lima tahun pernikahan Alia dan Reyhan belum memiliki anak. Suaminya menyalahkannya dan menceraikannya demi wanita lain. resmi bercerai Alia baru menyadari bahwa dirinya hamil. perjuangan Alia sebagai seorang ibu dan perjuangannya sebagai seorang wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandera
Alia sedang menunggu Leo menjemputnya. Hari ini Leo mengajak nya ke pesta pernikahan temannya.
Alia meraih ponselnya yang berdering. Nama Leo tertera di layar ponselnya.
"Ya Leo."
"Alia, aku tidak bisa menjemputmu karena ada urusan mendadak. Aku harus segera ke kantor. Rendi yang akan menjemputmu nanti Kita bertemu di sana. Oke?"
"O.." belum sempat Alia menjawab sambungan sudah terputus.
Ada apa dengannya, tergesa gesa begitu.
Alia menunggu Rendi menjemputnya. Lalu bel rumahnya berbunyi. Alia membuka pintu, tapi bukan Rendi yang datang.
Dua orang pria dengan perawakan tinggi dan badan besar, membekap mulut Alia dengan kain yang sudah di beri obat bius.
Alia memberontak, tapi lama lama pandangannya kabur dan dia jatuh pingsan.
Saat sadar dan membuka matanya, yang pertama kali Alia lihat adalah ruangan kosong. Dia duduk di sebuah bangku dengan badan diikat, begitu juga dengan tangan dan kaki nya. Dia menggelengkan kepala mengusir pening di kepalanya.
Alia mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Tapi tidak ada satupun. Alia tidak tahu dia dimana dan apa yang terjadi dengannya.
Pintu terbuka, seorang pria dengan setelan jas yang rapi masuk dengan diikuti dua pengawal di belakangnya.
"Kau sudah bangun?"
Pria itu menarik kursi dan duduk di hadapan Alia.
"Siapa kau?"
Pria itu tersenyum dan menyentuh pipi Alia. Alia memalingkan mukanya.
"Keparat itu memang tidak pernah salah memilih wanita."
Ada yg menakutkan dalam pria ini. Entahlah Alia merasa ketakutan sekarang.
"Namaku Bima. Dan kau?"
Alia diam tidak menjawab. Dia takut. Bukankah aneh berkenalan dalam situasi seperti ini.
"Kau tidak mau menjawab?"
Senyum Bima hilang, berubah dengan ekspresi menakutkan.
Bima mengangkat tangannya, memanggil anak buahnya dengan lambaian tangan. Satu anak buahnya maju dan berdiri di samping bosnya. Lalu tiba tiba dia berdiri dan menampar wajah anak buahnya itu sampai jatuh. Dicengkram kerahnya dan melayangkan tinjunya berkali kali. Sampai anak buah nya itu pingsan.
"Bereskan."
Katanya pada anak buah yang lain. Dengan sigap anak buah yang satunya mengangkat tubuh rekannya keluar. Bima kembali duduk di depan Alia yang sudah menangis ketakutan. Badannya gemetar melihat adegan kekerasan tadi.
"Maaf kau jadi melihatnya. Aku cenderung tidak bisa menahan emosiku. Jadi, jangan membuatku marah."
Bima membisikan kata kata terakhirnya di telinga Alia.
"Mengerti?"
Alia menganggukan kepala. Dia menggigit bibirnya berusaha terlihat berani.
"Kuulangi lagi, siapa namamu?"
"A..Alia."
Suara Alia serak menahan tangis.
"Namamu cantik seperti wajahmu."
Bima menyandarkan punggungnya, menatap Alia. Wajahnya tersenyum menyeramkan.
"Kau tahu kenapa aku membawamu kemari?"
Alia menggeleng.
"Kekasihmu Leo, berhutang nyawa padaku."
Alia terdiam. Tidak tahu harus berkata apa. Dia sama sekali tidak tahu masa lalu Leo. Dia tidak tahu apapun tentang Leo.
"Lima tahun lalu. Dia mengambil sesuatu yang berharga dariku."
Bima diam menatap wajah Alia. Menikmati ekspresi wajah Alia yang ketakutan.
"Kau tidak tahu apa apa ya tentang kekasihmu itu?"
Bima bisa menebak dengan melihat ekspresi Alia.
"Aku tidak pernah menanyakannya."
Alia berkata dengan bibir bergetar.
"Baiklah biar kuberi tahu padamu. Leo, orang yang berbahaya. Dia membunuh kekasihku lima tahun yang lalu."
Alia terkejut. Mana mungkin Leo seperti itu. Kepribadiannya yang ceria dan ramah tidak mungkin membunuh seseorang. Pria ini pasti berbohong.
"Aku tidak percaya padamu."
Bima mengangkat bahu nya.
"Terserah padamu."
Bima berdiri dan berjalan ke belakang Alia. Menaruh tangannya di pundak Alia. Mendekatkan mulutnya ke telinga Alia dan berbisik.
"Dan sekarang saatnya aku balas dendam."
...💖💖💖💖...
Leo memacu mobilnya dengan cepat. Pikirannya kalut. Leo menyuruh Rendi menjemput Alia. Tapi Alia tidak ada saat Rendi sampai di rumahnya. Hanya ada pengasuh dan Darren.
Leo bertemu Bima saat akan menjemput Alia. Bima adalah musuh bebuyutannya. Dendam masa lalu membuat mereka tidak pernah bisa memaafkan satu sama lain. Kecelakaan Leo di depan toko Alia itu pun perbuatan Bima. Kecelakaan yang mempertemukannya dengan Alia.
Bajingan itu pasti yang melakukannya.
Leo menggeram marah saat memikirkan Bima melakukan sesuatu kepada Alia. Sialan. Leo tidak tahu Bima akan tahu hubungannya dengan Alia secepat ini.
Sialan. Sialan. Sialan.
Mobil Leo berhenti di depan rumah Alia. Rendi langsung menghampiri Leo.
"Bagaimana??" tanya Leo.
"Sepertinya ini memang ulah Bima. Ada orang yang melihat Alia di bawa dua orang menggunakan mobil."
"Shitt." Leo menendang mobil di samping nya. "Cepat cari keberadaannya." Perintah Leo. "Dimana Darren?"
"Aku sudah membawanya ke apartemenmu."
"Kerja bagus."
Ponsel Leo berdering. Nomer tak dikenal.
"Halo."
"Bagaimana rasanya kehilangan kekasihmu?" Bima tertawa.
"Keparat!! Lepaskan dia." Leo menggeram marah.
"Bagaimana kalau aku melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan dulu?"
"Kalau kau menyentuh nya sedikit saja. Aku akan membunuhmu."
"Kau tidak dalam posisi untuk mengancamku, kawan. Pikirkan nyawa kekasihmu, sialan."
"Persetan denganmu. Aku akan mencarimu dan menghabisimu."
Leo mematikan sambungan teleponnya.
"Lacak lokasinya sekarang." Perintah Leo kepada Rendi.
Rendi mengangguk dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk mencari lokasi Bima.
Keparat. Keparat sialan.
Leo pikir Alia akan baik baik saja, karena Bima hanya mengincarnya. Sekarang Leo harus menemukannya. Mencari Alia, dia pasti ketakutan sekarang. Bima bukan orang sembarangan yang mudah dihadapi. Dia pria berbahaya yang bisa dengan mudahnya membunuh seseorang.
...~●•●~...
alia yang masih blm bisa move on sepenuhnya ma leo kembali tergoda akan kehadiran leo 😂 CLBK cinta lama belum kelar