NovelToon NovelToon
PUNCAK TAHTA CEO MUDA & DETEKTIF R

PUNCAK TAHTA CEO MUDA & DETEKTIF R

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Transmigrasi / Sci-Fi
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.

Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.

Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Sang Rubah Dan Mutiaranya

Koridor rumah sakit di jam tiga pagi adalah tempat paling sunyi sekaligus paling jujur di dunia. Bau disinfektan yang tajam seolah meresap dalam ke pori-pori kulit, menciptakan suasana dingin yang mencekam dan penuh aura kematian. Di atas kursi tunggu plastik yang keras dan kaku, Lin Diya duduk meringkuk dengan kedua lutut ditekuk. Bahunya yang kecil berguncang hebat, tertutup oleh jaket tipis yang sama sekali tidak mampu menghalau rasa dingin dari AC rumah sakit, maupun rasa dingin yang menjalar hebat di dasar hatinya.

"Hiks... kenapa... kenapa harus berakhir tragis begitu di depanku?" gumam Diya dengan suara serak yang nyaris hilang akibat terlalu lama menangis.

Tangan Diya gemetar hebat saat dia meremas selembar tisu yang sudah hancur menjadi serpihan basah tak berbentuk. Pikirannya terus berputar secara traumatis pada kejadian di jalanan pinggiran kota yang sepi tadi. Wajah pria bersimbah darah yang terjepit di dalam mobil mewah itu terus membayanginya seperti film horor yang diputar berulang kali. Meskipun pria itu terlihat sangat sombong, angkuh, dan kaku saat pertama kali dia melihatnya di layar televisi sebagai CEO sukses Feng Group, namun melihatnya sekarat tak berdaya di atas aspal yang kasar adalah hal yang berbeda bagi nurani Diya. Dia merasa gagal sebagai manusia. Sebagai orang yang pertama kali sampai di lokasi kejadian, dia merasa seharusnya bisa berbuat lebih banyak daripada sekadar menelepon ambulans.

"Kasihan sekali... padahal dia masih sangat muda dan tangguh. Hartanya banyak, tapi mati kesepian di jalanan yang gelap tanpa keluarga," Diya sesenggukan lagi, menutup wajahnya yang sembap dengan kedua telapak tangan. Air matanya mengalir deras tanpa henti, membasahi pipinya yang kemerahan karena suhu dingin rumah sakit. Dia bahkan sudah mulai merangkai doa-doa tulus di dalam hati agar arwah pria itu tenang di alam sana dan tidak menyimpan dendam pada siapa pun.

Sementara itu, beberapa meter di belakangnya, tiga sosok pria sedang berjalan mengendap-ngendap di bawah bayangan lampu lorong yang berkedip. Reyhan memimpin di depan dengan langkah tak bersuara, matanya yang tajam bak elang waspada menatap setiap sudut koridor untuk memastikan tidak ada perawat atau satpam yang memergoki mereka. Sementara Chen Lian berjalan dengan langkah tenang namun siaga di belakang, auranya tetap seperti pengawal kaisar yang tak tergoyahkan. Di tengah-tengah mereka, Feng Yan berjalan dengan gaya yang sangat tidak pantas bagi seorang pasien yang baru saja bangkit dari garis kematian medis.

Feng Yan mengenakan jaket kulit hitam milik Reyhan yang sedikit kebesaran di bagian bahu, namun entah bagaimana sihir gaya yang dia miliki, jaket itu justru membuatnya terlihat seperti aktor laga papan atas yang baru saja menyelesaikan misi rahasia. Dia terus-menerus melirik ke arah kaca jendela yang mereka lewati, jemarinya sibuk merapikan tatanan rambutnya yang acak-acakan namun justru terlihat sangat seksi dan provokatif.

"Reyhan, bisakah kau jalan lebih lambat sedikit? Aku merasa raga ini butuh waktu untuk menyesuaikan gaya jalan yang lebih elegan dan berwibawa," bisik Feng Yan dengan nada narsis yang luar biasa percaya diri.

"Diam atau aku borgol mulutmu sekarang juga, Feng Yan!" geram Reyhan tanpa menoleh sedikit pun. "Kita ini sedang melarikan diri dari prosedur medis resmi, bukan sedang melakukan fashion show di atas catwalk!"

