Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Grand Serena
Kantong plastik berisi beras dan cabai itu Raina letakkan di meja dapur tanpa dibongkar.
Ia duduk di kursi, kedua tangannya terlipat di atas meja, menatap dinding di depannya yang tidak ada isinya, hanya cat putih kusam dan bekas noda air di sudut atas yang sudah lama ingin ia cat ulang tapi tidak pernah sempat.
Rumah terasa sangat sepi.
Biasanya sepi seperti ini tidak mengganggunya... ia sudah terbiasa dengan hari-hari panjang tanpa suara selain suara televisi atau suara tetangga yang tembus dinding tipis. Tapi sekarang sepi itu terasa berbeda. Terasa seperti ruang yang terlalu besar untuk semua yang sedang ia coba pikirkan.
Hadi bukan orang miskin.
Itu yang pertama.
Raina mengulang kalimat itu di kepalanya. Bukan kerja serabutan, bukan penghasilan tidak jelas, bukan laki-laki yang istrinya terpaksa hidup sederhana karena memang tidak ada yang bisa diberikan.
Proyek empat belas miliar. Asisten pribadi. Rekening operasional.
Lalu kenapa?
Raina mengetuk meja pelan dengan ujung jarinya... sekali, dua kali, tiga kali.
Kenapa seorang pengusaha muda yang berbicara tentang kontrak miliaran rela tinggal di perumahan biasa, naik motor butut, membiarkan tetangga-tetangganya bergosip tentang betapa tidak beruntungnya istrinya karena menikah dengan laki-laki tanpa masa depan?
Kenapa menyamar?
Raina mencoba menyusun kemungkinan-kemungkinan. Mungkin ia sedang menyembunyikan kekayaannya dari pajak... tapi itu terlalu sederhana dan terlalu bodoh untuk seseorang yang terlihat sepintar itu. Mungkin ada urusan bisnis yang mengharuskannya rendah profil... tapi kenapa harus sampai tinggal di sini, sampai membiarkan istrinya sendiri meremehkannya?
Atau...
Raina berhenti mengetuk meja.
Atau mungkin justru istrinya yang menjadi alasannya.
Pikiran itu masuk dari arah yang tidak ia duga, dan begitu masuk ia tidak bisa mengusirnya. Bagaimana kalau Hadi sengaja menyembunyikan kekayaannya dari Monica? Bagaimana kalau ia sudah tahu... atau mulai curiga tentang sifat istrinya yang sesungguhnya, dan ini adalah cara untuk membuktikannya?
Tapi itu terlalu rumit. Terlalu seperti sinetron.
Raina mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Pusing.
Ia tidak menemukan jawaban, dan semakin ia mencoba menemukannya, semakin kepalanya terasa seperti diisi kapas basah. Ada terlalu banyak kepingan dan belum ada yang cukup jelas untuk dijadikan gambar utuh. Mungkin memang bukan urusannya. Mungkin ia tidak perlu memahami Hadi untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Masalahnya sendiri.
Raina menurunkan tangannya. Menatap meja.
Ia berdiri, masuk ke kamar tidur, membuka laci mejanya... dan mengeluarkan dua lembar kertas yang sudah ia simpan rapi di bawah buku catatan lama.
Struk hotel Grand Serena.
Bukti transfer sepuluh juta rupiah ke rekening Monica.
Ia meletakkan keduanya berdampingan di permukaan meja dan menatapnya.
Secara terpisah, masing-masing bisa saja dijelaskan. Struk hotel, mungkin Robby memang menginap untuk urusan kerja dan tidak sengaja pakai rekening pribadi. Transfer sepuluh juta... mungkin pinjaman, mungkin titipan, mungkin ada penjelasan masuk akal yang belum Raina ketahui.
Mungkin.
Tapi Raina sudah membaca pesan-pesan di aplikasi tersembunyi itu. Ia sudah melihat nama yang tersimpan hanya sebagai M.
Tidak ada mungkin yang cukup besar untuk menutup semua itu.
Tapi tetap saja...
Raina melipat kedua kertas itu kembali, memegangnya di tangannya.
Foto di profil aplikasi itu kecil dan setengah wajah. Pesannya bisa saja dibaca berbeda oleh orang lain. Bukti transfer bisa diklaim sebagai apapun. Struk hotel hanya membuktikan Robby menginap... bukan membuktikan ia tidak sendiri.
