Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: DIARI RINA - CINTA YANG TAK PERNAH SAMPAI
Ruang Rawat VIP, Lantai 12, Rumah Sakit Islam Jakarta Pusat.
Malam hari, tiga bulan setelah kejadian itu.
Di luar jendela kaca yang besar, lampu-lampu kota Jakarta berkelip seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Suara sirine ambulans dan deru kendaraan terdengar samar, jauh di bawah sana. Di dalam ruangan yang tenang dan berbau melati ini, hanya ada suara ketikan jari di atas layar tablet dan napas teratur seorang gadis.
Rina, kini sudah mulai pulih secara fisik, duduk bersandar di bantal empuk. Matanya tidak lagi kosong seperti dulu. Ada cahaya baru di sana, meski masih diselimuti kabut kesedihan yang tipis. Di pangkuannya, sebuah aplikasi catatan terbuka. Judulnya sederhana: "Untuk Dia yang Tak Pernah Tahu."
Ini bukan laporan polisi. Bukan juga kesaksian untuk pengadilan. Ini adalah ruang paling rahasia di hati Rina, tempat ia menumpahkan segala sesuatu yang tak pernah berani ia ucapkan pada Aris—pria yang menyelamatkannya, pria yang ia cintai dengan cara yang paling mustahil.
Aris,
Kalau kau baca ini, mungkin kau akan tertawa. Atau mungkin kau akan marah karena menganggapku anak kecil yang labil. Tapi biarkan aku menulisnya sekali saja, sebelum aku menghapusnya besok pagi dan pura-pura lupa.
Aku jatuh cinta padamu bukan saat kau memukul Pak Hendra (meski saat itu kau terlihat seperti malaikat pencabut nyawa yang gagah). Aku jatuh cinta padamu tiga bulan sebelumnya, di sebuah sore yang hujan deras, di teras musholla gang Tebet yang bocor itu.
Ingatkah? Saat itu aku datang mengaji dengan hati hancur karena Ibu terus-menerus membandingkanku dengan anak tetangga yang sudah menikah. Aku duduk di saf belakang, menangis pelan hingga air wudhuku bercampur air mata.
Kau selesai mengimami salat, lalu duduk di sampingku. Kau tidak bertanya "Kenapa nangis?". Kau tidak memberi nasihat panjang lebar tentang sabar yang biasanya membuatku makin sakit hati.
Kau hanya menyodorkan sebungkus tisu dan segelas teh hangat buatanmu sendiri. Lalu kau berkata, "Nak, Allah itu dekat banget. Lebih dekat dari detak jantung kamu yang lagi sakit ini. Kalau dunia nggak adil sama kamu, pulanglah ke-Nya. Di sini, kamu nggak perlu jadi siapa-siapa. Cukup jadi Rina yang dicintai Tuhan."
Saat kau tersenyum, Aris... sumpah, duniamu berhenti berputar. Senyummu bukan senyum orang kaya yang merendahkan, bukan senyum ustadz yang menggurui. Itu senyum seorang ayah, seorang kakak, dan seorang pelindung sekaligus. Mata kau yang teduh itu membuatku merasa... aman. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa berharga.
Sejak hari itu, setiap kali azan Magrib berkumandang, jantungku berdegup lebih cepat. Bukan karena takut terlambat ke musholla, tapi karena harap bisa melihatmu berdiri di mimbar, membacakan ayat-ayat dengan suara yang membuat jiwaku tenang
Aku tahu, bagimu aku hanya satu dari ratusan jamaah. Satu anak yatim yang perlu dibantu. Tapi bagiku, kau adalah seluruh duniaku yang runtuh lalu dibangun kembali
Hari ini Ibu menjengukku. Dia menangis-nangis minta maaf, bilang dia bodoh, bilang dia buta karena uang. Aku memaafkannya, Aris. Karena aku tahu, dosa terbesar bukan pada Ibu, tapi pada sistem yang membuat manusia saling memangsa. Tapi anehnya, saat Ibu pergi, yang kurindukan justru bukan pelukannya. Aku merindukan suaramu yang menenangkanku lewat telepon tadi siang.
