Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
BAB 4
YANG TAK TERLIHAT
Alarm Wulan berbunyi pukul empat lewat lima belas menit, lima menit sebelum rice cooker berpindah sendiri ke mode hangat.
Ia mematikan alarm sebelum Dimas terbangun, meraba kerudung instan di kursi, lalu keluar kamar dengan langkah pelan. Rumah masih gelap. Kipas angin di ruang tengah berdecit setiap kali kepalanya berputar ke kiri.
Di dapur, beras sudah menjadi nasi. Ayam yang dibumbui semalam tinggal digoreng. Wulan menyalakan kompor, memotong timun untuk bekal Dika, menyeduh teh untuk Bapak, dan membuat kopi tanpa gula untuk Dimas.
Saat azan Subuh terdengar, separuh pekerjaannya sudah selesai.
"Ibu, kaus kakiku yang putih di mana?"
Dika muncul sambil menyeret tas sekolah. Satu kaus kaki sudah terpasang, satunya lagi hilang.
"Coba lihat di bawah kursi belajar. Kemarin Dika yang lepas di sana, kan?"
"Nggak ada."
Wulan mengecilkan api, mengelap tangan, lalu masuk ke kamar anaknya. Kaus kaki itu terjepit di belakang kotak pensil.
"Ini apa?"
Dika nyengir. "Kaus kaki."
"Besok cari dulu yang benar sebelum panggil Ibu."
"Iya."
Anak kelas tiga SD itu mencium pipinya, mengambil kaus kaki, lalu berlari ke kamar mandi. Wulan kembali ke dapur. Minyak sudah terlalu panas dan kulit ayam pertama langsung menghitam di tepinya.
"Baunya gosong."
Bu Suminah berdiri di pintu dapur dengan mukena masih menempel di tubuhnya.
"Cuma bagian kulitnya, Bu. Nanti aku potong."
"Kalau masak jangan ditinggal. Dimas kerja cari uang, kamu di rumah masa menggoreng ayam saja nggak becus?"
Wulan menelan jawaban yang hampir keluar. "Inggih, Bu."
Ia mengganti minyak, meski berarti persediaan bulan ini akan habis lebih cepat. Uang belanja tinggal cukup untuk enam hari. Tagihan cicilan motor jatuh tempo minggu depan, uang kegiatan sekolah Dika belum dibayar, dan Dimas sudah dua kali mengatakan bonus proyek belum turun.
Pukul enam, semua orang duduk di meja makan.
Dimas menatap ponsel sambil mengunyah. Bapak meminta sambal. Bu Suminah mengeluh ayamnya kurang meresap. Dika lupa membawa botol minum, lalu berlari kembali ke kamar.
Tidak ada yang melihat Wulan belum sempat duduk.
"Mas pulang malam lagi?" tanyanya ketika menuangkan kopi.
"Mungkin. Ada revisi build."
"Tiga malam ini kamu selalu pulang setelah Dika tidur."
Dimas akhirnya mengangkat wajah. "Namanya juga kerja, Wulan. Pak Bram lagi galak. Semua tim kena."
"Pak Bram yang punya perusahaan itu?"
"Iya, Hasker. Founder Nusantara Interactive. Siapa lagi?" Dimas memeriksa jam. "Jangan ajak ngobrol panjang pagi-pagi. Aku sudah telat."
Ia berdiri, mengambil tas kerja, lalu mencium tangan ibunya. Kepada Wulan, ia hanya berkata, "Kopinya kurang panas."
Pintu depan tertutup.
Wulan menatap cangkir yang masih mengeluarkan uap.
***
Menjelang siang, Bu Ratih dari rumah seberang datang membawa mangga muda. Ia duduk bersama Bu Suminah di teras sementara Wulan mengepel ruang tengah.
"Dika sudah besar," kata Bu Ratih. "Kapan dikasih adik?"
Bu Suminah mendengus. "Tanya ibunya. Sudah bertahun-tahun saya tunggu."
Wulan meremas kain pel.
"Bukannya nggak mau, Bu," katanya. "Kami masih mengatur biaya. Sekolah Dika saja makin mahal."
"Rezeki anak itu ada sendiri." Bu Suminah meninggikan suara. Dua tetangga yang lewat melambatkan langkah. "Perempuan jangan kebanyakan hitung uang kalau disuruh punya anak. Urus rumah juga masih saya bantu, tapi alasannya macam-macam."
