Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Malam telah menelan seluruh langit desa ketika Juan akhirnya menginjakkan kaki di pelataran rumahnya yang sepi. Jarum jam dinding di ruang tengah sudah menunjuk angka dua dini hari.
Seluruh tubuhnya terasa remuk, tulang-tulangnya seolah lepas dari persendian akibat pergumulan panas dan liar yang baru saja ia lalui bersama Tante Hena.
Sisa-sisa aroma tubuh ibu dari mantannya itu masih seolah tertinggal di indra penciumannya, memicu rasa nyeri yang nikmat di otot-otot paha dan pinggangnya.
Tanpa sempat menyalakan lampu, ia menyeret langkah ke kamar. Begitu pintu terbuka, Juan langsung menjatuhkan tubuhnya yang penat ke atas ranjang yang berderit.
Ia membiarkan kegelapan merengkuhnya, berharap lelap segera datang menghapus bayang-bayang tubuh semok nan montok Tante Hena yang baru saja ia jamah.
Namun, tidur malam itu bukan membawa ketenangan, melainkan sebuah gerbang menuju dimensi lain.
Di dalam mimpinya, Juan kembali berdiri berhadapan dengan Tante Hena. Sosok wanita paruh baya itu kini tampil lebih berani, lebih menghantui akal sehatnya.
Ia mengenakan lingerie tipis berwarna merah darah yang nyaris tidak menyembunyikan apa pun. Tante Hena melenggok-lenggokkan tubuh seksinya, memamerkan lekukan pinggang dan dua bukit kembarnya yang kencang dan menantang. Bibir merahnya bergerak pelan, mengeluarkan suara parau yang menggema liar di gendang telinga Juan.
“Masuklah ke hutan, Juan... di sanalah jawabanmu menunggu.”
Awalnya Juan tertegun, otaknya yang masih dipenuhi gairah mengira bahwa Tante Hena sedang memancingnya kembali untuk masuk ke dalam gua rahasianya yang panas dan basah.
Namun, tatapan wanita itu kini berbeda, ada rahasia besar yang tersembunyi di balik matanya yang sayu.
Juan mengikuti langkah gemulai Tante Hena yang membawanya semakin dalam ke jantung hutan lebat yang tak pernah ia kenali.
Pepohonan raksasa menjulang tinggi ke angkasa, daun-daunnya yang rapat menutup cahaya rembulan. Akar-akar besar melilit di atas tanah seperti kumpulan ular raksasa yang sedang bergelung dalam tidur panjang.
“Hutan apa ini?” gumam Juan, bulu kuduknya meremang merasakan hawa dingin yang menusuk kulit.
Sebelum ia sempat melayangkan tanya lebih jauh, bayangan Tante Hena mendekat. Ia menatap Juan dengan senyum samar yang penuh teka-teki, lalu jemari lentiknya menunjuk ke arah kegelapan pekat di balik barisan pohon tua.
“Di tengah hutan itu... ada sebuah batu. Batu berlian murni yang nilainya tak terhingga. Itu milikmu, Juan, jika kau punya nyali untuk menjemputnya,” bisik Tante Hena dengan suara yang setengah mendesah, membelai ego kelelakian Juan.
Juan hendak menyahut, namun sosok molek itu perlahan memudar, tersapu oleh pusaran angin dan kabut tebal yang tiba-tiba muncul. Suara lembutnya berubah menjadi gema jauh yang menggetarkan sukma.
“Ambillah, Juan. Anggap itu sebagai upah atas kerja kerasmu yang luar biasa malam ini.”
Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya biru yang menyilaukan meledak tepat di depan mata Juan. Ia merasa tubuhnya ditarik paksa masuk ke dalam jurang cahaya. Ia melayang, tak berbobot, sebelum akhirnya tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan.
Pagi pecah dengan sinar matahari yang menghunjam masuk lewat celah-celah jendela yang berdebu. Juan terjaga dengan keringat dingin yang membanjiri seluruh wajah dan dadanya.
Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang, seolah-olah ia baru saja melakukan lari maraton di tengah hutan sepanjang malam.
Ia menatap langit-langit kamar yang buram, mencoba merangkai kembali pecahan mimpinya. Segalanya terasa begitu nyata.
Ia bahkan masih bisa merasakan dinginnya kabut yang menempel di pori-pori kulitnya dan aroma tanah basah yang menyengat dari dalam hutan itu.
Secara refleks, tangannya meraba dada. Di sanalah liontin biru langit itu masih menggantung kokoh. Benda warisan keluarga itu adalah satu-satunya peninggalan ayahnya yang tak pernah ia lepaskan.
Liontin yang nyaris ia relakan ke tangan tengkulak demi menyambung hidup yang melarat.
“Apakah semua ini... karena liontin ini?” bisiknya parau.
Juan bangkit, melangkah gontai menuju cermin besar di sudut kamar. Begitu ia menatap pantulan dirinya, ia terpaku. Wajahnya terlihat jauh berbeda.
Ia tampak lebih segar, lebih cerah, seolah baru saja mendapatkan istirahat paling berkualitas seumur hidupnya.
Tulang pipinya terlihat lebih tegas, kulitnya lebih bersih dan bercahaya. Matanya memancarkan kilau tajam yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
“Ini mustahil...”
