NovelToon NovelToon
Amore, Indigo, & Vendetta

Amore, Indigo, & Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Mata Batin
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
​Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musuh Lama Muncul Kembali

Keheningan di mansion Vittorio setelah terungkapnya rahasia besar nama Gendis ternyata hanyalah sebuah ketenangan semu sebelum badai yang lebih besar datang menerjang. Di dunia mafia, dendam bukanlah sesuatu yang bisa mati; ia hanyalah benih yang terkubur jauh di dalam tanah, menunggu tetesan darah yang tepat untuk tumbuh kembali menjadi monster yang lebih mengerikan.

​Pagi itu, suasana di meja makan terasa sedikit lebih santai. Gendis sedang mencoba meyakinkan Kaivan bahwa sarapan dengan nasi goreng sosis adalah kunci utama untuk menjaga stabilitas emosi seorang Don. Kaivan, yang biasanya hanya menyentuh croissant dan kopi pahit, kini tampak pasrah menyuap nasi goreng buatan Gendis meskipun keringat mulai bercucuran di pelipisnya karena rasa pedas yang "tidak manusiawi".

​"Gendis, ini bukan sarapan. Ini upaya pembunuhan berencana melalui jalur pencernaan," keluh Kaivan sambil meneguk segelas air dingin.

​"Ah, Kakak lebay. Ini namanya penguatan lambung, Kak! Biar kalau ada musuh kasih racun, lambung Kakak sudah terlatih sama cabe rawit saya," balas Gendis sambil tertawa renyah.

​Namun, tawa itu mendadak terhenti. Gendis menjatuhkan sendoknya. Wajahnya yang ceria berubah menjadi pucat pasi dalam hitungan detik. Ia memegang dadanya, napasnya tersengal-sengal seolah-olah ada beban berat yang tiba-tiba menindih paru-parunya.

​"Gendis? Ada apa?!" Kaivan langsung siaga, ia berdiri dan mendekat ke arah Gendis.

​"Kak... baunya..." Gendis menutup hidungnya. "Baunya bukan lagi belerang atau mawar busuk. Ini bau... minyak kayu putih dan melati kering yang sudah lama terkubur di bawah tanah lembap. Dan ada suara... suara rantai yang ditarik di atas lantai marmer."

Belum sempat Kaivan menjawab, pintu ruang makan terbuka dengan kasar. Marco masuk dengan wajah yang sangat tegang. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu hitam yang tampak sangat kontras dengan suasana pagi yang cerah.

​"Tuan, ada kiriman di depan gerbang. Tidak ada pengirimnya, tapi sidik jarinya... sistem kita baru saja mengidentifikasinya sebagai milik seseorang yang seharusnya sudah kita eksekusi tiga tahun lalu di pelabuhan Marsala," lapor Marco dengan suara rendah.

​Kaivan mengambil kotak itu. Begitu dibuka, isinya membuat jantung Kaivan seolah berhenti berdetak. Di dalam kotak itu terdapat sebuah sapu tangan sutra berwarna hijau tua dengan inisial 'A.M.'—Antonio Moretti.

​"Mustahil," desis Kaivan. "Aku sendiri yang melihat mobilnya terjun ke jurang dan meledak. Tidak ada yang bisa selamat dari sana."

​"Kak, dia nggak selamat sebagai manusia utuh," sela Gendis, suaranya bergetar. "Dia kembali dengan 'bantuan'. Saya bisa ngerasain auranya di sapu tangan itu. Itu aura hitam yang sudah dicampur dengan ilmu hitam dari tanah seberang. Dia sudah menjual jiwanya untuk kembali, Kak."

Malam itu, keamanan mansion ditingkatkan menjadi level tertinggi. Lampu-lampu sorot di sekeliling dinding luar dinyalakan, dan tim pengintai termal bekerja tanpa henti. Namun, Gendis tahu bahwa teknologi manusia tidak akan bisa menangkap apa yang sedang mendekat.

​Ia berdiri di tengah aula besar, memegang dupa cendana yang terus mengepulkan asap. Di mata indigonya, mansion itu tidak lagi kosong. Di sudut-sudut langit-langit, mulai muncul bercak-bercak hitam yang menyerupai tangan-tangan kurus yang mencoba menggapai ke bawah.

​"Antonio Moretti... atau apa pun kau sekarang," bisik Gendis. "Keluar kau! Jangan jadi pengecut yang cuma bersembunyi di balik bayangan!"

​Tiba-tiba, suara tawa serak menggema di seluruh aula. Bukan dari satu arah, tapi seolah-olah keluar dari dinding-dinding itu sendiri.

