Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.
.
.
Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.
.
.
"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.
.
.
"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halusinasi
"Apa kamu yakin hanya beberapa sentuhan dan ciuman?" tanya Adri padaku setelah kuceritakan kesuksesanku menggoda Adam malam tadi.
"Ya. Hanya beberapa sentuhan dan ciuman dan dia menyerah. Setelah itu aku berhenti dan mengejeknya sebelum pergi. Jadi aku pastika setelah ini dia gak akan lagi sok alim di depan kita," jawabku. Adri tersenyum sinis dengan cerita keberhasilanku itu.
"Heist, muna banget! Gue kira dia benar-benar alim. Tunggang-tungging ibadah, taunya di belakang, di goda gadis hot dikit udah nyerah. Kamfret kamfret!" Rehan memukul meja kuat.
"Gue bilang apa? Mana ada di zaman sekarang orang bisa nahan nafsu. Apalagi yang menggoda bidadari seksi. Hahaha." John melontarkan candaan kotor sambil tertawa. Rehan pun turut tertawa, tapi tawanya lenyap ketika John mengingatkan tentang taruhan mereka.
"Iya, gue ingat. Bulan ini gue yang bayar sewa rumah. Tenang aja, pasti gue bayar. Memang kamfret itu si Adam! Habis uang gue!" Rehan kembali mengumpat dan John tersenyum bangga.
"Baby, malam ini ikut aku pulang ya? Aku ada barang bagus untuk kita pakai bersenang-senang nanti." Adri kembali bersuara.
"Ide bagus tuh. Malam ini kita pesta aja di rumah. Buat apa lagi takut dengan si Adam, belangnya udah ketahuan juga kan? Setelah ini gue mau jemput Erin," ucap John.
"Kalau gitu. Gue juga mau jemput cewek gua juga lah. Peduli apa dengan si Adam? Terserah dia mau pikir apa tentang gue." Rehan pun ikut bersuara.
Aku memilih diam dengan rasa cemas yang tiba-tiba hadir. Aku berharap malam ini Adam tidak di rumah.
Selesai nongkrong, aku, Adri dan Rehan kembali ke rusun. John pergi menjemput Erin, sedang Rehan menunggu kedatangan kekasihnya di bawah. Aku dan Adri lebih dulu naik ke atas karna Adri tampak sudah mulai teler dengan permen neraka yang di tekannya ketika berada di dalam mobil tadi.
"Siapa tuh?" Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutku ketika berada di depan pintu kamar Adri.
"Siapa baby?" Adri balik bertanya sambil membuka pintu kamarnya yang terkunci.
Kuakui, aku memang liar, jahil, tapi bait-bait yang terdengar itu aku kenal. Itu lantunan ayat suci.
Adri juga diam menajamkan telinga mendengar alunan merdu yang sayup-sayup terdengar di telinga kami.
"Oh, itu pasti si gayboy. Siapa lagi. Pasti sedang minta ampun dengan Tuhan dia. Dia kan alim," jawab Adri akhirnya dan tertawa. Pintu kamar di buka, lalu dia masuk kedalam. Aku malah mundur satu langkah kebelakang. Perasaanku tidak enak. Seolah ada aura yang membisikkan aku harus meninggalkan tempat ini. Mungkin kah karna telinga ini menangkap bacaan yang begitu merdu hingga menyentuh qalbuku? Atau di karnakan kejadian semalam membuatku merasa bersalah?
"Semua manusia tidak ada yang luput dari dosa. Tapi Tuhan Maha Pengampun. Pintu taubat selalu terbuka untuk kita. Saya ingin kita bertaubat, Winda." Suara Adam semalam kembali terngiang di telingaku.
"Ad, aku rasa. Aku harus pulang sekarang."
"Lo kenapa?"
Suara Adri yang meninggi membuat aku sedikit terlonjak karna kaget.
"Sorry, tapi-"
"Tapi apa?" Adri mendekat. "Lo gak mood lagi? Sejak gayboy sialan itu muncul, ada saja alasan Lo buat ngelak. Apa Lo udah ketagihan batang dia?" Adri menggoncang tubuhku kasar.
"Sampai hatimu menuduhku begitu?" Mataku mulai berkabut dengan cairan yang menggenang. Sungguh, aku begitu takut dengan sikap kasarnya ini.
"Kemarin Lo bilang mau barang yang lebih bagus, udah gue beli. Lo bilang hari itu ingin pulang cepat gue biarin. Sampai kapan Lo menghindari gue?" Suara dan goncangannya di tubuhku semakin keras.