Wulan menatap lantai yang baru dipel. Sejak menikah, tidak pernah sekali pun Bu Suminah mencuci pakaiannya sendiri. Namun membantah di depan Bu Ratih hanya akan menjadi bahan baru di grup WhatsApp RT.
"Nanti aku bicarakan lagi sama Mas Dimas," ujarnya.
"Jangan cuma dibicarakan. Dikerjakan."
Bu Ratih tertawa kecil, lalu buru-buru menutupnya dengan batuk.
Wulan membawa ember ke belakang. Di dekat kamar mandi, ia mengambil ponsel dan membuka grup tiga sahabat.
`Hari ini Ibu ngajarin aku cara goreng ayam dan cara bikin anak. Paket lengkap.`
Wiwid langsung membalas.
`Kasih alamat. Gue kirim tripod.`
Lani mengirim stiker wajah marah, lalu satu pesan pribadi.
`Kalau uang belanja kurang, bilang. Jangan tunggu sampai habis.`
Wulan mengetik `nggak apa-apa`, menghapusnya, lalu menulis `masih cukup`.
Itu juga bohong, hanya jenis kebohongan yang sudah terlalu sering ia pakai sampai terasa seperti sopan santun.
***
Dimas pulang lewat pukul sebelas malam.
Wulan sudah menunggunya di meja makan. Sayur bening dipanaskan dua kali, lalu dibiarkan dingin lagi.
"Mas, aku mau bicara."
Dimas membuka tudung saji. "Nggak ada lauk lain?"
"Ayamnya habis. Tadi Ibu kasih sisanya ke Bu Ratih."
"Ya sudah, goreng telur."
Wulan bangkit dan menyalakan kompor. "Ibu bicara soal anak kedua lagi di depan tetangga. Aku nggak nyaman."
"Dia memang ingin cucu lagi. Apa salahnya?"
"Bukan soal ingin cucu. Aku dipermalukan, Mas."
Dimas mengusap wajah. "Aku capek kerja. Jangan bikin masalah kecil jadi besar."
Minyak mulai mendesis di wajan.
"Aku cuma minta kamu dengar."
"Terus aku harus apa? Memarahi ibuku karena omongan biasa?" Dimas menurunkan suara, tetapi nadanya semakin tajam. "Jangan bikin malu di depan orang tua. Kita masih tinggal di rumah mereka."
Wulan memecahkan telur. Sebagian cangkangnya ikut jatuh ke wajan.
"Rumah mereka," ulangnya pelan.
"Apa?"
"Nggak ada."
Ia mengambil pecahan cangkang dengan ujung spatula. Dimas kembali menatap ponsel, seolah percakapan itu sudah selesai.
***
Dua hari kemudian, Dimas menelepon saat Wulan sedang menjemur pakaian.
"Flashdisk hitamku ketinggalan di laci. Tolong antar ke kantor. File presentasi ada di situ."
"Sekarang? Aku harus jemput Dika satu jam lagi."
"Naik ojek online. Tinggal kasih ke resepsionis, habis itu langsung pulang. Jangan lama."
Sambungan ditutup sebelum Wulan menjawab.
Empat puluh menit kemudian, ia berdiri di lobi gedung Nusantara Interactive dengan ujung gamis terkena cipratan air jalan. Langit-langitnya tinggi, layar raksasa menampilkan gim terbaru, dan orang-orang bersepatu mengilap berjalan seolah satu menit mereka lebih mahal daripada belanja dapur Wulan sebulan.
Pintu lift hampir tertutup ketika sebuah tangan menahannya.
"Silakan, Bu."
Wulan masuk sambil menunduk membalas pesan Dimas. Ia hanya melihat kemeja putih rapi, jam tangan berwarna gelap, dan kartu akses hitam di tangan laki-laki yang berdiri di sampingnya.
"Lantai berapa?" tanyanya.
"Aku cuma sampai resepsionis, Pak. Terima kasih."
Ponsel laki-laki itu berdering. Ia menjawab dengan suara rendah tentang jadwal peluncuran, lalu keluar ketika pintu lift terbuka kembali di lantai dasar karena seseorang menekan tombol dari luar.
Wulan bergegas ke meja resepsionis, menyerahkan flashdisk, dan memesan ojek agar tidak terlambat menjemput Dika.
Di belakangnya, seorang pegawai berlari mengejar laki-laki berkemeja putih tadi.
"Pak Bram, rapat investor dimajukan sepuluh menit!"
Wulan sempat menoleh.
Namun yang terlihat olehnya hanya punggung laki-laki itu saat menghilang di balik pintu akses khusus.