​"Vittorio... kau pikir kematian adalah akhir? Bagiku, kematian adalah tempat aku belajar cara untuk menghancurkanmu dari dalam," suara itu terdengar dingin dan penuh kebencian.

​Sesosok manifestasi energi mulai terbentuk di depan Gendis. Ia tampak seperti Antonio Moretti, namun wajahnya setengah hancur dengan bekas luka bakar yang mengeluarkan asap hitam permanen. Matanya tidak lagi memiliki pupil, hanya ada kekosongan merah yang menyala.

Kaivan muncul dengan senjata di tangan, namun Gendis segera merentangkan tangannya menghalangi Kaivan.

​"Jangan maju, Kak! Peluru nggak akan mempan! Dia bukan lagi daging dan darah!" teriak Gendis.

​Kaivan tertegun melihat sosok yang dulu ia musnahkan kini berdiri di hadapannya sebagai monster gaib. "Moretti... kau benar-benar menjadi iblis demi balas dendam ini?"

​"Aku menjadi apa pun yang diperlukan untuk melihat kerajaannmu runtuh, Kaivan! Dan aku akan mulai dengan mengambil 'jimat' kesayanganmu ini!" sosok Moretti melesat ke arah Gendis dengan kuku-kuku hitam yang tajam.

​Gendis tidak gentar. Ia menghentakkan kakinya ke lantai, dan seketika aura emas dari nama Gendis Ratu Segoro Sari meledak keluar. Ia menggunakan tasbih kayu tua milik ibu Kaivan sebagai cambuk energi.

​CRAAAK!

​Setiap kali tasbih itu mengenai sosok Moretti, muncul percikan api biru yang menyakitkan. Moretti menjerit murka, suaranya membuat kaca-kaca jendela di aula retak.

​"Kak Kaivan! Ambil keris di perpustakaan! Hanya logam yang sudah disucikan dengan darah klan yang bisa melukainya secara fisik!" perintah Gendis sambil terus menahan serangan Moretti.

​Kaivan segera berlari secepat kilat. Ia tahu Gendis sedang berjuang sekuat tenaga untuk menahan serangan yang bisa menghancurkan jiwanya.

Sambil bertarung, Gendis menyadari sesuatu yang aneh. Moretti tampak sangat kuat, jauh lebih kuat dari hantu-hantu yang pernah ia hadapi sebelumnya. Ada aliran energi hitam yang terus mengalir dari luar mansion menuju ke arah Moretti.

​"Dia nggak sendirian, Kak!" teriak Gendis saat Kaivan kembali dengan membawa keris pusaka yang tadi sempat digunakan untuk ritual penyatuan darah mereka. "Ada seseorang di luar sana yang jadi 'jangkar' buat dia! Seseorang yang masih hidup!"

​"Siapa?!" tanya Kaivan sambil mengayunkan keris itu ke arah bayangan Moretti yang mencoba mencengkeram Gendis.

​Gendis memejamkan mata sesaat, melakukan pemindaian energi jarak jauh. "Di gedung tua di seberang bukit... ada seorang dukun... bukan, itu seorang praktisi occult Barat! Dia yang memanggil Moretti kembali!"

​Kaivan menoleh ke arah Marco melalui interkom di telinganya. "Marco! Tim B, serbu gedung tua di bukit timur! Cari siapa pun yang ada di sana, hidup atau mati! Hancurkan semua peralatan ritualnya!"

Dengan instruksi Kaivan, tim pengawal segera bergerak. Di dalam aula, pertarungan semakin sengit. Moretti yang mulai terdesak oleh kekuatan Gendis dan keris di tangan Kaivan mulai mengamuk. Ia menciptakan pusaran angin hitam yang menerbangkan perabotan di ruangan itu.

​"Vittorio! Kau akan mati bersamaku!" raung Moretti.

​Gendis merasa energinya mulai terkuras. Namun, ia teringat janjinya pada Kaivan. Ia memegang tangan Kaivan yang memegang keris, menggabungkan energi indigo-nya dengan kekuatan fisik sang Don.

​"Sekarang, Kak! Tusuk tepat di dadanya, di mana jantungnya dulu berada!"

​Kaivan menerjang maju. Dengan teriakan kemarahan yang sudah terpendam selama bertahun-tahun, ia menghujamkan keris itu tepat ke tengah bayangan hitam Moretti.

​BOOOOOM!

​Sebuah ledakan cahaya perak dan hitam terjadi. Di saat yang bersamaan, di kejauhan terdengar suara ledakan kecil dari arah bukit—menandakan tim Marco telah berhasil menghancurkan ritual sang "jangkar".

