Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN DI TENGAH KEBAHAGIAAN
Awal-awal kehamilan ini memang terasa manis dan penuh sukacita, tapi siapa sangka, ujian sesungguhnya baru saja mulai menghampiri mereka perlahan namun pasti. Bukan kebahagiaan mulus tanpa cela seperti saat mengandung Gala dulu, kali ini nyawa baru yang tumbuh di dalam rahim Alana datang membawa tantangan berat yang menguji batas ketenangan dan kekuatan mereka berdua.
Sudah masuk minggu ke-empat kehamilan, tapi Alana justru makin sering mengeluh pusing hebat, pandangannya sering berkunang-kunang, dan rasa mualnya jauh lebih parah dari yang dialami ibu hamil pada umumnya. Awalnya mereka mengira itu cuma reaksi biasa, gejala awal kehamilan yang wajar. Namun hari berganti minggu, kondisi Alana bukannya membaik, malah makin merosot.
Siang itu, di ruang tengah yang sejuk, Alana baru saja bangun dari tidur siang sebentar. Ia mencoba berdiri hendak mengambilkan minum untuk Gala yang sedang bermain mainan mobil-mobilan di karpet. Baru dua langkah kakinya melangkah, pandangannya seketika gelap seketika, telinganya berdenging kencang, dan tubuhnya perlahan meluruh tak berdaya ke lantai.
"Bu!! Ibu kenapa?!" teriak Gala kaget, langsung berlari mendekat sambil mengguncang tubuh Ibunya.
Beruntung sekali saat itu Devan baru saja pulang dari kantor. Baru saja ia melewati pintu masuk, ia dengar jeritan putranya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Dengan langkah lebar dan kakinya yang gemetar, Devan berlari mendekat, langsung menyambar tubuh Alana yang sudah terbaring lemah dan pucat pasi.
"Alana! Alana! Bangun, Sayang! Lihat aku!" seru Devan panik parah, pipi istrinya ia tepuk pelan berkali-kali. Napasnya tertahan melihat wajah Alana yang seputih kertas, dingin, dan tak sadarkan diri. "Pak Hendra! Siapin mobil sekarang! Kita ke Rumah Sakit, cepat!"
Sepanjang perjalanan, Devan menyetir melawan arus, melanggar rambu lalu lintas, tak peduli apa pun yang terjadi di luar sana. Satu tangannya memegang kemudi, tangan satunya erat menggenggam tangan Alana yang terbaring di kursi belakang, sementara Gala yang duduk di sebelahnya menangis ketakutan.
"Tahan sebentar lagi, Sayang... Kita sampai sebentar lagi. Jangan pergi, aku mohon... jangan tinggalkan aku dan anak-anak..." gumam Devan parau, air mata ketakutan menggenang di matanya. Selama ini ia takut kehilangan harta, takut kehilangan kekuasaan, tapi takut kehilangan Alana jauh melampaui rasa takut apa pun di dunia ini.
Di Rumah Sakit, dokter langsung menangani Alana dengan serius. Berjam-jam Devan menunggu di luar ruang pemeriksaan, mondar-mandir seperti orang kesetanan, keringat dingin bercucuran, matanya tak lepas dari pintu tertutup itu. Gala yang sudah ditenangkan Pak Hendra duduk diam di kursi tunggu, sesekali menyeka matanya yang bengkak.
Akhirnya pintu terbuka, Dokter spesialis kandungan keluar dengan wajah serius, membuat nyali Devan seketika menciut.
"Bagaimana istriku, Dok? Dia aman kan? Bayinya aman?!" tanya Devan langsung, suaranya tegang dan berat.
Dokter menghela napas pelan, lalu mengajak mereka duduk.
"Pak Devan, Bu Alana mengalami Kehamilan Berisiko Tinggi. Tekanan darahnya melonjak sangat tinggi, jauh di atas batas normal. Ini kondisi yang disebut Preeklamsia. Kalau tidak dikontrol dengan ketat, ini bisa sangat berbahaya, bukan cuma bagi janin, tapi nyawa Bu Alana sendiri juga terancam."
Devan terhuyung mundur, bersandar ke dinding dingin itu. Kata-kata Dokter itu seperti petir di siang bolong, menghantam dadanya dengan sakit yang luar biasa.
"Maksud Bapak... nyawa mereka berdua... bisa melayang?" tanyanya lirih, suaranya pecah.
"Kita berusaha sebaik mungkin, Pak. Tapi Bu Alana harus tirah baring total. Tidak boleh melakukan aktivitas apa pun. Tidak boleh capek, tidak boleh stres, tidak boleh banyak gerak. Dia harus benar-benar istirahat, baik fisik maupun pikiran, sampai usia kandungan cukup bulan. Ini satu-satunya cara supaya janin bisa berkembang dan ibunya selamat."