"Aku bukan menghindar. Ad, please, jangan seperti ini. Aku takut. Ini bukan kamu yang kukenal." Aku memohon bersungguh-sungguh. Air mata mengalir karna cengkraman tangan Adri di bahuku semakin kuat. Dia bukan Adri yang kukenal.
"Kalau bukan menghindar apa namanya? Bilang saya Lo udah termakan omongan gay sialan itu kan?" Kalinini Adri melepaskan cengkraman tangannya dan menolak tubuhku hingga aku hampir terjatuh.
"Apa ini, bro? Tidak baik kasar dengan perempuan." Adam tiba-tiba muncul di depan pintu kamar Rehan. Tampilannya tampak berbeda dengan baju koko, sarung dan peci. Matanya memperhatikanku yang coba kembali berdiri tegak. Menyadari pandangannya itu air mata cepat-cepat kuseka.
"So? Lo mau gue bagaimana? Sama seperti Lo lahap dia malam tadi?"
Seketika wajah Adam berubah dengan pertanyaan Adri itu. Detak jantungku semakin tak menentu. Aku memang tidak menceritakan hal sebenarnya pada Adri tentang kejadian semalam. Tapi tuduhan Adri seperti tau apa yang terjadi antara aku dan Adam. Aku khawatir Adam mengakui semuanya.
Untungnya Adam tidak menjawab pertanyaan Adri. Dia memandang kedalam mataku, seolah tak percaya aku sanggup membuka rahasia malam tadi pada teman lelakiku.
"Woi! Kenapa Lo diam? Kaget, karna gue tau apa yang terjadi malam tadi? Eh, gayboy! Winda ini pacarku. Yang dia lakukan pada Lo tadi malam itu, emang udah kamu rencanakan. Sengaja dia menggoda Lo untuk membuktikan kalau Lo itu wujud setan bertopeng manusia. So? Gak usah lah sok alim lagi depan gue. Lo itu munafik!" Adri tanpa ragu menceritakan ide gilaku pada Adam. Ada satu ekspresi di wajah Adam yang tidak dapat aku kenali saat dia tahu berita itu.
"Apa yang terjadi malam tadi memang kekhilafanku. Jadi tolong jangan salahkan Winda dalam hal ini. Seharusnya kamu melindungi dan membimbing dia," ucap Adam dengan wajah penuh penyesalan.
"Ha, sadar diri? Jadi mulai sekarang berhentilah ikut campur urusan orang lain. Ingat, lu itu pun lebih bejat dari gue." Adri semakin mencerca Adam yang diam membisu.
"Apa apa an nih?" Rehan tiba-tiba muncul bersama pacarnya yang hanya memakai gaun pendek.
Melotot mata Adam melihat rekannya membawa wanita yang penampilannya jauh lebih seksi dari aku.
"Rehan, siapa yang kamu bawa pulang?" tanya Adam. Ada riak kecewa dari wajahnya.
"Eh, aku bukan gadis lagi lah." Pacar Rehan tanpa malu membuat pengakuan. Kemudian mendekati Adam dan merangkulnya.
Reaksi Adam sama seperti semalam, dia melompat kebelakang menolak di sentuh wanita yang baru datang itu.
"Cukuplah, bro. Hentikan sandiwara Lo ini. Winda udah cerita semua apa yang terjadi malam tadi. Jadi Lo gak usah lagi sok alim di depan kami. Kita sama lelaki. Kalau Lo mau coba cewek gue, coba aja. Dia pintar goyang. Atau kalau Lo mau, kita juga bisa threesome nanti." Rehan semakin memojokan Adam atas kejadian semalam. Sedang Adam Manarik rambut sendiri karna tidak bisa menyangkal semua itu.
Rehan memberi kode pada kekasihnya agar kembali merayu Adam, hingga Adri dan Rehan tertawa melihat Adam yang berusaha mennolak rayuan Liza yang mengajaknya masuk kedalam kamar.
Pemandangan ini mengingatkan aku pada kejadian tadi malam, dimana aku yang tidak tahu malu menggoda Adam. Sungguh, aku merasa begitu hina mengingat kejadian tadi malam. Rela menjatuhkan harga diri hanya semata-mata karna Ego. Bodohnya lagi, aku malah memuaskan nafsu bersama musuhku sendiri.
Sesakili Adam melihat padaku sambil tangannya masih gigih menepis sentuhan Liza. Jika dugaanku tepat, sebentar lagi dia pasti lelah sendiri dan akhirnya menyerah dengan godaan Liza, sama seperti yang kulakukan semalam.
Tak tahan dengan semua ini, kukeluarkan uang dari dompet dan mengeluarkan 10 lembar pecahan 100 ribu. Kemudian aku berikan ke tangan Adri yang masih asyik melihat drama Adam dan Liza. Adegannya semakin panas, dimana Liza menarik tangan Adam dan membawa kedadanya. Aku abaikan mereka karna sekarang aku hanya ingin pulang.
