Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
***
Siang itu, matahari Desa Sukamaju terasa menyengat, namun di dalam rumah pribadi milik kepala desa, suasana terasa sunyi dan sejuk. Bagas terpaksa harus berangkat ke Balai Desa karena ada urusan mendesak terkait kunjungan pejabat kabupaten yang tidak bisa diwakilkan. Dengan berat hati dan kecemasan yang meluap, ia berpamitan setelah memastikan Bidan Siti akan mampir satu jam lagi untuk mengecek kondisi Laras.
"Mas pergi sebentar ya, Ras. Ponsel Mas taruh di saku, kalau ada apa-apa, sekecil apa pun, langsung telepon. Mas akan langsung lari pulang," ucap Bagas sambil mencium kening Laras berulang kali.
Laras mencoba tersenyum, meski peluh dingin sudah mulai menghiasi pelipisnya. "Iya, Mas. Jangan khawatir. Laras bisa jaga diri sama anak-anak."
Setelah Bagas pergi, Laras perlahan turun dari ranjang. Rasa sakit di punggung bawahnya kini mulai merambat ke perut depan setiap lima belas menit sekali. Namun, ia melihat Gilang dan Arka yang tampak bosan di depan televisi. Sebagai seorang ibu, nalurinya mengalahkan rasa sakitnya sendiri. Ia tidak ingin anak-anaknya ketakutan melihat ibunya merintih.
Laras menyeret langkahnya menuju ruang tengah, mengambil kotak balok susun, lalu duduk di atas karpet bulu yang tebal.
"Mamas Gilang, Dek Arka... sini. Kita main susun menara, yuk?" panggil Laras dengan suara yang diusahakan tetap stabil.
"Asyik! Mamah ikut main!" seru Gilang bersemangat, disusul Arka yang langsung duduk di samping daster ibunya.
Mereka mulai menyusun balok-balok kayu itu satu per satu. Di tengah tawa Arka yang melihat menaranya runtuh, sebuah gelombang nyeri yang hebat tiba-tiba menghantam Laras. Perutnya mengeras seperti batu, rasanya seolah ada seutas tali yang ditarik kencang dari tulang ekornya.
Laras terdiam. Wajahnya memucat, tangannya refleks meremas pinggiran kursi kayu di dekatnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya agar tidak ada suara rintihan yang keluar.
Gilang, yang kini berusia empat tahun dan mulai peka terhadap suasana, menghentikan kegiatannya. Ia menatap wajah Mamahnya yang berkeringat dingin.
"Mamah... Mamah kenapa?" tanya Gilang pelan. Wajah mungilnya tampak cemas. "Mamah sakit? Kok Mamah pegang kursi kencang banget?"
Laras menarik napas panjang melalui hidung, mencoba mengatur ritme napasnya seperti yang diajarkan Bu Bidan. Setelah gelombang sakit itu lewat, ia membuka mata dan memaksakan sebuah senyuman paling manis yang ia punya.
"Enggak apa-apa, Sayang," bisik Laras sambil mengusap pipi Gilang. "Ini... adek bayi lagi sayang-sayangan sama Mamah. Dia lagi nyari jalan lahirnya soalnya."
"Adek bayi mau kelual ya, Mah?" tanya Arka polos sambil menyentuh perut besar Laras.
"Iya, Sayang. Adek bayi sudah kangen sama Mas Gilang dan Mas Arka," jawab Laras lembut.
"Kapan keluarnya, Mah? Mamas mau kasih lihat mainan mobil Mamas ke adek," tanya Gilang lagi.
"Mamah juga belum tahu kapan tepatnya. Doakan ya, semoga adek bayi segera lahir, supaya bisa cepat main sama kalian. Biar Mamah nggak sakit lagi," ucap Laras sambil mengelus rambut putra sulungnya itu.
"Mamas doakan ya, Mah. Biar adek bayi pinter, langsung keluar!" Gilang kemudian mencium perut Laras, diikuti oleh Arka.
Laras merasakan haru yang luar biasa. Rasa sakit yang tadi seolah ingin membelah tubuhnya mendadak terasa lebih ringan karena kekuatan cinta dari anak-anaknya. Ia melanjutkan bermain, meski setiap sepuluh menit ia harus berhenti sejenak, mematung menahan badai di dalam rahimnya, sambil terus menebar senyum sandiwara agar dunianya tetap tampak aman di mata anak-anaknya.
**
Bersambung
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.