Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Itu Kembali
POV Aluna
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana.
Di lantai kamar yang terasa begitu dingin.
Air mataku sudah habis… tapi sesaknya masih tertinggal.
Setiap kata yang kudengar malam itu… terus berputar di kepalaku.
“Cukup ikat dia dalam pernikahan ini…”
“Jangan hancurkan hidupnya…”
“Dia istriku.”
Dan yang paling menyakitkan—
“Wanita mandul itu,siapa yang mereka maksud…”
Aku tertawa kecil.
Hampa.
Jadi… ini alasannya?
Aku hanya alat.
Alat untuk sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya aku pahami…
tapi cukup untuk menghancurkan harga diriku sebagai seorang wanita.
“Ayah…”
Namanya terucap lirih.
Dadaku kembali sesak.
Apakah Ayah tahu semua ini?
Atau… Ayah juga sedang berusaha melindungiku… dengan cara yang salah?
Aku menutup wajahku.
Untuk pertama kalinya sejak aku datang ke rumah ini…
Aku ingin pergi.
Sangat ingin pergi.
Sesaat Suara mobil berhenti di halaman depan.
Aku tersentak.
Sudah malam… siapa yang datang?
Langkah kaki terdengar tergesa dari luar.
Suara pintu terbuka.
Dan—
“Zayn!”
Suara wanita.
Lembut… tapi penuh kebahagiaan.
Jantungku langsung berdegup tidak karuan.
Aku berdiri perlahan, langkahku seperti ditarik oleh rasa penasaran… atau mungkin ketakutan.
Aku keluar kamar.
Lorong masih sepi.
Tapi suara itu terdengar jelas dari ruang tengah.
Langkahku terhenti tepat di ambang pintu ruang tamu.
Tawa itu…
Aku langsung mengenalinya.
Tapi rasanya asing.
Karena selama ini… aku tidak pernah mendengarnya.
Zayn Davendra… tertawa.
Dadaku langsung terasa sesak saat melihatnya.
Tangannya melingkar santai di pinggang seorang wanita cantik berambut cokelat panjang. Wajahnya anggun, pakaiannya elegan, auranya… berbeda jauh dariku.
Wanita yang baru kembali dari luar negeri.
Dan tentu saja… wanita yang memiliki tempat di hati suamiku.
“Zayn, apa kamu merindukanku,2 Minggu di Amerika sungguh aku selalu merindukan kehangatanmu” ucapnya manja.
Tangannya dengan bebas menyentuh dada Zayn.
Aku menahan napas.
Menunggu… berharap… Zayn akan menolak.
Tapi tidak.
Dia justru tersenyum.
Senyum yang… tidak pernah dia berikan padaku.
“Untukmu, aku selalu begitu,dan kamu tahu aku juga sangat sangat merindukan mu” jawabnya pelan.
Kalimat itu menghantamku tanpa ampun.
Seolah jantungku diremas kuat.
Kakiku melemah.
Aku mendekat.
Pelan
Ia langsung memeluk Zayn erat… seolah tak ingin melepaskannya.
Dan lagi lagi Zayn…
tidak menolak.
Tanganku gemetar.
Aku mematung di tempatku.
“boleh kita main sekarang ya sayang karena aku begitu merindukanmu” bisik wanita itu, suaranya penuh rindu.
“Sangat… sangat rindu”
Zayn diam.
Tapi tangannya… perlahan membalas pelukan itu.
Hancur.
Seketika itu juga, sesuatu di dalam dadaku runtuh.
Wanita itu menarik wajah Zayn.
Menatapnya dalam.
Dan tanpa ragu—
Ia mencium bibirnya.
Di depan mataku.
Tanpa jarak.
Tanpa rasa bersalah.
Aku tidak bisa bernapas.
Tubuhku kaku.
Mataku panas… tapi aku bahkan tidak bisa menangis.
Aku hanya… melihat.
Melihat suamiku…
mencium wanita lain.
“Zayn… aku takut kamu berubah,” bisik wanita itu pelan.
Zayn menggeleng.
“Aku tidak akan pernah berubah.”
Suara itu.
Begitu lembut.
Begitu berbeda dari saat ia berbicara denganku.
“Selena…”
Nama itu keluar dari bibirnya.
Pelan. Penuh rasa.
Dan di saat itu…
aku tahu.