Kau bilang padaku, "Rina, sembuhlah. Dunia masih butuh perempuan kuat sepertimu."
Kau tidak tahu, Aris. Kekuatanku itu berasal darimu.
Orang-orang sekarang tahu kau pengusaha kaya raya. Mereka membicarakan menara gedungmu, donasimu yang triliunan, mobil mewahnya. Tapi aku? Aku justru rindu masa ketika aku mengira kau cuma ustadz miskin
Ada keindahan tersendiri mencintai seseorang yang tidak kita ketahui hartanya. Aku mencintaimu karena akhlakmu, karena caramu menundukkan kepala saat salat, karena caramu membersihkan debu di mimbar dengan tanganmu sendiri, bukan menyuruh orang lain.
Ketika kau membuka topengmu sebagai miliarder, hatiku sempat sesak. Bukan karena iri, tapi karena takut. Takut jarak kita semakin jauh. Kau sekarang "Tuan Aris" yang dikelilingi pengawal, direktur, dan pejabat. Sedangkan aku? Aku hanya Rina, korban perkosaan yang rusak, anak dari ibu yang gagal.
Apakah pantas seorang putri raja jatuh cinta pada badut yang baru saja diselamatkannya? Tidak. Logikanya terbalik. Akulah badut itu, dan kau rajanya. Dan cerita dongeng tidak pernah berakhir bahagia untuk karakter seperti aku.
Malam ini dokter bilang aku boleh pulang minggu depan. Aku akan melanjutkan sekolah, mungkin pindah kota, jauh dari Tebet, jauh dari kenangan pahit itu. Dan tentu saja, jauh darimu.
Ini adalah bagian tersakit, Aris. Mencintaimu berarti harus melepaskanmu.
Aku tahu kau baik. Terlalu baik. Jika kau tahu perasaanku, kau pasti akan mencoba menolongku lagi. Kau mungkin akan memberiku beasiswa, mencari pekerjaan untukku, atau bahkan... (ah, ini terlalu gila untuk dipikirkan) ...memelukku sebagai keluarga.
Tapi itu akan menghancurkanmu. Reputasimu sebagai ustadz, sebagai tokoh masyarakat, sebagai panutan, akan hancur jika ada gosip sedikit saja tentang hubunganmu dengan mantan korban kasus asusila yang usianya terpaut jauh denganku. Masyarakat kita kejam, Aris. Mereka akan mengunyah namamu, mendiskreditkan semua kebaikanmu, hanya karena prasangka kotor mereka.
Aku tidak mau menjadi alasan satu pun kerut di dahimu. Aku tidak mau menjadi noda di putihnya gamusmu.
Cintaku padamu harus tetap menjadi rahasia. Ia harus mati bersama diari ini. Ia harus terkubur dalam-dalam, menjadi pupuk yang menyuburkan doaku untuk kebahagiaanmu.
Doaku sederhana: Semoga kau menemukan wanita yang setara denganmu. Wanita yang cantik, cerdas, sholehah, yang bisa mendampingimu membangun kerajaan bisnismu dan mengurus umat. Wanita yang tidak membawa masa lalu kelam seperti aku
Dan semoga, suatu hari nanti, ketika kau sudah lupa siapa Rina, aku bisa tersenyum melihat kabar kebahagiaanmu dari kejauhan. Tanpa rasa sakit. Hanya rasa syukur bahwa pernah sekilas, hidupku bersinggungan dengan manusia sebaik dirimu.
Jam dinding menunjukkan pukul 02.00 pagi. Waktu di mana doa-doa paling mustajab dikabulkan, dan juga waktu di mana kesepian terasa paling menusuk.
Rina mengetik kalimat terakhir, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu menghapusnya lagi. Akhirnya, ia hanya menulis satu kalimat pendek:
"Terima kasih telah menjadi alasan aku masih ingin hidup, meski aku tidak bisa memiliki(mu)."
