"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11.
Cahaya matahari yang pucat menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari debu-debu yang beterbangan di udara kamar yang luas itu. Aku mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran. Hal pertama yang kurasakan adalah kehampaan di sisi ranjang. Darrel sudah tidak ada. Selimut di sampingku sudah dingin, menandakan dia sudah pergi sejak lama.
Aku mencoba untuk duduk, namun seketika erangan kecil lolos dari bibirku. Seluruh tubuhku terasa seperti dihantam oleh beban berton-ton. Rasa nyeri yang berdenyut di area intiku mengingatkanku secara brutal pada kejadian semalam—pada kebrutalan Darrel yang dipicu obat, dan pada pil penghambat kehamilan yang ia paksa aku telan.
"Darrel... kau benar-benar keterlaluan," bisikku parau, menatap nanar ke arah kanvas lukisanku yang masih berdiri di sudut, saksi bisu kehancuranku.
Aku mencoba menurunkan kaki ke lantai, namun rasa lemas membuat lututku gemetar hebat. Baru saja aku hendak memaksakan diri menuju kamar mandi, ketukan lembut terdengar di pintu.
"Nyonya? Ini Marta. Boleh kami masuk?"
"Masuklah," sahutku lemah, sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang hanya berbalut jubah mandi sutra yang kusut.
Pintu terbuka. Marta tidak datang sendiri. Ia membawa rombongan maid yang lebih banyak dari biasanya. Dua orang membawa baskom berisi air hangat dengan rendaman bunga-bunga yang harum, satu orang membawa baki berisi minyak pijat, dan yang lainnya membawa handuk putih yang tebal.
"Tuan Muda Darrel sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali," ucap Marta sambil mendekat, matanya menatapku dengan sorot yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan rasa hormat yang kaku. "Beliau meninggalkan instruksi khusus. Kami harus memandikan Nyonya dengan air rempah untuk meredakan nyeri, dan memberikan pijatan relaksasi agar tubuh Nyonya tidak kaku."
Aku terdiam sejenak. Rasa malu itu kembali menyerang. Pikiran bahwa mereka semua tahu apa yang terjadi di kamar ini hingga butuh perawatan khusus benar-benar menghancurkan harga diriku. Namun, melihat tubuhku yang bahkan sulit untuk berdiri, aku menyadari bahwa aku tidak bisa lagi keras kepala.
"Baiklah," ucapku pasrah, nyaris seperti bisikan. "Lakukanlah."
Marta membantu memapahku menuju kamar mandi mewah itu. Mereka membantuku melepaskan jubah mandi tanpa bicara, seolah-olah ketelanjangan dan bekas kemerahan di tubuhku adalah hal yang biasa mereka lihat. Saat tubuhku tenggelam ke dalam bak mandi berisi air hangat yang aromatik, aku mendesah lega. Rasa panasnya perlahan-lahan mengendurkan otot-ototku yang tegang.
Setelah mandi, mereka membimbingku kembali ke ranjang. Salah seorang pelayan yang memiliki tangan sangat terampil mulai mengoleskan minyak zaitun dan mulai memijat punggung serta kakiku.
"Tuan Muda sangat khawatir akan kondisi Anda, Nyonya," bisik pelayan itu sambil menekan titik-titik saraf di bahuku. "Beliau secara khusus memesan minyak ini dari apotek keluarga."
Aku hanya memejamkan mata, membiarkan sentuhan mereka bekerja. Khawatir? Aku tersenyum pahit dalam hati. Darrel bukan khawatir padaku; dia hanya tidak ingin "aset" miliknya rusak sebelum tiga puluh hari itu berakhir, atau mungkin dia merasa bersalah karena telah merenggut hak kehamilanku semalam.
"Marta," panggilku saat sesi pijat itu hampir selesai.
"Ya, Nyonya?"
"Kapan Darrel akan membawaku menjenguk Nenek? Dia berjanji padaku semalam," tanyaku, menatap Marta dengan penuh harap.
Marta menghentikan gerakannya sejenak. "Tuan Muda mengatakan akan mengatur waktunya sore ini setelah beliau kembali. Namun, Tuan Muda juga berpesan... Nyonya harus makan dengan lahap dan minum vitamin yang sudah disiapkan. Beliau tidak ingin Anda terlihat pucat saat bertemu keluarga Anda."
***
Setelah sesi pijat dan sarapan yang bergizi, kekuatan fisiku perlahan kembali. Rasa nyeri di area intiku masih ada, tapi setidaknya aku tidak lagi merasa seperti mayat hidup. Namun, seiring dengan pulihnya tenagaku, rasa bosan mulai menyerang. Tembok-tembok kamar ini seolah mulai bergerak mendekat, menghimpitku dalam kesunyian yang mewah.
"Marta," panggilku saat dia sedang merapikan botol-botol minyak pijat. "Aku tidak bisa hanya diam di sini. Bisakah kau membawaku berkeliling? Aku ingin melihat rumah... tempat aku akan tinggal ini."
Marta menghentikan kegiatannya, wajahnya tampak bimbang. "Nyonya, Tuan Muda sangat ketat soal privasi. Saya tidak berani tanpa izinnya."