Devan masuk ke ruangan rawat inap dengan langkah berat. Di sana, Alana sudah sadar, terbaring lemas dengan selang infus menancap di tangannya. Begitu melihat suaminya, mata Alana berkaca-kaca penuh rasa bersalah.
"Devan... maafkan saya..." bisiknya lemah. "Saya jadi merepotkan lagi... saya jadi beban..."
Devan langsung berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan istrinya erat sekali, mencium punggung tangan itu dengan air mata yang jatuh membasahi kulit halus istrinya.
"Jangan bilang begitu! Jangan pernah bilang begitu, Alana! Dengar aku: Kamu dan anak ini adalah segalaku! Kalian bukan beban, kalian adalah hidupku! Kalau harus aku berhenti kerja, kalau harus aku berhenti dari segalanya, aku akan lakukan asal kalian selamat!"
Ia mengusap wajah istrinya dengan tatapan penuh ketakutan namun juga tekad baja.
"Mulai detik ini, kamu dengar perintahku baik-baik: Kamu duduk diam di sini. Jangan angkat tangan, jangan jalan, jangan lakukan apa pun. Biar aku yang urus semuanya. Gala, rumah, kantor, semuanya akan aku atur. Tugasmu cuma satu: Jaga dirimu dan jaga anak ini di dalam sana. Paham? Kamu harus kuat demi aku, ya?"
Namun kenyataan ternyata tak semudah kata-kata manis itu. Minggu-minggu berikutnya menjadi masa terberat bagi rumah tangga mereka. Devan terbelah dua. Di satu sisi, ia harus memimpin Arkananta Group yang sedang menghadapi persaingan ketat, banyak proyek besar yang butuh persetujuan dan keputusan penting. Di sisi lain, ia tak tega meninggalkan Alana sendirian di rumah dengan kondisi lemah dan sering mengeluh sakit kepala serta nyeri di perutnya.
Seringkali Devan pulang ke rumah dalam keadaan sangat lelah, matanya cekung, tubuhnya kaku karena menanggung beban pikiran yang luar biasa berat. Tidurnya tak pernah nyenyak, bangun setiap jam sekadar mengecek kondisi Alana, memastikan napas istrinya teratur dan stabil.
Suatu malam, ketegangan itu akhirnya meledak menjadi pertengkaran pertama mereka sejak menikah.
Alana merasa terkurung, merasa tidak berguna, merasa hanya menjadi beban yang membuat suaminya menderita. Ia tak tahan lagi hanya diam terbaring seharian tanpa melakukan apa-apa. Saat Devan sedang keluar sebentar mengurus Gala yang menangis, Alana memberanikan diri turun dari kasur hendak pergi ke kamar mandi sendiri. Namun baru beberapa langkah, kakinya lemas lagi dan hampir jatuh, untung Devan datang tepat waktu dan menahan tubuhnya.
"KAMU GILA YA?!" bentak Devan dengan suara keras dan gemetar, matanya merah padam campur marah dan ketakutan luar biasa. "SIAPA SURUH KAMU BERDIRI?! KAMU MAU MATI HA? KAMU MAU NINGGALIN AKU SENDIRIAN SAMA GALA?!"
Alana kaget sampai menangis, belum pernah sekalipun Devan berteriak sekeras ini padanya. Ia menunduk takut, air mata menetes deras.
"Saya... saya cuma mau ke kamar mandi... saya merasa tidak berguna, Devan... saya merasa cuma bikin Bapak susah... Bapak jadi kurus begini, Bapak jadi capek sekali... saya benci diri saya sendiri..."
Mendengar itu, amarah Devan seketika lenyap digantikan rasa sakit yang jauh lebih dalam. Ia langsung merengkuh tubuh istrinya yang gemetar itu, memeluknya sangat erat seolah takut hilang. Ia menangis di bahu Alana, menumpahkan segala kelelahan dan ketakutan yang ia pendam sendirian selama ini.
"Maafkan aku... maafkan aku teriak padamu... aku bukan marah sama kamu, Sayang... aku takut... aku sangat takut..." isak Devan parau. "Aku takut kalau kamu kenapa-napa, aku hancur total. Aku takut aku nggak kuat kehilangan kalian. Kamu pikir aku capek? Iya aku capek, tapi rasanya jauh lebih ringan daripada kalau aku harus hidup tanpa kamu. Jangan pernah merasa nggak berguna. Napasmu, detak jantungmu, itu yang bikin aku tetap bernapas dan tetap hidup, Alana."
Ia melepaskan pelukannya sebentar, menangkup wajah istrinya yang basah oleh air mata.
"Dengar aku baik-baik. Jangan pernah merasa jadi beban. Kalau harus aku gendong kamu seumur hidup, aku akan lakukan dengan senang hati. Kalau harus aku jatuh miskin, sakit, atau apa pun, asal kamu ada di sini sama aku, aku sudah paling kaya. Kamu adalah harta satu-satunya yang nggak tergantikan sedunia ini."