Semua ini, jika dihadapkan di depan Robby sekarang, akan hancur dalam hitungan menit. Raina sudah bisa membayangkannya... Robby akan marah, akan membalik situasi, akan mengatakan Raina terlalu paranoid dan tidak percaya suami. Dan Raina tidak akan punya cukup untuk berdiri kokoh.
Ia butuh lebih.
Ia butuh melihat dengan matanya sendiri.
---
Keputusan itu datang bukan seperti petir, tapi seperti air yang perlahan mengisi wadah sampai akhirnya tumpah. Pelan, pasti, dan ketika tumpah tidak ada yang bisa menghentikannya.
Raina menyimpan kedua kertas itu kembali, menutup laci, dan berdiri.
Selama beberapa tahun pernikahan, Robby tidak pernah mengajaknya ke kantor. Selalu ada alasan...
Raina selalu menurut. Selalu merasa itu masuk akal. Selalu percaya bahwa Robby hanya menjaga batas antara kehidupan kerja dan kehidupan rumah.
Sekarang larangan itu terasa seperti sesuatu yang lain.
Hari ini ia tidak akan menurut.
Raina membuka lemari pakaiannya, memilih gamis katun biru tua yang jarang ia pakai, bukan karena tidak suka tapi karena terlalu formal untuk keseharian. Di atasnya ia pasang hijab instan cokelat muda yang menutup sebagian wajahnya, dan kacamata baca yang sudah lama tergeletak di laci meja karena matanya sudah tidak terlalu membutuhkannya.
Ia menatap dirinya di cermin.
Orang yang balik menatapnya terlihat seperti perempuan yang berbeda dari Raina yang biasa terlihat di Griya Asri... lebih formal, lebih tertutup, lebih anonim. Bukan penyamaran yang sempurna, tapi cukup untuk tidak langsung dikenali oleh seseorang yang tidak sedang mencarinya.
Ia mengambil tasnya, memasukkan ponsel, memasukkan kedua lembar bukti itu untuk berjaga-jaga, dan keluar dari rumah.
---
Kantor tempat Robby bekerja ada di kawasan ruko tiga lantai sekitar dua kilometer dari Griya Asri, perusahaan distribusi barang skala menengah, Robby bekerja di bagian administrasi dan logistik. Raina naik angkot dan turun di perempatan terdekat, berjalan kaki sisanya.
Gedungnya tidak besar. Ada satpam di depan, meja resepsionis di lobi yang terlihat dari luar melalui pintu kaca.
Raina berdiri sebentar di seberang jalan, mengamati.
Kemudian ia menyeberang.
Satpam di depan, laki-laki paruh baya dengan seragam biru mendongak ketika Raina mendekat.
"Selamat pagi, Pak." Raina menjaga suaranya tetap ringan, senyumnya wajar. "Maaf mengganggu. Saya mau ketemu Robby... Pak Robby Saputra. Saya temannya."
Satpam itu menatapnya sebentar, kemudian menengok ke buku di mejanya, menggulir beberapa baris.
"Pak Robby?" Satpam itu mendongak lagi. "Hari ini tidak masuk, Bu."
Raina menahan reaksinya setengah detik sebelum menjawab. "Oh. Tidak masuk? Tadi pagi bilang ada di kantor soalnya."
"Iya, tapi tidak ada absennya hari ini." Satpam itu mengangkat bahu sopan. "Mungkin izin mendadak. Ibu bisa coba hubungi langsung orangnya."
"Oh, baik. Terima kasih ya, Pak."
Raina berbalik dan berjalan ke tepi trotoar.
Di sana ia berdiri, membelakangi kantor, dan menatap jalan yang ramai di depannya.
Tidak masuk.
Robby tadi pagi berangkat dari rumah dengan tas dan kunci motor seperti biasa, pamit kerja seperti biasa. Dan ia tidak ada di kantornya.
Raina menarik napas... pelan, panjang, melewati hidung, dikeluarkan pelan dari mulut.
Lagi.
Bohong lagi, tanpa repot-repot mempersiapkan alibi yang lebih baik dari sebelumnya, seperti seseorang yang sudah yakin tidak akan pernah ketahuan.
Raina mengeluarkan ponselnya. Membuka browser. Mengetik nama hotel yang sudah ia hafal sejak kemarin pagi.
Grand Serena Hotel & Resort.
Alamatnya muncul, delapan menit dari sini dengan ojek online.
Raina menatap alamat itu.
Kemudian ia memesan ojek.
