Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU DATANG MENJEMPUT MILIKKU
BAB 17 — AKU DATANG MENJEMPUT MILIKKU
Malam itu, suasana di rumah orang tua Keisha terasa begitu sunyi dan mencekam. Namun di dalam kepala Keisha, pikirannya berputar kacau dan ribut tak terkendali.
Ia duduk di tepi ranjang, memandangi wajah damai Leo yang sudah tertidur pulas di bawah selimut hangat. Nafas anak itu terdengar teratur, tangannya kecilnya masih memeluk erat boneka singa kesayangannya.
Keisha mengusap lembut rambut hitam putranya, air matanya jatuh tanpa suara.
Arsen tahu.
Lima tahun lamanya ia membangun benteng pertahanan, menyusun kehidupan baru yang tenang, dan berusaha menjaga Leo agar jauh dari dunia yang keras dan rumit. Dan hanya dalam waktu satu sore yang singkat... semua pertahanan itu retak dan hancur lebur.
Ia tahu betul siapa Arsen.
Pria itu bukan tipe orang yang mudah menyerah atau berhenti di tengah jalan.
Jika dia sudah yakin dan menginginkan sesuatu, dia akan datang dan mengambilnya.
Dan ketenangan itu... justru jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya yang meledak-ledak.
Pagi datang terlalu cepat, seakan waktu berjalan dengan sengaja mempercepat bencana.
Keisha bahkan belum sempat memejamkan mata selama satu jam penuh ketika suara panggilan ibunya terdengar dari lantai bawah.
“Sha... ada tamu. Kamu turun sebentar ya.”
Jantung Keisha seketika jatuh ke perut.
Tubuhnya menegang kaku sekuat tenaga.
Dengan langkah berat dan gemetar, ia menuruni tangga kayu itu satu per satu.
Dan dugaannya benar.
Di ruang tamu, pria itu duduk dengan santai dan tegap di sofa, seolah-olah rumah itu adalah miliknya sendiri.
Setelan jas hitam yang rapi dan mahal.
Jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dan tatapan mata yang sedingin es.
Arsen.
Ayahnya duduk berhadapan dengannya dengan wajah murka dan tegang. Ibunya berdiri mematung di dekat dapur dengan wajah pucat dan cemas.
Saat melihat sosok Keisha muncul di ujung tangga, Arsen perlahan bangkit berdiri dari duduknya.
Matanya menyapu seluruh wajah wanita itu tanpa berkedip sedikit pun, seakan ingin menghafal setiap perubahan yang terjadi selama lima tahun.
“Kamu masih suka kabur rupanya,” ucapnya pelan.
Suaranya terdengar sangat tenang, datar, dan rendah.
Namun justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk Keisha meremang seluruhnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Keisha dengan suara bergetar, berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
“Menjemput milikku.”
Ayah Keisha yang tak tahan melihat kesombongan itu langsung berdiri tegak.
“Tolong jaga sikap dan mulutmu di rumah saya, Tuan!”
Arsen mengalihkan pandangannya sesaat, memberikan hormat sekilas pada orang tua Keisha.
“Maaf, Pak. Bukan maksud saya kurang ajar.”
Lalu ia kembali menatap Keisha tajam, suaranya menekan.
“Aku bicara soal anakku.”
Ruangan itu seketika menjadi hening total.
Suara napas saja seakan tak terdengar.
Ibunya langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak kaget.
Ayahnya mengepalkan tangan kuat-kuat di sisi tubuhnya, menahan amarah yang meluap.
Wajah Keisha pucat pasi.
“Jangan bicara sembarangan dan memfitnah!” serunya.
Arsen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dingin dan tanpa kehangatan sama sekali.
“Anak laki-laki, usia sekitar lima tahun. Wajahnya persis seperti fotokopi diriku. Waktu kelahirannya pas dan masuk hitungan sempurna. Kamu mau aku bawa bukti lengkap atau kamu mau berhenti berpura-pura bodoh, Keisha?”