Wanita ini—
adalah segalanya baginya
Tanganku tanpa sadar mencengkeram ujung bajuku sendiri. Aku ingin pergi. Sangat ingin. Tapi kakiku terasa membeku.
Aku tidak bisa bergerak.
Sampai akhirnya—
Tatapan Zayn beralih.
Dan menemukan aku.
Seketika senyumnya hilang.
Digantikan wajah dingin yang sangat familiar bagiku.
Seolah pria yang tadi tertawa itu… bukan dia.
“Kenapa berdiri di situ?” suaranya datar.
Aku menelan ludah, memaksa diriku tetap tenang.
“Aku… hanya ingin lewat.”
Wanita itu menoleh ke arahku. Tatapannya menelusuri tubuhku dari atas sampai bawah.
Aku merasa… kecil.
“Oh… ini istrimu?” tanyanya ringan.
Istrimu.
Seharusnya kata itu terasa hangat.
Tapi tidak bagiku.
Zayn tidak langsung menjawab.
Dan diamnya… jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata apa pun.
“Ya,” akhirnya dia berkata singkat.
Hanya satu kata.
Tanpa makna.
Tanpa rasa.
Wanita itu tersenyum tipis, lalu mendekatiku. Tatapannya seperti sedang menilai.
“Cantik… tapi sederhana,” gumamnya.
Aku tahu… itu bukan pujian.
Aku menunduk.
Aku sadar siapa diriku di sini.
Hanya istri karena terpaksa.
Hanya… pengganti.
“Apa Zayn sering cerita tentangku istri pertamanya ?” tanyanya lagi.
Aku mengangkat wajahku perlahan.
Menatap Zayn.
Berharap… hanya sedikit saja… dia akan membelaku.
Tapi tidak ada apa-apa di matanya.
Hanya dingin.
“Tidak,” jawabku pelan.
Jujur.
Wanita itu tertawa kecil.
“Wajar. Aku memang bukan untuk diceritakan… aku untuk dirindukan.”
Aku terpaku.
Kalimat itu… menghancurkanku.
Aku tidak sanggup lagi berdiri di sana.
“Permisi,” ucapku cepat.
Aku berbalik.
Melangkah pergi sebelum air mataku jatuh di depan mereka.
Namun—
“Aluna.”
Aku berhenti.
Hatiku… bodoh sekali… masih berharap.
Aku menoleh.
“Iya?”
Zayn menatapku datar.
“Buatkan kopi.”
Aku tersenyum tipis.
Lucu sekali.
Aku kira… dia akan mengatakan sesuatu yang lain.
Ternyata aku hanya terlalu berharap.
“Baik,” jawabku pelan.
Aku berjalan ke dapur.
Langkahku tetap tenang.
Seolah aku baik-baik saja.
Tapi begitu sampai di sana—
Air mataku jatuh.
Tanpa suara.
Tanpa isakan.
Hanya luka… yang diam.
Sementara di ruang tamu, suara mereka masih terdengar samar.
“Dia cantik Zayn ,apa kamu tergoda.”
Aku terdiam.
Tanganku berhenti di atas meja.
“Tidak,Dia bukan siapa-siapa,” jawab Zayn dingin.
Aku tersenyum pahit.
Benar.
Aku memang bukan siapa-siapa
Aku mundur satu langkah.
Lalu satu lagi.
Nafasku mulai tidak teratur.
Dadaku terasa sesak… seperti diremas tanpa ampun..
Jadi ini kenyataannya…
Aku bukan siapa-siapa di sini.
Aku hanya… bayangan.
Pengganti sementara.
Atau mungkin…
tidak lebih dari alat yang bisa digantikan kapan saja.
Langkahku goyah saat kembali ke kamar,dan aku tidak peduli apa yang di perintahkan Zayn tadi minta di buatkan kopi,
Aku menutup pintu perlahan.
Bersandar di baliknya.
Dan akhirnya—
air mataku jatuh lagi.
Lebih deras dari sebelumnya.
Lebih sakit dari sebelumnya.
“Aku ini apa,kenapa aku mau dan terjebak di sini?” bisikku lirih.
Tidak ada jawaban.
Tidak akan pernah ada.
Dan di malam itu…
aku menyaksikan sendiri—
bahwa hatinya bukan milikku.
Dan mungkin…
tidak akan pernah menjadi milikku.