NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:65.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kematian Sapri

Sudah tiga hari sejak kematian Aning, dan mayatnya sudah di makamkan. Pihak polisi masih dalam penyelidikan atas kematian Aning. Namun, sayang, mereka belum juga menemukan tersangkanya. Tempat kejadian bersih. Bahkan, tidak ada DNA tersangka pada mayat Aning yang membuat polisi kehilangan jejak dan semuanya menjadi abu-abu.

Ada juga yang beranggapan, bahwa kematian Aning tidak akan mendapatkan titik terang siapa pembunuhnya.

Orang-orang mulai bersimpati lagi. Kematian yang tragis pada akhirnya mendapatkan keadilan.

Setelah beberapa Minggu, semua orang kembali menjadi tenang. Mereka pun mulai lupa dengan duka atas kepergian Aning.

Kesedihan dan kehilangan hanya bersarang di hati Bu Darsia. Hanya dia yang masih merasa tersiksa atas kehilangan itu. Namun, tiga ini, beberapa warga mengaku mendengar suara tangisan perempuan dari arah sawah dimana jasad Aning di temuknan. Tangisnya lirih, panjang, dan menyayat. Ada yang bersumpah melihat bayangan putih berdiri di antara padi yang menguning, rambutnya tergerai menutup wajah.

"Cuma perasaanmu saja," kata sebagian orang mencoba menenangkan.

Mereka mengira jika itu hanya efek takut setelah kejadian meninggalnya Aning itu.

"Siapa itu?" Sapri yang pulang sehabis minum dengan teman-temannya berjalan dengan sempoyongan.

Langkahnya tanpa arah yang jelas, sebentar ke kiri, sebentar ke kanan. Meskipun setengah sadar, Sapri merasa ada yang mengikutinya sejak tadi.

Dia pun berhenti.

"Siapa itu?" Teriaknya menoleh kebelakang.

"Jangan main-main denganku! Aku Sapri! Pantang bagiku di mainkan!" Diam, sunyi. Tak ada jawaban, hanya desiran angin malam yang terdengar.

Sapri menelan ludahnya. Mungkin itu hanya efek mabuk dan perasaannya saja.

"Sapri...." Suara seseorang memanggil namanya menyatu dengan desir angin angin dingin, seketika dia merinding.

Sapri menoleh lagi , masih tak ada siapa-siapa. Hanya dia yang berdiri di tengah gelap malam itu. Bulu kuduknya berdiri, tapi dia kembali melangkah.

Meskipun sendiri, dia gengsi mengakui takut.

"Sapri... Mau kemana?" Suara itu terdengar lagi.

"Keluar! Jangan jadi pengecut! Hadapi aku! Jangan taunya sembunyi di gelap! Keluar kau!" Teriak Sapri dengan amarah yang meluap-luap.

"Keluar! Jangan kira aku Sapri takut. Setan pun akan aku hadapi. Akan aku buat kau mati dua kali!" Ia berputar-putar di jalan setapak itu menjadi asal sumber suara yang mempermainkannya itu.

"hhh… hiks… hhh…" Suara tangis pilu terdengar.

Sapri semakin panik. Dia tidak menemukan asal suara itu.

"Si....siap kau?" Sapri mulai terlihat ketakutan.

"Hihihi..." Cekikikan dingin terdengar diantara gemerisik daun. Dan tiba-tiba kaki Sapri terseret sesuatu tak terlihat kearah sawah dan tubuhnya terhempas ketanah. Tubuh Sapri menghantam tanah berlumpur dengan keras. Nafasnya tercekat. Lumpur sawah menempel di pipinya, bau lumpur menusuk hidungnya.

Sapri mencoba berdiri namun sesuatu tak kasat mata menahan kakinya.

"Lepas! Lepas!" Sapri meronta.

Angin berembus lebih kencang. Pepohonan di tepi jalan setapak bergoyang liar. Bulan yang tadi samar kini tertutup awan gelap.

"Apa kau lupa padaku?" Suara itu lebih dekat. Tepat di belakang telinganya.

Sapri membeku. Dia pun menoleh, tapi tak ada siapa-siapa. Sekujur tubuh Sapri mulai gemetar ketakutan.

Saat dia kembali menoleh kedepan, di tanah becek di depannya, muncul jejak kaki. Satu langkah. Dua langkah. Seolah seseorang berjalan mendekatinya, padahal tak terlihat wujudnya.

"Ja..gan… jangan ganggu aku…" suara Sapri kini tak lagi garang. Dia gemetar dan nyaris menangis.

Tiba-tiba tubuhnya kembali ditarik keras ke arah pematang sawah.

Kukunya mencakar tanah, mencoba bertahan.

“Ampun! Ampun!” teriaknya.

Di antara batang-batang padi yang menguning, sosok itu akhirnya tampak.

Perempuan berambut panjang terurai menutupi wajah. Tubuhnya penuh luka. Gaun yang ia kenakan robek dan kotor.

"A...Aning?" Gumam Sapri.

Kini barulah dia sadar sepenuhnya jika di depannya adalah hantu Aning, yang mungkin datang untuk menuntut balas atas kematiannya.

Sapri menjerit.

“Bukan aku! Bukan aku yang mulai!” teriaknya tanpa sadar.

Sosok itu berhenti beberapa langkah darinya.

"Kau akan menemaniku…" bisiknya pelan.

Sapri menggeleng cepat.

"Tidak... ampuni aku... Ampuni aku..." Teriaknya memohon pengampunan dari arwah Aning.