“Dia bukan urusanmu! Dia tidak ada hubungannya dengan kamu!”
“Dia DARAH DARIKU!” bentak Arsen pelan namun penuh penekanan.
“TIDAK! Dia anakku! Cuma milikku!”
Tatapan mereka saling mengunci tajam di udara.
Lima tahun lamanya tak bertemu bukan berarti bara api di antara mereka padam... itu hanya menumpuk bahan bakar hingga siap meledak kapan saja.
Tiba-tiba, suara langkah kaki kecil terdengar berdecit di tangga.
Semua kepala serentak menoleh ke arah sumber suara.
Leo turun dengan langkah malas, matanya masih mengucek karena baru bangun tidur.
“Mama... Leo lapar...” rengeknya pelan.
Anak itu berhenti berjalan tepat di tengah ruangan saat melihat ada pria asing yang tinggi besar berdiri di sana.
Namun anehnya, Leo tidak langsung lari atau menangis.
Ia justru menatap wajah Arsen lurus berani, tanpa rasa takut sedikit pun.
Arsen membeku di tempatnya.
Dilihat dari jarak sedekat ini, kemiripan itu jauh lebih menyakitkan dan nyata daripada di foto atau dari kejauhan.
Cara anak itu berdiri tegak.
Cara ia menatap dengan alis yang sedikit berkerut.
Bentuk rahang kecil yang masih lunak namun garisnya sudah jelas terlihat.
Seolah-olah seseorang telah mengambil masa kecil Arsen puluhan tahun lalu dan menghidupkannya kembali di hadapannya saat ini.
Leo berjalan mendekat, lalu bersembunyi setengah badan di balik kaki ibunya, hanya menampakkan wajahnya yang mengintip.
“Om siapa?” tanyanya polos.
Tak ada satu pun orang di ruangan itu yang mampu menjawab selama beberapa detik. Hening mencekam.
Dengan gerakan perlahan yang tak disangka-sangka, Arsen berjongkok rendah agar posisinya sejajar dengan mata anak kecil itu.
Suara beratnya yang biasanya terdengar tajam dan dingin, kini terdengar jauh lebih lembut dan berbeda.
“Namamu Leo?” tanyanya pelan.
Anak itu mengangguk kecil, matanya tak lepas menatap wajah pria di depannya.
“Aku Arsen.”
Leo memiringkan kepalanya sedikit bingung.
“Om kenal sama Mama?”
Pertanyaan polos dan lugu itu seakan sebuah palu besar yang menghantam dada semua orang yang ada di ruangan itu.
Arsen menatap sekilas ke arah Keisha, lalu kembali menatap bocah kecil itu.
“Sangat kenal...” jawabnya pelan.
Keisha segera mengangkat tubuh Leo ke dalam pelukannya erat-erat, seolah takut ada yang merebutnya.
“Kita naik ke kamar dulu, ayo.”
Namun sebelum ia sempat berbalik badan, suara Arsen menghentikannya.
“Aku tidak datang untuk berperang hari ini, Keisha.”
“Terus untuk apa?”
“Aku datang untuk memastikan segalanya.”
“Apa lagi yang mau kamu pastikan?! Bukankah sudah jelas menurutmu?!”
Arsen menatap lurus ke mata anak laki-laki yang ada di gendongan itu, matanya tampak berkilauan.
“Tes DNA.”
Ibunya langsung terisak kecil mendengarnya.
Ayah Keisha melangkah maju satu langkah penuh amarah.
“Kamu ini ada-ada saja! Datang ke rumah orang seenaknya, bicara keras, lalu minta macam-macam?!”
Arsen berdiri tegak kembali menghadap ayah Keisha, posturnya tinggi dan gagah.
“Saya mengerti Bapak marah dan melindungi anak cucu Bapak. Tapi coba pikir... kalau Leo benar anak saya, berarti saya sudah kehilangan lima tahun pertama hidupnya. Saya berhak marah dan kecewa juga, kan?”
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Karena di lubuk hati terdalam... mereka tahu itu adalah kebenaran yang pahit.