Langkah mereka seketika terhenti saat melihat sosok gadis yang duduk sendirian di kursi tunggu ICU. Feng Yan menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, matanya menyipit tajam menatap pemandangan itu. Ada denyutan hangat yang asing namun menyenangkan di dadanya saat melihat bahu kecil gadis itu berguncang karena tangisan pilu. Nama 'Lin' kembali terngiang kuat di kepalanya, memicu insting protektif purba dari jiwa Rubah Ekor Sembilan yang kini bersemayam di raga Feng Yan.

Feng Yan memberikan isyarat tangan agar Reyhan dan Chen Lian menunggu sejenak. Dengan langkah seringan kapas—sebuah kemampuan dasar dari pelari bayangan dunia persilatan—dia mendekati Diya dari arah belakang. Dia bisa mendengar isak tangis Diya yang terdengar sangat tulus, meratapi kematiannya yang sebenarnya sama sekali tidak terjadi.

Feng Yan membungkuk pelan, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga kanan Diya yang memerah. "Menangisiku sedalam itu, Manis? Apa kau sudah jatuh cinta pada mayat yang sangat tampan ini hingga rela membuang air matamu di lantai rumah sakit yang kotor ini?"

Suara berat, serak, dan penuh nada menggoda itu memecah kesunyian lorong bak petir di siang bolong.

Diya tersentak hebat, hampir mengalami serangan jantung mendadak. Dia melompat dari kursinya sampai hampir terjungkal ke belakang jika tidak segera menyeimbangkan diri. Matanya yang sembap dan merah melebar sempurna karena syok yang luar biasa saat melihat sosok pria yang baru saja dia tangisi sebagai mayat, kini berdiri tegak dan sangat hidup di depannya. Pria itu tidak lagi bersimbah darah atau pucat pasi. Sebaliknya, wajahnya bersih tanpa luka, kulitnya terlihat sangat sehat bercahaya, dan dia sedang menatap Diya dengan senyum miring yang sangat menyebalkan sekaligus mempesona.

"H-H-HANTU!!! REYHAN! ADA HANTU CEO BANGKIT!!!" teriak Diya histeris, suaranya menggema keras di seluruh koridor rumah sakit yang sunyi. Dia mundur beberapa langkah dengan cepat, kakinya terasa lemas seperti jelly sampai dia harus berpegangan erat pada sandaran kursi plastik.

Feng Yan justru tertawa renyah, sebuah suara tawa yang terdengar sangat merdu namun penuh nada ejekan di telinga Diya. "Hantu? Manis, hantu mana yang punya kulit semulus, sehalus, dan sehangat ini? Kau mau meraba seluruh tubuhku untuk memastikan keasliannya?" Feng Yan melangkah maju dengan berani, menyodorkan pipinya dengan sangat tidak tahu malu tepat ke arah wajah Diya yang mematung.

Seketika, rasa sedih dan duka yang tadi membuncah di hati Diya menguap habis dalam sekejap, digantikan oleh rasa malu yang luar biasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Wajahnya memerah padam sampai ke ujung telinga. Dia teringat betapa dramatisnya dia menangis tadi, betapa dia merasa sangat kehilangan dan meratapi nasib pria ini, padahal sosok di depannya sekarang justru sedang menjadikannya bahan lelucon murahan.

"K-KAU?! KOK BISA HIDUP LAGI?! DOKTER TADI BILANG LO UDAH MATI, GARISNYA LURUS!" teriak Diya lagi, kali ini lebih karena luapan emosi marah daripada rasa takut. Dia dengan cepat menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangan, mencoba mengembalikan harga dirinya yang runtuh. "Gue pikir lo udah jadi bangkai yang siap dikubur! Gue udah capek-capek nangis sesak napas mikirin nasib lo, eh lo malah... malah berdiri di sini sambil pamer narsis?!"

Gengsi Diya sebagai pengacara yang setinggi langit kini hancur berkeping-keping menjadi debu di bawah tawa meremehkan Feng Yan. Dia merasa sangat bodoh. Sangat memalukan bagi intelektualnya.

"Tau gitu tadi gue biarin aja lo kejepit di mobil yang kebakar itu! Biar aja truk itu ngelindes lo sampe rata sama aspal! Ngapain juga gue repot-repot nolongin CEO sombong, narsis, gila, dan nggak tahu diri kayak lo!" semprot Diya bertubi-tubi. Dia membalikkan badan dengan cepat, berniat lari sekencang mungkin dari situasi yang membuatnya ingin menghilang dari muka bumi ini.

