Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 Kehidupan Di Kampung
Sherina dan Syarif tidak henti-hentinya mengusap perutnya. “Kalian kenapa? Lapar?” tanya Badru.
“Iya. Di sini bisa pesan gofood gak sih?” tanya Sherina.
“Bisa, kadang-kadang ada juga yang suka pesan-pesan paket kaya gitu,” sahut Badru.
“Memangnya di sini suka ada yang pesan online juga ya?” tanya Syarif.
“Ada, cuma biasanya kalau pesan online itu ada yang sebulan sekali, dua minggu sekali, atau bahkan enam bulan sekali,” sahut Ismail.
“Lah, kenapa?” tanya Sherina.
“Ya, nunggu panenlah, ‘kan di sini kebanyakan itu petani jadi mereka akan punya uang saat panen tiba,” sahut Mail.
“Oh begitu.”
“Ya, sudah Kak, Lu pesan makanan dulu lah, gua sudah sangat lapar ini,” seru Syarif.
“Eh tunggu, kalau pesan makanan datangnya bakalan lama mending nunggu Mang Usep saja, sebentar lagi lewat kok,” usul Badru.
“Mang Usep itu apa?” tanya Syarif dengan polosnya.
“Mang Usep itu tukang sate keliling, ada lontongnya juga dan rasanya pun enak,” sahut Badru.
“Wah, jadi pengen nyoba,” ucap Sherina.
“Tunggu saja, biasanya sebentar lagi juga datang,” sahut Badru.
Benar saja, tidak lama kemudian terdengar suara motor. “Sate.....sate.....!” teriak Mang Usep.
“Mang Usep berhenti!” teriak Mail.
Usep pun menghentikan motornya. Sherina dan Syarif dengan antusias segera menghampiri tukang sate itu. “Wah, kayanya Neng sama Aa ini warga baru ya?” tanya Mang Usep.
“Iya, Mang kita baru pindah tadi pagi,” sahut Syarif.
“Kalian dari kota ya?” tanya Mang Usep kembali.
“Iya, Mang. Kenapa memangnya?” seru Sherina.
“Beda saja Neng, soalnya Neng sama Aa bening-bening beda sama penghuni kampung ini buluk-buluk,” celetuk Mang Usep sembari melirik ke arah Badru dan Mail.
“Kurang ajar, kau mau aku cekal supaya gak bisa masuk kampung ini lagi?” kesal Mail.
“Yaelah, gitu aja marah. Bercanda Ismail bin Marzuki,” sahut Mang Usep.
“Ini sate apa, Mang?” tanya Sherina sembari memperhatikan sate mungil itu.
“Itu sate ayam dan yang ini sate sapi,” sahut Mang Usep.
“Mungil banget satenya,” seru Sherina.
“Namanya juga di kampung Neng, inginnya murah-murah jadi saya siasati dibuat kecil-kecil satenya,” sahut Mang Usep.
“Memangnya harganya berapa perbijinya?” tanya Syarif.
“Seribu rupiah,” sahut Mang Usep.
“Hah, serius?” Syarif sampai tidak percaya dengan jawaban tukang sate itu.
“Serius, A,” sahut Mang Usep.
“Ya, sudah kita borong saja semuanya soalnya gak bakalan kenyang makan seratus tusuk juga,” ucap Sherina.
“Siap, Neng.”
“Kalian ikut makan saja, gak usah khawatir mau makan seberapa banyak pun Kak Sherina yang bayar,” seru Syarif.
“Wah, rezeki anak sholeh. Terima kasih ya,” sahut Badru.
Usep dengan semangat membakar sate pesanan Sherina dan Syarif. Setelah selesai, semuanya langsung melahap sate itu dengan penuh semangat. “Enak juga ternyata,” seru Syarif.
“Iyalah, itu sate paling the best di kampung ini,” sahut Mail.
Pada saat mereka sedang menikmati sate, tiba-tiba seorang pria tinggi, putih, dan juga tampan datang. “Mang, aku mau pesan dong dua puluh tusuk,” seru pria yang bernama Ariel itu.
“Aduh, maaf Pak Guru satenya habis,” sahut Mang Usep.
“Habis? Itu masih banyak,” seru Ariel.
“Ini sudah diborong sama Neng Sherina,” sahut Mang Usep.
“Sherina siapa?” tanya Ariel.
“Itu penghuni rumah baru,” sahut Mang Usep.
Ariel melihat ke arah keempat orang yang sedang asyik makan sate di teras rumah. “Kapan mereka pindah? Perasaan kemarin masih kosong tuh rumah,” batin Ariel.
Mail menoleh. “Eh, ada Pak Guru tampan. Sini Pak Guru, ikut makan sama-sama,” seru Mail.
Sherina tersenyum sembari mengangguk, tapi Ariel malah memalingkan wajahnya ke arah lain. “Idih, siapa sih tuh cowok? Dari wajahnya kelihatan sombong banget,” batin Sherina.
“Ya, sudah Mang kalau begitu aku pulang saja,” ucap Ariel.
“Iya, Pak Guru. Maaf ya Pak, besok saja belinya,” sahut Mang Usep.
