"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Sisa
Pagi kembali datang dengan kejam. Aurora bangun sebelum alarmnya berbunyi, takut jika ia bangun terlambat, ia akan kehilangan kesempatan untuk sekadar mencuci muka tanpa harus berpapasan dengan kakak-kakaknya yang gemar melempar makian.
Setelah bersiap dengan seragam MPLS hari kedua, Aurora keluar dari kamarnya dengan langkah berjinjit. Di ruang makan, meja sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan mewah—pancake, sosis, buah-buahan segar, dan aroma kopi yang mahal. Namun, Aurora tahu, kursi di sana bukan untuknya.
Bramantyo sudah berangkat lebih awal. Yang tersisa hanya empat penguasa muda rumah itu.
Eros sibuk dengan laptopnya, Gavin sedang mendebat Juna soal hasil pertandingan bola semalam, dan Arvin sedang asyik memutar-mutar kunci motor di jarinya.
Aurora berdiri di ambang pintu dapur, menunggu instruksi.
"Masih di sini?" Eros mendongak, menatap Aurora dengan tatapan dingin yang seolah menembus kulit. "Jangan berdiri di situ seperti pengemis. Habiskan sisa roti di meja belakang kalau kamu lapar, lalu berangkat. Ingat kata Papa, jangan bikin malu."
Aurora berjalan ke meja kecil di pojok dapur, tempat para asisten rumah tangga biasanya duduk. Di sana hanya ada sisa dua lembar pinggiran roti tawar yang sudah kering dan sedikit selai yang hampir habis. Ia memakannya dengan cepat, menelan rasa pahit yang tersangkut di tenggorokannya.
"Eh, Bocah Pembawa Sial," panggil Arvin tiba-tiba dari ruang tengah.
Aurora segera menghampiri dengan kepala menunduk.
"I-iya, Kak Arvin?"
Arvin melemparkan sebuah tas olahraga besar yang sangat berat ke arah Aurora. Bugh! Tas itu menghantam perut Aurora, membuatnya terhuyung ke belakang.
"Bawa ini ke sekolah. Taruh di loker basket gue sebelum bel masuk bunyi. Kalau sampai telat atau ada barang yang hilang, lo tahu sendiri akibatnya," perintah Arvin dengan nada memerintah yang mutlak.
"Tapi Kak, ini berat sekali... aku harus naik bus—"
"Gue nggak peduli. Itu hukuman karena kemarin lo bikin malu di koridor," potong Arvin. Ia kemudian bangkit, menyambar jaketnya, dan berjalan melewati Aurora tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Gavin dan Juna mengikuti di belakang, tak ada satu pun dari mereka yang menawarkan bantuan meskipun melihat Aurora kepayahan memeluk tas yang ukurannya hampir separuh tubuhnya itu.
Perjalanan menuju sekolah dengan bus yang penuh sesak menjadi siksaan tersendiri. Tas olahraga Arvin yang berat membuat bahu Aurora terasa ingin lepas. Saat ia sampai di SMA Cakrawala, keringat sudah membanjiri dahinya, dan pita rambutnya mulai berantakan lagi.
Aurora berjalan tertatih menuju area loker yang berada di dekat lapangan basket. Sial baginya, area itu sedang ramai oleh anggota tim basket dan siswi-siswi yang ingin menonton mereka latihan pagi.
"Lho, itu kan anak baru yang kemarin?" bisik salah satu siswi.
Aurora mencoba mengabaikan bisikan itu dan mencari loker dengan nama Arvin A. Tenggara. Saat ia menemukannya dan mencoba memasukkan tas itu, tangannya yang sudah lemas tidak kuat menahan beban tas.
BRAK!
Tas itu terjatuh, dan isinya—sepatu basket, botol air, dan baju ganti—berhamburan keluar. Malangnya, botol air itu tidak tertutup rapat. Airnya tumpah membasahi lantai dan sepatu basket mahal milik Arvin.
"Apa yang lo lakuin?!" sebuah bentakan keras membuat seluruh orang di koridor terdiam.
Arvin berjalan mendekat dengan wajah merah padam. Ia baru saja selesai pemanasan dan melihat adiknya mengacaukan perlengkapannya.
"Maaf, Kak... aku nggak sengaja, tasnya berat banget tadi—"
"Gue sudah bilang jangan panggil gue 'Kak'!" Arvin mencengkeram lengan Aurora dengan sangat kencang, hingga Aurora merintih kesakitan. "Lo memang sengaja, kan? Lo mau balas dendam karena kemarin gue hukum?"
"Nggak, Kak... sumpah, nggak," isak Aurora.
"Bersihin sekarang! Pakai baju lo!" bentak Arvin lagi.
Di depan banyak orang yang menonton, Aurora dipaksa berjongkok. Karena tidak ada kain lap, Aurora yang polos dan ketakutan menggunakan lengan seragam putihnya sendiri untuk mengeringkan lantai dan sepatu Arvin yang basah. Seragamnya yang bersih kini kotor dan lembap.
Beberapa orang merasa kasihan, termasuk Bimo yang berdiri di kejauhan, namun tak ada yang berani melawan Arvin. Arvin yang sedang emosional itu tampak tak terkendali.
Juna, yang kebetulan lewat untuk menuju laboratorium, berhenti sejenak melihat kerumunan itu. Ia melihat adik perempuannya sedang berlutut di lantai, mengelap sepatu Arvin sambil menangis sesenggukan. Mata Juna bertemu dengan mata Aurora yang memohon pertolongan.
Namun, Juna hanya membetulkan letak kacamatanya dan lanjut berjalan. 'Dia harus belajar tanggung jawab atas kesialan yang dia bawa,' batin Juna dengan dingin, menekan rasa iba yang sempat muncul sekilas.
Hari baru saja dimulai, dan Aurora sudah merasa jiwanya hancur berkali-kali lipat. Ia tidak tahu bahwa ini barulah pembukaan dari babak panjang penderitaannya yang akan berakhir dengan keheningan abadi.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