---
Grand Serena tidak megah seperti namanya... bukan hotel bintang lima, tapi bukan hotel murahan juga. Fasad bangunannya bersih, ada tanaman hias di depan pintu masuk yang terawat, karpet merah di tangga masuk yang terlihat baru diganti. Parkiran di sampingnya cukup luas.
Raina turun dari ojek di seberang jalan.
Ia tidak langsung menyeberang. Ia berdiri di trotoar, sedikit di balik halte bus yang tidak terlalu ramai, dan memperhatikan pintu masuk hotel dari jarak yang cukup.
Sepuluh menit berlalu. Tidak ada yang ia kenali.
Lima menit lagi. Beberapa tamu keluar, beberapa masuk, wajah-wajah asing.
Raina mulai bertanya-tanya apakah ini salah... apakah ia terlalu berlebihan, apakah Robby sekarang sedang di suatu tempat yang tidak ada hubungannya dengan hotel ini sama sekali...
Kemudian sebuah taksi online berhenti di depan pintu masuk hotel.
Pintu belakangnya terbuka.
Raina melihat satu pasang kaki perempuan turun duluan, sepatu hak rendah warna nude, celana palazzo krem, tas cokelat yang sangat Raina kenali karena sudah terlalu sering melihatnya dari balik jendela.
Monica.
Dan di belakangnya, turun dari sisi yang sama sambil membayar ke aplikasi,kemeja kotak-kotak yang Raina yang setrika dua hari lalu, rambut yang Raina tahu baunya kalau tidur di bahu yang sama...
Robby.
Raina tidak bergerak.
Tangannya mendingin tapi kakinya tertancap di trotoar. Ia menatap dari balik halte, menonton dua orang yang berdiri di depan pintu hotel itu seperti menonton sesuatu yang terjadi di balik kaca, nyata tapi ada jarak antara dirinya dan kenyataan itu yang seolah tidak bisa ia seberangi.
Monica berbicara sesuatu sambil berjalan,kepalanya mendongak ke arah Robby, senyumnya terbuka, rambutnya bergerak terkena angin. Robby menjawab, tertawa kecil.
Tertawa.
Dengan cara yang sudah lama tidak Raina lihat di rumah...tawa ringan, tawa tanpa beban, tawa seseorang yang sedang benar-benar menikmati di mana ia berada.
Di depan pintu masuk hotel, Monica berhenti, berbalik menghadap Robby, meletakkan tangannya di dada Robby, mendongak...
Dan mencium Robby. Di bibir. Lama. Tanpa repot-repot memeriksa apakah ada yang melihat.
Raina mengeluarkan ponselnya.
Tangannya tidak gemetar, ia sadar itu terasa aneh, karena seharusnya tangannya gemetar, seharusnya ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya sekarang. Tapi justru yang ada adalah kejernihan yang sama seperti semalam... dingin, presisi, terfokus.
Ia buka kamera. Zoom. Stabil.
Klik.
Klik.
Kemudian ia geser ke mode video, ibu jarinya menekan tombol rekam, dan ia merekam, Robby yang meletakkan tangannya di pinggang Monica, Monica yang tersenyum ke arahnya sebelum mereka bersama melangkah masuk melalui pintu hotel.
Sampai pintu itu tertutup di belakang mereka.
Raina menurunkan ponselnya.
Ia mengecek hasilnya,foto-foto itu jelas, terang, tidak butuh diedit untuk menunjukkan apa yang terjadi. Video tiga puluh detik yang merekam semuanya dengan cukup untuk tidak bisa disangkal.
Ia menyimpannya. Kemudian mengirimnya ke folder cloud pribadinya... satu salinan, dua salinan, tiga salinan di tempat yang berbeda.
Karena Raina tahu satu hal tentang Robby, ia pandai berkata-kata, pandai membuat Raina merasa yang salah adalah dirinya. Dan kali ini ia tidak akan memberikan kesempatan untuk itu.
Raina memasukkan ponselnya kembali ke tas.
Ia menatap pintu hotel yang sudah tertutup itu satu kali lagi.
Kemudian ia membalikkan badannya dan berjalan ke tepi jalan untuk memesan ojek pulang. Langkahnya tidak tergesa-gesa, pelan dan teratur, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan sesuatu yang memang perlu diselesaikan.
Di pintu hotel Grand Serena yang sekarang sudah jauh di belakangnya, Raina tidak menoleh.
Ia sudah mendapat yang ia butuhkan.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang