Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Sore itu, ruang kerja Erlan terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar di belakang mejanya tidak mampu menghangatkan suasana. Justru bayangan panjang yang terbentuk di lantai membuat ruangan itu terasa semakin dingin.
Erlan berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun. Tatapannya kosong, namun pikirannya penuh.
Hampir empat tahun.
Waktu yang tidak sebentar untuk melupakan seseorang.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Semakin lama, bayangan Linda tidak pernah benar-benar pergi.
Ia masih ingat dengan jelas bagaimana semua bermula setelah mereka putus. Dua bulan setelah hubungan itu berakhir, Linda menghilang begitu saja. Tidak ada kabar, tidak ada jejak. Seolah wanita itu sengaja menghapus dirinya dari dunia yang bisa dijangkau Erlan.
Padahal sebelumnya, Erlan masih diam-diam mengamati Linda dari kejauhan.
Bukan untuk mengganggu.
Hanya memastikan.
Namun bahkan itu pun tiba-tiba terputus.
Linda keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, padahal baru dua bulan bergabung. Keputusan yang terlalu mendadak untuk dianggap biasa.
Erlan tidak tinggal diam.
Ia mendatangi langsung atasan Linda.
“Saya dengar Linda mengundurkan diri.”
Atasan itu mengangguk. “Benar, Pak Erlan.”
“Alasannya?”
“Dia bilang sakit. Butuh perawatan.”
“Sakit apa?”
Pria itu menggeleng. “Dia tidak menjelaskan.”
Jawaban itu justru memperbesar kecurigaan Erlan.
Dan sejak saat itu, pencarian dimulai.
Ia menyuruh orang menelusuri rumah sakit. Semua rumah sakit besar, bahkan beberapa klinik swasta yang jarang diketahui orang.
Namun hasilnya nihil.
Tidak ada satu pun data.
Tidak ada satu pun nama Linda.
Seolah wanita itu benar-benar menghilang.
Erlan menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak hanya dengan mengingatnya.
Di saat yang sama, ia sedang berjuang keras dalam hidupnya.
Sebagai putra tertua, ia dituntut untuk membuktikan diri.
Kepercayaan ayahnya bukan sesuatu yang diberikan dengan mudah.
Ia harus mendapatkannya.
Dan alasan terbesar di balik semua usahanya saat itu adalah Linda.
Ia ingin membawa Linda ke hadapan orang tuanya.
Ia tahu itu tidak akan mudah.
Keluarganya tidak akan langsung menerima.
Karena itu ia bekerja lebih keras, mengambil tanggung jawab lebih besar, menahan diri dari banyak hal.
Semua demi satu tujuan.
Membuktikan bahwa pilihannya tidak salah.
Bahwa Linda layak.
Namun semuanya runtuh.
Linda menghilang.
Tanpa penjelasan.
Tanpa kesempatan untuk memperbaiki apa yang rusak.
Erlan memejamkan mata. Ingatan lain muncul, lebih tajam, lebih menyakitkan.
Wajah Linda saat marah.
Air matanya.
Suara yang bergetar menahan kecewa.
“Kamu sudah bosan, ya?”
Erlan membuka matanya perlahan. Rahangnya mengeras.
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Tapi sikapmu berubah!”
“Aku hanya sibuk.”
“Sibuk sampai tidak punya waktu untukku?”
“Aku melakukan ini untuk kita!”
Linda tertawa kecil, pahit. “Untukmu. Bukan untukku.”
Setiap percakapan selalu berakhir sama.
Tidak ada titik temu.
Tidak ada yang benar-benar mau mengalah.
Erlan sudah mencoba menjelaskan.
Sudah mencoba menenangkan.
Namun Linda sudah terlanjur terluka.
Terutama setelah hubungan mereka melangkah lebih jauh.
Linda merasa ditinggalkan.
Merasa setelah ia memberikan dirinya sepenuhnya, Erlan kehilangan ketertarikan.
Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Namun penjelasan tidak pernah cukup.
Dan akhirnya, yang tersisa hanya pertengkaran.
Hingga perpisahan itu tidak bisa dihindari.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu memutus alur pikirannya.
Erlan tidak langsung menjawab. Ia menarik napas, lalu berkata singkat,
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Adi masuk dengan langkah cepat, membawa ekspresi serius yang jarang ia tunjukkan.
“Pak,” ucapnya.
Erlan berbalik. Tatapannya langsung tajam.
“Ada apa?”
Adi tidak langsung menjawab. Ia seperti memastikan sesuatu dalam pikirannya sebelum akhirnya berkata,
“Saya sudah menemukan Linda.”
Kalimat itu membuat udara di ruangan terasa berhenti.