Alana mengangguk lemah, menyeka air mata suaminya.
"Maaf, Devan... saya janji, saya bakal nurut. Saya bakal istirahat, saya bakal jaga diri. Demi Bapak, demi Gala, demi adiknya..."
Namun masalah tak berhenti di situ. Saat kondisi Alana makin kritis dan Devan makin sering meninggalkan kantor untuk pulang menjaga istrinya, celah itu dimanfaatkan oleh musuh lama yang diam-diam mengintai.
Di ruang rapat besar Arkananta Group, Direktur Keuangan dan Manajer Operasi tampak gugup saat melapor pada Devan yang datang terlambat dengan wajah lelah dan tidak terurus.
"Maaf, Pak Devan... tapi saham kita makin turun tajam. Ada pihak yang diam-diam menjatuhkan nama baik perusahaan kita lewat media. Proyek besar pembangunan pusat kota itu pun mau ditarik investornya karena ada isu yang menyebar kalau Bapak tidak fokus mengurus bisnis lagi dan lebih mementingkan urusan pribadi."
Devan menggebrak meja keras, wajahnya memerah menahan emosi.
"Siapa yang berani?! Cari tahu siapa pelakunya! Aku mau nama orangnya sekarang juga!"
"Belum pasti, Pak... tapi tersiar kabar kalau yang mendalangi ini adalah Grup Pratama. Dan pemimpin barunya... Rania Pratama."
Nama itu membuat darah Devan seketika mendidih dingin. Rania. Mantan tunangannya dulu, wanita yang pernah hampir menjadi istrinya sebelum ia bertemu Alana. Wanita yang dulu ia tolak mentah-mentah, dan kini kembali muncul sebagai investor besar yang punya kekuatan untuk meluluhlantakkan kerajaan bisnisnya.
"Rania..." desis Devan pelan, matanya tajam penuh kewaspadaan. "Jadi dia yang main di belakang layar. Dia mau menghancurkan aku, mau melihatku jatuh saat aku lagi lemah begini."
Devan menatap ke luar jendela kaca besar itu, menatap gedung-gedung kota yang kini terasa mengancam. Di luar sana ada ancaman yang mau merusak apa yang ia punya, dan di rumah ada nyawa istrinya dan anaknya yang sedang bertaruh nyawa. Beban di pundaknya terasa seberat gunung.
Namun saat ia pulang sore itu, melihat Alana yang sedang duduk bersandar bantal, wajahnya pucat namun tersenyum manis begitu melihatnya datang, seketika semua kelelahan dan ketakutan itu sirna berganti tekad baja yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Devan mendekat, mencium kening istrinya lama sekali.
"Alana, ada masalah besar di luar sana. Ada orang yang mau jatuhin aku, mau ambil semua yang kita punya," bisiknya pelan.
Wajah Alana tak berubah takut, ia malah menggenggam tangan suaminya dengan sisa tenaganya yang ada.
"Kalau pun harta kita habis, kalau pun gedung ini hilang... Bapak masih punya saya, masih punya Gala, dan masih punya adiknya. Itu yang paling mahal. Lawan mereka, Devan. Buktikan kalau cinta kita jauh lebih kuat dari kejahatan mereka."
Kalimat itu menjadi api yang membakar semangat Devan kembali. Ia sadar, selama Alana ada di sini, selama ia punya alasan untuk berjuang, tak ada satu pun musuh di dunia ini yang mampu mengalahkannya.
Ia mencium punggung tangan istrinya, menatapnya dengan tatapan yang makin tegas dan bertekad.
"Kau benar. Mereka boleh menyerangku, boleh main kotor, boleh mau ambil hartaku. Tapi satu hal yang tak akan pernah bisa mereka ambil: Kamu, dan posisimu di hatiku. Aku akan selesaikan masalah ini. Aku akan lindungi perusahaan, aku akan lindungi kalian berdua. Aku takkan membiarkan siapa pun, apa pun, menyakiti sehelai rambut pun dari kalian."
Dan di tengah ancaman yang mengintai dari luar, serta bahaya yang masih mengancam nyawa di dalam rahim istrinya, janji itu terucap makin tajam dan makin mutlak, menjadi senjata terkuatnya:
"Di tengah badai yang sedang datang ini, di hadapan ujian nyawa dan ancaman musuh... aku makin tegas dan makin yakin: Segala kekuatan, keberanian, akal, dan segenap kemampuanku... aku gunakan semata-mata untuk melindungi dan membahagiakanmu. Dan tetap, sampai kapan pun... semuanya dan selamanya tetap takluk, hanya padamu, Alana. Nyawaku, Ratu pelindung hatiku, dan satu-satunya alasan perjuanganku."