semua kesuksesan, kecantikan, dan bahkan kekayaan yang Ia miliki, nyatanya tak menjadikan sebuah jaminan untuk sang suami agar tetap setia. Suaminya kepergok selingkuh, dengan seorang wanita yang Dua belas tahun lebih muda darinya. Dan parahnya lagi, sang suami kekeuh menolak untuk diajak bercerai, dengan alasan anak mereka.
Berhasil mempertahankan rumah tangga, atau akhirnya Isti akan menyerah dan menjelaskan pada sang anak akan permasalahan ini meski harus sakit dengan keadaan yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana seharusnya?
"Aku belum siap, Nay. Bukan apa-apa, tapi finansial kita belum cukup. Isti belum bisa adil denganmu, sedangkan aku belum juga diangkat seperti janji mereka padaku."
"Lalu gimana? Aku juga ngga akan mau kalau disuruh dosa lagi. Meskipun ngga sengaja, menjadi istri siri kamu itu sudah begitu menyakitkan, Mas."
"Sudah, jangan bahas lagi. Mas mau tidur dulu, udah Dua hari lembur terus nyaris ngga ada istirahatnya.". Keluh Fikri, lalu melanjutkan rebahannya dan memejamkan matanya.
Naya seperti tak di dengarkan, Ia pun mulai jengah dengan sikap Fikri yang seperti itu. Naya akhirnya meninggalkan Fikri setelah merapikan pakaian dengan seragam kerjanya.
"Apa-apaan dia? Meski ini anak keduanya, tapi kan ini anak pertamanya dariku. Kenapa tak ada rasa bahagianya sama sekali? Apa seperti ini juga ketika Mba Isti yang hamil?" gerutunya, sepanjang perjalanan ke Mall.
Ia tahu apa konsekuensi jika Ia ketahuan sedang hamil. Apalagi, selama ini Ia berbohong dengan statusnya yang masih lajang. Apalagi KTPnya pun mendukung dengan status itu. Dengan ini, Naya benar-benar akan merusak citra para rekan seprofesinya.
"Kuat-kuat ya, Nak. Setidaknya sampai Mama dapat gaji bulan ini. Baru Mama bisa keluar dari pekerjaan. Apalagi, sebentar lagi ada pengumuman akhir dari penilaian kinerja Papamu. Semoga jadi diangkat, dan gajinya bisa semakin berlipat ganda." harap Naya, pada sang buah hati.
Setibanya di Mall, Naya bergegas untuk tugasnya seperti biasa. Berdiri seharian, mempromosikan Produk dan menggaet pelanggan untuk tes make up.
"Aakhhh, ngga enak banget rasanya. Perut mual, pusing." keluhnya, yang mulai merasa aneh dengan tubuhnya sendiri.
"Nay, kenapa? Kok pucet."
"Ngga papa, mungkin masuk angin aja. Pake minyak angin aja sembuh kok." balas Naya pada sahabatnya itu.
Karena jawaban santainya, sang teman pun meninggalkan Naya dan menuju posnya yang bagian lain. Mereka berpencar untuk mendapat customer yang lebih banyak dari biasanya, menyusuri setiap sudut Mall, dari ujung yang satu hingga ke sudut lainnya.
Semakin lama, rasa lelah dan tak enak badan Naya semakin menjadi. Semakin Ia tahan, terasa semakin lemah dan tubuhnya pun menyerah.
Bruuuuugh! Naya terjatuh di lantai dan pingsan. Semua tamu, dan para sahabat menghampirinya dengan begitu khawatir.
"Nay, kamu kenapa Nay? Ayo bangun...." bujuk Ratih yang berulang kali mengguncangkan tubuhnya.
*~*
"Is, nanti sore ada yang ngaja ketemuan lagi. Kamu bisa ikut?" tanya Firman, yang menghampiri Isti di ruangannya.
"Hmmm, nanti sore ada jadwal sama anak. Gimana ya?"
"Yaudah ngga papa, ajak anak sekalian. Ketemuan kan sebentar, abis itu lanjut main. Hmmm ajak Laras sekalian yuk, biar sesekali dia keluar." ucap Firman, melirik Laras yang memang tampak termenung kerena kebosanan.
"Emang ngga papa?"
"Ku cek aja dulu sebentar. Tunggu, ya?" ucap Firman padanya. Lalu, Ia pun menghampiri Laras di tempat tidurnya, dan Isti menyusul mereka.
"Kenapa, Bu?" tanya Laras.
"Bu Is, mau ajak kamu jalan-jalan katanya." ujar Firman, yang mulai mengecek kondisi Laras.
"Serius? Tapi Laras ngga ada baju yang bagus."
"Nanti Om dokter belikan." goda Isti pada Fikri.
Mereka pun saling lirik dengan menorehkan senyum masing-masing. Tapi kegembiraan itu hanya sesaat, sebuah panggilan telepon mengganggunya.