Didorong rasa penasaran, ia melepas bajunya. Juan terperangah. Otot-otot di lengannya kini tampak lebih padat dan menonjol. Dada dan bahunya mengeras seperti besi, membentuk postur tubuh pria perkasa yang sempurna.
Padahal, terakhir kali ia menyentuh alat gim sudah bertahun-tahun lalu. Ia hanya pekerja serabutan berbadan biasa, tapi kini, tubuhnya berubah menjadi seperti seorang petarung yang terlatih keras.
“Apakah kekuatan mimpi itu terbawa ke dunia nyata?” tanyanya dalam hati.
Namun, kehangatan dan energi besar yang mengalir di pembuluh darahnya adalah kenyataan yang tak bisa dibantah.
Tanpa membuang waktu, Juan segera bersiap. Pesan tentang batu berlian di tengah hutan itu terus berdengung di kepalanya.
Ia mengenakan jaket kulitnya, menyambar senter, dan memastikan liontin biru itu terjepit erat di dadanya.
Perjalanan menuju hutan di pinggiran desa memakan waktu satu jam yang melelahkan. Udara pagi yang lembap dengan kabut yang masih menggantung rendah menyambut langkah-langkah lebarnya.
Suara burung liar yang saling bersahutan seolah menjadi irama yang memandu gerakannya.
Ia berjalan mengikuti insting atau mungkin, sebuah peta gaib yang telah ditanamkan ke dalam memorinya lewat mimpi tadi malam. Setiap langkah terasa seperti dejavu.
Ia mengenali setiap tikungan jalan setapak, setiap pohon tumbang, hingga akhirnya ia sampai di sebuah area terbuka yang disinari cahaya matahari yang menembus celah dedaunan, menciptakan panggung cahaya alami di atas tanah.
Di sana, tepat di tengah lingkaran cahaya itu, berdiri sebuah batu besar berwarna abu-abu yang tampak kusam.
Dari kejauhan, batu itu terlihat biasa saja, namun saat Juan melangkah mendekat, matanya menangkap percikan cahaya yang memancar dari sela-sela retakan batu tersebut.
Juan berjongkok, menyentuh permukaan batu yang kasar. Seketika, kilauan di dalamnya meledak lebih terang.
Dengan tangan kosong, ia mulai menggali tanah yang lembap dan menyingkirkan lumut-lumut yang menempel.
Semakin dalam ia menggali, semakin jelas bentuk benda itu, sebuah batu berlian raksasa, sebesar kepalan tinju orang dewasa, dengan pendaran cahaya biru yang sangat jernih dari intinya.
“Ini... benar-benar nyata,” bisiknya dengan suara bergetar karena takjub.
Ia menatap sekeliling. Sunyi. Hanya desau angin yang menggerakkan dedaunan. Ia segera membungkus berlian itu dengan kain, memasukkannya ke dalam tas dengan tangan yang masih gemetar.
Namun, saat ia berbalik hendak meninggalkan tempat itu, sebuah bisikan lembut tertangkap oleh indranya.
“Itu baru permulaan, Juan...”
Ia menoleh secepat kilat, namun tak ada siapa pun di sana. Hanya kesunyian hutan yang kembali menyergap.
Sore itu, Juan duduk terpaku di ruang tamu. Batu berlian itu diletakkan di atas meja, memantulkan cahaya matahari sore yang keemasan ke seluruh penjuru ruangan.
Setiap kali ia menyentuhnya, getaran energi halus merambat ke telapak tangannya, seolah berkomunikasi dengan liontin biru langit di lehernya.
Tanpa pikir panjang, ia segera menghubungi Tarjo dan Heri lewat telepon genggamnya yang sudah tua.
“Bro, ke sini sekarang. Gue nemu sesuatu yang gila,” ucapnya, suaranya berat menahan luapan emosi.
“Nemu apa lagi? Uang receh sisa kembalian kopi?” canda Heri di seberang sana.
“Nggak. Ini serius. Berlian. Besar sekali. Seperti batu mulia kelas atas.”
“Serius lo, Wan? Jangan bercanda, dari mana barang kayak gitu?”
Juan terdiam sejenak, memikirkan alasan yang masuk akal. “Peninggalan rahasia keluarga. Gue baru nemu tempat penyimpanannya tadi pagi.”
Hening sejenak di seberang telepon sebelum suara Tarjo menimpali dengan nada penuh semangat. “Kalau itu asli, hidup lo berubah 180 derajat, Wan! Kita harus cari tahu harganya ke kota besok!”
Juan setuju. Namun malamnya, keanehan kembali terjadi. Saat ia hendak memejamkan mata, batu berlian di atas mejanya memancarkan cahaya biru lembut yang intens, cahaya itu bukan sekadar pantulan, tapi seolah-olah bernapas. Udara di dalam kamar mendadak menjadi hangat, dan liontin di lehernya ikut bergetar hebat.
Juan menatap kedua benda itu. Ia merasa ada sebuah rahasia besar, sebuah takdir yang gelap namun menggoda, sedang menantinya di depan mata.
“Apa sebenarnya yang terjadi padaku...?” gumamnya pelan.
Di kejauhan, di antara deru angin malam, ia seolah mendengar kembali suara desahan Tante Hena yang memabukkan.
“Kau sudah memulainya, Juan. Sekarang tinggal menunggu... siapa yang akan datang mencarimu untuk merasakan kekuatanmu.”