"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Qaren Nateo
Qaren Nateo Pov
Baiklah, aku mau perkenalan dulu. Namaku Qaren Nateo, anak dari pasutri Dertox dan Nana.
Aku hobi mendengarkan musik, membaca, dan mengganggu Haris, anaknya Om Fallen sama Tante Fio, hehehe.
Aku menyukai Haris karena sifatnya yang dingin. Penampilannya pun sangat cool, dan ada daya tarik yang begitu besar sehingga gadis cantik seperti diriku terpesona olehnya.
~~
Di luar kamar, mamah baru saja menegurku. Aku pun keluar dan melihat mereka tengah duduk bermesraan. Melihat itu, aku ingin juga bermesraan, namun bersama Haris.
Oh, Haris. Kenapa kau sulit sekali menyadari, bahwa ada bidadari yang sangat cantik tengah menatapmu penuh kagum, sungguh kau laki-laki yang sangat beruntung.
"Heh, anak sok cantik! Kenapa senyum-senyum kek orang gila?"
Ambyar lah sudah, mamah menghancurkan kehaluanku bersama Haris, mentang-mentang sudah ada teman tidur, huhuhu, kalau gini terus hati semakin ambyar dibuatnya.
"Makanya punya pacar cepat, biar bisa manja-manja seperti mamah sama papah, dasar jomlo!"
Jomlo, kata itu begitu menusuk ruang kalbuku. Aku mencak-mencak dan kembali masuk ke kamar.
Makan malam biarlah berlalu, asal telepon dari Haris tidak boleh berlalu, kali ini dia harus menjawabnya.
Aku berdoa, jika Haris menjawab wajahku menjadi jelek.
Tut... tut... tut... HALO!
Huaa! Teleponku dijawab, boleh gak sih doa itu ditarik kembali?! Semoga di pertengahan jalan, doa tersebut terserempet pesawat.
*Haris, kenapa baru angkat sih?! aku dari telepon, loh. ~Qaren~
Gak penting ~Haris*~
Haris menutup telepon secara sepihak, benar-benar kejam, tapi semakin membuatku penasaran. Apa sih yang membuatnya sedingin salju? Inginku menjadi matahari agar dapat melelehkan pertahanannya dan membakar seluruh jiwa tidak ketertarikannya kepadaku, HAHAHA.
Karena lelah tertawa, mataku menjadi mengantuk dan aku memutuskan untuk tidur.
Jam 6 pagi, aku telah siap untuk berangkat sekolah. Sedangkan papa dan mamah masih makan. Subuh hari aku sudah bangun untuk memasak sesuatu yang enak, ini semua demi calon masa depan, yaitu Haris.
"Mah, Qaren berangkat dulu!" teriakku kemudian mengayuh sepeda dengan kekuatan penuh agar cepat sampai.
Jam 6.25, masih amat pagi untuk seorang Haris berangkat sekolah. Sampainya diriku di kelas, kupandang penuh kebahagiaan kursi Haris, mengusapnya lembut agar debu-debu jahat tersingkirkan dari kursinya.
Dan perlu kalian ketahui bahwa aku duduk bersebelahan dengannya, tak dapat dibayangkan bukan? Ketika guru menjelaskan yang kuperhatikan adalah Haris, menatap wajah tampannya yang bak dewa yunani itu membuat seluruh tubuh bergetar ambyar.
Walau bukan hari piketku, demi Haris akan kubersihkan tempat duduknya dan area sekitarnya, tenang saja, Qaren selalu siap sedia dan ini juga merupakan latihan awal untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Walau saingan berada di mana-mana, mereka tak mampu menyingkirkan kepopuleranku di hati Haris, karena mereka bagaikan seupil debu jika dibandingkan denganku.
Sekian menit berlalu, kelas pun terasa ramai dan akhirnya sang Pangeran telah tiba dengan wajah datar dan tampannya.
"Silakan duduk, sudah kubersihkan semuanya, hehehe."
Haris, please tatap mataku, ayo tatap. Dan yang kuharapkan tidak terjadi.
"Woi, Qaren!" Aku terkesiap, Fikar yang merupakan ketua kelas galak memanggilku, aku segera menghampirinya dan bertanya, "kenapa? Kok ngegas gitu, sih?"
"Semua debu yang ada di area kursi dan meja gue, itu karena lo, kan?!"
"Ih... Kok gue sih? Pelakunya tuh bukan gue, tapi sapu yang gue pake," jawabku.
"Sama aja, bodoh!"
Kupasang wajah cemberutku, Fikar merupakan laki-laki yang emosional, tak pandang bulu dan juga kejam. Seandainya dia sedikit lembuh kepada wanita, aku yakin sangat banyak yang akan mendekatinya. Tapi, tidak dapat melengserkan ketampanan Haris.
🤠🤠🤠
Serem nih Fikar 🤣 Kalian pernah punya ketua kelas galak? Kalau gak pernah, beruntung, wkwk.
Oh iya, sekarang ada sistem voting. Jangan lupa beri vote cerita ini, yah. Author tidak memaksakan kok, hanya ingin menambah pahala kalian saja🙏😁🤗 hehehe, bercanda kok. Tapi, kalau dikasih vote, author sangat berterima kasih, asalkan ikhlas yah... jangan beri vote karena terpaksa, gak baik, mending jangan.
Ok, silakan berdoa agar author rajin updatenya, bahkan UPDATE GILA-GILAAN dalam sehari😁😁
Thanks for reading and see you next part.
kalau pribadi yimak .membawa like