​Sosok Moretti perlahan-lahan hancur menjadi debu hitam yang tertiup angin. Matanya yang merah menatap Kaivan dengan kebencian terakhir sebelum akhirnya hilang sepenuhnya ke dalam kegelapan.

Setelah suasana kembali tenang, Gendis jatuh terduduk di lantai, napasnya memburu. Kaivan segera menjatuhkan kerisnya dan memeluk Gendis erat. Tubuh Gendis sangat dingin, dan ada bekas luka goresan hitam di lengannya.

​"Gendis! Kau terluka!" Kaivan panik, ia merobek lengan kemejanya untuk membalut luka Gendis.

​"Nggak apa-apa, Kak... cuma goresan energi negatif. Nanti juga hilang kalau dikasih kunyit," bisik Gendis sambil tersenyum lemah. "Yang penting dia sudah benar-benar pergi. Kali ini, pintunya sudah terkunci rapat."

​Kaivan menatap sekeliling aula yang hancur berantakan. Musuh lamanya telah kembali dan akhirnya benar-benar musnah, namun ia menyadari bahwa ancaman terhadap hidupnya tidak akan pernah berhenti selama ia memegang tahta klan Vittorio.

​"Aku akan mencarinya, Gendis," ucap Kaivan dengan nada dingin yang mematikan. "Siapa pun yang membantu Moretti kembali, siapa pun 'jangkar' itu... aku akan memastikan mereka menyesal karena telah mengusikmu."

Keesokan harinya, Marco melaporkan bahwa mereka menemukan seorang pria di gedung tua tersebut—seorang mantan anggota klan Moretti yang ternyata telah mempelajari ilmu hitam selama pelariannya di Amerika Selatan. Pria itu sudah tidak bernyawa, tewas karena backlash energi saat ritualnya dihancurkan paksa.

​Kaivan duduk di samping tempat tidur Gendis, menatap tunangannya yang sedang beristirahat. Ia menyadari bahwa perlindungannya harus mencakup lebih dari sekadar peluru dan dinding beton.

​"Kak," panggil Gendis pelan, ia sudah tampak lebih segar.

​"Ya, Gendis?"

​"Moretti bilang satu hal sebelum dia hilang tadi. Dia bilang... 'Singa bersayap belum benar-benar patah sayapnya'. Kakak harus hati-hati. Sepertinya pengkhianatan Paman Bruno itu cuma sebagian kecil dari organisasi yang lebih besar."

​Kaivan mengangguk, rahangnya mengeras. "Aku tahu. Garda Tua mungkin masih memiliki sisa-sisa anggota yang bersembunyi. Tapi kali ini, aku tidak akan menunggu mereka menyerang. Aku yang akan mencari mereka."

​Gendis menggenggam tangan Kaivan. "Jangan sendirian ya, Kak. Ingat, kita ini satu paket. Kakak ototnya, saya radarnya. Kalau salah satu nggak ada, kita pincang."

​Kaivan tersenyum, ia mencium tangan Gendis dengan penuh pengabdian. "Tidak akan pernah sendirian, Gadis Semprul. Tidak akan pernah."

​Babak baru telah dimulai. Munculnya musuh lama memberikan peringatan keras bahwa masa lalu Kaivan Vittorio masih menyimpan banyak duri. Namun, dengan Gendis di sampingnya—sang Ratu yang kini telah memiliki "darah mafia"—Kaivan tidak lagi takut pada bayangan mana pun. Karena di dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun, ia kini memiliki cahaya yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh sihir atau dendam paling hitam sekalipun.

​"Gendis?"

​"Ya, Kak?"

​"Besok-besok kalau mau sarapan nasi goreng, cabenya dikurangin ya. Aku rasa Moretti tadi kalah karena dia nggak tahan sama bau cabe rawit di napasku," canda Kaivan.

​Tawa Gendis kembali memenuhi kamar, membawa kehangatan yang mengusir sisa-sisa dingin dari pertempuran semalam. Dunia luar mungkin masih berbahaya, tapi di dalam mansion itu, cinta mereka telah menjadi benteng yang paling kokoh dari segalanya.

1
paijo londo
enak kali yah honeymoon di gurun pasir kan g ada hantunya 🤣🤣🤣 panas...panasss
paijo londo
keeereeen 👍👍
paijo londo
ya ampun thor ngakak sumpah🤣🤣
paijo londo
aduh 🤦🤦 ceritanya kocak banget 🤣🤣
paijo londo
🤣🤣🤣🤣dasar gendis semprul
paijo londo
thor mampir 🤭
Julia thaleb
lanjut Thor.
aku like banget
Julia thaleb
Thor..
seribu jempol
aku like...
Queen mafia: makasih beb
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!