Keisha memejamkan matanya rapat-rapat.
“Tidak,” katanya lirih namun tegas.
Arsen menoleh tajam.
“Aku bilang TIDAK. Aku tidak mau.”
“Kamu masih mau bersembunyi dan lari lagi?”
“Aku sedang melindungi anakku!”
“Dari siapa? Dari aku?”
“Dari duniamu yang keras dan kejam itu!”
Tatapan Arsen mengeras, napasnya memburu menahan emosi.
“Kalau aku benar-benar mau mengambil Leo sekarang juga dan membawanya pergi... aku bisa melakukannya dengan sangat mudah, Keisha.”
Ayah Keisha hendak maju memukul atau mencegah, namun Keisha mengangkat tangannya memberi isyarat berhenti.
Ia menatap mata Arsen dengan napas yang bergetar hebat, namun matanya menyala penuh tekad.
“Kalau kamu berani menyentuh anakku tanpa izin... aku akan lari lagi. Dan kali ini... aku pastikan kamu tak akan pernah bisa menemukan jejak kami berdua selamanya.”
Ancaman itu dingin dan serius.
Suasana ruangan kembali membeku dan dingin.
Arsen menatap wanita di hadapannya itu lama sekali.
Lalu tiba-tiba ia tersenyum tipis.
“Masih sama saja. Nekat dan berbahaya.”
Ia mengambil selembar kartu nama dari saku dalam jasnya, lalu meletakkannya di atas meja ruang tamu dengan suara plak yang pelan.
“Kamu punya waktu dua hari.”
“Untuk apa?”
“Bawa Leo datang ke laboratorium untuk tes DNA dengan sukarela.”
“Kalau aku menolak?”
Arsen memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, wajahnya kembali dingin dan tak tersentuh.
“Maka aku akan menggunakan caraku sendiri. Dan kamu tahu... caraku biasanya tidak selembut ini.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia melangkah tegap menuju pintu keluar.
Namun tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti dan menoleh kembali ke arah Leo.
Anak itu masih diam memandangnya dari balik bahu ibunya dengan mata polos namun penasaran.
Arsen tersenyum tipis, kali ini senyuman yang jauh lebih lunak.
“Sampai ketemu lagi, Jagoan.”
Lalu ia pergi meninggalkan rumah itu.
Begitu pintu tertutup rapat, kaki Keisha langsung lemas sekuat tenaga. Ibunya langsung memeluknya sambil menangis, ayahnya memegang pundaknya mencoba menguatkan.
Leo berbisik pelan di telinga ibunya,
“Mama... om tadi serem ya...”
Keisha memeluk anaknya semakin erat, wajahnya tertanam di leher kecil itu.
“Iya...” jawabnya pelan.
Namun di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia tahu ada hal lain yang jauh lebih menakutkan dari sekadar tatapan galak Arsen:
Leo tidak benar-benar takut pada pria itu.
Dan Arsen... sepertinya sudah mulai menyayangi anak itu sejak pandangan pertama.
Di dalam mobil mewahnya, Arsen masih menatap bangunan rumah itu dari balik kaca gelap yang menghitam.
Asistennya yang duduk di depan bertanya dengan hati-hati,
“Kita lanjut ke kantor sekarang, Tuan? Rapat pagi ini...”
Arsen masih menatap lurus ke jendela lantai dua tempat ia melihat tirai sedikit bergerak-gerak.
“Tidak. Batalkan semua jadwal hari ini.”
“Lalu mau ke mana, Tuan?”
Arsen menyandarkan kepalanya ke sandor jok, matanya terpejam sejenak membayangkan wajah anak kecil tadi.
“Ke toko mainan terbesar dan terlengkap di kota ini.”
Asistennya menoleh bingung, tak mengerti arah pembicaraan.
“Untuk beli apa, Tuan?”
Arsen membuka matanya, ada kilatan hangat yang jarang terlihat di sana.
“Anakku... sepertinya suka sekali sama mobil-mobilan.”
Bersambung