"Aku pulang dulu. This is for my candy," kataku setalah memberikan uang itu ketangan Adri.
Adri meliahat uang itu sekilas kemudian membuanganya. Tapi aku tak peduli reaksinya. Kaki tetap kuayunkan pergi.
"Lo pikir gue butuh duit Lo ini? Gue tau Lo anak orang kaya, tapi gue masih mampu membeli Lo. Bangsat!"
Teriakan Adri tidak aku pedulikan, aku terus melangkah, ingin cepat keluar dari tempat ini. Entah perman neraka apa yang Adri konsumsi, tapi yang jelas aku tidak suka dengan reaksi obat itu terhadap perubahan sikap Adri.
"Woi, Lonte! Lo mau kamana? Anji*g!"
Kata-kata Adri barusan benar-benar menggores hatiku. Sikapnya semakin menjadi. Sebelumnya dia tidak tidak pernah perlakukan aku seperti ini.
"Ad! Lepaskan dia!" Adam berteriak lantang ketika Adri mencengkram tanganku, lalu memelukku erat. Dia coba mencium, tapi aku berusaha menghindar.
Ini bukan Adri yangbaku sayang.
Aku menoleh kearah Adam sekilas, dan Rehan sepertinya berpihak pada perbuatan Adri ini. Dia dan Liza coba menghalangi Adam yang akan mendekatiku.
"Ad! Cepat bawa Winda masuk kamar, kunci sekali!"
Darahku berdesir hebat mendengar teriakan Rehan. Dan Adri mengangguk tanda setuju. Dia semakin mengeratkan pelukan ketubuhku dan menarikku kedalam kamarnya.
Aku menjerit, berontak sambil mulutku memohon agar Adri melepaskanku, namun semua yang aku lakukan sia-sia. Adri sudah seperti iblis dimataku sekarang.
"Adam!" Aku merintih memanggil nama itu. Entah kenapa nama itu yang kupanggil pada saat aku ketakutan. Aku benar-benar takut seandainya Adri berhasil membawaku kedalam kamar.
"Anji*k! Dasar Lont* Lo!" Emosi Adri semakin memuncak mendengar nama Adam yang kusebut. Dia meloaskanku sesaat, dan belum sempat aku bersyukur batas kebebasan itu, satu tamparan kuat mayapa pipiku hingga tubuhku ikut berputar kesamping dan jatuh. Kepalaku terbentur pada sudut meja dekat pintu kamar Adri sebelum aku jatuh tersungkur.
"Winda!"
Aku masih dapat mengenal suara itu. Ya, itu saudara Adam. Suaranya terdengar cemas. Aku sentuh kepalaku yang berdenyut, ada bau anyir yang tiba-tiba menyengat hidungku dan pandanganku semakin kabur.
Wajah bengis Adri kembali muncul di depan mataku.
"Lain kali panggil nama anj*nk itu lagi! Sekarang gue mau sedot madu Lo sampai puas sebelum gue buang Lo di tepi jalan seperti anj*in!"
Aku menggeleng lemah. Sungguh, dia bukan seperti Adri yang kukenal. Tangisku semakin pecah, tubuhku semakin hilang tenaga. Tapi Adri seolah tak peduli, dia mengangkatku menuju kamarnya. Saat itu Adam datang dan memukul wajahnya. Tubuhku lepas dari gendongan Adri dan bokongku sakit karna terhempas kuat ke lantai.
Adam melutut di sebelahku kedua tangannya menangkup pipiku yang basah oleh air mata. "Winda. Kamu tidak apa-apa kan?" Nada suara begitu khawatir.
Aku hanya terisak sambil menyebut namanya. Tiba-tiba nafasku rasa terhenti. Tanganku menekan-nekan dada untuk mengembalikan nafasku. Adam tampak panik, tapi belum sempat dia bertanya, satu pukulan balasan Adri hinggap di rahangnya.
Aku tidak tahu berapa lama meraka baku hantam. Aku tidak tahu berapa lama menahan sakit. Aku tidak tahu berapa lama nafasku tercekat. Tapi suara Adam kembali singgah di telingaku diantara suara-suata lain.
"Winda, please stay with me. Ambulance is on the way. You're alright, i promise, just stay with me. Winda! Lihat saya!"
Aku tidak tahu apakah aku sedang berhalusinasi gara-gara luka di kepalaku, tapi yang jelas samar aku melihat Adam menangis. Adakah dia menangis karnaku?
Aku tidak sempat berpikir banyak, karna pandanganku tiba-tiba gelap.