Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Markas The Vultures bukanlah gudang kumuh berbau karat yang sering digambarkan dalam film-film kriminal rendahan. Sebaliknya, bangunan dua lantai di pinggiran distrik Shoreditch itu adalah definisi dari kemewahan maskulin yang moderat.
Lantai bawahnya adalah ruang terbuka yang luas, lebih mirip lounge eksklusif dengan meja biliar berbahan mahoni, bar yang penuh dengan stok soda premium, dan sistem suara yang sanggup menggetarkan ruko di sebelahnya. Halaman belakangnya luas, cukup untuk memarkirkan sepuluh motor tanpa berhimpitan, lengkap dengan area panggangan yang hampir setiap malam mengepulkan aroma steak.
Lantai atas adalah wilayah privat. Ada lima kamar yang masing-masing didekorasi sesuai kepribadian penghuninya, dan sebuah ruang tengah dengan sofa kulit raksasa yang sudah mulai meleyot karena sering diduduki lima remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun yang energinya tidak pernah habis.
Sore itu, cahaya matahari musim semi yang mulai meredup menyelinap masuk melalui jendela besar, menyinari tumpukan kertas berwarna-warni di atas meja kaca.
"Oke, rekor hari ini dipegang oleh... Nikolas Martinez!" Dion berseru sambil mengangkat sebuah amplop merah muda dengan aroma parfum melati yang menyengat. "Ini surat cinta ke-dua puluh empat minggu ini. Bos, serius, kau harus mulai mengenakan biaya pendaftaran untuk mereka yang ingin ditolak."
Nikolas, yang sedang berbaring telentang di sofa sambil melempar-lempar bola kasti ke langit-langit, hanya mendengus. "Bakar saja, Dion. Atau berikan pada Clark, mungkin dia bisa membuat algoritma untuk membalasnya secara otomatis."
"Sudah kucoba," sahut Clark dari balik laptopnya di sudut ruangan. Kacamata teknisnya berkilat. "Tapi datanya terlalu bias. Isinya cuma 'Nik, kau keren banget saat naik motor' atau 'Nik, tolong tabrak aku dengan Triumph-mu'. Perempuan-perempuan ini butuh bimbingan konseling, sungguh."
Leonard tertawa terbahak-bahak sampai tersedak keripik kentangnya. "Tabrak aku? Wah, itu strategi cinta yang baru. 'Cinta di Atas Ambulans'. Sangat romantis."
Di pojok ruangan, Kent sedang sibuk membersihkan sepatu botnya dengan ketelitian seorang ahli bedah. Dia adalah satu-satunya yang tidak menyentuh tumpukan surat cinta itu, meskipun ada tiga amplop dengan stiker hati yang jelas-jelas ditujukan untuknya.
"Hei, Kent," panggil Leonard dengan nada jahil. "Ini ada surat dari 'Istri Sahmu'. Siapa lagi kalau bukan Lauren. Dia bilang dia sudah menyiapkan daftar menu untuk kencan kalian hari Sabtu. Ada 'Steak Cinta' dan 'Puding Janji Suci'. Kau mau membacanya?"
Kent berhenti menggosok sepatunya. Dia mendongak sebentar, menatap Leonard dengan tatapan datarnya yang legendaris. "Letakkan di laci. Aku akan membacanya nanti."
"Nanti itu artinya 'setelah kiamat', kan?" goda Dion sambil menyambar salah satu surat Lauren. "Kasihan sekali Lauren. Dia sudah memberikan seluruh jiwanya, tapi hatimu masih lebih keras daripada blok mesin motor Clark yang karatan."
"Hatiku tidak keras," gumam Kent pendek. "Hanya saja... dia terlalu berisik."
"Tapi kau menyukainya, kan?" desak Clark sambil nyengir. "Bukti otentik, kau tidak pernah mengusirnya. Bahkan saat dia menempelkan stiker bunga di helm hitammu minggu lalu, kau hanya menghela napas. Kalau itu orang lain, mungkin sudah kau buang ke sungai Thames."