Teriakkan meminta ampun berubah menjadi jeritan yang terputus terputus tiba-tiba, digantikan suara patahan tulang yang mengerikan.

Suara Sapri tidak terdengar lagi.

Hening.

Angin berhenti. Padi-padi yang tadi bergoyang liar kini diam seperti tak pernah terjadi apa-apa. Seolah jeritan dan rasa takut Sapri hanya ilusi.

"Pak! Pak! Ada orang tergeletak di sawah!" teriak pak Harto memanggil Pak Warsito.

Beberapa petani yang hendak berangkat ke ladang Dan di sanalah mereka melihat tubuh Sapri.

Tubuhnya terpelintir tak wajar. Lehernya miring hampir menyentuh bahu. Matanya melotot lebar, membeku dalam ekspresi teror yang tak terlukiskan. Mulutnya terbuka seperti hendak menjerit. Tangannya seperti mencakar, kuku-kukunya patah tak berbentuk dan penuh lumpur.

"Ya Allah…" gumam salah satu petani, mundur beberapa langkah.

Kabar itu menyebar secepat angin. Dalam hitungan menit, warga kembali berkerumun di tempat yang sama seperti beberapa hari yang lalu tempat Aning di temukan.

Pak Warsito datang dengan wajah tegang menyaksikan mayat Sapri.

Pak Warsito menatap tubuh Sapri dengan rahang mengeras. Ada sesuatu yang tak wajar. Tidak ada tanda-tanda perkelahian besar. Tidak ada jejak kaki mencurigakan selain milik Sapri sendiri yang teracak di lumpur.

Seorang warga berbisik pelan.

"Apa mungkin dia yang membunuh Aning."

Yang lain mulai saling pandang.

Dari kejauhan, Bu Darsia melihat. Dia menatap dengan dingin. Tapi, tak mendekat. Tatapan penuh misteri.

Polisi kembali datang. Garis pembatas kembali dipasang. Namun seperti kasus Aning, tak banyak yang bisa mereka temukan.

Tidak ada bekas senjata. Tidak ada jejak orang lain.

Seolah Sapri mati sendirian.

Polisi saling bertukar pandang dengan wajah kusut. Petugas yang memeriksa lokasi hanya menggeleng pelan.

"Tidak ada tanda kekerasan dari orang lain, tidak ada jejak tambahan," gumam salah satu penyidik.n

"Mustahil," sahut rekannya. "Lehernya seperti dipatahkan dengan tenaga besar." Namun fakta di lapangan membuat mereka buntu. Tanah berlumpur hanya menyimpan jejak kaki Sapri sendiri. Tak ada sidik jari asing. Tak ada bekas seret selain yang mengarah dari langkahnya sendiri yang terhuyung.

Warga mulai bergerombol lebih rapat. Bisikan demi bisikan terdengar.

"Dulu Aning ditemukan di sini."

"Sekarang Sapri."

"Apa mungkin dia pelakunya?"

Ada yang berbisik lebih pelan, nyaris tak terdengar. "Atau… Aning yang menuntut balas?”

Beberapa orang bergidik.

"Atau orang yang membunuh Aning, adalah orang yang sama yang bunuh Sapri?" Spekulasi tentang kematian Aning dan Sapri terbagi menjadi dua kubu.

Ada yang beranggapan jika Sapri mati di bunuh arwah Aning. Dan, ada juga yang beranggapan jika orang yang sama membunuh keduanya.

1
Yati Susilawati
tomo, terlibat?
lanjut thor.. pinisirin🤣
May Maya
KLO jd ibu nya aning pasti jd depresi
Hani Hadianti
ijin hadirr🙏
Mega Arum
kenapa tomo.. awal2 tomo trlihat baik, bahkan pintar agama..., tp tomo dan bpknya seakan2 dalang dr kematian Aning.. lanjuut thor,
Skay Skayzz: waduhh ada apa dgn mas tomo weee
total 1 replies
Yati Susilawati
pak desa, ditunggu aning tuh... 🤣🤣
kimiatie
jalan cerita yang bagus dan penulisan yang mantap 👍👍👍
kimiatie
menunggu update nya thor💪
kimiatie
kenapa tak panggil polisi sahaja...pak RT nya kenapa??????
kimiatie
hanya itu yang mampu oak warsito lakukan😂😂 betul tu ...mati kubur sahaja
kimiatie
begitu lah manusia akan berasa kuat di hadapan yang lemah tapi akan terjadi sebaliknya bila berhadapan lawan yang lebih kuat
kimiatie
itulah bak kata pepatah " kerana mulut badan binasa "
kimiatie
kenapa tiada tindakan lanjut...mahu sampai bila menahan bu darsia...kerja kepala desa Rt atau yang berpangkat tiada tindakan
Nurr Tika
minta maaf itu mudah tapi hati yg udah terluka tidak mudah untuk melupakanya
Mur Wati
eh pekok yg bikin ulah siapa sebelum nya hah ngatain laknat kelakuan mu laknat 😡
Maya Mariza Tarigan
best
Sandy Nasruddin Rozaq
pak ustadznya kemana ya?
nurul supiati
pantesan kepala desa nya juga ikutan ya jelas takuttt lah
Mamake Nayla
wah...jgn2 kepala desa nya ini tersangka nya jg
Mamake Nayla: metong jg akhirnya nanti buat penghabisan🤭🤭
total 2 replies
Mamake Nayla
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
kimiatie
banyak juga yang memperkosa aning...kalau aku jadi ibunya juga akan ku lakukan apa sahaja untuk balas dendam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!