Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Nyala Api Pengkhianatan
Jakarta sedang diguyur hujan deras saat Guntur kembali ke kantor pusat PT Naga Properti. Meskipun sudah larut malam, firasatnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Benar saja, saat ia sampai di lobi, ia mencium aroma bensin yang sangat menyengat bercampur dengan bau asap yang mulai mengepul dari lantai atas.
"Bismillah... Ya Allah, lindungilah tempat ini," bisik Guntur sambil berlari menuju tangga darurat karena lift sudah dimatikan.
Di lantai ruang CEO, ia melihat Rian berdiri di tengah ruangan dengan korek api di tangannya. Wajah Rian tampak kuyu, matanya merah, dan ia tertawa seperti orang gila. Di sekelilingnya, tumpukan berkas penting sudah disiram bensin.
"Kalau aku tidak bisa memiliki perusahaan ini, maka tidak ada satu orang pun yang boleh memilikinya! Termasuk kamu, Guntur si tukang ojek!" teriak Rian sambil melemparkan korek api yang menyala ke tumpukan kertas itu.
Wuuusssss!
Api langsung berkobar hebat, menjilat tirai mewah dan meja kerja jati. Rian tertawa histeris sambil mencoba lari lewat pintu belakang, tapi Guntur bergerak lebih cepat dari sambaran petir.
.
"Ya Qowiyyu Ya Matiin!"
Guntur menghentakkan kakinya ke lantai, dan secara ajaib, gelombang udara dingin yang sangat kuat terpancar dari tubuhnya, menahan laju api agar tidak merembet ke seluruh ruangan. Ia mencengkeram kerah baju Rian dan mengangkatnya dengan satu tangan hingga kaki Rian menggantung di udara.
"Kamu pikir api ini bisa membakar kebenaran, Rian? Kamu sudah kalah! Sekarang, hadapi kenyataan atau kamu ikut terbakar bersama ambisimu!" bentak Guntur dengan suara yang menggelegar melebihi suara petir di luar gedung.
Rian gemetar hebat, nyalinya yang tadi sempat meledak kini menciut habis. "A-ampun Guntur! Aku khilaf! Tolong lepaskan aku!"
Guntur melempar Rian ke lantai yang belum tersentuh api, lalu ia fokus pada kobaran api di depannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan energi sakti dari sang Resi, lalu mengibaskan telapak tangannya. Angin yang sangat kencang tercipta dari gerakan tangannya, memadamkan api yang berkobar dalam sekejap mata.
Ruangan itu kini gelap dan penuh asap, tapi Guntur tetap berdiri tegak dengan sisa-sisa wibawa yang luar biasa. Tak lama kemudian, polisi yang sudah dihubungi Pak Broto datang dan langsung memborgol Rian yang sudah lemas tidak berdaya.
"Bawa dia. Pastikan dia mendapatkan hukuman yang setimpal atas pengkhianatan dan pembakaran ini," ucap Guntur kepada petugas polisi.
Setelah suasana tenang, Pak Broto datang menghampiri Guntur dengan wajah cemas. "Pak Guntur, untung Bapak datang tepat waktu. Kalau tidak, sejarah Bang Soni bisa habis terbakar malam ini."
Guntur hanya mengangguk pelan. Ia berjalan menuju balkon, meskipun hujan masih turun, ia tetap menyulut Rokok Kretek Cap Murah miliknya. Asap rokoknya menyatu dengan kabut hujan, memberikan rasa tenang yang luar biasa setelah ketegangan tadi.
"Ssshhh... huffff... Akhirnya, Jakarta benar-benar bersih," gumam Guntur.
Ia mengambil ponselnya dan melihat ada pesan masuk dari Sidoarjo. Ternyata foto dari Ibu Siti. Di foto itu, Sekar sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu sambil memeluk bantal motif bunga-bunga milik Ibunya. Di bawah foto itu ada tulisan: "Le, Mbak Sekar nungguin kamu sampai ketiduran. Katanya dia mimpi kamu pulang bawa cincin. Ndang bali ya Le, Ibu sudah pesan katering buat syukuran!"
Guntur tersenyum lebar, wajah "sengklek"-nya muncul lagi dengan sangat ceria. "Walah Buk, kok malah katering dulu yang dipesan. Tapi ya sudahlah, demi cucu apa sih yang nggak buat Ibu."
Guntur menatap ke arah timur, seolah menembus jarak menuju Sidoarjo. "Tunggu aku, Sekar. Besok aku pulang. Tidak ada lagi musuh, tidak ada lagi rahasia. Hanya ada aku, kamu, dan dadar jagung Ibu."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia berangkat ke Jakarta, Guntur bisa tidur dengan sangat nyenyak di sofa kantornya, bermimpi tentang masa depan yang indah di desa kelahirannya.
Asap rokok kretek murah milik Guntur membumbung tinggi ke langit-langit ruang CEO yang mewah. Di depannya, Pak Broto sedang sibuk mencatat semua daftar aset yang baru saja berhasil direbut kembali dari tangan Rian dan Amanda. Guntur menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit Jakarta, namun pikirannya sudah berada di jalanan Surabaya dan persawahan Sidoarjo.
"Pak Broto, dengarkan saya baik-baik," ucap Guntur sambil mematikan rokoknya. "Jakarta ini terlalu banyak kenangan buruk bagi keluarga Bang Soni. Saya tidak mau Mbak Sekar dan Ibu Ratna harus kembali ke kota yang penuh pengkhianat ini."
Pak Broto berhenti menulis, ia menatap Guntur dengan rasa penasaran. "Maksud Pak Guntur? Apa kita akan menjual semua aset ini?"
Guntur menggeleng tegas. Aura Ya Qowiyyu Ya Matiin terpancar halus, memberikan kesan wibawa yang sangat kuat. "Tidak. Kita tidak menjualnya. Tapi saya mau pusat operasional PT Naga Properti dipindahkan total ke Surabaya. Saya mau gedung pusat kita ada di sana, di tempat yang lebih dekat dengan rumah saya di Sidoarjo."
Pak Broto terkejut bukan main. "Pindah ke Surabaya, Pak? Itu langkah besar. Kita harus memindahkan ratusan staf dan sistem pusat kita."
"Lakukan saja," jawab Guntur tanpa ragu. "Surabaya adalah kota pahlawan, tempat yang cocok untuk membangun kembali kejayaan Naga. Saya ingin setiap sore bisa pulang ke Sidoarjo, makan dadar jagung buatan Ibu, dan memastikan Mbak Sekar aman di bawah pengawasan saya langsung. Di sini, musuh terlalu banyak bersembunyi di balik dasi."
Mendengar ketegasan Guntur, Pak Broto akhirnya tersenyum bangga. "Baik, Pak Guntur. Saya akan segera mengurus pembelian gedung di wilayah Surabaya Pusat atau Barat. Kita akan buat markas Naga yang lebih megah di sana. Memang benar, jagoan sejati tidak boleh jauh dari akarnya."
Guntur kemudian mengeluarkan ponselnya, ia melihat saldo rekening perusahaan yang sudah kembali pulih. Angka nolnya berderet panjang, cukup untuk membangun sepuluh mansion mewah. Namun, yang ada di pikiran Guntur bukan kemewahan untuk dirinya sendiri.
"Pak Broto, tolong sisihkan dana khusus. Bangunkan sebuah yayasan di Sidoarjo atas nama almarhum Bang Soni. Dan satu lagi..." Guntur nyengir sengklek sebentar. "Cari perhiasan berlian yang paling bagus di Jakarta ini. Besok saya mau bawa pulang sebagai mahar. Saya tidak mau Ibu Siti kecewa karena calon mantunya cuma bawa tangan kosong."
Pak Broto tertawa terbahak-bahak. "Siap, Bos! Saya carikan berlian yang kalau dipakai Mbak Sekar, kilaunya sampai kelihatan dari kangkung-kangkung di sawah Sidoarjo!"
Guntur tertawa, ia merasa beban di pundaknya mulai terangkat. Jakarta sudah ia taklukkan, musuh sudah ia bungkam, dan harta sudah ia amankan. Kini, tujuannya hanya satu: Pulang.
Ia berjalan menuju pintu, meninggalkan ruangan CEO itu tanpa penyesalan. Di bawah sinar lampu lobi, para karyawan yang tersisa menunduk hormat saat Guntur lewat. Tidak ada lagi yang berani memanggilnya "Le", semua memanggilnya dengan rasa segan: "Pak Guntur".
"Bismillah... Surabaya, aku datang membawa kejayaan. Sidoarjo, tunggu anakmu pulang membawa calon menantu idaman!" bisik Guntur sambil melangkah masuk ke mobil yang akan membawanya menuju stasiun, memulai perjalanan pulang untuk memenuhi janji besarnya kepada sang Ibu.