Cinta itu tak bisa dijelaskan seberapa besarnya. Orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun, tak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.
"Apa itu sangat menyakitkan? Kamu ingin menguburnya saja?"
"Ya, begitulah."
"Kamu bilang 'cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran, cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati.' Bagaimana dengan itu? Jiwamu telah terikat pada cintanya, jadi kamu akan terus memikirkannya?"
"Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah di hati. Itulah cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Sedangkan cinta yang lain, bisa berada di mana saja, bisa datang dan pergi."
"Jadi, jiwamu belum terikat sama sekali? Aku yang akan mengikat jiwamu."
'Sudah sejak lama Ardi. Hanya saja telah tersimpan, kunci hatiku entah hilang kemana, kamu harus cari.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rikha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen baru
🍂🍂🍂
Apartemen Ardian
Mereka janjian bertemu di apartemen Ardian sebelum makan malam. Di lobby apartemen mewah itu sudah ada Dimas dan Dian, yang sedang duduk di ruang tunggu seraya mengobrol. Selang lima menit, Teo dan Ejja datang secara bersamaan. Lalu Ejja mengajak mereka naik duluan atas perintah Ardian. Ejja memang sering datang ke Apartemen bosnya ini karena urusan pekerjaan, kadang juga untuk urusan pribadi.
Dimas dan Dian sekarang adalah pasangan suami-istri. Setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya mereka menikah 6 bulan lalu. Dan Teo juga akan segera menyusul sebentar lagi. Sedangkan Ejja masih setia dengan kesendiriannya. Alasannya belum menemukan wanita yang tepat. Sayang nya Bram tidak ada, dia tidak ada kabar lagi setelah mereka berpisah dulu.
Setelah beberapa menit mereka memasuki lift, Ardian datang bersama Rindu dan Kanaya dari arah basement. Gadis kecil yang imut itu saat ini berada di gendongan Ardian. Mereka banyak mengobrol dan bercanda selagi berjalan menuju unit apartemen Ardian. Kanaya aktif bertanya ini dan itu, gadis kecil itu selalu merasa penasaran. Dan Ardian tidak ada bosannya menjawab pertanyaan gadis imut itu. Baginya itu sangat menggemaskan. Rindu bahagia melihat kedekatan mereka, ia selalu tersenyum di sepanjang jalan.
Kanaya yang nyaman berada di dekapan Ardian, menyandarkan kepalanya di bahu lebar calon ayahnya itu. Tangan mungilnya melingkar di leher Ardian, gadis kecil itu menjadi sangat manja padanya. Sedangkan tangan kiri Ardian menggandeng Rindu yang berjalan di sampingnya.
Ceklekk…
Pintu apartemen itu di buka. Ardian Rindu dan Kanaya disambut oleh orang-orang di dalam. Terutama Kanaya yang sangat menggemaskan. Begitu melihat Kanaya, mereka berebut ingin mencium gadis kecil itu. Tapi begitu mereka mendekat, Ardian menghindar lalu memasang wajah dinginnya. Pria itu tidak ingin membuat Kanaya ketakutan. Pasalnya dia tahu, bila Kanaya didekati orang tidak dikenal secara tiba-tiba, gadis kecil yang imut itu akan menangis.
"Pelit…!", seru mereka bersamaan.
"Kanaya tidak suka dekat-dekat dengan orang yang tidak di kenal," balas Ardian dingin.
"Seperti yang sudah kenal dekat dengan Kanaya saja Lo, Ardi," ucap Dimas kemudian.
"Tentu saja dekat… aku ini ayahnya."
"Ahh… iya, iya, yang baru saja jadi ayah," ejek Dian kemudian lalu maju mendekati Kanaya. "Aya sini sama tante sayang, Kanaya sudah kenal tante Dian kan?"
Kanaya pun merentangkan tangannya menyambut uluran tangan Dian. Ini kedua kalinya mereka bertemu. Pertama ketika Dian mendatangi Rindu ke rumahnya, waktu Rindu baru saja kembali. Dan Dian lah yang memberinya pekerjaan untuk Rindu di sekolah musiknya. Dan dengan terpaksa Dian harus merelakan Rindu berhenti atas paksaan dari Ardian. Dian sedikit kesal dengan hal itu, karena Rindu sangat membantu di sekolahnya.
Dian membawa Kanaya duduk di sofa dan bermain dengannya. Mereka pun ikut duduk dan melakukan temu kangen satu sama lain. Rindu sangat bahagia melihat teman-temannya bisa berkumpul lagi seperti ini. Apalagi ditambah dengan Ejja, walaupun ia bukan teman SMA mereka, Ejja sangat diterima ke dalam kumpulan itu.
"Ejja, bantuin aku sebentar," ajak Ardian pada Ejja untuk membantunya di ruang kerjanya.
Ejja pun mengikuti Ardian ke ruang kerjanya. Rindu membiarkan mereka pergi, mungkin ini urusan pekerjaan, pikirnya. Beberapa menit kemudian mereka keluar dengan sebuah kotak yang sangat besar. Ardian dan Ejja mengangkat bersama lalu meletakkannya di ruang tamu.
"Ardi, itu apa?", tanya Rindu penasaran.
"Kamu akan tahu nanti, sayang."