"Mba Is, Hpmu bunyi." panggil Ririn padanya.
Isti pun menoleh, dan langsung menghampiri untuk menjawab telepon itu.
"Hallo, Mas. Ada apa?" tanya Isti pada Fikri.
"Is, boleh minta tolong?"
"Hmm, apa?"
"Naya pingsa di Mall tadi. Dan dia di bawa ke IGD Rumah sakit tempatmu bekerja. Boleh tolong urus dia?" pinta Fikri.
"Ya, aku akan kesana. Terimakasih atas kabarnya." ucap Isti, lalu mematkikan telepon itu.
Berat bagi Isti untuk menghampiri wanita itu. Tapi, tetap harus Ia lakukan karena sudah tugasnya untuk melindungi sang suami saat ini. Fikri tak mungkin tiba-tiba datang menghampiri Naya disana, apalagi mengatakan status mereka. Semua usaha Isti bisa hancur dengan sekali tepuk jika itu terjadi.
"Selamat siang, saya mau bertemu dengan pasien bernama Naya. Katanya baru datang." ucap Isti pada pegawai IGD.
"Oh iya, Mba Is. Beliau baru datang, dan sedang dilakukan berbagai pnegecekan saat ini. Itu, dia disana." tunjuk seorang rekan padanya.
Dengan menghela nafas panjang, Isti pun menghampiri Naya yang sedang terkulai lemah dan begitu pucat di brankarnya.
"Kenapa kau sakit?" tanya Isti.
"Aku juga manusia, tubuhku bisa lelah dan lemah."
"Aku kira kau Iblis." ledek Isti, membuat Naya meliriknya dengan gemas.
"Kasihan ya aku, sedang seperti ini malah suami ngga bisa nemenin." sesal Naya.
"Itu nasibmu, dan yang lebih kasihan lagi adalah aku yang harus mengurusmu disini. Padahal, pekerjaanku begitu banyak. Dan bodohnya, kenapa aku harus menurutinya? Aaaaish..."gerutu Isti, yang duduk santai menunggu hasil dari Lab Naya.
" Mba, Is. Beliau siapamu?" tanya rekan Isti.
"Eeehm, saudara jauh Ris, kenapa? Suaminya sedang di luar kota, jadi minta tolong aku yang mengurusnya." jawab Isti, yang membuat Naya bengong karena Isti masih mampu menyembunyikan aibnya dengan sang suami.
"Owh, ini hasil Labnya. Mba Is bisa baca sendiri kan? Aku mau urus pasien lain soalnya.
" Owh iya, aman aja... " ucap Isti dengan senyumnya yang manis, seraya mengambil amplop itu dari Riska.
Isti perlahan membuka amplop itu. Awalnya. Perasaannya masih biasa saja, namun seketika raut wajah dan matanya mulai berubah. Apalagi setelah melihat semua keterangan yang ditulis di hasil Lab-nya.
"Kau tahu kau hamil?" tanya Isti.
"Sudah, tadi pagi aku pun sudah memberi tahunya." jawab Naya tanpa berani menatap Isti.
"Apa katanya?"
"Dia belum siap. Tapi bagaimana lagi, sudah ada di dalam, tak mungkin di...."
"Hentikan bicaramu. Jangan berfikir untuk semakin menambah dosa, sedangkan yang lalu saja belum termaafkan." potong Isti dengan ucapan Naya itu.
"Berani berbuat, tapi sulit bertanggung jawab. Kebiasaan!" gerutu Isti di depan Naya.
Entah siapa yang Ia maksud, tapi Naya merasa itu adalah dirinya. Tapi Ia tak mampu berkata-kata kali ini, masih mau menghampiri dan mengurusnya saja Ia sudah begitu bersyukur. Ia tak mau menentang Isti, apalagi di gempat kerjanya saat inu.
"Pulanglah kau. Istirahat, dan jaga dia baik-baik. Dia tak harus ikut menanggung dosa kalian." usir Isti pada Naya.
Tanpa banyak bicara, Naya pun bangun dari brankarnya. Ia segera membereskan barang-barang dan pakaiannya untuk segera pergi dari sana. Dan Isti pun pergi, setelah Naya menghilang dari pandangan matanya.
"Jahat kamu, Mas. Keterlaluan kamu!" tangis Isti pecah, dan Ia meringkuk di sebuah sudut ruangan Rumah sakit yang sepi.
Perih dan sakit kembali Ia rasakan untuk kesekian kalinya. Dan kini, bertambah lagi dengan kehadiran makhluk yang tak berdosa itu di dalam rahim Naya. Tapi masih sama sekali tak ada sesal dalam setiap tindakan Fikri.
"Memang kamu perlu diberi pelajaran, Mas!"
cb klo aq ogah lah.
lbih baik sendiri jga ank drpd mkn ati doang tiap hari liat wajahnya