Hella Adelia menjalani hidupnya dalam diam, memikul peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra semata wayangnya. Dengan tekad sederhana—melihat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK—ia rela menyingkirkan lelah dan gengsi, menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang CEO ternama.
Di balik kemewahan rumah itu, Dave Julian Alexander hidup dalam kesunyian. Seorang duda tanpa anak, dengan hati yang masih terikat pada kenangan akan mendiang istrinya. Dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Kesederhanaan Hella, ketulusannya sebagai seorang ibu, dan harapan kecil yang ia genggam untuk masa depan anaknya, menghadirkan kehangatan yang lama hilang dalam hidup Dave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endel_Bagong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT CINTA SANG BOSS
Marcel melanjutkan ke tahap berikutnya tanpa banyak basa-basi. Ia berjalan lebih dulu, memberi isyarat agar Hella mengikutinya dari belakang.
“Perhatikan dengan baik,” ucapnya singkat.
Mereka mulai dari lantai dasar. Marcel menunjukkan ruang tamu yang luas, dapur yang tertata modern, serta ruang makan yang terhubung langsung dengan taman kecil di samping rumah. Setiap sudut dijelaskan dengan detail—apa saja yang harus dibersihkan, mana yang harus dijaga ekstra hati-hati.
“Dapur adalah salah satu bagian terpenting. Semua harus bersih, rapi, dan lengkap,” jelas Marcel sambil membuka beberapa lemari penyimpanan.
Hella mengangguk, berusaha mengingat semuanya.
Mereka kemudian naik ke lantai dua. Langkah kaki mereka terdengar pelan di tangga marmer yang mengkilap.
“Ini dan itu adalah kamar tamu biarpun tidak selalu di gunakan, tapi harus tetap di bersihkan” kata Marcel sambil membuka sebuah pintu.
Hella melihat ke dalam. Kamarnya lumayan besar, nyaman dan bersih. Ada tempat tidur, lemari, dan jendela yang menghadap ke samping rumah.
“Iya Pak” ucap Hella.
Marcel hanya mengangguk, lalu melanjutkan.
“Di sana kamar Tuan Dave,” katanya sambil menunjuk pintu lain yang tertutup rapat. “Jangan masuk tanpa izin.”
Nada suaranya kali ini lebih tegas.
“Baik, Pak. Saya mengerti,” jawab Hella cepat.
Mereka berjalan lagi menuju sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram.
“Ini bar mini. Biasanya tidak digunakan setiap hari, tapi tetap harus dibersihkan secara berkala, dan di sebelahnya tempat tuan sering melakukan aktifitas olahraga.” jelas Marcel.
Setelah itu, Marcel mengajak Hella melihat area luar—kolam kecil di belakang, taman yang tertata rapi, hingga beberapa sudut lain yang perlu dirawat, lalu marcel menunjuk sebuah ruangan di lantai bawah, tepat dekat dapur, jika di lihat dari lantai dua, dan tangga, langsung terlihat ke ruangan itu, yaitu kamar Hella.
"yang ini kamar Anda, silahkan di lihat, apakah tidak masalah..?"
"Aah tidak pak, itu sudah sangat cukup dan baik, kamarnya luas, dan bagus" jawab Hella dengan senyum manisnya.
"Baiklah, untuk kamarmandi Anda, terletak di samping kamar Anda, apa mau di cek sekalian..?" tanya Marcel.
"Tidak pak, tidak perlu" singkat Hella.
Setelah semuanya selesai dijelaskan, mereka kembali ke ruang tamu. Hella terlihat sedikit lelah, tapi ia tetap fokus.
Marcel berhenti dan menatap Hella.
“Sepertinya Anda sudah memahami semuanya,” katanya.
Hella mengangguk pelan. “Iya, Pak. Saya akan berusaha mengingat dan menjalankan semuanya dengan baik.”
Marcel menarik napas singkat, lalu bersiap untuk pergi.
“Baiklah, jika sudah jelas semuanya, Saya akan pergi, melanjutkan pekerjaan saya” ucapnya.
Namun sebelum benar-benar melangkah, ia berhenti dan kembali menatap Hella, kali ini dengan ekspresi yang lebih serius.
“Besok akan ada orang dari kantor, suruhan Tuan Dave. Dia akan mengantar Anda ke supermarket untuk membeli semua keperluan dapur, dan keperluan rumah ini” jelasnya.
Hella sedikit terkejut, tapi segera mengangguk. “Baik, Pak.”
Marcel melanjutkan, suaranya kini lebih rendah namun terasa menekan.
“Satu hal lagi. Panggil beliau dengan ‘Tuan’. Jangan terlalu banyak bicara. Tanyakan hanya hal yang benar-benar perlu.”
Hella menelan ludah pelan.
“Dan… semua sudah tertulis di kertas yang Anda pegang,” tambah Marcel. “Jangan pernah usil mencoba mencari tahu urusan pribadi Tuan Dave.”
Kali ini, tatapan Marcel benar-benar tajam.
“Tempatkan diri Anda sesuai posisi Anda.”
Suasana mendadak terasa lebih dingin. Hella merasakan sedikit tekanan dari kata-kata itu.
“Saya mengerti, Pak,” jawabnya pelan, tapi tegas.
Marcel akhirnya mengangguk puas.
“Bagus, sekarang silahkan Anda beristirahat jika Anda Lelah.”
Tanpa menambahkan apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Hella seorang diri di dalam rumah besar itu.
Hella berdiri diam sejenak. Tangannya menggenggam kertas peraturan yang tadi diberikan, ia membaca setiap peraturan itu dan mencoba mengingatnya perlahan. Kata-kata Marcel terus terngiang di kepalanya.
Rumah ini memang megah…
tapi juga terasa penuh batasan.
Hella menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Ia sadar, mulai sekarang—
ia bukan hanya bekerja… tapi juga harus benar-benar menjaga sikap di setiap langkahnya.
*Johan, Marcel and Dave 😁
biar gak tua-tua amat...kurang seru soalnya kalau ketuaan pemain nya 👍😁