"Ceehhh… yang sudah jadian nih ceritanya?", ejek Dimas kemudian.
"Bantuin gue sini, jangan banyak tanya!" balas Ardian.
Dimas pun maju ikut membantu. Teo yang penasaran juga ikut melihat lebih dekat apa isi kotak itu. Mereka membukanya bersama-sama. Rindu yang duduk di sebelah Dian terkejut begitu melihat isi kotak itu. Dian yang asyik mengobrol dengan Kanaya juga penasaran. Itu sebuah box bayi yang bisa dipindahkan.
"Ya ampun… Ardi! Kapan kamu membelinya?", tanya Rindu seraya menghampiri para pria di sana.
"Kemarin malam," jawab Ardian.
Rindu hanya bisa menggeleng melihat apa yang telah dilakukan Ardian untuk putrinya. Kemudian mereka memasang box bayi itu dan meletakkannya di sebelah sofa panjang. Box itu sedikit besar sehingga memenuhi ruangan itu.
"Ardi, apartemen lo tidak cocok untuk box ini, sangat sempit.", ucap Dimas melihat ruangan itu menjadi sesak.
Ardian berpikir sejenak. Apartemen ini memang hanya cocok untuk ditempati sendiri.
"Lo benar, tapi box ini yang tidak cocok berada di sini." ucap Ardian kemudian.
Rindu mendelik mendengar kata-kata itu. Untuk apa Adian membelinya jika tidak akan diletakkan di sini. Rindu diam-diam cemberut, dan Ardian kembali bicara.
"Ejja… besok kamu cek president suit di gedung sebelah. Beli satu unit yang paling besar. Oya buat itu atas nama Rindu.", perintah Ardian pada Ejja.
"Baiklah… bos," ucap Ejja patuh.
Titah Ardian barusan sontak membuat semua orang membelalakkan mata mereka. Karena sebuah box bayi, Ardian membeli satu unit president suit, dan yang paling besar pula. Ditambah lagi ia membeli atas nama Rindu. Sangat mengejutkan.
Sekarang bertambah lagi daftar pekerjaan untuk Ejja. Tadi sore ia baru selesai dengan akuisisi perusahaan percetakan, sekarang harus mengurus ini juga. Tapi Ejja tidak pernah mengeluh, pasalnya Ardian mengajinya dengan setimpal plus dengan bonusnya.
"Ardi… apa maksudnya?"
"Aku membeli apartemen baru yang lebih besar sayang, bukankah sudah jelas."
"Iya, maksudku kenapa kamu membeli atas namaku?"
"Aku memberikan hadiah kepada calon istriku, apakah itu salah?" tanya Ardian mengarah kepada yang lain.
"Tentu saja tidak…!", jawab yang lainnya serentak dan mereka tersenyum. Ardian pun menyunggingkan senyumannya.
Rindu membulatkan mulutnya lalu menepuk keningnya. Apakah ia harus senang atau tidak dengan kelakuan Ardian ini. Rindu hanya bisa mengelus dadanya.
"Sudahlah sayang, jangan kamu pikirkan itu. Sekarang ayo taruh Kanaya di box itu."
Ardian mendekap wanita itu dan mengelus pundaknya. Kemudian ia melangkah menuju ruang kerjanya lagi, tidak lupa ia juga meminta Ejja ikut dengannya. Ardian keluar dengan menenteng beberapa kantong belanja berisikan banyak mainan anak perempuan, begitupun dengan Ejja. Kedua tangan mereka penuh dengan kantong belanjaan berisi mainan semua.
"Ya Tuhan… ini apalagi, Ardi!"
"Mainan Kanaya," jawabnya santai.
Semua orang tertawa terbahak-bahak melihat kekacauan yang Ardian perbuat. Bagaimana tidak, Ardian seperti memborong satu toko mainan. Semua mainan itu telah memenuhi ruangan tamu Ardian. Kanaya tampak antusias melihat semua mainan itu. Rindu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ardian mengambil Kanaya dari pangkuan Dian, dan meletakkannya di box itu. Satu persatu mainan diletakkan di dalamnya, dan sebagian diletakkan di luar box. Kanaya tampak sangat senang dengan semua mainan barunya.
Beberapa saat kemudian, pintu apartemen itu diketuk seseorang. Sepertinya makan malam mereka sudah datang. Ardian sengaja memesankan makanan dari hotel bintang lima untuk menyambut kedatangan teman-temannya. Mereka pun makan malam bersama. Suasana kebersamaan itu terasa hangat, sudah lama sekali mereka tidak berkumpul seperti ini.
*
*
*
*
Maaf hari ini terlambat update nya 😀
Jangan lupa, tombol yang ada di bawah pencet ya, sampai berubah warna jadi biru atau merah... Terima kasih... 🥰
Komen Yuk ramein, biar Aku semangat nulisnya...
diMangatoon lah tempatnya 😁
Hari ini kutemui karyamu 😊
Mari salkung bersama - sama 🤣
Semangat Kaka 🤗 !!!
Jika kak Author ada waktu mari mampir kekarya saya :
" MISTERI DUA CINCIN DIBALIK RUNTUHNYA ISTANA ANDALUSIA " .
Semangat terus 👍👍
...
Nanggung Ardiii...
😭😁🤣