Air matanya menetes, jatuh tepat di atas huruf 'i' di kata 'memiliki'.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan.
"Masuk," panggil Rina cepat-cepat, menutup tabletnya dengan gugup.
Pintu terbuka. Aris masuk. Ia tidak memakai jas mahal seperti biasa. Ia hanya memakai kemeja flanel sederhana dan celana jeans, terlihat lelah namun wajahnya berseri. Di tangannya ada sebuah kotak makanan hangat.
"Belum tidur, Rin?" tanya Aris lembut, menutup pintu pelan. "Saya bawa sup ayam buatan sendiri. Kata dokter, ini bagus untuk pemulihan stamina."
Rina tersenyum, menyembunyikan tabletnya di balik bantal. "Belum ngantuk, Ustadz. Lagi... lagi baca-baca."
"Baca apa?" tanya Aris sambil meletakkan sup di meja nakas. Matanya yang tajam sepertinya menangkap gelagat aneh pada Rina, tapi ia tidak menekan. "Jangan begadang terus. Kamu butuh istirahat."
Aris menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur. Ia menatap Rina dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kehangatan, ada kekhawatiran, dan mungkin... ada sesuatu yang lain yang selama ini disembunyikan rapi di balik statusnya sebagai "pelindung".
"Rin," ucap Aris tiba-tiba, suaranya rendah. "Saya ingin minta tolong sesuatu."
Rina terkejut. "Apa, Ustadz? Apa saja."
"Jangan panggil saya Ustadz lagi di antara kita berdua," kata Aris sambil tersenyum tipis, senyum yang sama yang dulu membuat Rina jatuh cinta. "Panggil saja Aris. Kita sudah melewati terlalu banyak hal untuk formalitas seperti itu. Lagipula..."
Aris terhenti sejenak, seolah memilih kata-kata dengan hati-hati.
"Lagipula, saya juga manusia biasa, Rin. Yang punya rasa takut, punya lelah, dan... punya perasaan yang bingung saat melihat orang yang diselamatkannya menderita."
Jantung Rina serasa berhenti berdetak. Perasaan yang bingung? Apakah itu artinya...?
"Tidurlah, Rin," potong Aris cepat, seolah sadar ia sudah terlalu banyak bicara. Ia berdiri, merapikan selimut Rina dengan gerakan canggung namun penuh kasih sayang. "Besok kita bicara soal rencana kuliahmu. Saya sudah siapkan beasiswa penuh di luar negeri kalau kamu mau. Atau di sini, terserah kamu."
Rina mengangguk kaku, tenggorokannya tercekat. "Terima kasih... Aris."
Nama itu terasa aneh di lidahnya. Manis, tapi perih.
Aris berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. Cahaya lampu走廊 menerangi profil wajahnya yang tegas.
"Oh ya, Rin," ucapnya pelan. "Apapun yang sedang kamu pikirkan, apapun yang kamu tulis di diari rahasiamu itu... ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Dan kamu... kamu jauh lebih berharga dari yang kamu kira."
Pintu tertutup.
Rina terdiam lama di kegelapan kamar itu. Kalimat terakhir Aris bergema di kepalanya. Apapun yang kamu tulis di diari rahasiamu...
Apakah dia tahu?
Atau itu hanya firasat seorang manusia yang peka?
Rina meraih tabletnya lagi. Jari-jarinya melayang di atas tombol 'Hapus Semua'. Tapi akhirnya, ia menekannya tombol 'Simpan' dan menguncinya dengan sandi baru.
Biarkan rahasia ini tetap ada. Biarkan cinta ini tetap hidup dalam diam. Karena kadang, mencintai tanpa memiliki adalah bentuk ibadah tertinggi yang hanya dimengerti oleh dua hati yang pernah terluka.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Membasuh Jakarta, membasuh luka lama, dan menyimpan rahasia baru di antara seorang gadis dan pria yang takdirnya pertemukan dalam badai.
Bersambung...