Ariel pun langsung pergi tanpa menoleh lagi ke arah Sherina dan yang lainnya. “Sombong banget sih tuh orang,” kesal Sherina.
“Dia raut wajahnya saja yang judes, padahal mah dia baik banget loh,” ucap Badru.
“Baik apaan? Masa baik kaya gitu? Aku jadi nyesel sudah senyum sama orang kaya gitu,” kesal Sherina.
“Ya, sudahlah gak usah dipikirin. Mending kita habiskan saja satenya,” seru Syarif.
Tidak lama kemudian, pintu rumah pun terbuka. “Lah, kalian makan sate kok gak bagi-bagi sama Daddy,” seru Daddy Tri.
“Daddy ambil saja semau Daddy, aku sudah borong semuanya,” sahut Sherina.
“Mommy mana, Dad?” tanya Syarif.
“Ssstttt....dia sudah tidur,” sahut Daddy Tri.
Usep membawakan sate untuk Tri, ia pun makan bersama anak-anaknya serta Mail dan Badru. Awalnya Mail dan Badru mengira jika Tri adalah pria yang galak, tapi ternyata dugaannya salah justru Tri orang yang sangat humoris dan baik. Keluarga Sherina memang harmonis dan kompak, mereka selalu menyempatkan waktu untuk melakukan quality time bersama.
***
Keesokan harinya...
Sherina sudah bangun pagi-pagi sekali, dia memang terbiasa bangun pagi. Dia pun keluar dari dalam rumah dan menghirup udara pedesaan yang sangat segar. “Udaranya segar banget,” gumam Sherina.
Dia pun memutuskan untuk jalan-jalan mengelilingi kampung sendirian sembari mencari sesuatu untuk sarapan. Hingga akhirnya dia menemukan warung kecil dan di sana banyak orang sedang mengantri. “Warung itu dagang apa?” gumam Sherina.
Sherina pun menghampiri antrian itu dan terlihat Nining melambaikan tangannya. “Hai!” sapa Nining.
“Hai. Ini jualan apa ya?” tanya Sherina.
“Ada nasi kuning, ada gorengan juga,” sahut Nining.
Ternyata yang jualan itu Nining dan Ibunya. “Wah, sepertinya enak. Aku mau dong empat bungkus,” ucap Sherina.
“Boleh, ditunggu ya,” sahut Nining.
“Hai anak kota, kamu bisa ngantri kan? Jangan menyerobot antrian,” ketus Ariel.
Sherina menoleh. “Siapa yang menyerobot, aku juga tahu kok. Aku cuma pesan saja,” sahut Sherina tak kalah ketus.
“Hai, kita belum kenalan. Nama aku Nining,” seru Nining sembari mengulurkan tangannya.
“Sherina.”
“Kamu duduk di sini saja soalnya akan sedikit lama,” seru Nining.
“Iya, terima kasih.” Sherina mendelikan matanya ke arah Ariel.
“Itu kuningnya dari apa?” tanya Sherina.
“Dari kunyit, Sher,” sahut Nining sembari membuatkan pesanan untuk para pembeli yang sudah ngantri.
“Kunyit tuh yang kaya gimana?” tanya Sherina lagi.
“Dasar orang kota, kunyit aja gak tahu,” ledek Ariel.
“Apaan sih nyamber mulu jadi orang. Namanya juga gak tahu, ya tanya supaya tahu,” ketus Sherina.
Nining dan pembeli di sana terkekeh melihat kelakuan Sherina dan Ariel. “Maklumlah A, Neng Sherina ini ‘kan orang kota jadi tidak tahu nama-nama bumbu karena mungkin di rumahnya biasa dimasakin sama pembantu,” seru Ibu Onah yang merupakan Ibu Nining.
“Antara orang kaya dan malas itu beda tipis,” ledek Ariel.
“Maksud kamu apa?” kesal Sherina.
“Kalau kamu orang kaya, pantas kamu gak tahu bumbu-bumbu dapur karena ada pembantu yang masak. Lah, ini kamu beli rumah di kampung dan pindah tinggal di kampung itu artinya kamu bukan orang kaya tapi kamu orang pemalas yang bisanya nyusahin orang tua,” seru Ariel dengan senyuman sinisnya.
Sherina bangkit dari duduknya. “Jangan sembarangan kamu kalau ngomong!” bentak Sherina.
Nining segera menenangkan Sherina, sedangkan Ariel pergi karena pesanannya sudah selesai. “Terima kasih, Bu,” seru Ariel pergi.
“Dasar cowok nyebelin!” teriak Sherina.
“Sudah Sher, sabar,” ucap Nining menenangkan Sherina.
Akhirnya Sherina kembali duduk dengan dada yang naik turun menahan emosi. Ariel selalu saja cari masalah kepada Sherina. Padahal Ariel tidak tahu, Sherina memang anak konglomerat yang memutuskan pindah ke kampung untuk menghilangkan kegabutannya menjadi orang kaya.
oh Ariel punya sekolah TK juga ya ..kirain SD di kampung itu aja dulu ...rasakan sekarang susah kau jadi tukang ojek