Namun, sebelum dia bisa melangkah setindak pun, tangan Feng Yan yang kuat, lebar, dan sangat hangat mencengkeram pergelangan tangan Diya dengan presisi. Kekuatannya tidak menyakitkan, namun terasa sangat tegas dan tidak bisa dibantah, membuat Diya terpaksa berbalik kembali menghadap dada bidang Feng Yan yang kini tertutup jaket kulit.

Aura di sekitar mereka mendadak berubah secara drastis. Udara yang tadinya penuh candaan narsis Feng Yan, kini berubah menjadi sangat serius, berat, dan menekan. Feng Yan menatap mata Diya yang masih basah dengan tatapan yang sangat dalam—sebuah tatapan yang seolah-olah mampu menembus jauh ke dalam lapisan jiwa paling rahasia milik Diya.

"Lin Diya," panggil Feng Yan. Suaranya kali ini tidak lagi mengandung nada ejekan atau main-main. Terdengar sangat rendah, magnetis, dan berwibawa, persis seperti seorang kaisar agung dari dunia kuno yang sedang memberikan titah. "Terima kasih sudah menangisiku dengan tulus malam ini. Tapi dengarkan ini baik-baik dan simpan di kepalamu... mulai detik ini, jangan pernah kau membuang satu tetes air matamu lagi untuk siapa pun di dunia ini. Karena Rubah ini tidak suka melihat mutiaranya terbuang sia-sia untuk hal yang tidak memiliki nilai penting."

Diya mematung total. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Tatapan Feng Yan begitu menghipnotis dan mengunci seluruh sarafnya, membuatnya kehilangan semua kata-kata galak dan pasal hukum yang sudah dia siapkan di ujung lidahnya.

"Dan satu lagi yang harus kau ingat," Feng Yan mendekatkan wajahnya perlahan, hanya berjarak beberapa senti dari hidung Diya sampai napas mereka saling bersentuhan. Aroma maskulin yang mewah, dingin, dan segar dari tubuh Feng Yan menyerbu indra penciuman Diya, membuatnya semakin tidak bisa berpikir logis. "Karena kau sudah menyelamatkan hidup raga ini, maka kau secara resmi adalah tanggung jawabku sekarang. Jangan pernah harap kau bisa lari dariku, wahai Pengacara Mandala."

Diya hanya bisa mengerjapkan matanya yang masih basah, terdiam seribu bahasa dalam kebisuannya. Gengsinya memang sudah runtuh tak bersisa, namun di reruntuhan itu, dia merasakan sebuah ikatan takdir aneh yang mulai menjerat erat hatinya dengan paksa.

Reyhan yang melihat adegan "drama drakor" itu dari kejauhan hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas panjang yang sarat akan beban pikiran. "Bener-bener ya si Rubah ini. Baru bangkit dari garis kematian sudah langsung cari masalah dengan anak orang. Kita harus pergi sekarang sebelum satpam rumah sakit datang karena teriakan histeris Diya tadi!"

Reyhan menarik paksa kerah jaket Feng Yan, memaksa pria narsis itu untuk melepaskan tangan Diya. "Ayo cepat bergerak! Kita punya urusan yang jauh lebih penting dan berdarah-darah daripada merayu gadis di koridor rumah sakit!"

Feng Yan melepaskan tangannya perlahan, namun matanya tetap terkunci lekat pada mata Diya. Dia memberikan sebuah kedipan mata yang nakal dan penuh janji sebelum berbalik mengikuti langkah cepat Reyhan. "Sampai jumpa lagi segera, Lin Diya. Simpan tenaga galakmu itu, karena aku akan segera datang menagih hutang nyawaku padamu dengan cara yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."

Diya hanya bisa berdiri mematung di lorong yang kini kembali sunyi dan dingin. Dia menatap punggung tegap Feng Yan yang menjauh dengan perasaan yang campur aduk tak karuan. Marah, malu, kesal, tapi juga ada benih rasa penasaran yang mulai tumbuh liar di hatinya.

"Dasar... Rubah gila bin narsis," gumam Diya pelan, menyentuh pergelangan tangannya yang masih terasa sangat hangat dan berdenyut bekas genggaman Feng Yan. Dia sama sekali tidak tahu bahwa mulai malam ini, hidupnya sebagai pengacara biasa akan berubah menjadi petualangan paling berbahaya sekaligus paling manis di puncak tahta kekuasaan dunia modern yang kejam.

1
BlueHeaven
Penyelusup apa ya thor
Diah nation: penyelusup kaya pelakunya (khianat )..kalau penyusup itu mengamati itu perbedaanya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!