Erlan menatapnya lekat.
“Di mana dia?”
“Di pinggiran kota. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana.”
Erlan tidak memedulikan detail itu.
“Dan?”
Adi menarik napas.
“Sepertinya, anak yang dia bawa adalah anaknya.”
Erlan terdiam.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
“Anaknya?” ulangnya pelan.
Adi mengangguk. “Perempuan. Sekitar tiga tahun.”
Jantung Erlan berdetak lebih cepat.
Empat tahun.
Angka itu langsung menghantam pikirannya.
Ia mengingat dengan jelas kapan mereka berpisah.
Belum genap empat tahun.
Artinya…
“Cari tahu,” ucap Erlan tiba-tiba.
Adi sedikit terkejut. “Apa yang harus saya cari, Pak?”
“Anak itu.”
Suara Erlan rendah, tapi tegas.
“Aku ingin tahu siapa dia.”
Adi mengerutkan kening. “Maksud Bapak…?”
Erlan melangkah mendekat.
“Apakah itu anak Linda… atau bukan.”
Keheningan kembali jatuh.
Adi mulai memahami arah pembicaraan itu.
“Pak, ini sudah masuk ranah pribadi.”
“Aku tidak peduli.”
Jawaban itu langsung memotong.
Erlan menatapnya tajam.
“Cari semua data yang ada. Catatan sipil, riwayat pernikahan, semuanya.”
“Bapak curiga dia sudah menikah?”
Erlan menggeleng pelan.
“Dua bulan setelah kami putus, dia tidak mungkin menikah.”
Tangannya mengepal.
“Aku tahu waktunya.”
Ia menatap lurus ke arah Adi.
“Dan anak itu… usianya tidak masuk akal jika itu anak orang lain.”
Adi terdiam.
Situasi ini terasa aneh baginya.
Biasanya ia diminta menyelidiki pebisnis besar, pesaing perusahaan, atau tokoh penting.
Bukan kehidupan pribadi seseorang.
Apalagi mantan kekasih bosnya.
“Pak,” kata Adi hati-hati, “saya akan kerjakan. Tapi mungkin butuh waktu. Saya juga masih—”
“Abaikan yang lain.”
Adi menghela napas pelan.
“Pak, itu tidak semudah—”
“Aku tidak mau melihatmu,” potong Erlan dingin, “sebelum kau mendapatkan semua informasi itu.”
Adi menatapnya tidak percaya.
“Semua?”
“Semua.”
Nada suara itu tidak memberi ruang untuk negosiasi.
Adi mengangguk pelan, meski jelas tidak puas.
“Baik.”
Ia berbalik, melangkah menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti.
“Pak.”
Erlan tidak menjawab, tapi menoleh sedikit.
“Kalau memang Bapak ingin kembali… mungkin akan lebih baik kalau Bapak sendiri yang mendekat.”
Erlan diam.
Adi melanjutkan,
“Usaha langsung biasanya lebih berarti.”
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Lalu Erlan berkata singkat,
“Kerjakan tugasmu.”
Adi tersenyum tipis, hampir seperti menertawakan situasi ini.
“Baik, Pak.”
Ia keluar dari ruangan dan menutup pintu.
Di luar, Adi berjalan sambil menggeleng pelan.
“Benar-benar,” gumamnya.
Ia memasukkan tangan ke dalam saku.
Bosnya itu terkenal tegas, bahkan keras.
Tapi hari ini berbeda.
Ini bukan sekadar perintah.
Ini terlihat seperti sesuatu yang lebih dalam.
Lebih pribadi.
“Cari tahu anak siapa… cek catatan sipil…” ia menghela napas.
“Kalau mau kembali, kenapa tidak langsung saja?”
Namun ia tahu, itu bukan sesuatu yang bisa ia katakan dengan mudah.
Di dalam ruangan, Erlan kembali sendirian.
Ia berdiri diam, lalu perlahan duduk di kursinya.
Tatapannya jatuh ke meja.
Namun pikirannya jauh.
Linda.
Dan anak itu.
Ia menutup matanya sejenak.
“Kalau itu benar…” gumamnya pelan.
Tangannya mengepal.
Rasa penyesalan yang selama ini ia tekan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Tekad.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.”
Matanya terbuka.
Tatapannya kini tidak lagi kosong.
Empat tahun sudah cukup.
Kali ini, ia tidak akan hanya berdiri dan menunggu.
Apa pun yang terjadi, ia akan memastikan semuanya jelas.
Termasuk tentang anak itu.
Termasuk tentang Linda.
Dan kali ini, ia tidak akan kalah oleh waktu… ataupun oleh dirinya sendiri.