"Tolonglah, Marta. Aku janji tidak akan mencoba kabur lagi. Kakiku masih sakit, kau lihat sendiri kan?" aku memohon dengan tatapan yang paling meyakinkan.
Marta menghela napas, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia melangkah menjauh sedikit, berbicara dengan suara rendah yang penuh hormat. Setelah beberapa menit yang terasa lama, dia kembali dengan ekspresi lega.
"Tuan Muda mengizinkan, Nyonya. Tapi hanya area yang saya tunjukkan. Mari, saya antar."
Mansion ini benar-benar sebuah labirin beton yang elegan. Kami melewati ruang olahraga di lantai bawah yang penuh dengan alat-alat canggih—tempat Darrel membentuk tubuh tegapnya yang semalam menghimpitku. Kemudian, Marta membawaku ke perpustakaan pribadi yang langit-langitnya sangat tinggi, dipenuhi ribuan buku yang baunya menenangkan.
Langkahku terhenti saat kami melewati sebuah pintu kayu hitam yang nampak lebih kokoh dari pintu lainnya di lantai dua. "Ini kamar Tuan Muda?" tanyaku sambil memegang gagang pintunya.
"Jangan, Nyonya!" Marta dengan cepat menahan tanganku. Wajahnya pucat pasi. "Tidak ada yang boleh masuk ke sana tanpa undangan Tuan Muda. Bahkan pelayan yang membersihkannya pun punya jadwal khusus saat beliau tidak ada. Tolong, jangan buat saya dalam masalah."
Aku menarik tanganku, rasa penasaranku mulai terusik. Kami berlanjut melewati ruang kerja Darrel yang dingin, hingga akhirnya kami sampai di depan lift berlapis krom yang menghubungkan lantai-lantai mansion. Di samping pintu lift, terdapat panel tombol. Mataku tertuju pada angka '3'.
Saat jariku baru saja hendak menyentuh tombol lantai tiga, Marta secara kasar mencekal pergelangan tanganku. Kekuatannya mengejutkanku.
"Tidak ada yang diperbolehkan ke lantai tiga, Nyonya. Siapa pun. Termasuk Anda," ucapnya dengan nada yang sangat serius, hampir seperti peringatan militer.
"Kenapa? Apa ada rahasia di sana? Apakah Darrel menyembunyikan wanita lain?" tanyaku, mencoba menyelidiki.
Marta menggeleng cepat. "Bukan itu. Lantai tiga memiliki pelayan khusus yang sudah disumpah untuk tutup mulut. Tidak ada yang boleh menceritakan apa yang ada di dalamnya. Terkadang, saya melihat tenaga medis dengan peralatan lengkap naik ke sana. Tapi selebihnya... gelap."
"Tenaga medis? Untuk apa? Apa ada orang sakit di sana?"
Marta membawaku menjauh dari lift, menuju balkon yang menghadap ke taman belakang. Dia memastikan tidak ada pengawal yang mendengar sebelum berbisik, "Nyonya mungkin belum tahu, tapi Tuan Muda Darrel dulunya adalah seorang dokter yang sangat hebat. Beliau menempuh pendidikan di luar negeri dan sangat mencintai profesinya."
Aku tertegun. Dokter? Pria kasar yang menyeret dan mengancamku semalam adalah seorang penyembuh?
"Lalu kenapa dia berhenti?"
"Kakak laki-lakinya, Tuan Muda tertua yang seharusnya memimpin klan, meninggal dalam sebuah serangan berdarah beberapa tahun lalu," cerita Marta dengan nada sedih. "Tuan Besar Erlan tidak punya pilihan lain. Beliau memaksa Tuan Darrel untuk melepaskan jas putihnya dan menggantinya dengan senjata. Beliau harus menjadi pemimpin klan Grisham untuk menjaga kehormatan keluarga."
Aku terdiam, mencerna informasi baru ini. Pantas saja Darrel begitu mahir mengobatiku, dan pantas saja dia begitu benci pada ayahnya. Erlan tidak hanya mencuri kebebasanku, dia juga telah membunuh mimpi putranya sendiri.
"Jadi, tenaga medis di lantai tiga itu... apakah itu bagian dari misi klan? Atau Darrel masih menjalankan praktek rahasia?" tanyaku lagi.
"Hanya Tuan Darrel yang tahu, Nyonya. Sebaiknya Anda jangan pernah mencoba mencari tahu lebih dalam. Lantai tiga adalah garis merah yang jika dilanggar, bahkan perlindungan Tuan Darrel pun mungkin tidak akan cukup untuk menyelamatkan Anda dari kemarahan klan."
Aku menatap ke arah plafon, membayangkan apa yang tersembunyi di atas sana. Di balik kemewahan dan kebrutalan Darrel, ternyata ada lapisan rahasia yang jauh lebih kelam. Rasa penasaran ini mulai tumbuh, namun kata-kata Marta terus terngiang: Lantai tiga adalah garis merah.
"Mari kembali ke kamar, Nyonya. Tuan Muda akan segera pulang untuk menjemput Anda ke rumah sakit," ajak Marta.
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya