NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: JEJAK YANG TERSAMAR

Pagi itu, suasana di rumah besar itu terasa sedikit lebih tenang, namun itu adalah ketenangan yang menipu—seperti permukaan laut yang diam sebelum badai besar datang menghantam. Baskara sudah berangkat ke kantor sejak subuh karena ada rapat penting, sementara Ibu Rahayu masih beristirahat di kamarnya setelah merasa jauh lebih segar berkat pijatan Gendis semalam.

Gendis berdiri di depan pintu ruang kerja pribadi Baskara. Pintu kayu jati yang berat itu terkunci rapat, namun Gendis tahu di mana pria itu menyimpan kunci cadangannya. Selama beberapa minggu terakhir, ia telah mempelajari setiap gerak-gerik Baskara, setiap kebiasaan kecilnya, hingga letak benda-bener terkecil di rumah ini.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Gendis mengambil kunci dari balik bingkai foto besar di lorong, lalu memutar lubang kunci dengan perlahan. Klik.

Ruang kerja itu beraroma maskulin—campuran antara tembakau mahal, kertas tua, dan parfum kayu cendana. Gendis melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya tanpa menimbulkan suara. Matanya langsung tertuju pada meja kerja besar yang penuh dengan tumpukan dokumen.

"Ayah... ini adalah tempat di mana mereka merancang kehancuran kita," bisik Gendis pada dirinya sendiri.

Tangannya yang gemetar mulai membolak-balik berkas-berkas itu. Ia tidak mencari uang, ia mencari informasi. Ia mencari bukti hubungan antara perusahaan Baskara dengan perusahaan lama milik ayahnya yang dulu bangkrut. Ia tahu, ada dokumen rahasia yang sengaja disembunyikan agar kasus sepuluh tahun lalu tidak pernah dibuka kembali.

Saat jemarinya menelusuri map berwarna biru tua, ia menemukan sebuah foto lama yang terselip di antara tumpukan surat kontrak. Foto itu menunjukkan Baskara muda, Maya yang masih remaja, dan seorang pria paruh baya yang sangat ia kenal: Ayah Maya, Tuan Pratama. Mereka semua tersenyum lebar ke arah kamera, berdiri di depan gedung kantor yang dulu adalah milik ayah Gendis.

Gendis mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Rasa sakit itu kembali datang, menghantam dadanya seperti palu godam. Senyum di foto itu terasa seperti ejekan baginya. Mereka merayakan kesuksesan di atas air mata dan darah keluarganya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di lorong. Gendis tersentak. Itu bukan langkah kaki pelayan yang santai, melainkan langkah kaki yang cepat dan tegas.

Maya.

Gendis dengan cepat mengembalikan map itu ke tempat semula, mengunci pintu dari dalam, dan bersembunyi di balik tirai beludru yang tebal yang menutupi jendela besar. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.

Ceklek. Gagang pintu ditekan dari luar. Maya mencoba membuka pintu ruang kerja suaminya.

"Lho, kok dikunci? Biasanya Baskara tidak pernah mengunci ruangannya kalau dia hanya pergi ke kantor sebentar," gumam Maya dari balik pintu.

Gendis menahan napas, tidak berani bergerak sedikit pun. Ia bisa mendengar Maya menggerutu, lalu suara langkah kakinya menjauh. Gendis menghela napas lega, namun ia tahu ia harus segera keluar dari sana sebelum ada orang lain yang datang.

Namun, apa yang tidak diketahui Gendis adalah bahwa Maya tidak benar-benar pergi. Maya berhenti di ujung lorong, matanya menyipit penuh kecurigaan. Ia melihat kunci cadangan di balik bingkai foto sudah tidak berada di posisi yang seharusnya.

"Ada yang tidak beres," desis Maya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo, sampaikan pada detektif swasta itu. Aku ingin hasil penyelidikannya tentang Gendis dipercepat. Cari tahu siapa orang tuanya, di mana dia tinggal sebelum ini, dan apakah dia punya hubungan dengan masa lalu keluarga kami. Aku tidak percaya ada wanita yang 'terlalu sempurna' muncul entah dari mana."

Sementara itu, di dalam ruang kerja, Gendis berhasil keluar lewat jendela yang terhubung langsung ke balkon samping. Ia melompat turun ke taman dengan lincah, lalu segera merapikan pakaiannya. Ia kembali menjadi Gendis yang manis saat berpapasan dengan Bi Sumi di dapur.

"Eh, Non Gendis... dari mana? Tadi Nyonya Maya mencari Non," ucap Bi Sumi dengan wajah cemas.

Gendis tersenyum sangat manis, seolah tidak ada beban. "Tadi saya cuma jalan-jalan di taman belakang, Bi. Udaranya segar sekali. Mbak Maya mencari saya? Di mana beliau sekarang?"

"Di ruang makan, Non. Sepertinya mood-nya sedang buruk sekali."

Gendis mengangguk. "Terima kasih, Bi. Saya akan menemuinya."

Gendis melangkah ke ruang makan dengan kepasrahan yang dibuat-buat. Di sana, Maya sedang duduk sambil menyesap teh dengan wajah yang sangat tegang. Begitu melihat Gendis, Maya meletakkan cangkirnya dengan kasar hingga isinya sedikit tumpah.

"Gendis, duduk. Aku ingin bicara," perintah Maya tanpa basa-basi.

Gendis duduk di hadapan Maya, menunduk dengan sopan. "Iya, Mbak Maya. Ada apa?"

Maya menatap Gendis dengan tajam, mencoba mencari setitik kebohongan di mata bening wanita itu. "Kamu bilang orang tuamu sudah meninggal. Siapa nama ayahmu?"

Pertanyaan itu datang seperti petir di siang bolong. Gendis sudah menduga hal ini akan terjadi, namun ia tidak menyangka akan secepat ini. Ia telah menyiapkan identitas palsu, namun ia harus memainkannya dengan sangat hati-hati.

"Nama ayah saya... Budiman, Mbak. Beliau hanya seorang guru honorer di desa kecil," ucap Gendis dengan suara yang sedikit bergetar, memberikan kesan sedih yang mendalam.

"Guru honorer?" Maya mencibir. "Lalu kenapa kamu bisa punya tata krama seperti orang terdidik? Kenapa kamu tahu banyak tentang teh mahal dan cara melayani mertuaku yang cerewet itu?"

Gendis mendongak, matanya berkaca-kaca. "Ibu saya dulu pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga kaya, Mbak. Beliau yang mengajari saya segalanya. Beliau ingin saya punya nasib yang lebih baik dari beliau, agar saya tidak dipandang rendah oleh orang lain."

Maya terdiam sejenak. Alasan itu masuk akal, namun instingnya tetap berkata lain. "Begitu ya? Baiklah. Tapi ingat satu hal, Gendis. Baskara mungkin mencintaimu karena wajah kasihanmu itu, tapi aku tidak akan pernah tertipu. Jika aku menemukan satu saja kebohongan darimu... aku akan memastikan kamu keluar dari rumah ini tanpa membawa apa pun, bahkan pakaian yang kamu pakai sekarang."

Gendis tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru berdiri, mendekati Maya, dan tiba-tiba bersujud di dekat kaki Maya.

"Mbak Maya... tolong jangan benci saya," isak Gendis sambil memegang ujung daster Maya. "Saya tidak ingin merebut apa pun. Saya hanya ingin punya keluarga. Jika Mbak ingin saya menjadi pelayan di sini, saya bersedia. Asalkan Mbak mengizinkan saya tetap di sisi Mas Baskara."

Maya tersentak. Ia tidak menyangka Gendis akan melakukan tindakan seekstrem itu. Ia merasa menang, namun di saat yang sama, ia merasa jijik. "Lepaskan! Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang kotor itu!"

Maya menendang pelan kaki Gendis agar menjauh, lalu pergi meninggalkan ruang makan dengan perasaan puas. Baginya, melihat Gendis bersujud adalah bukti bahwa wanita itu memang hanya "sampah" yang rendah.

Namun, begitu Maya hilang dari pandangan, Gendis bangkit berdiri dengan tenang. Ia membersihkan lututnya dari debu. Tidak ada lagi tangisan di wajahnya. Yang ada hanyalah tatapan dingin yang mematikan.

"Sujud ini adalah penghormatan terakhirku untukmu, Maya," gumam Gendis. "Karena sebentar lagi, kamu yang akan bersujud di kakiku, memohon agar aku tidak mengambil sisa hidupmu."

Malam harinya, Baskara pulang dengan membawa kabar gembira. "Gendis, Maya, Ibu... minggu depan perusahaan akan mengadakan ulang tahun yang ke-20. Aku ingin kalian semua hadir. Ini adalah acara besar, dan aku ingin memperkenalkan Gendis secara resmi sebagai bagian dari keluarga kita kepada kolega bisnisku."

Wajah Maya seketika berubah menjadi pucat pasi. "Mas! Kamu gila? Memperkenalkan istri siri di acara resmi? Apa kata orang nanti? Apa kata Papa?"

Baskara menatap Maya dengan tegas, sebuah tatapan yang jarang ia tunjukkan. "Maya, Gendis adalah istriku. Dia sudah sangat baik menjaga Ibu, dan dia berhak mendapatkan pengakuan. Papa juga harus tahu bahwa aku bahagia dengan pilihanku."

Gendis menyentuh lengan Baskara, seolah ingin menenangkannya. "Mas... kalau Mbak Maya keberatan, aku tidak apa-apa tidak ikut. Aku tidak ingin memalukanmu."

"Tidak, Gendis. Kamu harus ikut," Baskara menggenggam tangan Gendis erat. "Aku sudah menyiapkan gaun tercantik untukmu."

Ibu Rahayu yang duduk di pojok ruangan mengangguk setuju. "Ibu juga akan ikut. Ibu ingin menunjukkan pada semua orang bahwa menantu Ibu bukan cuma satu yang sukanya belanja, tapi ada satu lagi yang berhati emas."

Maya merasa dunianya benar-benar runtuh. Pesta ulang tahun perusahaan itu adalah panggungnya selama bertahun-tahun. Kini, panggung itu akan dicuri oleh Gendis.

Di dalam kamar, Gendis tersenyum menatap langit-langit. Pesta perusahaan itu akan menjadi tempat yang sempurna. Di sana, ia tidak hanya akan diperkenalkan sebagai istri kedua, tapi ia akan mulai mencari cara untuk bertemu dengan relasi lama ayahnya yang mungkin masih menyimpan rahasia tentang pengkhianatan keluarga Maya.

"Siasat manis ini akan segera berubah menjadi pahit bagi kalian semua," bisik Gendis sebelum mematikan lampu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!