Kent tidak menjawab. Dia kembali pada sepatunya, namun ada kedutan kecil di sudut bibirnya yang hanya bisa ditangkap oleh mata tajam Nikolas.
"Sudahlah, jangan menggoda Kent terus," ujar Nikolas sambil bangkit duduk. "Dia itu tipe 'diam-diam menghanyutkan'. Lauren tahu itu. Itulah kenapa dia tidak menyerah."
"Bicara soal tidak menyerah," Leonard memutar posisi duduknya menghadap Nik. "Bagaimana kabarmu dengan 'Nona Porselen Judes' itu? Tadi pagi di parkiran, percikannya lebih panas daripada api busi, Bung. Aku sampai harus memakai kacamata hitam karena silau melihat ketegangan kalian."
Tawa pecah di ruangan itu. Clark bahkan sengaja memutar lagu klasik bernada dramatis dari laptopnya sebagai latar belakang musik.
"Dia itu aneh," kata Nikolas, mengambil sepotong pizza dingin dari kotak di meja. "Dia membenci kita seolah-olah kita ini kuman pes. Tapi matanya... setiap kali dia bicara kasar, matanya seperti minta tolong."
"Minta tolong untuk diculik dan diajak balapan?" celetuk Dion.
"Minta tolong untuk dibebaskan," koreksi Nikolas serius. "Kalian lihat cara dia berdiri? Seperti ada benang tak terlihat yang menarik bahunya agar selalu tegak. Dia tidak hidup, dia hanya sedang melakukan pertunjukan."
"Yah, pertunjukan yang sangat judes," sahut Clark. "Dia menyebut hobi kita 'sampah'. Aku hampir saja meretas akun media sosialnya dan mengganti foto profilnya jadi gambar ban bekas kalau saja aku tidak ingat dia itu sahabatnya Lauren."
"Jangan berani-berani, Clark," potong Kent tiba-tiba, suaranya rendah namun tegas. "Lauren akan menangis kalau sahabatnya diganggu."
"Waduuuh! Lihat! Sang Dark Knight membela kepentingan istri!" Leonard bersorak, diikuti oleh siulan nakal dari Dion. "Kompak sekali kita hari ini. Satu membela porselen, satu membela istri berisik."
"Aku tidak membela Salene," bantah Nikolas cepat. "Aku hanya... penasaran. Berapa lama lagi dia bisa bertahan sebelum porselen itu benar-benar retak?"
"Mungkin sampai kau menabraknya dengan pesonamu yang uerakan itu, Bos," kata Dion sambil tertawa. "Bayangkan, Salene Lumiere duduk di kursi belakang Triumph-mu, gaun mahalnya terkena cipratan oli, rambutnya yang sempurna jadi acak-acak karena angin... Wah, Madame Lumiere bisa langsung pingsan di tempat!"
Nikolas membayangkan gambaran itu sejenak. Salene yang berantakan. Salene yang tertawa lepas tanpa beban. Salene yang tidak perlu mengkhawatirkan berat badan atau sudut dagunya. Itu adalah gambaran paling indah yang pernah terlintas di kepalanya.
"Kita lihat saja nanti," ujar Nikolas dengan seringai tipis. "Besok ada tugas kelompok besar di kelas Seni. Dan tebak siapa yang menjadi pasanganku karena sistem komputer sekolah 'secara tidak sengaja' mengacak namanya?"
Clark mengangkat jempolnya sambil mengedipkan mata di balik kacamata. "Sama-sama, Bos. Gunakan kesempatan itu dengan bijak."
Ruangan itu kembali dipenuhi gelak tawa dan candaan khas remaja laki-laki yang merasa dunia ada di genggaman mereka. Di balik kebisingan itu, mereka adalah satu kesatuan yang solid—anak-anak muda yang besar dengan kasih sayang keluarga, yang kini mencoba memberikan sedikit kehangatan itu pada mereka yang hidup di dalam sangkar es yang dingin.
🌷🌷🌷