NovelToon NovelToon
Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Status: tamat
Genre:Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Vi nhnựg nười Nĩóđs

Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.

Ia bernapas.

Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.

Di dunia manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: HUKUM YANG DILANGGAR

Suasana di Aula Cahaya berubah drastis. Aroma damai dan kebijaksanaan yang biasanya menguar di udara kini lenyap, digantikan oleh ketegangan yang begitu padat hingga rasanya bisa dipotong dengan pisau. Setiap pasang mata terkunci pada sosok Nyxarion, menanti penjelasan, menanti pembelaan, atau mungkin… menanti pengakuan dosa.

Altharion melangkah maju selangkah. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak dari dirinya, namun tekanan yang dipancarkannya jauh lebih menakutkan. Suaranya rendah, bergetar dengan otoritas tertinggi, berat seperti gravitasi yang menekan seluruh ruangan.

“Apa yang telah kau lakukan?” tanyanya.

Setiap kata terucap lambat, menekan, menuntut kebenaran.

Nyxarion tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan kebisuan itu berlarutan, membiarkan kecurigaan itu tumbuh subur di benak mereka semua. Akhirnya, sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sulit diterjemahkan—bukan senyuman jahat, melainkan senyuman seseorang yang melihat hal-hal yang berada di luar jangkauan pemahaman orang lain.

“Aku hanya menjalankan peranku,” jawabnya tenang. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah apa yang ia lakukan hanyalah rutinitas biasa.

“Dengan menghentikan aliran jiwa?”

Suara itu meledak seperti petir. Kaelthar. Sang jenderal perang tidak bisa lagi menahan amarahnya. Tangan besarnya mencengkeram gagang tombak yang terhunus di samping tubuhnya, logam dingin itu berdecit pelan seakan ikut merasakan kemarahan tuannya. Mata biru gelapnya menyala tajam, penuh dengan api kemarahan dan kekecewaan.

Nyxarion menoleh perlahan ke arah Kaelthar, tatapannya dingin tak berperasaan.

“Dengan mempercepat akhir,” balasnya singkat namun tegas.

“Tidak ada yang berhak mengubah keseimbangan!”

Elyndra melangkah maju, menempatkan dirinya di antara kedua sosok itu. Wajahnya yang biasanya lembut dan penuh kasih kini dipenuhi dengan ketegasan yang jarang terlihat. Aura hangatnya berubah menjadi tajam, melindungi apa yang ia percaya sebagai kebenaran.

“Keseimbangan adalah hukum mutlak! Kita diciptakan untuk menjaganya, bukan memainkannya sesuai keinginan sendiri!” serunya.

Nyxarion menggeleng pelan, seolah merasa kasihan pada kebodohan yang ia lihat di hadapannya.

“Justru kalian yang melanggarnya,” bantahnya tegas. Suaranya meninggi sedikit, memotong argumen Elyndra dengan mudah. “Kalian terlalu lama mempertahankan kehidupan. Kalian memanjakan keberadaan, kalian menahan roda waktu agar tidak berputar ke tahap selanjutnya. Kalian takut pada kehancuran.”

Seketika, suhu di seluruh aula turun drastis. Embun-embun es tipis mulai muncul di pinggiran lantai kristal. Kata-kata itu bukan sekadar perdebatan ideologis; itu adalah tuduhan berat terhadap fondasi keberadaan mereka semua.

“Kehancuran adalah bagian dari siklus,” lanjut Nyxarion, suaranya bergema penuh keyakinan. Ia mulai berjalan perlahan, melangkah membelah barisan para Seraph, membuat mereka secara naluriah memberi jalan, bukan karena hormat, tapi karena merasa terintimidasi oleh aura gelap yang mengelilinginya.

“Segala yang lahir pasti mati. Segala yang dibangun pasti runtuh. Itu adalah hukum tertinggi. Namun kalian… kalian memperlambatnya. Kalian menciptakan stagnasi. Kalian membuat dunia ini menjadi busuk karena terlalu lama bertahan pada bentuk yang sudah seharusnya berlalu.”

Ia berhenti tepat di tengah ruangan, memutar tubuhnya menghadap mereka semua, menatap satu per satu dengan tatapan hakim yang tak kenal ampun.

“Aku hanya mengembalikan hukum itu ke jalurnya. Aku membersihkan apa yang sudah usang agar yang baru bisa tumbuh.”

“Dengan membuka jalan bagi Nihilum?”

Suara Seraphel memecahkan argumen itu. Penjaga waktu itu berdiri tegak, roda-roda di tongkatnya berputar kencang, menciptakan angin putar kecil di sekitarnya. Wajahnya keriput oleh serius dan ketakutan. “Kau tahu apa yang akan terjadi jika makhluk itu bebas! Ia tidak akan menciptakan yang baru, ia akan menghapus segalanya!”

Nyxarion tersenyum lagi, kali ini senyuman itu terlihat lebih luas, lebih misterius.

“Dengan menciptakan evolusi,” jawabnya santai.

“Evolusi?” tanya Altharion mendesak. “Menghancurkan segalanya bukanlah evolusi, Nyxarion! Itu adalah pembantaian!”

“Bagaimana kalian bisa berharap mencapai tingkat eksistensi yang lebih tinggi jika kalian terus bergelut pada hal-hal remeh seperti kehidupan dan kematian fisik?” balas Nyxarion tak kalah cepat. “Nihilum bukanlah musuh. Ia adalah api penyucian. Mereka yang kuat akan bertahan dan berubah menjadi sesuatu yang abadi, melampaui batas-batas lemah yang kalian buat selama ini. Mereka yang lemah… pantas untuk lenyap.”

“Gila!” seru Kaelthar tak kuasa menahan diri lagi. “Kau telah tergelincir ke dalam kegelapan, saudaraku! Kau bukan lagi penjaga akhir, kau telah menjadi budak dari kehancuran!”

“Panggil aku apa pun yang kau mau,” Nyxarion mengangkat bahu acuh tak acuh. “Fakta tetaplah fakta. Celah telah terbuka. Aliran telah diubah. Dan tidak ada yang bisa menghentikan apa yang sudah mulai bergerak.”

Ia melangkah mundur, bayangannya memanjang dan membesar di dinding aula, seolah menyatu dengan kegelapan itu sendiri.

“Kalian menyebut ini pelanggaran hukum?” bisiknya, matanya kini bersinar dengan cahaya ungu yang aneh dan menakutkan. “Aku menyebutnya… reformasi.”

Udara di sekitarnya berputar kencang. Energi gelap mulai memancar keluar dari pori-pori tubuhnya, menciptakan distorsi visual di udara, seolah ruang di sekitarnya sedang meleleh dan terdistorsi.

“Persiapkan diri kalian, para Penguasa Langit,” ucapnya dengan nada peringatan yang dingin. “Dunia yang kalian kenal… sudah berakhir.”

Debat telah usai. Tidak ada lagi ruang untuk negosiasi. Pemisahan telah terjadi. Satu sisi memegang teguh keseimbangan dan perlindungan, sisi lainnya memuja perubahan melalui kehancuran.

Dan di tengah aula yang megah itu, perang saudara yang menentukan nasib seluruh alam semesta, baru saja dinyatakan dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!